
Pukul sembilan malam, Nara baru pulang dari kafe dan sedang menuju halte umum untuk menunggu ojek online yang dipesan. Walau driver ojek bisa saja menghampirinya di depan kafe, tapi nyatanya dia lebih suka menunggu dibangunan umum itu.
Saat menyeberang jalan, tiba-tiba pandangannya berkunang. Dia memegangi kepala yang terasa berputar-putar. Mulutnya mendesis sambil memejamkan mata.
Din ... din !!!
Suara klakson mobil menyadarkan gadis itu dengan keadaan sekitar. Ketika membuka mata, jantungnya bergemuruh ketakutan sebab jarak mobil berhenti hanya sekitar 2 meteran.
"Kalau mau bundir jangan di jalan, woi! Nyusahin orang!" Supir truk berteriak marah. Kalau kakinya tidak sigap menginjak pedal rem, pasti tubuh wanita itu terhantam bamper mobil.
"Maaf-maaf!" ucap Nara yang segera menyingkir. Tak henti beristigfar, juga mengucap syukur karena dirinya masih dilindungi.
Sudah duduk di bangku halte, jantungnya masih bergemuruh. Dia sendiri tak dapat membayangkan bagaimana kalau tadi tertabrak truk. Mengerikan.
•
Di rumah Salsa.
"Sayang, udah dong ngambeknya. Dari tadi betah banget," bujuk Natan kesekian kalinya.
Ya, sedari meninggalkan kafe, Salsa marah dan mendiamkan Natan. Merajuk karena pria yang menjadi kekasihnya itu tidak membela dan malah mengatakan kalau mereka hanya sebatas rekan kerja.
Salsa merasa kalah telak ketika Natan mengatakan itu di depan Nara. Karena itulah, dia masih sebal dan terus merajuk.
"Salah kamu bukannya ngebela aku malah bilang kalau kita cuma rekan kerja. Istri sialan mu itu pasti menertawai ku!" ucapnya bersungut-sungut.
"Kamu tadi denger kan dia hina aku gimana. Sampek ngatain aku pelakor! Yang pelakor itu dia, bukan aku! Gak nyadar diri." gerutu Salsa dengan wajah muram durja.
"Aku bilang begitu cuma reflek. Lagian, ngapain juga kamu belokin mobil ke kafe itu. Kita bisa makan di tempat lain."
Sore tadi karena lelah Natan menyuruh Salsa untuk bergantian mengemudi. Tanpa dia sadar kalau Salsa malah membelokkan setir ke halaman Kafe Injie tempat Nara bekerja.
Dia sudah berupaya menolak, tapi Salsa terus memaksa. Akhirnya dia mengikuti langkah wanita itu.
"Aku kan maunya makan disitu. Tapi pas ngeliat mukanya malah langsung eneq!" ucap Salsa sambil bersedekap dada.
"Kapan kamu menceraikan dia, Natan?!" tanyanya dengan serius.
"Aku gak tau. Yang jelas nunggu waktu dan cari alasan yang tepat biar bokap gak curiga."
"Aku gak mau kamu mengulur-ulur waktu. Segera ceraikan dia dan nikahi aku, Natan. Bilang saja kalau kalian gak cocok atau ... kita lakuin rencana sedikit ekstrim supaya bokap lo gak curiga?" Salsa menyungging senyum miring. Otak jahatnya menemukan ide licik.
__ADS_1
Namun, kernyitan di kening Natan mengartikan kalau pria itu belum tahu rencana yang dipikirkan Salsa.
"Rencana yang gimana maksudmu?"
Salsa mendekatkan wajah di dekat telinga Natan, membisikkan rencana yang terlintas di kepalanya.
"Gila! Gak, sayang. Jangan lakuin itu!" Natan menggeleng keras dan sama sekali tidak menyetujui ide Salsa barusan. Walau dia juga ingin secepatnya berpisah dengan Nara, tapi tak sampai hati melakukan hal picik yang akan merugikan Nara.
"Kamu bela dia lagi?! sentak Salsa melotot.
"Aku gak bela, tapi yang kamu katakan barusan menurutku sangat keterlaluan."
"Persetan! Hanya itu cara satu-satunya agar kalian cepat berpisah!"
Natan memilih menghirup napas sedalam dalamnya karena tidak ingin mendebat.
•
Sepulang dari rumah Salsa, Natan ingin langsung mengistirahatkan tubuh, tapi langkah pria itu terhenti di depan pintu kamar Nara yang entah mengapa pintunya tidak tertutup rapat.
Sisi hati ingin mengabaikan, akan tetapi ada dorongan hasrat untuk masuk ke dalam. Apalagi lampu kamar itu masih menyala, kemungkinan saja si pemilik kamar lupa mematikan lampu. Hal itu memperkuat Natan untuk masuk.
Saat masuk, dia tidak menemukan Nara di dalam. Tapi sudah pukul sebelas, harusnya wanita itu tidak pergi.
"Hei, lo kenapa?" Natan menghampiri dan menggoyang-goyang pelan bahu Nara yang tergeletak dengan posisi miring.
Ketika tubuh Nara tidak bereaksi, Natan terpikir untuk mencari minyak angin. Setelah mengambilnya, terlebih dahulu dia memindah tubuh Nara ke atas kasur. Lalu mulai mengoleskan minyak angin di pelipis dan membaui di depan hidung Nara.
Tak berapa lama usahanya membuahkan hasil. Kelopak mata Nara mulai mengerjap.
"Lo kenapa?" Natan kembali bertanya.
"Mas?" Nara terkejut melihat Natan berada di kamarnya.
"Lo pingsan tadi. Lo sakit? Gue anter ke rumah sakit sekarang," tawar Natan.
"Aku tadi sakit kepala. Tiba-tiba aja pandanganku gelap dan gak inget apa-apa lagi." Nara merubah posisi jadi setengah duduk, dengan bersandar di kepala ranjang.
"Mungkin aku kecapean. Nanti juga sembuh, gak usah anter ke dokter," imbuhnya.
"Muka lo keliatan pucet. Kalau masih pusing bilang aja! Pipi lo bengkak, udah di kompres?" tanya Natan.
__ADS_1
Nara menggeleng. "Gak sempet," jawabnya.
Natan beranjak. "Tunggu bentar!" katanya dan sudah melesat pergi. Namun sekitar lima menit kemudian, pria itu kembali dengan membawa mangkuk stainless yang diisi air hangat dan handuk kecil.
Pria itu mulai mengompres dengan perlahan. "Kalau gak langsung di kompres bakal tambah bengkak," ujarnya.
Nara diam. Dia tidak mengerti dengan sikap Natan yang berubah-ubah. Pria itu tahu kalau lukanya disebabkan oleh Salsa, lalu kenapa dia khawatir dan peduli?
"Gue ngelakuin ini karena tanggung jawab. Jangan berpikir yang aneh-aneh!" ujar Natan yang mencoba mengartikan tatapan Nara.
"Enggak!" singkat Nara.
Natan memeras handuk dan kembali menempelkan di sudut bibir Nara membuat wanita meringis kesakitan.
"Sssthh, pelan-pelan, Mas. Sakit." Nara merintih begitu Natan sedikit keras menempelkan handuk.
"Ini juga pelan!"
"Sssttth ... emhh ...."
'Sialan! Bangkek! Otak gue bisa-bisanya kepikiran kek gitu! Dia ini kesakitan, tapi kenapa mulutnya mendesah!' batin Natan kesal.
"Auh' sakit!" desis Nara yang memang kesakitan. Tapi pikiran Natan semakin jauh terjerumus pikiran kotor.
"Lo bisa gak, gak usah men de sah begitu?!" sentaknya.
"Astagfirullah, siapa yang men de sah, Mas?! Aku kesakitan!" Nara juga berubah kesal.
"Suara lo kek gitu, kek orang *****!"
Nara mendengus dan menggeleng. Kekesalannya bertambah.
"Besok lagi kalau Salsa bilang apapun, lo gak usah ladenin." ?
Wanita itu mendongak. Menatap Natan.
"Ngehindar aja kalau bisa!"
"Ngehindar gimana? Aku kerja di tempat itu, kalian yang datang. Terus gimana caranya aku menghindar?"
"Kalau dia bilang apapun gak usah diladeni," jelasnya.
__ADS_1
Nara menghela napas panjang. Apakah kalau Salsa melontarkan hinaan dia harus tetap diam? Sayangnya dia tidak mungkin menerima begitu saja. Selagi dia benar, dia tetap akan melawan. Tapi dia tidak suka kekerasan. Seperti tadi, ketika Salsa menamparnya, dia tidak membalas. Bukan karena takut, tapi dia memang tidak pernah berbuat kasar.