Sesal Sampai Akhir

Sesal Sampai Akhir
Sisi lain


__ADS_3

Natan menghentikan mobil di luar gerbang. Dia menyuruh Nara masuk duluan. Sementara dirinya malah bermain ponsel.


"Lo masuk duluan. Gue masih ada urusan!"


"Udah jam segini mau kemana lagi?"


"Gue gak suka orang bawel. Buruan keluar!" usirnya lagi.


"Iya-iya," balas Nara sedikit kesal. Secara tidak langsung Natan mengatainya bawel. Dia membuka pintu mobil dan keluar. Namun sebelum menutup pintu, dia menunduk dan mengucap terima kasih.


"Makasih untuk tumpangannya."


Natan terbelalak kaget mendengar Nara mengucap terima kasih. Apa yang harus dibalas dengan ucapan terima kasih? Dia tadi tidak berniat memberi tumpangan, tapi ketika lewat di depan kafe, tepat saat itu melihat Nara bersama seorang pria. Reflek kakinya menginjak pedal rem dan akhirnya memantau dari jarak jauh.


Setelah Nara memasuki gerbang, Natan menggeleng sambil menyunggingkan senyum tipis. "Apa dia terlalu baik atau bodoh? Cuma dikasih tumpangan aja ngucapin terima kasih," gumamnya.


Sekitar lima belas menit kemudian, Natan menghidupkan mesin mobil dan memajukan mobilnya tepat di depan gerbang. Membunyikan klakson beberapa kali agar penjaga mengetahui kedatangannya.


Ternyata, Natan sengaja melakukan itu agar Salsa tidak curiga kalau mereka pulang bersama.


Di dalam rumah, Nara masuk lebih dulu. Niat hati ingin istirahat karena sangat lelah, tapi rupanya Salsa sudah menungguinya.


"Lo kerja di kafe apa di rumah bordir, sampek jam segini baru pulang?" cibir Salsa dengan menatap remeh.


"Jaga bicaramu, Salsa!" Nara membalas dengan tatapan tajam. Tak habis pikir, bagaimana suaminya menyukai wanita yang selalu berkata kasar.


"Elo yang harusnya jaga sikap!" balas Salsa kembali.


Sebenarnya Nara sangat kesal dengan ucapan Salsa, tapi dia malas untuk berdebat. Tubuhnya sudah sangat lelah dan ingin segera istirahat. Akhirnya memilih melewati Salsa.


Namun, bukan Salsa namanya kalau membiarkan Nara begitu saja. Dia mencegat dan memerintah.


"Gue mau ikan bakar dengan sambal kecap, buatin sekarang!" Perintahnya seperti seorang ratu.


"Saa, aku baru pulang kerja, capek banget. Apa kamu gak bisa buat sendiri? Lagian, aku bukan pembantu yang bisa kamu suruh-suruh kapan aja. Status kita sama di rumah ini, jadi, kalau kamu mau makan apapun buat sendiri." Nara menolak dengan tegas. Saat akan melanjutkan langkah, tangannya dicengkeram kuat oleh Salsa.

__ADS_1


"Tugas lo di kafe sama disini sama, yaitu sama-sama seperti pelayan. Pokoknya lo harus buatin apa yang gue pengen tadi!"


Nara meringis saat Salsa lebih mengeratkan cengkeramannya. Dia berusaha melepaskan dengan sedikit mendorong, sampai akhirnya tubuh Salsa hampir terjatuh.


"Saa!" teriak Natan terkejut. Melihat Salsa seperti mau jatuh dia sikap menyangga tubuh wanita itu.


"Sayang, dia mendorongku," adu Salsa dengan pura-pura menangis.


Di tempatnya berdiri Nara melolong tak percaya. Apa maksud Salsa mengadukan seperti itu?!


Natan beralih menatap Nara dengan rahang mengeras. "Kenapa lo dorong Salsa?!" bentaknya.


"Lo tau dia lagi hamil, kenapa berbuat kasar?!"


"Ma-s, enggak! Enggak seperti itu. Salsa tadi menekan tanganku dengan kuat, jadi aku hempaskan tangan dia. Aku gak ada niat nyakiti." Nara menjelaskan.


"Gue tadi minta tolong buatin ayam bakar sama sambel kecap, tapi lo malah dorong gue!" Salsa semakin menjadi. Dia sangat senang jika Natan salah paham.


'Mampus lo,' batin Salsa tertawa jahat.


"Sayang, orang hamil sering ngidam pengen makanan apa aja. Dan aku pengen ayam bakar sama sambal kecap. Tapi kamu tau kalau Bi Inem gak ada, kalau bukan dia, siapa lagi yang mau buat. Masak aku?!" Salsa merubah raut wajahnya menjadi sedih. Sengaja melakukan itu untuk mengerjai Nara.


"Lo bisa kan buatin yang diminta Salsa."


"Mas!!" Nara hampir protes, tapi dihentikan Natan.


"Gak ada orang lain lagi. Keinginan Salsa juga keinginan calon anak gue. Gue bakal bantuin," imbuhnya.


Nara menghela napas berat. "Aku ganti baju dulu."


Setelah masuk ke dalam kamar, Nara duduk sebentar di sofa tunggal. Dia menelungkupkan wajah, tiba-tiba saja air matanya keluar. Yaaa, dia menangis.


Badannya lelah, tapi mereka seperti tak punya perasaan.


Setelah beristigfar beberapa kali dan menenangkan diri, dia menuju dapur untuk membuatkan si ratu drama ikan bakar dan sambal kecap.

__ADS_1


Ternyata sesuai omongannya, Natan juga ikut membantu meski malah membuatnya tambah repot.


"Lo aja yang bersihin ikannya, geli gue!" Pria itu bergidik geli begitu melihat ikan emas sebesar telapak tangannya masih utuh.


"Gue kerjain yang lain. Ngupas bawang, sini gue bisa!" Merebut tempat bawang dan menggantikan pekerjaan Nara.


Baru beberapa bawang tidak sesuai realita, baru dapat beberapa bawang sudah heboh. "Sialan! Mata gue pedih. Agrhh!" pekiknya.


"Cepetan cuci muka, Mas. Ngupas bawang merah memang lama-lama bikin mata pedih," ujarnya.


Natan segera pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka. Nara hanya menggeleng sambil tersenyum. Pria seperti Natan mana bisa melakukan pekerjaan dapur. Niatnya bantu tapi malah bikin ribut.


Hampir jam sebelas malam ikan bakar dan sambal kecap itu selesai di masak. Salsa yang menunggu sambil rebahan di sofa sampai tertidur.


"Sayang, bangun. Ikan bakarnya udah mateng." Natan menggoyang bahu Salsa dengan pelan untuk membangunkannya. Pikirnya, makanan yang susah-susah dibuat itu adalah keinginan Salsa, walau cuma sedikit dia harus mencicipinya.


"Aku ngantuk," gumam Salsa yang terlihat enggan bangun.


"Tapi makanan yang kamu minta udah mateng. Makanlah sedikit."


"Aku udah gak pengen lagi, matengnya kelamaan. Mau tidur aja." Dengan seenak hati Salsa mengatakan sudah tidak ingin lagi. Padahal Nara sudah berjuang untuk menyiapkannya.


"Gimana sih, tadi bilangnya ngidam, sekarang enggak lagi. Capek-capek dibuatin juga!" omel Natan dengan kesal. Bukan cuma Nara, tapi dia pun ikut membantu alakadarnya. Setelah sudah matang, sedikitpun Salsa tidak mau mencicipi.


"Maaf, sayang, anakmu udah gak selera lagi. Sekarang, ayo kita ke kamar. Aku mau tidur," ucapnya dengan manja.


Namun, Natan meninggalkan Salsa begitu saja. Ternyata dia kembali ke meja makan untuk memberitahu Nara.


"Salsa udah gak selera lagi. Dibuang atau terserahlah diapain."


"Makanan sebanyak ini sayang kalau dibuang. Aku makan aja, nanti separuhnya aku kasih ke penjaga rumah."


"Terserah." Natan hampir berbalik, tapi pria itu mengurungkan. "Kalau capek langsung tidur aja."


"Iya, setelah makan ini."

__ADS_1


Setelah Natan tidak terlihat, Nara tersenyum sendiri. Semakin hari dia bisa melihat sisi lain dari pria itu. Terkadang menyebalkan, cuek, dingin, kasar, tapi terkadang juga baik. Entahlah.


Nara memisah menjadi dua bagian, lalu memberikan untuk penjaga rumah. Dan hanya disisakan satu saja untuk dirinya.


__ADS_2