
"Benerkan tebakan gue, lo emang ada apa-apa sama pria lemah gemulai itu," ujar Natan dengan wajah meremehkan.
Nara yang baru pulang berhenti sebentar ketika Natan mencegatnya.
"Aku gak tau Mas Gara punya perasaan padaku. Sampek kemarin dia baru bilang ingin mengkhitbahku. Tapi sudah terlambat." Nara menghela napas panjang. Wajah lelahnya bercampur kesedihan.
"Khitbah apaan?" tanya Gara.
Nara melihat Natan dan menggeleng tidak percaya, ternyata pria itu tidak tahu arti kata mengkhitbah.
"Khitbah dalam islam itu artinya melamar," jelasnya.
"Oh." Dengan santainya Natan beroh ria saja. Lalu berikutnya dia bertanya, "jadi kemarin pas di depan masjid itu, dia lagi ngelamar elo?"
Nara mengangguk dengan helaan napas.
"Menurut gue, enggak terlambat banget kalian masih bisa menjalin hubungan kayak gue sama Salsa. Kita cuma butuh nyari alasan buat cerai, abis itu bebas dengan pasangan masing-masing."
"Aku dan Mas Gara enggak seperti kalian yang tidak takut dosa. Zina adalah dosa besar, kami tidak akan pernah melakukan itu." Nara meninggi, sedikit emosi dengan ucapan Natan barusan. Pria yang menjadi suaminya justru memberi ide gila agar dia dan Gara melakukan dosa yang sama seperti dia dan Salsa.
"Dosa urusan belakangan, yang utama adalah perasaan. Salah Tuhan, kenapa takdirin gue nikahin elo, padahal yang gue cinta Salsa. Kalau gue nikah sama Salsa, gue pasti gak bakal berbuat zina." Suara Natan juga meninggi. Matanya melotot karena kesal. Di ujung kalimat juga mendengus kasar.
Nara terdiam. Mungkin yang dikatakan Natan ada benarnya, entah mengapa Tuhan memberi mereka takdir menikah padahal dari masing-masing mereka sudah memiliki seseorang yang disuka.
Namun Nara tidak ingin meragukan rencana Tuhan, dia yakin setiap yang digariskan pasti ada hikmah dan kebaikan. Mungkin sekarang mereka belum bisa menemukan hikmah atau kebaikan itu sendiri, tapi suatu saat Tuhan akan menunjukkannya.
"Mas, kamu tidak memberiku hak untuk mencampuri urusan pribadimu. Bahkan sebagai seorang istri, aku tidak bisa mencegah suamiku berbuat zina. Padahal dosa suami karna zina, istri juga ikut menanggung kalau tidak bisa menasehati. Aku tidak bisa melarangmu, tapi ku minta ... tolong jangan mengumbar aib itu di depan umum! Aku tidak ingin orang lain tau hubunganmu dengan Salsa."
"Lo anggap hubungan gue sama Salsa adalah aib? Gila! Cinta gue sama Salsa bukan aib, bego! Perasaan kami tulus. Justru pernikahan ini yang gue anggap aib!" ucap Natan dengan nada penekanan.
__ADS_1
Nara langsung terkatup rapat. Perkataan Natan sangat menyakiti hatinya. Dia hanya berusaha mengingatkan, tapi Natan beranggapan lain.
Pria itu pergi meninggalkan Nara yang masih mematung di depan anak tangga. Beruntung perdebatan singkat itu tidak diketahui Abimana.
•
Hingga satu minggu berlalu, Natan tak juga menepati ucapannya untuk membeli kafe tempat Nara bekerja. Abimana sendiri sedang sibuk dengan proyek barunya, sampai lupa dengan hal itu.
Sementara Nara masih bekerja harus bekerja sebagai pelayan kafe.
Sampai detik ini, manager kafe belum mengetahui jika gadis yang disukai sudah menikah. Hingga pria itu masih berusaha mencari kesempatan untuk mendapatkan hati Nara.
"Maaf, Mas, aku gak bisa terima ajakanmu untuk jalan-jalan," tolak Nara saat beberapa waktu lalu Tirta mengajaknya jalan-jalan untuk sekedar menyambut hari weekend.
Raut sedih dan kecewa tergambar jelas di wajah Tirta. Namun, pria itu tidak bisa memaksa Nara.
Baru saja Nara beranjak untuk mengantar pesanan pengunjung, wanita itu terpaku melihat kedatangan Natan bersama Salsa. Dan lagi-lagi mereka tak segan memamerkan kemesraan di depan umum.
Dan sialnya, Nara yang mendapat tugas melayani dua manusia itu. Dengan perasaan tak karuan, Nara menghampiri meja tempat mereka duduk.
Bagaimanapun perasaannya, dia harus tetap profesional.
"Selamat sore, silahkan pilih menu yang ingin dipesan," ucap Nara datar, sambil menunjukan buku menu di hadapan Natan dan Salsa.
"Kamu mau pesan apa, sayang." Salsa menanyai Natan yang sibuk dengan layar ponselnya. Sengaja menekankan panggilan sayang di depan Nara. Sudut bibirnya terangkat seperti sedang meremehkan.
Tanpa beralih, Natan menyebutkan menu makanan yang ingin dipesan.
Salsa memberikan buku menu dengan menatap angkuh. Dia berdiri dan bersedekap dada.
__ADS_1
"Pernikahan kalian gak ada arti apa-apa dibanding hubungan gue sama Natan. Kasian sekali. Kalau gue jadi lo, gue bakal mundur. Toh, tinggal menghitung mundur aja, Natan pasti cerein lo."
Nara tersenyum dan tetap tenang. "Apa Anda sedang mengunggulkan dosa kalian? Bagi Anda pernikahan kami tidak ada arti, tapi setidaknya sekarang akulah yang diakui negara secara sah menjadi istrinya Mas Natan. Sementara Anda, hanya akan dicap sebagai pelakor."
Mata Salsa melotot sempurna. Tangannya melayangkan sebuah tamparan. Natan terkejut, bahkan pengunjung lain juga memperhatikan mereka.
"Natan, kamu dengar yang dia katakan tadi?! Dia menghinaku!" Wajah Salsa memerah karena marah.
"Salsa, apa yang kamu lakukan?!" pekik Natan. Dia tidak menyangka Salsa bisa nekat menampar Nara di depan umum.
"Natan! Kenapa kamu berteriak padaku?! Kamu tadi dengarkan wanita sialan ini menghinaku," pekik Salsa.
"Salsa, pelankan suaramu?!" desis Natan memperingati. Dia tak ingin keadaan bertambah rumit.
"Nona, ada masalah apa sampai Anda bisa melakukan kekerasan pada pegawai kami? Kalau dia bersalah, harusnya Anda bisa melapor, dan saya akan menindaklanjuti bukan malah melukai fisik. Perbuatan Anda bisa terkena pasal." Tirta datang dan berbicara tegas. Pria itu terlihat geram, tapi harus menjaga sikap di depan pengunjung kafe.
"Pegawai ini sudah mengina saya!" ujar Salsa dengan tatapan berapi-api.
"Tolong jelaskan, bagian mana perkataan saya yang menghina Anda? Dan, bukan saya duluan yang mengajak Anda berdebat, tapi Anda yang memulai!" Nara menyahut.
Salsa membuang pandangan, merasa kalah telak tak bisa menjelaskan.
"Sudah-sudah! Saya mewakili rekan saya, meminta maaf atas kejadian ini. Tolong tidak perlu diperpanjang." ucap Natan juga ikut menyela.
"Tolong diingetin juga REKAN KERJA nya agar hati-hati dalam berbicara!" Nara menatap tajam ke arah Salsa. Dia juga sengaja menekankan kata Rekan Kerja, seperti ucapan Natan tadI. Yang artinya pria itu hanya menganggapnya sebagai rekan kerja.
Setelah Natan membawa Salsa pergi, Tirta mengajak Nara ke ruang lain untuk mengobati pipinya yang memar.
"Gimana kejadian nya wanita itu bisa nampar kamu? Kamu kenal sama mereka? Ini kejadian kedua kamu berurusan dengan mereka," ujar Tirta panjang lebar, sambil memberikan obat oleh pada Nara.
__ADS_1
"Enggak, Pak. Aku gaj kenal sama mereka," jawab Nara berbohong.
Tirta mengerut tidak percaya.