
"Kenapa, Mas? Bukannya itu keputusan yang baik buat kita?"
Natan melajukan mobil perlahan untuk menepi di bahu jalan. Setelahnya pria itu kembali menatap Nara.
"Gue berubah pikiran. Gue gak mau akhiri pernikahan kita."
Nara mengerjap, merasa heran. Diawal pernikahan mereka, Natan lah yang selalu mengungkit penyebab bagaimana mereka akan berpisah. Tapi sekarang, ada apa dengan pria itu yang justru menginginkan pernikahan mereka tetap berlanjut. Apa Natan punya tujuan lain?
Melihat Nara menatapnya dengan intens, Natan sadar jika sikapnya terlalu tidak masuk akal. Nara pasti terheran-heran.
"Ya pokoknya gue gak mau pernikahan kita cepet berakhir. Gue ... em, gue mau cari alasan yang tepat biar bokap lo sama bokap gue gak curiga dan menyetujui keputusan kita."
****! Satu detik kalimat itu reflek terucap, dia menyesali yang dia katakan. Ingin meralat, tapi gengsi seolah mencegah.
Pria itu belum menemukan yang diingini hatinya. Dan yang jelas, hatinya menginginkan pernikahan mereka berlanjut, namun gengsi untuk berterus terang.
__ADS_1
Tidak ikhlas jika berpisah, apakah itu tandanya dia mulai memiliki perasaan. Tiba-tiba teringat ciumannya tadi pagi, meski hanya ciuman di kening tapi hatinya berdebar. Apakah itu artinya mulai ada perasaan ...?
"Aku yang akan jelasin pelan-pelan kepada mereka, kalau kita memang gak cocok. Mudah-mudahan mereka mau mengerti. Toh, kita gak akan bisa lama menyembunyikan rahasia, Mas. Cepat atau lambat, mereka pasti tau tentang hubunganmu dengan Salsa."
Natan menghela napas kasar. Salsa! Benar, rahasia pernikahannya bersama Salsa tidak akan lama. Kandungan Salsa semakin membesar, mereka pasti akan mengetahuinya.
Mengingat istri sirinya, entah mengapa membuat moodnya buruk lagi. Perlahan Natan melajukan mobilnya menuju tempat Nara bekerja. Waktu terus bergulir, dan dia juga harus pergi ke kantor.
•
Di rumah Natan, wanita bernama Salsa terus mengomel dengan angin. Pasalnya setelah bertengkar dan Natan pergi begitu saja, dia benar-benar tak bisa menahan amarah.
Salsa masih mondar-mandir sambil memikirkan rencana untuk membuat Nara terusir dari rumah itu. Posisinya hampir terancam, dia tak bisa membiarkan hal itu. Harus secepatnya bertindak.
Hingga sepulang dari kantor pun Natan memasang wajah dingin di depan Salsa. Pertengkaran dan sikap Salsa akhir ini sangat menguji kesabarannya.
__ADS_1
"Sayang."
Tahu Natan masih marah, Salsa menegur lebih dulu. Dia harus menurunkan ego untuk meluluhkan hati pria itu lagi.
Meraih lengan Natan dan bergelajut manja.
"Aku gerah, Saa. Mau bersih-bersih dulu." Natan melepas pegangan tangan istri sirinya itu.
Salsa pura-pura mencebik. "Bersih-bersih juga bisa aku temenin. Kita bisa mandi bareng." Salsa mengerling sambil tersenyum menggoda. Tapi tidak mempan, Natan melanjutkan menaiki tangga dan tidak memperdulikan.
Telapak tangan Salsa terkepal, hatinya memanas karena Natan tidak merespon.
"Aduh-duh ... sssttth, perutku!" Salsa mengaduh dengan memegangi perutnya. Pura-pura lemas dan duduk di anak tangga untuk memancing Natan.
Benar saja pria itu langsung berbalik dan berubah khawatir.
__ADS_1
"Kenapa? Perutmu kenapa? Ayo kita ke rumah sakit." Natan memegang wajah Salsa. Dan kebetulan pada saat itu Nara baru pulang, wanita itu terdiam menyaksikan mereka.
"Perutku sedikit kram, Natan." Salsa memeluk Natan. Mengetahui keberadaan Nara, semakin menjadi-jadi untuk melancarkan aksinya. Rasain, lo! batinnya.