
Mobik yang ditumpangi berhenti di depan bangunan biasa namun memiliki halaman luas.
"Lo tunggu sini!" ucap Natan.
Meski pria itu menyuruhnya untuk turun dan ikut masuk, dia pun tidak sudi. Nara hanya diam tanpa menjawab.
Apakah suaminya benar-benar tidak memikirkan perasaanya? Walau pernikahan mereka karena sebuah perjodohan, tapi tidak seharusnya Natan terang-terangan berzina di depannya.
Nara menahan gejolak hatinya kala wanita bernama Salsa membukakan pintu untuk suaminya dan langsung menghambur ke pelukan Natan. Bahkan, mereka sempat berciuman.
"Astagfirullahaladzim." Nara hanya bisa mengucap istigfar tanpa bisa menghentikan perbuatan mereka. 'Tuhan, ampuni hamba.'
Di dalam rumah.
"Sayang, tumben mobilnya gak dimasukin halaman?" tanya Salsa yang sempat melongok keberadaan mobil Natan di pinggir jalan.
"Males muternya. Kan kita cuma bentar, aku harus berangkat ke kantor," kilah Natan karena sebenarnya sedang menyembunyikan Nara. Bisa marah kalau Salsa tahu dia bersama Nara.
Dia pernah mengatakan kalau pun dia sudah menikah dengan wanita bernama Nara, tapi mereka tidak pernah dekat, tidak pernah kontak fisik. Pernikahannya bersama Nara hanya sebuah status, dan suatu saat nanti setelah mendapat celah keburukan Nara, dia akan menceraikannya.
"Ck, gak bisa kangen-kangenan dong. Aku kangen banget sama kamu," manja Salsa yang bergelayut di lengan Natan.
"Setelah papa gak mantau hubunganku dengan wanita itu, kita bisa kangen-kangenann seperti dulu," hibur Natan.
"Itu belum pasti. Kan aku pengennya sekarang." Salsa merebahkan kepalanya di bahu Natan setelah mereka duduk di sofa.
"Sabar sayang," ucap Natan. Mencubit gemas dagu kekasihnya.
Salsa justru membalas dengan sebuah kecupan singkat di bibir Natan. Hal itu efektif membangkitkan gejolak panas dalam diri pria itu, hingga dia kembali menempelkan bibir mereka sampai membelit dan saling bertukar saliva.
Nafsu sudah menguasai, hingga waktu terlupakan. Tak sadar 20 menit sudah mereka lewati dengan saling bercumbu. Padahal Nara sampai jenuh menunggu Natan yang tak kunjung keluar. Selain itu, ada hal yang lebih penting yaitu takut terlambat sampai di kafe.
Wanita memakai tunik putih sebatas lutut dan rok plisket pink salem itu memutuskan untuk menyusul Natan. Mungkin saja pria itu keasikan dan lupa bahwa mereka harus pergi ke tempat kerja.
"Assalamualaikum ... Astagfirullahalazhim." Nara memekik terkejut dan langsung menutup wajah dengan kedua telapak tangannya.
Jantungnya berdegub kencang dan hampir menangis. Umurnya memang sudah dewasa, tapi pemahamannya tentang bermesraan dengan lawan jenis benar-benar nihil. Bahkan berciuman saja tidak pernah. Hanya Natan yang pernah mencium keningnya, selain itu jelas tidak pernah.
__ADS_1
Natan dan Salsa yang tengah bermesraan juga terkejut mendengar pekikan Nara. Pria itu menjauh dari tubuh kekasihnya dan secepatnya membenarkan kancing kemeja yang tadi di buka oleh Salsa.
Natan mengambil jas yang tersampir di atas sandaran sofa. Gegas memakainya. Sementara Nara hanya membetulkan kaos yang tersingkap ke atas.
"Natan, dia istrimu?!" tuding Salsa geram mengetahui Nara mematung di depan pintu.
"Kamu gak bilang kalau dia ikut denganmu!" imbuh wanita itu dengan nada sengak.
"Dia satu arah, jadi papa menyuruhku berangkat bareng," ujar Natan menjelaskan.
Salsa membuang muka. Terlihat marah karena tahu Natan datang tidak sendirian.
"Kamu kan bisa cari alasan lain. Cuih, najis rumahku di datengi sainganku sendiri!" Salsa menatap Nara dengan sengit.
"Sa, pliss ... keadaanya harus seperti ini. Kalau bukan karna papa, aku juga gak mau dekat dengan Nara."
"Hei, kamu bahkan barusan menyebut namanya!" sergah Salsa.
Di depan pintu Nara bergeming dengan pandangan berkabut. Apakah dua manusia itu tidak menganggapnya ada? Bahkan sama sekali tidak menjaga perasaanya.
Dia memang istri tak dianggap, tapi bukan berarti dia tidak memiliki perasaan.
"Aku hanya memanggil namanya, tidak menyebutnya dengan mesra, Sa!" Natan dan Salsa masih beradu argumen.
"Berhenti, Mas! Aku akan pergi dengan memesan ojol," ucap Nara dan segera mengambil langkah lebar untuk meninggalkan rumah itu.
Dia berlari kecil untuk sampai di jalan raya. Rintik hujan dari sudut matanya segera dia bersihkan.
Natan benar-benar tidak menghargainya!
"Ya Allah, kenapa aku harus mengalami takdir seperti ini."
Melihat suaminya bercumbu dengan wanita lain, dan mendapat kata-kata hinaan membuat hatinya sangat terluka.
Din ... din!
Ketika Nara berdiri di pinggir jalan, sebuah mobil berhenti didepannya.
__ADS_1
"Ra, kok kamu disini?" Tirta melongok dari balik jendela.
Nara segera mengusap pipi yang masih ada sisa air mata. Dia berusaha mengembangkan senyum agar manager kafe tempatnya bekerja itu tidak mengetahui kalau dia habis menangis.
"Iya, Pak. Tadi motor ojol nya rusak mesin, jadi terpaksa saya turun di sini," jawab Nara yang terpaksa harus berbohong.
"Hampir telat, nih. Yuk bareng aja!" Tirta menawarkan tumpangan.
"Gak enak, Pak. Saya pesen ojol yang lain aja," tolak Nara. Dia takut terjadi gosip kalau karyawan lain melihatnya turun dari mobil Tirta, si manager kafe.
"Gak keburu, Ra! Mau nanti kena jam tambahan!"
Nara melihat jalan rumah Salsa, dari pada bertemu lagi dengan Natan lebih baik dia menumpang di mobil Tirta.
"Ya sudah saya menumpang di mobil Anda," ujarnya dan masuk ke bagian samping kemudi.
Dalam hati Tirta tertawa bahagia. Akhir-akhir ini bisa berdekatan dengan gadis yang disukai.
"Ra, kamu ada masalah?" Tirta masih bisa melihat bekas air mata di pipi Nara. Dia sangat penasaran apa yang membuat Nara menangis. Selama ini Nara memang pendiam dan jarang bicara, jadi sangat sulit untuk mengorek informasi.
"Gak, Pak." Nara menoleh sebentar dan tersenyum. Berusaha menunjukan bahwa dia baik-baik saja. Dia tidak bisa menceritakan apapun pada pria itu.
"Wajahmu kelihatan sedih, Ra."
"Seseorang pasti punya masalah, Pak. Tapi maaf, saya tidak bisa cerita dengan Anda."
"Kalau lagi berdua seperti ini, anggap aku sebagai temanmu, Ra. Dan jangan kaku gitu. Santai aja. Kalau mau cerita, dengan senang hati aku mau menjadi teman curhatmu." Tirta menampilkan senyum tulus di hadapan Nara, berusaha menciptakan suasana nyaman. Siapa tahu Nara mau terbuka.
"Terima kasih, Pak. Tapi berteman ada batasan antara laki-laki dan perempuan. Mohon maaf sekali, saya tidak bisa menceritakan apapun pada Anda."
Tirta menghela napas. "It's oke. Kalau gitu jangan panggil saya Pak, kesannya tua banget. Panggil nama langsung gak papa."
Nara menggeleng. "Itu tidak sopan."
"Kalau di area kafe terserahmu, tapi pas ketemu di luar jangan panggil Pak. Dikira udah bapak-bapak. Makin lama lagi nanti ngejomblonya," ujar Tirta bergurau.
Nara tersenyum. Dia tidak tahu kalau Tirta ternyata bisa bercanda. Tapi ketika berada di kafe, pria itu sangat tegas.
__ADS_1