
"Non baik banget kasih ikan bakar buat kami, sampek repot-repot dianter kesini. Makasih ya Non," ucap satpam yang berjaga di rumah Natan.
Nara tersenyum. "Daripada gak kemakan, Pak, mubazir. Saya masuk lagi ke dalam, ya," balas Nara.
"Oh iya, Non, iya silahkan."
Nara kembali masuk ke dalam rumah. Saat menutup pintu dia terkejut dengan kehadiran Natan.
"Dari mana?" tanya pria itu.
"Dari post penjagaan di depan, anter ikan tadi. Kirain kamu langsung tidur, Mas."
"Gue laper, ikan yang tadi lo kasihin semua apa lo sisain?"
Saat ini percakapan Natan dan Nara cenderung normal, tidak kaku dan tegang lagi.
"Masih ada satu. Kalau kamu mau makan aku siapin." Nara berjalan mendahului Natan ke meja makan, menyiapkan piring dan lauk pauk. Tak lupa juga menuang air putih dan menaruh di depan pria itu.
"Lo gak makan?"
Nara hanya duduk tanpa menyiapkan piring untuk dirinya sendiri.
"Masih kenyang."
__ADS_1
"Tadi lo bilang mau makan."
"Tadinya gitu daripada mubazir, mau tak makan. Tapi kan sekarang udah ada kamu yang makan."
"Ikan segede gini gak abis gue makan sendiri. Ambil piring, lo juga harus ikut makan," ujar Natan.
Nara diam sejenak, tapi ketika Natan melirik ke arahnya baru dia bangkit untuk menyiapkan yang diperintahkan tadi.
'Gue kesini karna mau nemenin lo doang, malah gue yang harus ngabisin ikan segede gini. Lo juga harus makan. Lo yang capek-capek masak juga,' batin Natan.
Setelah Nara menaruh piring di atas meja, Natan langsung memotong ikan itu menjadi dua. Diberikan kepada Nara setengahnya.
Tadinya suasana terasa normal, tapi setelah Natan bersikap lain, Nara berubah canggung.
"Kamu percayakan kalau aku tadi gak ada niat buat nyakitin Salsa?"
Natan melihat Nara sebentar, lalu melanjutkan mengunyah makanan. "Walau gak niat nyakitin, tapi tindakan lo tadi bahaya buat Salsa dan calon bayinya."
"Iya aku sadar itu. Tadi reflek karna Salsa neken tanganku. Maaf," ucap Nara.
Natan mengangguk. Dia beralih ke topik lain. "Soal mimisan, memangnya dari dulu lo sering mimisan?"
Deg!
__ADS_1
Nara teringat dengan kondisi tubuhnya yang akhir-akhir ini sering mimisan dan sakit kepala. Dia juga ingat perkataan Tirta waktu di rumah sakit dulu jika ingin tahu kondisi seluruh tubuhnya harus melakukan pengambilan sampel darah.
Tak dipungkiri, diapun penasaran dengan keadaan tubuhnya.
"Akhir-akhir ini aja, mungkin karna kecapean," jawab Nara dengan kurang yakin.
"Udah tau kek gitu mustinya gak usah ambil lembur."
"Aku lembur buat ganti jam kerja yang aku ambil pas cuti."
"Memang berapa gaji lo sebagai pelayan kafe? Atm yang gue kasih kemarin setiap bulan gue transfer dua puluh juta."
"Hah?" Nara melotot dengan bola mata hampir copot. Dua puluh juta, sebulan? Sementara gajinya di kafe hanya tiga juta.
Melihat respon wanita di sampingnya terkejut, Natan mengerutkan kedua alis. Kenapa Nara harus terkejut, apa dia tidak pernah mengecek saldo akhir.
Padahal Nara memang tidak pernah mengecek, bahkan kartu debit itu tersimpan rapi di dalam laci.
Mungkin Natan tidak tahu karena selama ini tidak mengecek pengeluaran kartu debit yang diberikan pada Nara.
"Sebulan udah gue kasih nafkah segitu, harusnya lo gak usah capek-capek kerja yang cuma di gaji tiga juta," celetuk Natan.
Nara menghela napas. Walau uang yang diberikan Natan jauh lebih besar, tapi dia merasa tak pantas untuk menggunakannya.
__ADS_1