
Seharian Nara menjadi penghuni kamar. Sejak mengetahui fakta Natan menikah siri dengan Salsa, moodnya menjadi tidak karuan. Marah, kecewa, bingung, semua perasaan itu berbaur.
Saat tengah melamun, dikejutkan dengan ketukan daun pintu. Tak lama dari itu terdengar suara Bi Inem.
"Non, Bibi masuk, ya!" Setelah terdengar pintu terbuka, wanita paruh baya yang masih menggunakan celemek itu mendekat.
"Non mau dimasakin apa?" tanya Bi Inem.
"Gak selera makan, Bi," ucap Nara.
"Walau Non gak selera harus makan sedikit-sedikit biar lambungnya gak kosong. Tinggal bilang pengen apa biar Bibi buatkan." Bi Inem berusaha membujuk Nara, melihat wajah Nara yang pucat membuatnya tak tega. Apalagi mengetahui kelakuan Natan yang menikah lagi, membuatnya bertambah iba.
"Atau mau Bibi buatkan sup tulang iga?"
Nara baru akan menjawab, namun dari arah luar sudah mendengar suara Salsa yang berteriak.
"Bik!!! Bik Inem!"
"Duh, Gusti, ada apalagi dengan orang satu itu." Bi Inem menggerutu.
"Bibi dipanggil. Coba temuin dulu siapa tau dia butuh sesuatu, Bik," ujar Nara.
Dan Bi Inem belum keluar dari kamar Nara, Salsa sudah berdiri didepan pintu.
"Udah tua, budek! Dipanggil dari tadi gak nyahutin!" omel Salsa dengan berkacak pinggang.
"Astagfirullah, Salsa! Yang sopan kalau bicara dengan orang tua!" Nara reflek membalas Salsa. Wanita berpakaian sexy itu sudah sangat keterlaluan mengatai Bi Inem tuli.
__ADS_1
"Apa lo?! Gak ada urusan sama lo!" Salsa melototkan matanya.
"Lo disini sebagai istri sah, tapi harga diri lo gak lebih baik dari gue! Ngerti!" lanjutnya.
"Tau apa kamu tentang harga diri? Seorang wanita yang paham tentang harga diri, akan memilih menjaga kehormatannya daripada nafsu. Kamu tahu aku menikah dengan Natan secara sah, tapi kamu tetap menjalin hubungan dengan pria yang sudah beristri. Apa seperti itu yang kamu sebut punya harga diri?"
Salsa berjalan cepat menghampiri Nara, mengangkat tangan untuk menampar pipi Nara. Namun Nara sudah tahu gerak-gerik itu, hingga dia menangkis tangan Salsa cukup kuat.
"Lo!!!" Salsa menunjuk tepat di depan muka Nara. "Gue pastiin, secepatnya Natan akan ceraikan lo!"
"Non, udah Non. Udah-udah!" Bi Inem ketakutan melihat perseteruan Nara dan Salsa. Takut berlanjut dan menyakiti satu sama lain.
"Non Salsa cari Bibi mau apa?" sela Bi Inem lagi yang beralih pada Salsa untuk mengalihkan kemarahan wanita itu.
"Udah gak mood! Selera gue hilang seketika liat wajah dia!" Salsa menatap nyalang ke arah Nara. Wajah putihnya berubah kemerahan.
"Astagfirullahalazdim." Nara beristigfar berkali-kali untuk meredam emosi. Kepalanya kembali terasa pusing, lalu merebahkan diri di ranjang.
Sampai waktunya makan malam, Bi Inem yang membangunkan Nara.
"Jam berapa, Bi? Kok langitnya udah gelap?" Nara memijit pelan pelipisnya, dengan melirik Bi Inem yang menutup gorden. Ternyata sudah malam.
"Jam 7 malam, Non. Sudah waktunya makan malam," jawab Bi Inem.
"Ya Allah, aku ketiduran lama banget," gumam Nara. "Aku sholat dulu, Bi. Nanti aku turun buat makan malam," ucapnya.
Nara bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan melakukan yang dikatakan tadi.
__ADS_1
Barulah tiga puluh menit kemudian dia keluar kamar untuk makan malam. Seharian tidak makan dengan benar, ternyata membuatnya kelaparan.
Di anak tangga terakhir, dia berjalan dengan pelan. Di meja makan sudah ada Salsa yang bergelayut mesra di lengan Natan.
Nara merubah pandangan ke segala arah, juga menghela napas berkali-kali untuk menetralkan perasaanya.
"Si pemalas baru bangun!" celetuk Salsa tersenyum mengejek Nara.
Natan menoleh ke arah Nara. "Baru bangun? Gue mau nunggu lo makan malam, tapi Salsa udah kelaparan. Jadi, sorry, kita makan duluan," ucapnya dengan raut biasa.
"Gak papa, Mas, udah biasa makan sendiri." Nara mengambil duduk di seberang meja Natan.
Sementara Salsa tanpa rasa risih masih bergelayut di lengan pria itu. Saling menyuapi satu sama lain. Seolah dunia milik mereka berdua tanpa memikirkan perasaan Nara.
"Sayang, abis ini aku mau nonton," rengek Salsa dihadapan Natan.
Natan melirik ke arah Nara. Wanita itu sedang menekuni piring makanan tanpa mengarah padanya.
Ternyata satu meja dengan dua wanita membuatnya canggung. Padahal selama ini biasa saja saat bersama Nara. Tapi sekarang terasa berbeda.
"Saa, aku capek. Kita di rumah aja."
"Kok gitu! Ini kemauan calon anakmu loh. Kamu gak mau nurutin?!" Salsa merajuk. Berubah menatap dengan sebal.
"Baik, sayang. Selesai makan kita nonton." Pada akhirnya Natan menyetujui.
Nara mencelos mendengar pembicaraan mereka. Apalagi ketika beberapa kali Salsa melirik ke arahnya, seperti sengaja membuat keadaan memanas. Dia hanya bisa diam dan menahan.
__ADS_1