Sesal Sampai Akhir

Sesal Sampai Akhir
Orang Asing


__ADS_3

Pagi hari ketika Nara baru selesai melakukan shalat dan ingin berkutat di dapur, langkahnya terhenti karena mendengar telepon rumah berbunyi. Keningnya berkerut penasaran, pagi buta begini, siapakah orang menghubungi.


"Halo, assalamualaikum."


[ .... ]


"Apa? Baik, akan segera saya sampaikan." Gagang telepon diletakan dengan asal dan dengan setengah berlari dia menaiki anak tangga kembali.


Nara mengetuk pintu kamar Natan dengan tidak sabaran.


"Mas, bangun!" teriaknya dengan panik. Dia mengetuk pintu dan memanggil kembali.


Tak berapa lama wajah garang Salsa muncul. "Dasar gila, ada apa pagi-pagi teriak, bodoh!"


"Astagfirullah, Salsa! Bisa gak sih kalau bicara itu yang baik. Ingat kamu lagi hamil, gak baik bicara kasar seperti itu."


"Bangunin cuma mau ngomel? Gue gampar baru tau rasa lo! Gue paling gak suka ada yang ganggu gue!" sentak Salsa dengan pandangan sengit.


"Kalau bukan karna hal penting, aku juga gak bakal bangunin."

__ADS_1


"Lagak lo ada yang penting, palingan lo iri kan gue tidur sama Natan. Makanya lo rese ganggu!"


Nara membuang pandangan, muak sekaligus risih melihat pakaian Salsa yang minim. Baju tidur berbahan satin dan hanya memiliki tali tipis di atas pundak itu membuatnya berpikir aneh seusai Salsa tidur bersama Natan.


"Pandangan mu selalu suudzon. Barusan ada pihak rumah sakit dari singapore telepon, katanya Papa masuk rumah sakit. Bangunin Mas Natan dan katakan itu padanya." Nara setengah mendengus dan berbalik pergi. Malas terusan membuang energi berbicara dengan Salsa yang selalu berpikiran negatif.


"Ya Allah, sabar-sabar. Bicara sama Salsa harus punya stok kesabaran melimpah," gumamnya.


"Papa, gimana keadaannya? Semoga tidak terjadi sesuatu yang fatal." Ketika mengingat kabar papa mertuanya, wajah Nara berubah cemas.


"Nara, tunggu!" Natan mengejar langkah Nara yang baru turun di lantai bawah.


"Papa ...." Natan mengusap wajah kasar. Dia pikir Salsa hanya mengerjainya, ternyata tidak. Papanya benar-benar sakit.


Tanpa mengucap apapun lagi, Natan kembali menaiki tangga dengan tergesa-gesa. Mendapat kabar kalau papanya masuk rumah sakit, jelas membuatnya khawatir.


Tak berselang lama, Natan sudah rapi dan terlihat membawa tas pakaian. Salsa menjajari langkah pria itu dengan wajah murung.


"Kenapa harus pergi, kan udah ada asisten papa kamu loh disana," ucap wanita itu dengan wajah merajuk.

__ADS_1


"Saa, apa aku sudah gila. Tau kabar papa masuk rumah sakit dan aku gak kesana buat mastiin langsung keadaanya?"


Keadaan genting tapi Salsa merajuk seperti anak kecil. Setengah hati Natan menahan emosi. Namun, bagaimana lagi dia berusaha memaklumi sikap Salsa yang mungkin pengaruh dari hormon kehamilan yang berubah-ubah. Karena dulunya Salsa tidak terlalu begitu.


"Aku begitu karna gak mau jauh darimu, Natan!"


"Gak akan lama. Kalau kondisi papa memungkinkan, aku akan memindahkan papa ke rumah sakit Jakarta, biar dekat dan gak harus bolak-balik. Makanya aku harus kesana buat urus semuanya."


Meski wajah Salsa masih ditekuk, tapi wanita itu mengangguk.


"Kamu mau nyusul papa, Mas?" Nara yang tak sengaja mendengar pembicaraan Natan dan Salsa kini mendekati mereka.


Natan mengangguk. "Gue harus susul papa buat mastiin keadaanya."


"Hati-hati. Semoga sakit papa gak parah bisa kembali kesini."


"Hem. Gue titip Salsa. Siapin semua yang dia mau. Dan jangan lakuin yang buat dia bahaya." Setelah mengatakan itu, Natan pergi dengan di antar Salsa.


Sementara Nara bergeming dengan hati mencelos, selalu Salsa yang menjadi prioritas utama Natan. Entah bagaimana pemikiran pria itu, yang malah menitipkan Salsa kepadanya bahkan menyuruhnya untuk memenuhi semua yang diinginkan madunya.

__ADS_1


Apakah Natan benar-benar menganggapnya sebagai orang asing yang tidak perlu dipikirkan perasaanya.


__ADS_2