
Entah apa yang dipikirkan Natan yang awalnya ingin mencari kafe untuk makan malam namun pria itu justru melajukan mobilnya pulang ke rumah.
"Katanya mau cari tempat makan, Mas?" tanya Nara begitu menyadari bahwa mobil yang dikendarai justru mengarah ke rute rumah Natan.
"Lo masak aja buat gue."
Saking terkejutnya Nara hampir tersedak air liurnya sendiri. Namun dalam hati ada rasa kesenangan karena Natan memintanya untuk memasak.
Sesampainya di rumah, wanita berjilbab hitam itu bergegas ganti pakaian dan kembali menemui Natan untuk menanyakan ingin dibuatkan masakan apa.
"Terserah yang penting gak pakek lama. Dah laper banget gue," ujar Natan.
Setelah mendengar permintaan itu, Nara mencetuskan untuk membuat nasi goreng. Rasa lelah yang mendera menguap begitu saja, bahkan dengan sepenuh hatinya dia menghidangkan makanan.
Sekitar tiga puluh menit kemudian, nasi goreng itu sudah siap. Nara sibuk menghidangkan di depan Natan.
"Ayo Mas dimakan," ucap Nara.
Natan mendongak ke arah Nara. Istri sah yang diperlakukan tak lebih sekedar orang lain itu justru begitu tulus melayaninya.
"Makasih."
__ADS_1
Nara terbelalak tak percaya. Benarkah barusan pria yang selalu bersikap dingin itu mengucap kata terimakasih?
Natan menunduk dan menyendok nasi goreng dengan lahap, entah karena memang sedang lapar atau masakan Nara enak. Bahkan hanya beberapa kian saja nasi goreng sudah tandas licin.
"Mau nambah, Mas?" Nara menawari.
"Sedikit lagi gak papa."
Nara tersenyum dan menambahkan nasi goreng ke piring Natan lagi. Entah mengapa ada kepuasan tersendiri tahu Natan menyukai makanan yang dibuat.
"Dari pagi baru ke isi kopi, jadi kek orang setahun gak makan," celetuk Natan. "Ngurusi papa pindah, pusing banget."
"Yang sabar, mudah-mudahan keadaan papa lekas membaik. Mas jangan lupa makan dan jaga kesehatan. Kalau papa sakit, kamu juga sakit, nanti siapa yang akan mengurus kantor," ucap Nara dengan lembut.
Natan terdiam memperhatikan Nara. Dari keteduhan dan kepolosan wajah Nara, dia dapat menilai bahwa wanita itu benar-benar tulus tanpa melebih-lebihkan dalam berkata.
Salsa? Bayangan wanita itu saat ini memudar. Saat dibutuhkan justru tak ada.
Natan cukup lama terdiam dan memperhatikan Nara, sampai wanita itu berdehem.
"Mas, itu ...," ucap Nara memberitahu lewat isyarat tangan yang menunjuk ke bibir Natan.
__ADS_1
"Apa?" Natan kebingungan.
Nara tersenyum. "Itu, di bibirmu, Mas!" tunjuk Nara.
"Apa? Lo minta cium?"
"Hah?!" Nara melongo. Setelahnya baru terlihat kesal. Dia beranjak mendekati Natan dan mengusap bibir pria itu untuk membersihkan sisa makanan.
Deg!
Untuk sepersekian detik tatapan keduanya beradu. Tubuh mereka sama-sama saling membatu.
"Ekhem. Maaf, tadi ada sisa makanan."
Natan bernapas panjang. Ternyata tindakan sepele barusan mampu membuat jantungnya berdebar. Apa-apaan sih!
Suasana menjadi hening. Nara kembali duduk dan melanjutkan makannya. Sementara dia sendiri sudah menghabiskan sisa makanan di piringnya.
"Oh, jadi begini kalau aku gak ada?! Kesempatan berdua-duaan?!" sentak Salsa.
Natan dan Nara menoleh ke sumber suara. Salsa berdiri mencangkung di antara ruang tengah dan ruang makan. Tatapannya bergantian mengarah kepada dua orang itu.
__ADS_1
"Dateng-dateng gak usah bikin ribut!" Natan membalas dengan menyolot. Sejak pulang dan mendapati Salsa tidak ada, dia sudah menahan kesal.