
Beberapa saat hening menyambangi mereka. Nara sibuk memperhatikan ke arah luar jendela, daya tariknya awan putih dan biru yang cerah. Sementara Natan mengeluarkan ponsel dan sibuk dengan benda itu.
"Sampek kapan lo di sini?" celetuk Natan membuat Nara menoleh.
"Kalau cairan infus yang kedua ini habis, sudah boleh pulang," jawab Nara.
"Bagus deh, gue juga ada urusan," jawab Natan acuh tak acuh. Ketika itu ponselnya berdering, pria itu bangkit dan menjauh.
'Ya, sayang?'
Nara menghela napas panjang. Dari panggilan itu dia sudah mengetahui kalau Natan mendapat telepon dari Salsa.
Ya Tuhan, entah sampai kapan dia berada di posisi seperti ini. Berstatus sebagai istri namun tak dianggap.
•
Nara pulang ke rumah dengan menaiki taksi online yang dipesankan oleh Natan. Pria itu sudah kabur ke rumah Salsa katanya ada keadaan urgent. Entah darurat seperti apa, dia tak ingin mengetahui.
"Non, kok pulang sendirian? Tuan Natan mana?" Bi Inem membukakan pintu, juga membantu Nara ke kamarnya.
"Gak tau, Bi. Katanya ada urusan." Walau badannya sedikit membaik, namun tak dipungkiri kalau kepalanya masih terasa pusing.
"Bibi buatkan bubur sama susu dulu, ya, Non." Setelah membantu Nara berbaring di ranjang, Bi Inem berpamitan ke dapur untuk membuat makanan.
"Apa aku benar-benar kecapean? Kok badan rasanya meriang dan kepala juga sering pusing," gumam Nara yang aneh dengan tubuhnya sendiri. Apalagi akhir-akhir ini dia sering mimisan, padahal sebelumnya dia tidak pernah.
•
Dua hari berselang. Selama itu Natan tidak pulang ke rumah. Ketika Nara menghubungi melalui telepon rumah, jawaban pria itu membuatnya kesal dan kecewa. Suaminya sendiri sedang sibuk merawat Salsa yang katanya sedang sakit.
Padahal dia belum masuk kerja karena masih sering pusing. Badannya juga sering lelah tanpa beraktifitas berat.
Siang, setelah menyelesaikan gerakan 4 rakaat. Nara memilih untuk beristirahat, namun belum sempat terlelap, telinganya mendengar kegaduhan di depan pintu kamarnya. Dia yang penasaran memutuskan untuk melihat.
__ADS_1
Kreeetttt!!!!
Nara terkejut melihat Natan dan Salsa saling berangkulan mesra. Suara gaduh tadi adalah suara Salsa yang menyuruh Bi Inem untuk membawakan sebuah koper dan tas besar. seperti orang pindahan.
"Mas?!" Jantung Nara bergemuruh melihat Salsa ada di rumah itu.
"Sayang, urus istri kampungan mu itu. Aku masih lemas, pengen segera istirahat."
"Ya udah, kamu masuk ke kamar duluan. Biar aku bicara sama dia."
"Jangan lama-lama!" pesan Salsa sebelum hilang dibalik pintu kamar Natan.
"Mas, apa maksudnya? Kenapa Salsa kamu bawa ke rumah ini? Bahkan kamu mengizinkan dia masuk ke kamar mu?!" Nara bertanya dengan bertubi-tubi. Dia yang sudah beberapa bulan menjadi istri Natan tak diizinkan masuk kecuali waktu pria itu sakit.
Lalu Salsa yang hanya berstatus kekasih langsung dipersilahkan masuk. Dan satu lagi! Perihal koper.
"Tas besar dan koper itu berisi pakaian pacarmu?!" Nara sungguh tidak mengerti.
"Dengar, Salsa akan tinggal di rumah ini."
Wajah Nara benar-benar terkejut. "Apa?! Enggak! Walau ini rumahmu, tapi aku tidak mengizinkan pacar dari suamiku tinggal disini. Kamu dan Salsa akan terus berbuat zina, aku tidak ingin tinggal di rumah yang dilaknat malaikat!"
"Dari awal gue udah tegasin ke elo, kalau gue dan Salsa saling mencintai. Walau kita menikah, tapi lo bukan siapa-siapa bagi gue!"
Nara memejam mendengar kalimat Natan yang memang bukan hanya sekali pria itu mengatakannya.
Dia tahu diantara mereka memang hanya terikat status pernikahan, tanpa adanya perasaan. Namun tidak seenaknya juga Natan membawa Salsa tinggal bersama mereka.
"Dari tadi malam gue dan Salsa bukan pasangan zina seperti yang lo bilang. Gue udah nikah siri sama dia!"
Seperti petir disiang bolong, sangat mengejutkan dan membuat jantungnya seolah terhenti. Pernyataan Natan membuat tubuh Nara bergeming.
Menikah siri? Walau dalam status negara tidak kuat, tapi dalam agama diperbolehkan. Yang artinya sekarang Salsa adalah madunya. Istri kedua dari suaminya.
__ADS_1
Nara tak bisa berkata apa-apa lagi. Dipaksa menelan kenyataan pahit. Dia yang masih bingung kemana arah tujuan rumah tangganya kini semakin tak tahu arah. Menyerah atau bertahan demi orang tua mereka masing-masing.
Tubuh Nara melemas dan duduk di tepi ranjang. Beberapa bulir air mata menetes, tapi tak membuat Natan kasihan.
"Ada sesuatu yang membuat Salsa gak bisa nunggu perceraian kita," ujar Natan.
Astahfirullahal'adzim. Nara hanya mampu beristigfar berkali-kali dalam hati. Kenyataan ini terlalu mengejutkan dan mengecewakan.
Bukan hanya tak dianggap. Ternyata Natan sangat menginginkan perceraian.
"Kalau begitu kenapa gak ceraikan aku sekarang aja, Mas?"
"Gak bisa semudah itu. Ada sesuatu yang buat gue harus pertahankan pernikahan kita."
Nara meremas jemari untuk mengalihkan gemuruh di dadanya.
"Kamu gak bisa egois, Mas! Kamu gak bisa menempatkan aku dan Salsa dalam satu rumah."
"Kenapa?!" Nada bicara Natan sedikit meninggi.
"Walau sekarang dia sudah menjadi istrimu, tapi aku juga masih istrimu. Apa kamu tidak bisa menjaga perasaanku?!"
Keduanya saling menatap satu sama lain. Tapi Natan kemudian memutuskan lebih dulu. Melihat air mata yang menetes, ternyata masih ada sedikit rasa iba.
"Apa yang harus dijaga, Nara?! Kita tidak memiliki perasaan satu sama lain! Apa yang harus dijaga?! Atau ... jangan-jangan lo mulai suka sama gue?" tukas Natan.
"aku tidak memiliki perasaan apapun padamu, tapi seharusnya kamu bisa menghargai keberadaanku. Aku tidak mau satu atap dengan maduku, Mas!"
Natan tersenyum masam. "Terserah. Kalau lo gak terima, tenang saja, ini cuma sementara. Sampai nanti fisik Salsa kuat, dia bakal gue belikan rumah sendiri. Gue cuma takut kandungan Salsa kenapa-napa, makanya sementara ini biar dia tinggal disini."
Nara kembali terhenyak mendengar fakta mengejutkan lainnya. Kandungan? Berarti Salsa sedang mengandung benih Natan? Dan sebab itulah Natan menikah siri dengan Salsa.
Ya Tuhan, cobaan seperti apa lagi ini?
__ADS_1