
"Siapa yang ngajak kamu ribut?! Kamu yang bilangnya gak suka wanita itu, tapi terlihat asik berdua-duaan?! Jangan coba-coba mengkhianati perasaanku, Natan!" Nada Salsa masih meninggi. Bahkan tatapannya kesal bercampur emosi.
Natan menggeleng seperti orang tidak percaya. "Sekilas melihat dan kamu sudah menyimpulkan. Konyol," ucapnya sinis.
"Aku baru pulang, capek, lapar, tapi kamu malah keluyuran. Salahnya dimana kalau Nara yang juga berstatus istriku melayani menu makanku?!" Pria itu terlihat tak bisa menahan diri.
Sementara Nara hanya membatu dengan sudut mata berkaca-kaca. Dia istri sah secara hukum dan agama namun disini seperti wanita perebut laki orang. Seolah-olah dia bersalah karena menjadi penyebab pertengkaran Natan dan Salsa.
"Melayani menu makan, lama-lama melayani di atas ranjang." Tatapan sinis Salsa mengarah pada Nara.
"Melayani di atas ranjang tidak masalah karna aku juga istri Mas Natan. Seorang suami yang melakukan poligami seharusnya berlaku adil, tapi aku tidak menuntut itu karna diantara kami hanya terlibat perjodohan bukan perasaan. Andai kamu mau mengerti, posisiku sangat sulit. Tapi aku berusaha menjalani dengan ikhlas."
Natan tertohok dengan kalimat yang diutarakan Nara. Seorang suami yang melakukan poligami seharusnya adil. Tapi perlakuannya selama ini sangat jauh dari kata itu. Jangankan adil, menganggap Nara sebagai istri saja tidak.
Lidah Natan seketika kelu. Betapa dia ditampar oleh kata-kata itu. Dia menyadari jika selama ini Nara tidak pernah menuntut hubungannya bersama Salsa. Atau lebih tepatnya dia tidak akan peka akan hal itu.
Sulit? Harusnya bukan hanya Salsa yang memahami kesulitan Nara, tapi dia juga. Betapa wanita itu mengorbankan perasaanya juga masa depan bersama pria yang diimpikan, tetapi Nara sekarang justru terbelenggu dalam pernikahan pura-pura mereka.
__ADS_1
Dia bisa bersama Salsa. Tapi Nara? Wanita itu hanya bisa memendam perasaan dan masa depannya.
Ya Tuhan ....
"Lo mau ngelunjak?! Awas kalau sampek lo rayu Natan untuk ***** di atas ranjang, gue gak akan toleransi hubungan kalian. Persetan dengan wasiat perjodohan, Natan hanya akan menjadi ayah dari bayiku?!" Salsa menatap sengit.
Sementara Nara yang memiliki hati lembut meluncurkan air mata dari hazel sendunya. Bukan karena ancaman dari istri siri suaminya, lebih ke kehidupan yang kini justru menyulitkan dirinya.
"Berhenti Salsa! Aku lelah. Bisa gila mendengar pertengkaran kalian. Jangan bicara apapun lagi!" Pria itu meninggalkan meja makan dan melewati Salsa untuk ke lantai atas. Salsa memanggil dan mengikuti langkahnya.
Tatapan Nara bertambah buram ketika tiba-tiba kepalanya terasa pusing, bersamaan dengan lubang hidung yang mengeluarkan darah.
•
Pertengkaran semalam membuat Nara enggan menyapa ruang dapur. Pagi-pagi sekali memutuskan untuk pergi ke rumah sakit menjenguk papa mertuanya. Sempat terbesit menyiapkan makanan untuk Natan, tapi mengingat pertengkaran semalam, dia urungkan.
Mentari yang belum muncul sepenuhnya dan angin pagi berembus menusuk tulang membuat Nara memesan taksi online agar tubuhnya nyaman.
__ADS_1
Di dalam taksi Nara melamun dan terus terpikirkan mencari solusi untuk hubungannya bersama Natan. Menimang-nimang, bertahan atau berpisah. Apakah almarhum ibunya akan bersedih jika pernikahan yang direncanakan itu berujung perpisahan atau justru ibunya akan bersedih mengetahui posisinya?
Nara kembali pusing memikirkan hal itu. Sebelum sampai di rumah sakit, dia menyuruh driver taksi berhenti di depan penjual bubur.
Dan 20 menit kemudian Nara sudah menyusuri lorong rumah sakit setelah sebelumnya bertanya kamar rawat Abimana.
Nara berjalan tanpa suara untuk mendekat ke brankar Abimana. Dia takut membangunkan mertuanya jika saja masih terlelap, tetapi itu salah. Abimana ternyata sudah bangun. Terlihat melirik ke arahnya saat dia sudah mendekat.
"Assalamualaikum, papa." Nara tetap menunduk untuk menyalami tangan mertuanya.
Abimana yang kehilangan fungsi tubuh hingga 60 persen itu tampak kesusahan menjawab salam dari Nara.
"Papa pelan-pelan." Nara mengelus telapak tangan Abimana pelan agar pria paruh baya yang tergolek lemah itu tidak memaksakan diri untuk berinteraksi. Dia memahami keadaanya.
"Maaf Nara baru bisa jenguk. Papa yang sabar dengan ujian ini, semoga Allah lekas memberi kesembuhan untuk papa," ucapnya dengan lembut untuk menguatkan Abimana yang sedang diganjar kesakitan.
Pria itu mengedipkan mata sebagai isyarat jawaban.
__ADS_1
"Papa pindah rawat di sini, Nara akan sering-sering jenguk papa." Wanita berpasmina putih tulang itu tersenyum lembut.