Sesal Sampai Akhir

Sesal Sampai Akhir
Kalimat Sederhana


__ADS_3

Setelah semalam menginap di hotel, paginya Nara memutuskan langsung berangkat ke kafe tanpa pulang ke rumah. Pulang pun percuma hanya berdebat dengan Salsa.


"Hay Ra, lesu banget pagi ini?" sapa Nimas, teman seprofesi yang juga bekerja di Kafe Injie.


"Enggak sih Mbak. Biasa aja kok." Nara menampilkan senyum di depan Nimas sambil tangannya sibuk menyusun peralatan makan.


"Ra, makin hari si doi kenapa makin bersikap dingin gitu ya? Keknya akhir-akhir ini ke kamu juga gitu, padahal dulu paling care sama kamu," ujar Nimas.


Nara kembali tersenyum, tanpa diperjelas siapa yang dimaksud si doi, Nara sudah paham siapa orangnya.


"Belum ke lain hati to, Mbak?"


Nimas memutar bola mata, malas. Merasa Nara justru seolah sedang menyindir dengan pertanyaannya.


"Gak bakal ke lain hati selagi dia masih belum beristri. Dia tetap my crush."


"Tipe-tipe perempuan setia," gumam Nara. "Kalau gitu kejar terus sampai my crush nya jatuh hati. Giat usaha gak akan mengkhianati hasil," imbuhnya.


"Kasih tips yang jitu dong biar doi ngelirik aku. Mau aku berpenampilan kayak gimana juga kayaknya gak dilirik sama sekali." Wanita berambut sebahu itu menghendikan bahu. Merasa usahanya selama ini mengejar seseorang yang disuka hanya percuma. Tak sedikitpun mendapat perhatian.


"Gimana ya, aku juga gak paham, Mbak. Kalau aku suka sama seseorang ngadunya cuma sama Allah. Gak gimana-gimana lagi."

__ADS_1


Nimas memperhatikan ke arah Nara dengan intens, lalu beberapa saat wanita itu tersenyum. "Sekarang aku paham, Ra. Oke, makasih ya," ucapnya sumringah.


Nara mengerutkan kening karena merasa aneh dengan Nimas. Dia tidak memberi saran apapun, kenapa Nimas berterima kasih. Kan aneh.



Sepulang dari kafe Nara pulang ke rumah Natan. Jam masih setengah tujuh malam, tidak mungkin Salsa sudah mengunci pintu dan beralasan tidur.


Keluar dari kafe, Nara berjalan menyeberang jalan menuju halte bus. Dia duduk dan fokus untuk memesan ojol lewat aplikasi ponselnya.


Tiba-tiba seseorang berdiri di depannya dan berkata. "Ayo pulang."


"Hah?" Nara mendongak dan terkejut mendapati Natan sudah berdiri di depannya dengan pakaian biasa.


"Tadi sore," jawab Natan singkat.


"Kok ada disini?"


"Pakek tanya. Buruan mau pulang, gak?" Nada pria itu sedikit menyentak. Entahlah raut wajahnya pun sedikit suram.


Nara menenteng tas dan mengikuti di belakang langkah pria itu. Bibirnya tersenyum tipis dan menerka-nerka jika Natan memang sengaja menjemputnya.

__ADS_1


"Papa gimana keadaanya, Mas?" Ketika sudah di dalam mobil, Nara ingat dengan Abimana, lalu menanyakan keadaanya.


"Papa udah pindah ke rumah sakit Medical. 60 persen anggota tubuhnya gak bisa digerakkan, jadi cuma bisa tiduran aja. Ngomong juga gak jelas sementara ini pakek bahasa isyarat."


"Ya Allah. Astagfirullah hal'adzim," gumam Nara. "Separah itu, Mas?"


Natan mengangguk samar dengan tatapan fokus melihat jalanan.


"Apa kita mau langsung ke rumah sakit, Mas? Papa sendirian kan?"


"Gue udah suruh orang buat jaga papa. Gue laper, mau cari makan."


"Kamu tadi udah pulang ke rumah kan, Mas? Apa Salsa gak masakin kamu?"


"Gue pulang aja dia gak di rumah. Salsa pergi ke salon." Natan masih terlihat kesal.


"Atau kita pulang aja, biar aku masak buat kamu," tawar Nara. Walau dirinya sendiri lelah, tapi tak tega mengetahui suaminya kelaparan.


"Kelamaan! Dah tinggal cari kafe aja bisa langsung makan. Emang kamu gak capek?"


"Enggak. Karena secapek apapun, menyiapkan makanan tetap menjadi tugas seorang istri."

__ADS_1


Deg! tiba-tiba hati Natan tersentil mendengar kalimat Nara yang sederhana namun mengandung keperdulian. Apakah wanita itu memang tulus meski posisinya tersisih?


__ADS_2