
Seusai mobil yang dikendarai Natan berbelok keluar pagar, Salsa memasang wajah malas. "Hari ini gak usah kerja, di rumah aja bersih-bersih sama masak buat gue!" perintahnya dengan nada ketus.
Nara pun sama, memasang wajah malas. Walau Natan memberi pesan untuk menjaga dan menuruti semua yang diminta Salsa, tapi tetap saja dia enggan.
Bukankah di rumah itu dia yang menjadi istri sah, tapi keberadaanya justru lebih miris dari sekadar asisten rumah tangga.
Mungkin jika Salsa memerintah dengan sopan, dia cukup sedia untuk melakukannya. Tapi lihatlah, bahkan wanita yang menjadi madunya itu selalu berbicara dengan kasar.
"Aku udah siapin makanan, kamu tinggal makan. Tapi aku gak bisa cuti, bulan ini masa cuti ku udah aku ambil," jawab Nara dengan berusaha tenang meski Salsa terus menatapnya sinis.
"Lo masak apa? Gue mau pindang ikan kakap!"
"Di kulkas gak ada ikan kakap. Makan dulu apa yang ada, aku udah masak ayam kecap," ujar Nara.
"Hoek! Lo nyebut makanan itu aja gue udah mual. Gue gak mau masakan itu. Pokoknya gue mau ikan kakap!" paksa Salsa dengan mata melotot.
__ADS_1
"Semalam kamu pengen ikan bakar, udah aku buatin, pas udah matang sedikitpun gak mau sentuh. Jadi, kukira itu bukan ngidam. Tapi karna kamu memang ngerjain aku aja. Kalau bener-bener ngidam, pesen aja di gra*bfo*d." Nara berbalik untuk pergi ke kamarnya, tak peduli dengan teriak kemarahan dari madunya.
Dia bukanlah asisten atau bodyguard yang harus melayani Salsa. Dia disana sama-sama menjadi istri Natan. Jadi, dia berhak menolak.
Toh, sekarang semua serba mudah. Ada jasa layanan pengantar makanan, Salsa bisa memesan makanan yang diinginkan.
Lagian, Nara memang sengaja menghindar dan tidak ingin lama-lama bersama Salsa, takut tidak bisa mengontrol emosi.
Nara benar-benar pergi ke kafe dan tidak memperdulikan Salsa. Ketika Salsa mencegat langkahnya, dia bisa menepis tanpa menyakiti.
'Ya Allah, sebenarnya aku kenapa?' Nara bertanya dalam hati. Ketika melewati sebuah rumah sakit, terbesit melakukan pengecekan darah untuk memastikan keadaan tubuhnya, tapi lagi-lagi dia urungkan karena persoalan biaya. Nanti saja menunggu gaji bulan depan.
"Pagi, Pak." Nara menyapa Tirta. Pria itu juga akan masuk ke dalam kafe.
"Pagi, Nara," balas Tirta.
__ADS_1
Semenjak obrolan malam itu, sikap Tirta sedikit berubah. Tidak sering memperhatikan Nara secara intens lagi. Tidak menyapa dengan ramah seperti sebelumnya. Bahkan tidak masalah kalaupun Nara memanggilnya dengan sebutan 'pak'.
Sementara di rumah Natan. Setelah Nara pergi, Salsa masih terus menggerutu bahkan mengucap sumpah serapah untuk Nara. Dia kesal karena tidak berhasil menahan Nara di rumah untuk dikerjai.
"Dasar sialan! Dia berani lawan gue! Awas aja loh. Secepatnya gue bakal tendang lo keluar dari rumah ini."
Belum usai meluapkan emosi, bel rumah berbunyi. Mau tak mau Salsa harus membukakan pintu karena memang tidak ada orang selain dirinya.
Ceklek ....
"Assalamualaikum, Nak." Pria paruh baya yang berdiri di depan pintu terkejut melihat Salsa. Bahkan Salsa juga tampak terkejut.
"Siapa kamu?" tanya pria itu.
"Harusnya gue yang tanya, lo siapa?!" Salsa balik bertanya.
__ADS_1