
Natan menghela napas berat, semakin hari sikap Salsa semakin manja dan keras kepala. Karena adanya rasa cinta, dia pun tetap menuruti keinginan wanita itu.
Tubuh yang tak bertenaga dipaksa untuk bangun dan menuju ruang ganti. Dia berganti pakaian dan berniat untuk membelikan bubur ayam yang dipinta Salsa.
"Mas." Nara masuk dengan membawa makanan dan obat, tapi di ranjang sudah kosong. Natan tidak ada, bahkan di kamar mandi juga kosong.
Saat ingin mengetuk pintu ruang ganti, Natan sudah lebih dulu keluar dengan pakaian rapi.
"Kamu mau kemana, Mas?" Padahal Natan masih sangat pucat, kenapa terlihat akan pergi.
"Gue ada urusan."
"Kamu sakit, Mas. Harusnya istirahat dulu."
"Udah lumayan. Setelah sarapan dan minum obat juga sembuh."
Nyatanya dari semalam juga belum sembuh. Ingin sekali Nara menyangkal seperti itu, tapi diurungkan. Meski ada rasa khawatir, dia tak ingin terlalu ikut campur.
"Itu sarapan sama obatnya." Nara menunjuk ke atas meja. Lalu ingin segera keluar.
"Tunggu! Lo semalam diantar siapa? Cowok lo?"
Nara berbalik ke arah Natan, pria itu terlihat salah tingkah dengan pertanyaannya sendiri.
"Mas kok tau?"
Natan diam dan melewati Nara begitu saja. Rasa penasaran semalam membuatnya kelepasan menanyakan hal itu.
"Semalam aku pulang bareng manager kafe. Pesan ojol tapi dibatalin karna ban motornya bocor. Takut kemalaman, jadi aku terima tumpangan dari Pak Tirta." Natan terlihat tidak ingin membahasnya lagi, tapi dia berusaha menjelaskan agar Natan tidak salah paham.
•
Natan sudah sampai di depan rumah Salsa. Wanita itu tinggal sendirian karena keluarganya tinggal di kampung.
"Makasih sayang," ucap Salsa ketika kekasihnya memberikan plastik berisi bubur ayam pesanannya.
Natan yang merasa lemas langsung masuk dan duduk selonjor di atas sofa.
"Kamu beneran sakit? Pucet gitu." Salsa mengurungkan niat untuk pergi ke dapur, dia melihat wajah Natan begitu pucat.
"Tadi aku udah bilang, tapi kamu gak percaya," ucap Natan.
__ADS_1
"Semalam kamu baik-baik saja, jadi aku kira kamu bohong."
"Ya sudah, ayo kita ke rumah sakit."
"Gak usah. Aku mau istirahat aja." Natan merubah posisi menjadi tiduran.
•
Di rumah Natan, pukul sembilan malam Nara baru pulang ke rumah. Wanita yang tampak lelah itu sangat terkejut melihat ayah mertuanya duduk di ruang tamu.
"Assalamualaikum, Pak. Em, Papa," gugup Nara.
"Nara, apa kamu masih bekerja di kafe?" Abimana sudah mendapat informasi dari Bi Inem kalau dari kemarin menantunya itu masih bekerja sebagai pelayan kafe. Padahal dia sudah mewanti-wanti Natan agar Nara tidak usah lagi bekerja.
Dari sepulang kantor dia sengaja mampir ke rumah putranya, ternyata mendapati kenyataan yang mengejutkan. Bahkan saat memeriksa kamar putranya, dia menjadi tahu kalau Natan dan Nara tidak tidur sekamar.
Pria paruh baya itu sengaja menunggu kepulangan Nara karena menghubungi Natan tidak dijawab.
"Dimana Natan?" Pertanyaan pertama belum dijawab, Abimana sudah mengajukan pertanyaan lagi.
"Maaf, Pa, saya tidak tau dimana Mas Natan." Nara menunduk sambil meremas jemarinya karena takut dan gugup.
Abimana mendesis geram. Pria itu mengambil ponsel dan menghubungi Natan. Beruntung kali ini ada sahutan.
Sekitar empat puluh lima menit kemudian Natan sudah sampai dirumahnya. Baru masuk sudah disambut oleh tatapan tajam dari papanya.
"Seperti ini rumah tanggamu, Natan?" decit Abimana menampilkan kemarahan.
"Pa ...."
"Jangan jadikan perjodohan sebagai alasan kamu menzolimi istrimu sendiri!"
Natan bungkam. Dia yang tadi akan memberikan alasan, tapi melihat kilat kemarahan di wajah Abimana, nyalinya menciut.
"Kalian tinggal satu rumah tapi tidak tidur bersama, sama saja kamu menzolimi istrimu!"
Nara yang tadinya pamit ke lantai atas, kini kembali turun saat mendengar bentakan mertuanya yang menggelegar.
"Satu lagi, sebagai suami apa kamu tidak malu membiarkan istrimu tetap bekerja di kafe sebagai pelayan?! Kamu bisa membeli atau mendirikan saham kafe untuk dikelola Nara, tapi kenapa kamu biarkan dia seperti itu?! Kalau ayah mertuamu tau, Papa yang malu!" Tangan Abimana sampai terkepal saking geramnya.
"Aku sudah larang dia buat kerja, tapi dia yang susah di atur."
__ADS_1
"Benarkah kamu sudah melarangnya?! Tapi Papa tidak yakin. Nara terlihat penurut, dia pasti mendengarkan perkataanmu. Papa curiga, setelah menikah hubungan kalian tidak baik-baik saja. Salah satu buktinya kalian tidak tidur sekamar!"
Natan seperti mati kutu, apa yang dibicarakan papanya memang benar. Mengelak pun sudah ada buktinya. Sial.
"Jangan kira Papa tidak tau kamu menyuruh seseorang untuk membersihkan kamar hotel tempat kalian menginap!"
Telak! Natan benar-benar tak bisa menyangkal. Dia pikir papanya tidak akan sedetail itu memantau, tapi dia salah perkiraan.
Natan melirik Nara yang diam dan menunduk di dekat tangga. Hatinya menyalahkan dan menduga Nara yang telah melapor pada Abimana. Jika bukan dia, siapa lagi. Hanya Nara yang bisa cerita sedetail itu.
"Papa akan tinggal disini sementara waktu, biar bisa memantau kalian!"
Deg! Natan melihat ke arah papanya. Terkejut mendengar keputusan Abimana barusan.
Tidak! Dia harus mencari ide supaya papanya tidak tinggal di rumahnya. Kalau sampai itu terjadi, pergerakannya akan terbatas. Bahkan dia takkan bisa menemui Salsa.
"Pa, Natan janji tidak akan begitu lagi. Tolong beri kami kebebasan. Biarkan kami saling mengenal dulu."
Abimana menggeleng. "Caramu seperti itu bukan saling mengenal, justru semakin jauh. Papa tetap akan disini," ujarnya tanpa bantahan.
"Bi ...!" Abimana memanggil Bi Inem.
"Iya, Tuan." Asisten rumah tangga itu buru-buru mendekat pada Abimana.
"Siapkan kamar tamu, saya akan tinggal sementara di rumah ini."
"Baik, Tuan."
"Pa ...." Natan memelas. Tapi Abimana tidak menggubris, justru mendekati Nara.
"Nara, maafkan Natan kalau dia tidak memperlakukanmu dengan baik."
"Mas Natan baik, Pa. Tapi kami butuh waktu untuk saling mengenal. Jangan salahkan Mas Natan, karna Nara sendiri yang masih ingin bekerja. Nara bosan kalau hanya berdiam di rumah." Nara berusaha membela Natan agar papa mertuanya tidak lagi marah.
"Kamu bisa bekerja, tapi bukan sebagai pelayan kafe. Suamimu CEO, bagaimana kamu hanya sebagai pelayan. Papa akan membeli kafe itu atas nama kamu."
Nara terkejut, dia sama sekali tidak tahu kalau Natan menjabat sebagai CEO. Dan lagi, Abimana akan membeli kafe untuknya? Bekerja sebagai pelayan kafe saja sudah sangat bersyukur, dia sama sekali tidak kepikiran menjadi pemilik kafe.
"Tidak, Pa. Tidak perlu. Biar Nara tetap menjadi pelayan, sesuai kemampuan Nara," tolaknya.
"Nara, kalau ayahmu tau kamu masih bekerja sebagai pelayan kafe, Papa yang merasa malu dan tidak enak hati."
__ADS_1
"Biar nanti Nara yang akan bicara dengan Bapak."