Sesal Sampai Akhir

Sesal Sampai Akhir
Mulai Menilai


__ADS_3

Kali ini niat Nara untuk memeriksakan diri benar-benar sudah bulat, walau uangnya tidak cukup tapi dia memberanikan diri mengajukan pinjaman kepada Tirta.


Sepulang dari kafe, Nara langsung pergi ke rumah sakit. Memberitahu semua keluhan sakitnya kepada dokter. Dan dokter mengambil sampel darah untuk dilakukan lab darah.


Namun sayang, rasa penasarannya belum bisa terjawab saat itu juga. Dia masih harus menunggu satu minggu lagi untuk mengetahui hasilnya.


Jam sembilan malam Nara baru sampai di rumah. Dari kejauhan lampu utama sudah padam, mungkin saja Salsa sudah tidur. pikirnya.


Saat memutar handel, daun pintu tidak bisa terbuka karena terkunci dari dalam. Kening Nara berkerut, mengingat bahwa dia tidak memiliki kunci cadangan. Bagaimana dia akan masuk.


Nara kembali ke pos penjagaan. "Pak, Salsa ada pesan kunci rumah, enggak?"


"Enggak, Non. Memang pintunya dikunci ya?" Pria berkisar umur 40 tahunan itu malah balik bertanya.


"Iya, Pak, dikunci dari dalam," jawab Nara terlihat kebingungan.


"Aduh, gimana ya. Bangunin Non Salsa juga kayaknya mustahil dengar suara kita. Atau coba lewat pintu belakang, siapa tau gak dikunci," ujar Pak Maman. Penjaga Post yang bertugas malam itu.


Setelah berusaha memutari semua pintu dan jendela, naasnya semua dalam keadaan terkunci. Nara menghela napas berat. Disaat itu entah mengapa muncul pikiran suudzon terhadap Salsa. Wanita itu sengaja mengunci pintu dan jendela agar dia tidak bisa masuk.


"Saya telpon Tuan Natan, biar Tuan Natan yang bangunin Non Salsa," ucap Pak Maman.


"Gak usah, Pak!" cegah Nara.


"Kok gak usah, terus Non gimana? Mau istirahat dimana?"


Nara terdiam sejenak memikirkan pertanyaan itu. Pulang ke rumah ayahnya jelas tidak mungkin! Apa yang akan dia jelaskan kepada ayahnya. Mencari penginapan? Tapi hari semakin larut, tubuhnya pun sudah sangat lelah.


"Em, Pak, boleh saya numpang tidur di post saja?" Mungkin itu pilihan terbaik saat ini daripada harus mencari jalan keluar lain.


"Waduh Non, masak mau tidur di post." Pak Maman meringis sungkan. Bagaimana seorang majikan tidur di post.

__ADS_1


"Menganggu ya, Pak. Ya sudah saya istirahat di teras saja."


"Loh, itu lebih gak nyaman lagi Non. Ya sudah, kalau begitu Non istirahat di post saja." Pak Maman menemui satu temannya untuk memberitahu kalau Nara akan beristirahat di post. Namun, secara diam-diam Pak Maman justru menghubungi nomor Natan.


[Ada apa!] Suara Natan dari seberang.


"Maaf mengganggu, Tuan. Ini, Non Nara baru pulang kerja, tapi pintu rumah dikunci sama Non Salsa. Jadi Non Nara gak bisa masuk."


Natan berdecak kesal. Dia sudah pusing dengan keadaan papanya masih dibuat pusing dengan ulah istri sirinya.


[Tunggu sebentar, gue bangunin Salsa!] Satu detik berikutnya panggilan berakhir. Natan berusaha menghubungi Salsa, tapi nomor Salsa tidak aktif. Sialan!


Sekitar sepuluh menit kemudian, Natan menghubungi Pak Maman.


[Dimana Nara?]


"Non Nara ada di post, Tuan, katanya mau istirahat di post saja. Non Nara juga tidak tau kalau saya menelpon Anda. Dia melarang saya."


"Tapi, Tuan ...."


[Cepat berikan!]


"Baik, Tuan." Pak Maman terpaksa memberikan ponsel yang terhubung dengan Natan kepada Nara.


"Maaf, Non, Tuan Natan ingin bicara dengan Anda."


Dengan ragu Nara menerima ponsel itu. "Halo ...."


[Gue udah coba telpon Salsa, tapi gak bisa. Keknya dia udah tidur.]


"Oh ...." Nara bingung menjawabnya. Lirikan wanita itu tertuju pada Pak Maman yang pasti melapor pada Natan.

__ADS_1


"Gak papa, aku udah ijin istirahat di post," imbuh Nara.


[Lo udah gila mau tidur di post!] geram Natan.


[Tunggu, nanti bakal ada yang jemput lo. Gue udah suruh Doni buat anter lo ke hotel.]


"Astagfirullah, Mas! Tengah malam gini kamu suruh aku berduaan dengan pria lain ke hotel. Kamu mau jual aku, Mas!" Nara memekik terkejut.


Dibelahan negara lain Natan juga terbelalak kaget mendengar kalimat Nara.


[Siapa yang jual lo, Nara! Doni anak buah gue yang cuma anter lo ke hotel biar lo istirahat di hotel jangan di post satpam!] jelas Natan.


"Tapi tetep aja aku berduaan dengan yang bukan muhrim. Aku gak mau. Biar aku istirahat di post aja," kukuh Nara.


[Keras kepala!] desis Natan yang masih dapat di dengar.


[Gue suruh Doni ajak wanita biar lo gak berdua sama yang bukan muhrim. Lo tunggu aja!]


"Oke kalau begi ...." Ucapan Nara belum selesai tapi sambungan telepon sudah diakhiri oleh Natan.


Nara tersenyum samar. Walau Natan bersikap dingin, tapi nyatanya pria itu masih memiliki kepedulian terhadapnya.



Setelah mengakhiri pembicaraan dengan Nara, Natan masih berusaha menghubungi Salsa. Kenapa istri sirinya itu mengunci pintu rumah padahal Salsa tahu kalau Nara selalu pulang malam. Muncul pikiran, apakah Salsa sengaja melakukan itu?


Pria itu memijat tengkuk leher yang terasa berat dan lelah. Dia pikir semua akan berjalan normal dan baik-baik saja, nyatanya rumit dan memusingkan.


Dari kejadian Salsa meminta ikan bakar, sampai malam ini sengaja mengunci pintu, dia sadar kalau Salsa lah yang sebenarnya selalu berbuat ulah. Sementara Nara yang harusnya tidak menerima keadaan mereka justru diam dan berusaha memahami.


"Wanita itu," desis Natan dengan mata terpejam, membayangkan Nara. Walau dalam keadaan menyulitkan, tapi Nara tidak terlihat marah. Dan tak habis pikir lagi, wanita itu malah memilih ingin istirahat di post satpam.

__ADS_1


__ADS_2