Sesal Sampai Akhir

Sesal Sampai Akhir
Apa Kamu Bahagia?


__ADS_3

"Gak selera makan nasi goreng buatan lo," imbuhnya dan berjalan keluar rumah.


Nara tercengang, bukankah Natan sendiri yang menyuruhnya membuat nasi goreng seperti semalam. Tapi kenapa pria itu bilang tidak berselera.


Menghirup udara dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. Sikap Natan tidak bisa ditebak dan sering berubah-ubah.


Dia yang belum mengambil tas, akhirnya kembali ke lantai dua untuk mengambilnya dan begitu turun ke bawah, mobil Natan sudah tidak ada. Pria itu meninggalkannya padahal dia juga sudah hampir telat.


"Bi, maaf sekali aku gak bisa bantu bersihkan lantainya. Aku juga harus berangkat ke kafe," ucap Nara sedih. Tak enak hati melihat Bi Inem membereskan nasi goreng yang berantakan di lantai ulah Natan tadi.


"Gak papa, Non. Ini juga tugas Bibi. Non berangkat saja," balas Bi Inem.


"Makasih ya, Bi. Nara berangkat. Assalamualaikum."


"Walaikum salam."


Bi Inem menatap punggung Nara sampai tak terjangkau oleh pandangannya. "Duh, baik banget Non Nara. Santun dan lemah lembut. Mudah-mudahan bisa menuntun Tuan Natan berubah."



"Assalamualaikum, Nara."


"Walaikum salam." Nara melihat Gara dibalik kemudi mobil sedan putih yang berhenti di depannya.


"Mas Gara?" Wanita memakai gamis hitam berenda salur itu berdiri dan mendekat ke samping mobil.


"Pembicaraan kita yang semalam belum selesai, Ra. Aku butuh penjelasan darimu." Tersimpan kesedihan dibalik sorot mata teduh pria itu.


Akhirnya Gara dan Nara memilih tempat yang pas untuk mengobrol. Pilihannya jatuh di taman kota yang berada tak jauh dari kafe. Selain tempatnya terbuka, juga ramai. Tidak akan menimbulkan asumsi buruk.


Selain itu, Nara mau menerima ajakan Gara karena pria itu tidak sendirian, melainkan mengajak sepupu perempuannya untuk menghindari kesalahpahaman.


"Jelasin tentang pernikahanmu, Ra," ucap Gara mengawali pembicaraan.


Nara menghirup udara sedalam-dalamnya. "Ternyata almarhum ibu yang menyimpan wasiat kalau jodohku sudah diatur. Ibu berjanji untuk menjodohkan ku dengan anak temannya yaitu Mas Natan.

__ADS_1


Aku dan Mas Natan sebelumnya tidak saling mengenal, bahkan setelah Mas Natan mengucap ijab qabul, baru aku mengetahui rupa suamiku." Nara menceritakan yang sesungguhnya.


"Kalian menikah karena perjodohan?" Gara terkejut. Sedari awal memang menduga, pasti ada sesuatu yang terjadi yang menyebabkan Nara menikah dengan pria bernama Natan.


Pasalnya yang dia tahu Nara tidak pernah dekat dengan pria siapapun, tapi tiba-tiba saja statusnya menjadi istri pria lain.


Takdir memang tidak ada yang tahu, dia pikir bisa melamar Nara setelah menempuh pendidikan S2 di Mesir, karena dia tidak ingin terlibat hubungan sia-sia yaitu pacaran. Maka dia pasrahkan kepada Tuhan untuk menjaga hati Nara. Namun takdir tak memihak padanya.


"Kalau ibu ku dan ibunya Mas Natan masih hidup mungkin masih bisa merubah wasiat. Tapi sayangnya mereka sudah tidak ada, tidak ada cara lain selain menjalani wasiat itu."


Hening menyambangi mereka. Gara diam dan berusaha menerima takdir, sementara Nara hanya diam dengan sebuah penyesalan.


"Mas, sebentar. Aku ke toilet dulu." Setelah keheningan diantara keduanya, Nara meminta izin pergi ke toilet umum. Dia tak ingin tetesan air matanya dilihat Gara. Memilih menetralkan hati sebentar.


"Mas, masih lama? Azizah mau mampir ke perpustakaan umum." Sepupu Gara menghampiri.


"Sebentar lagi." Pria berkemeja hitam itu mendongak, dengan menatap sekeliling yang ternyata mulai ramai oleh pengunjung. Mungkin karena menjelang weekend, maka banyak yang ingin menyempatkan diri bersama keluarga.


Saat melihat siluet pria yang berjarak dua puluh meter dari tempat duduknya, keningnya berkerut dalam.


Dia masih ingat dengan pria yang saat ini sedang bermesraan dengan seorang wanita berpakaian sexy.


Bagaimana pria itu bermesraan dengan seorang wanita, sementara sudah memiliki istri.


Gara mempertajam penglihatan nya, dia yakin, bahkan sangat yakin jika itu memang Natan. Dadanya bergemuruh melihat Natan mencium kening si wanita di depan umum.


Pikiran Gara seketika berburuk sangka, pria yang menikahi Nara bukanlah pria yang baik. Tangannya terkepal dan hampir menghampiri pasangan tak tahu malu itu untuk memberi pelajaran.


Namun, tak berapa lama Nara kembali dan duduk di tempat yang tadi. "Maaf agak lama."


"Ra, apa kamu bahagia dengan pernikahanmu?"


Deg! Nara menoleh. Tidak mengerti dengan pertanyaan itu..


"Apa kamu diperlakukan baik oleh suamimu?" Pertanyaan pertama belum dijawab, Gara sudah melayangkan pertanyaan ke dua, membuat Nara semakin bingung.

__ADS_1


"Aku hanya berusaha menjalani, Mas. Bahagia atau tidak, aku belum bisa menyimpulkan. Kami masih butuh waktu untuk saling tau sama lain. Kenapa bertanya seperti itu?"


"Ra, dengerin aku. Jika suatu saat kamu tidak bahagia dengan pernikahanmu. Kamu bisa datang padaku."


"Mas ... kenapa kamu bicara begini?"


"Enggak. Aku hanya berpikir, pernikahanmu terjadi bukan atas dasar perasaan, mungkin saja suatu hari nanti jodoh kalian berakhir, aku masih bisa menerimamu, Ra."


"Mas, jangan mendahului takdir. Aku pun belum tau bagaimana nasib pernikahanku ke depannya, tapi jika bisa aku ingin menikah sekali dalam seumur hidup."


"Aku tau semua menginginkan jodoh sekali seumur hidup, tapi seperti yang ku katakan tadi, takdir tidak ada yang tau." Saat berkata, beberapa kali pria itu melirik pasangan pria wanita yang masih bermesraan.


Jika bukan untuk menjaga perasaan Nara, saat itu juga Gara ingin mendekati pasangan itu dan memberi mereka pelajaran.


Melihat wajah Nara, Gara tidak tega untuk menunjukan kelakuan buruk Natan di depan Nara langsung. Lebih tepatnya kasihan kalau Nara akan bersedih menyaksikan suaminya bersama wanita lain.


Padahal, tanpa dia tahu, sedari awal pun Gara berzina secara terang-terangan.


"Ra, sebaiknya kita pulang sekarang!" ajak Gara. Dia takut lama kelamaan Nara memergoki keberadaan suaminya.


"Apa kamu sudah selesai bicara, Mas?"


Gara mengangguk. Dia beranjak dan berdiri di depan Nara untuk menutup pandangan wanita itu.


Nara ikut beranjak dan mereka berjalan bersama menuju parkiran. Sebelum Nara masuk ke dalam mobil, Gara kembali berkata.


"Ingatlah ucapan ku tadi, Ra. Selagi aku masih belum berjodoh, insya Allah, aku pasti menerimamu."


Nara tak bisa berkata-kata. Jika saja perkataan itu diucap sebelum dia menikah dengan Natan, dia pasti akan sangat bahagia. Akan tetapi, waktu telah mengubah segalanya. Perkataan itu justru menjadi beban pikiran baginya.


"Wah, pulang kerja kencan juga," ucap seseorang yang membuat Nara dan Gara menoleh pada sumber suara.


"Mas!" Nara terkejut.


Natan tersenyum masam. "Kalian cocok," ucapnya menaikkan kedua alis untuk kesan bercanda.

__ADS_1


"Apa maksud Anda?!" sahut Gara geram. Dia pikir mengajak Nara pergi untuk menghindar, tapi pria itu justru menghampiri mereka.


"Jangan berasumsi yang tidak-tidak, kami hanya menyelesaikan urusan yang belum selesai."


__ADS_2