SEUMUR HIDUP DIBALIK JERUJI PENJARA

SEUMUR HIDUP DIBALIK JERUJI PENJARA
episode 1


__ADS_3

"Ayo masuk, ini rumahmu sekarang!"


Lantai beralaskan tikar plastik, didalam ada sekitar delapan orang wanita yang sama bajunya denganku, seragam penjara, padahal daya tampungnya cuma lima orang.


Ini hari pertamaku dipenjara dengan hukuman seumur hidup, aku seorang istri sekaligus ibu dari tiga orang putri yang cantik-cantik, banyak yang bilang, anak-anakku bidadari komplek.


Aku duduk di penjara yang sempit ini, dengan perasaan teramat asing, aku berusaha menyesuaikan diri hingga ajal menjemputku. Aku akan menghabiskan sisa hidupku disini dengan hati yang kuat menahan rasa rindu kepada ketiga putri-putriku.


"Hey! Ini tempat dudukku, sana!"


Seorang wanita berbadan sedikit gemuk menghampiriku, dengan suara lantang, dia menyuruhku berpindah tempat duduk.


Aku bangkit dan pindah kesudut. Sementara yang lain hanya melihat dan diam.


Pandanganku jauh kedepan, aku mengingat kejadian, kenapa aku bisa dipenjara.


Pagi itu ...,


"Bunda, aku minta izin ntar pulang sekolah kerumah Vivi belajar kelompok, ya?"


Senyum manis Anisa sudah berseragam rapi, memelukku dari belakang yang sedang menyiapkan sarapan pagi. Anisa adalah anak bungsuku yang masih duduk di kelas dua SMP.


Aku punya tiga putri yang cantik-cantik, anak pertamaku bernama Halimah yang sedang kuliah semester dua, anak keduaku bernama Rani kelas tiga SMA dan baru Anisa sibungsu. Aku hidup bahagia dengan suami yang setia dan cinta keluarga.


Rasanya hidupku sudah sempurna, putri-putriku rajin beribadah dan berhijab syar'i, suamiku memang hebat memimpin kami, aku sangat bangga dan bahagia.


"Nasi goreng kesukaan Ayah ya, Bun," suamiku duduk dikursi meja makan dan menyantap nasi goreng buatanku dengan lahap.


"Yang pelan makannya, Yah," aku berkata sambil menuangkan air putih kegelas. Suamiku membalas dengan senyum kehangatan.


"Bunda, aku bawa bekal ke sekolah, ya," putri keduaku Rani berkata sambil duduk dan ikut sarapan juga.


"Sudah bunda siapkan, ini!" jawabku sambil menyodorkan nasi yang sudah dibungkus seperti biasa.


"Makasi Bundaku tersayang, mmuuuch." Rani berdiri dan mengecup pipi kananku.


"Dek, nanti kamu pulang sendiri ya, aku ada pelajaran tambahan." Kata Rani kepada Anisa.


"Aku pulang juga langsung kerumah Vivi kak," jawab Rani melanjutkan sarapannya.


Sekolah Rani dan sekolah Anisa berdekatan, mereka sering pulang bareng, anak-anakku bersaudara hidup rukun. Aku ibu yang beruntung.


"Bun, tambah nasi gorengnya," suamiku menyodorkan piringnya kepadaku.


"Nasi goreng bunda emang paling enak ya, yah," Halimah menanggapi perkataan ayahnya dengan senyum menggodaku.


Aku hanya tersenyum membalas, dan anakku yang lain ikut tertawa kecil.

__ADS_1


Tok! Tok! Tok!


Tok! Tok! Tok!


"Siapa yang datang pagi ini Bun?" Kata suamiku.


"Entahlah yah, Bunda juga nggak tahu," jawabku.


"Biar aku saja yang buka, Bun," kata Halimah dan langsung bangkit dari duduknya melangkah untuk membukakan pintu.


"Hey Halimah! Apa kamu tidak punya malu, merebut tunangan anak saya!"


Kami yang sedang sarapan, terkejut mendengar kata-kata Bu Lili dengan suara lantang memarahi anakku.


Aku, suami dan kedua putriku yang lainya langsung berdiri melangkah ke pintu depan.


Bu Lili adalah tetangga satu gang komplek dengan kami, rumahnya rumah pertama memasuki gang ini, untuk menuju rumahku harus melewati depan rumah Bu Lili. Bu Lili juga punya anak gadis bernama Monik yang seumuran dengan Halimah.


"Ada apa ini Bu Lili? Kenapa ibu marah-marah sama Halimah." Aku berkata dengan melihat sorotan marah dimata Bu Lili memandang anakku Halimah.


Sementara itu, Halimah hanya merundukan kepalanya dengan mata berkaca-kaca.


"Gara-gara anakmu ini, Monik diputuskan tunanganya!"


Bu Lili menunjuk kepada Halimah dengan penuh emosi.


"Sebaiknya kita selesaikan masalah ini didalam, tidak enak ditonton orang, Bu Lili," suamiku berkata dengan tenang.


Tapi ajakan suamiku tidak diterima baik oleh Bu Lili, dia tetap marah-marah berdiri di teras depan, dari amarahnya bisa kubaca kalau tunangan Monik memutuskanya, tapi kenapa Halimah yang disalahkan?


"Halimah, jelaskan kepada kami apa yang terjadi," suamiku berkata saat Bu Lili sudah meninggalkan rumah kami.


Di ruang tengah, aku dan suamiku duduk disamping Halimah, sementara itu Anisa dan Rani sudah berangkat ke sekolah.


"Aku tidak tahu Bunda, ayah. Aku saja tidak mengenal tunangan Monik, mana mungkin aku penyebab putusnya pertunangan mereka."


Aku dan suamiku saling berpandangan, aku tahu anakku, dia tidak pernah pacaran atau berteman dekat dengan lelaki, selesai kuliah langsung pulang tanpa bertandang atau nongkrong bergaul dengan temannya, Halimah anak yang penurut dan tidak banyak neko-neko. Bagaimana mungkin anakku penyebab anak Bu Lili putus tunangan?


Kami mendiamkan dulu masalah itu, Halimah berangkat kuliah dan suamiku berangkat kerja. Keseharianku di rumah membuka warung klontong didepan rumah, semua kulakukan menghilangkan kesepianku yang sering sendirian di rumah.


"Assalamualaikum bunda."


Aku terkejut mendengar seseorang mengucapkan salam saat aku membereskan barang daganganku di warung. Aku menoleh, ada seorang anak muda gagah berdiri didepan warung menyapaku tersenyum dengan manis, kulihat didepan warung, terpakir sebuah mobil sedan hitam mengkilat.


"Wa'alaikumsalam, siapa ya?" Aku menjawab dengan heran.


"Perkenalkan, namaku Arya, Bunda. Aku kesini ingin melamar anak Bunda, Halimah."

__ADS_1


Jantungku mau copot mendengar perkataan anak muda itu, ternyata namanya Arya, siapa dia? yang tiba-tiba ingin melamar putriku, setahuku Halimah tidak pernah pacaran atau punya teman lelaki-laki.


"Bunda ... Bunda ... bisa aku bertemu juga sama Ayah Halimah?" Dia berkata dengan melihatku terkejut mematung.


"Nak Arya, ada hubungan apa dengan Halimah," aku sangat penasaran.


"Kami tidak pernah saling kenal, Bunda."


Aku mengajak Arya masuk dan duduk di ruang tamu, dari ceritanya yang aku dengar, dia sangat menyukai Halimah diam-diam, dia sering melihat Halimah berjalan pulang kuliah melintas didepan rumah Monik saat berkunjung kerumah Monik, dan Arya mencari informasi ke tetangga tentang putriku Halimah, dan sekarang dia melamar putriku, Intinya, Arya memutuskan tunanganya karena ingin melamar Halimah.


Pantas saja Bu Lili marah-marah tadi pagi kesini.


Cara berpakaian Halimah dan Monik sangat berbeda, Monik berpakaian modis dan tidak berhijab sedangkan putriku berhijab syari, berjalan saja menundukan wajah bila berpapasan dengan lelaki.


"Saya tidak bisa memutuskannya sekarang, sebaiknya nak Arya pulang dulu, nanti akan saya sampaikan kepada Halimah dan ayahnya."


Hanya itu keputusanku sementara, aku masih shock dengan kedatanganya. Halimah jujur tidak mengenal tunangan Monik, kasihan anakku yang dibentak-bentak yang bukan kesalahannya.


Sepintas aku lihat, Arya pemuda yang gagah dan berada, cara pakaian dan tutur katanya, dia lelaki yang sopan.


Magrib kami sholat berjamaah, suamiku menjadi imam seperti biasa, aku belum membicarakan kedatangan Arya tadi siang, aku menunggu selesai magrib dulu.


Selesai sholat magrib, aku menutup warung dulu baru membicarakanya.


"Ayah! Ayah! Bunda ... ayah kenapa ini?"


"Ayah!"


"Bunda! cepat kesini."


Aku terkejut mendengar suara ketiga putriku menjerit menangis memangil suamiku dan aku, perasaan tidak enak bisa kubaca dari suara mereka, ada apa dengan suamiku, dengan berlari, aku masuk kerumah.


"Ayah! Kenapa ini, ayah ... tolong ... tolong ...."


Aku menangis melihat seluruh pori-pori tubuh suamiku mengeluarkan darah, darah menyelimuti tubuh suamiku yang tergeletak di lantai, putri-putriku menangis memegang ayahnya.


Mendengar teriakanku, datanglah Bu Arun dan suaminya kerumahku, aku dan anak-anakku histeris melihat jasad suamiku kaku dan tidak bernyawa.


Aku kehilangan suamiku untuk selama-lamanya.


Dengan perasaan teramat sedih, aku duduk di keramaian orang-orang melayat, air mataku tidak henti-hentinya keluar, aku sangat terpukul kehilangan suamiku tercinta, baru tadi pagi kami sarapan bersama, kini aku melihat tubuhnya tidak bernyawa.


"Bu Rina, maaf, bukan maksudku membuat ibu tambah sedih, tapi ... kalau saya perhatikan, sepertinya suami ibu kena santet."


Aku terpana melihat wajah Bu Arun berbisik disampingku. Kenak santet? Astagfirullah'alazimm ....


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2