SEUMUR HIDUP DIBALIK JERUJI PENJARA

SEUMUR HIDUP DIBALIK JERUJI PENJARA
episode 16


__ADS_3

Saat Anisa dan Rani melangkah masuk hingga di depan kamar, tiba-tiba kakek itu secepatnya menutup pintu dan menguncinya, dan dari pintu kamar muncul Pak Slamet dengan senyum sungging menatap mereka ketakutan.


“Pak Slamet?” Rani terkejut dan mulai takut.


“Kak, kenapa kita dikurung?” Anisa berdiri dibelakang Rani ketakutan.


Bandan kedua gadis itu gemetar, dan sejenak mereka beristigfar dan membaca ayat-ayat Allah, dengan linangan air mata, mereka terus bermohon dihati kepada Allah agar selamat dari kejahatan dua lelaki tua ini.


“Apa mau Pak Slamet?” Rani berusaha mengundur waktu. Dan dibalik rok panjangnya, dia berusaha menghubungi Bundanya melalui telpon genggamnya. Dan usahanya berhasil.


Di warung.


Ponselku berbunyi, Bu Lili terdiam sejenak dari obrolannya denganku.


“Ada panggilan dari Rani, sebentar ya, Bu, aku mau jawab dulu.” Aku langsung menjawab panggilan itu.


“Assalamu’alaikum Nak.” 


Tidak ada jawaban, yang terdengar percakapan anakku dengan lelaki, tapi, sepertinya aku mengenali suara lelaki itu. 


“Rani! Tunggu Bunda, Nak!” 


Aku langsung bangkit, Bu Lili melihatku sangat panik dan bertanya, “Ada apa Bu Rina?” dan aku menjawab, “Rani dan Anisa dalam bahaya, Bu. Pak Slamet berusaha berbuat jahat kepada mereka. Apa yang harus aku lakukan? Motorku dibawa Rani.” Aku sangat panik.


“Pakai motorku saja Bu, cepatlah sebelum terlambat.”


“Bu Lili, tolong bilang Halimah menghubungi Randi.” Ucapku sambil menyalakan motor.


Aku melaju motor Bu Lili dengan kecepatan tinggi, aku tidak mau terlambat, Ya Allah … tolong lindungi Anisa dan Rani. Di ponsel aku mendengar percakapan mereka, Anisa sangat ketakutan, suaranya bergetar dan gugup.

__ADS_1


Di rumah Pak Slamet.


(percakapan mereka terdengar di ponsel Bunda Rina yang sedang dalam perjalanan mencari Anisa dan Rani)


“Rani, aku hanya ingin berbicara dekat denganmu, ibumu sudah berani menolak lamaranku, aku sangat kecewa.” Pak Slamet menatap Rani dengan tatapan nafsu.


“Jangan mendekat!” Rani mulai tegang.


“Kawan, kita bagi saja satu persatu, kamu bawa dia kekamar biar aku disini dengan neng imut ini.” Kata teman Pak Slamet menatap Anisa.


“Jangan ganggu anakku!” aku berteriak di ponsel mendengar percakapan mereka sambil melaju motor dengan kencang, aku sangat cemas mereka menodai putri-putriku.


“Jangan kek, ampun ….” Anisa menangis memohon. Tapi dua lelaki tua ini betul-betul dikuasai nafsu.


“Dek, keluarkan bubuk cabe.” Rani berbisik kepada Anisa.


Pak Slamet dan temannya mendekati mereka, temannya menarik tangan Anisa, sedangkan pak Slamet berusaha tubuhnya lebih dekat dengan Rani.


“Tidak! Bunda!” Anisa menjerit ketakutan.


“Lepaskan putriku!!” aku terus mempercepat laju motor, ponsel masih menempel di telingaku tertahan karena hijab yang aku pakai, alamat yang diperlihatkan Anisa tadi masih lekat diingatanku.


Aku memutari perumahan ini melihat nomor rumah mencari alamat, setelah bertanya kepada beberapa orang yang kebetulan lewat, aku berhasil menemukan rumah itu, rumah di ujung jalan yang belum ada berpenghuni disampinya,  aku melihat motorku terparkir di depan pagar.


“Jangan Pak! Jangan, tolong! tolong!” Rani menjerit minta tolong. Dan dengan cepat bubuk cabe langsung dilemparnya kearah mata Pak Slamet.


Anisa yang sedang kesulitan karena tangannya dipegang, membuat Rani mendekatinya dan melemparkan juga bubuk cabe ke mata teman Pak Slamet. Aksi kedua kakek itu terhenti sejenak karena matanya perih.


“Aaa perih! Perih!”

__ADS_1


Mereka berdua lari kekamar mandi, Anisa dan Rani berusaha membuka pintu, tapi sial, terkunci.


Aku berlari masuk kerumah itu, dibalik kaca jendela, aku melihat Rani dan Anisa ketakutan berusaha membuka pintu.


“Anisa, Rani. Bunda disini, Nak.”


“Bunda!” kedua putriku berteriak memanggilku.


Karena pintu terkunci, aku mengambil batu sebesar kepala bayi di halaman dan melemparnya ke kaca, kaca pecah dan aku masuk, tapi aku mengambil pecahan kaca itu untuk senjata melawan mereka. 


Pak Slamet dan temannya keluar dari kamar mandi, dan mereka terkejut melihatku berdiri didepan putri-putriku dan mengarahkan pecahan kaca kepada mereka.


“Bu Rina?” pak Slamet terkejut melihatku.


“Kita ikat ibunya, Teman.” Ucap teman Pak Slamet.


“Jangan coba-coba mendekati anak-anakku, matipun aku tidak takut!” aku terus mengarahkan pecahan kaca kepada mereka.


“Sabar Bu Rina, mari kita bicara baik-baik.”


“Berhenti! Jangan coba-coba mendekat.” Aku mencoba menghentikan dua lelaki tua ini melangkah pelan mendekati kami.


“Bu Rina, tahan dulu, santai ….”


Dia tidak menghiraukanku, mereka semakin dekat, aku langsung menendang kelamin Pak Slamet dengan kaki kananku dan menggoreskan pecahan kaca mengenai pipinya, dan waktu bersamaan, teman Pak Slamet menarik Anisa dan menyeretnya kekamar, Rani berusaha menolongnya, tapi tenaga si tua ini sangat kuat karena sudah dikuasi nafsu.


Pak Slamet terjatuh kelantai menahan sakit, melihat Rani kesulitan menolong adiknya, aku langsung mengambil batu untuk memecahkan jedela kaca tadi dan ingin melemparkannya ke kepala teman pak Slamet.


Bersambung …

__ADS_1


__ADS_2