
Keempat lelaki berbadan kekar itu terus melempar barang-barang kami ke halam rumah, tanpa rasa belas kasihan, aku dan putri-putriku terus memohon agar mereka menghentikannya, tapi sia-sia, mereka terus melemparnya hingga baju-baju kami berserakan.
“Jangan! Jangan … aku mohon, aku mohon jangan lakukan mmm.” Tangisku memohon tetap tidak diperdulikannya.
“Bunda, apa yang harus kita lakukan?” Halimah menangis memegang lenganku.
“Bunda … kita lapor Kak Randi aja.” Ucap Rani sambil mengusap air matanya.
Tidak lama kemudian, Bu Arun dan suaminya datang karena mendengar keributan di rumahku.
“Bu Rina, apa yang terjadi?” kata Bu Arun.
“Mereka mengambil alih rumahku, Bu. Aku ditipu mmm.” Dengan menangis aku berusaha menjelaskannya.
“Astagfirullah’alazimm, apakah ini perbuatan adik Pak Adam?” tanya Pak Arum.
Aku menganggukan kepala menjawab, rasanya dunia mau runtuh melihat mereka mengeluarkan paksa barang-barang yang ada didalam rumahku.
Pak Arum melangkah mendekati mereka dan berkata, “Tunggu! Kalian tidak bisa melakukan seenaknya kepada mereka, aku bisa laporkan kalian ke Polisi karena kasus penipuan dan pencurian sertifikat!”.
Mereka berhenti dan menatap Pak Arun dengan tajam.
“Bos kami tidak menipu, ini bukti jual beli dan sertifikat sekarang atas nama Bos kami.” Dia menyodorkan copy-an sertifikat rumahku kepada Pak Arun, dan Pak Arun langsung membacanya.
“Oke! Disini memang nama Bos kalian, tapi apakah kalian tahu kalau sebelum Bos kalian membeli rumah ini, kami sudah melaporkan kasus pencurian sertifikat kepada Polisi.” Jawab Pak Arun lantang dan tegas.
Sejenak mereka berbicara seperti merundingkan perkataan Pak Arun, dan setelah itu salah satu dari mereka langsung berkata, “Baiklah, Pak. Kami akan kembali setelah menemui Bos kami, tapi Bapak harus ingat, Bos kami sudah membeli rumah ini cash.” Setelah itu mereka meninggalkan rumahku dengan mobilnya.
Aku dan ketiga putriku menangis melihat semua barang-barang rumah berantakan di halaman, bagaimana kalau mereka menang pekara atas nama yang tertera di sertifikat? Aku tidak mengerti masalah hukum. Apakah kami akan meninggalkan rumah kenangan dan peninggalan satu-satunya dari almarhum suamiku? Astagfirullah’alazimm tolong kuatkan hamba dalam cobaan ini ya Allah ….
Kami memasukan kembali barang-barang kedalam rumah, dan dibantu Bu Arun dan suaminya. Tidak lama kemudian, Wahyu datang dan memakir mobilnya di halaman.
“Bu Rina, apa yang terjadi, Bu?” Wahyu terkejut melihat keadaan rumahku.
“Wahyu,.” Aku menyapanya meski mataku sembab menangis.
Aku menceritakan yang terjadi kepada Wahyu saat kuajak duduk di kursi teras.
“Kalau Ibu perlu tempat tinggal, aku punya rumah kosong, meskipun kecil tapi cukup untuk Ibu dan putri-putri Ibu.” Ucap Wahyu menenangkanku.
__ADS_1
“Terimakasih, Wahyu. Kita lihat nanti kalau aku sudah bertemu Randi melaporkan kasus ini.”
Wahyu menganggukan kepala menanggapi perkataanku, perhatiannya kepada keluargaku menunjukkan kalau dia bisa menerima penolakan Halimah.
Wahyu juga ikut membantu kami memasukan barang-barang kerumahku, setelah semuanya beres, kami duduk di ruang tamu, sementara itu Bu Arun dan suaminya juga ikut duduk bersama kami, Alhamdulillah masih ada yang memperhatikan keluarga kecilku meski suamiku telah tiada.
“Bu Rina, apakah suda menelpon Randi?” tanya Bu Arun kepadaku.
“Sudah Bu, tapi tidak diangkat, sepertinya Nak Randi sibuk.” Jawabku memegang ponsel.
“Bunkannya terakir Randi bilang sedang mencari Haris dan Linda, Bu Rina?” tanya Pak Arun.
“Betul Pak, tapi sampai sekarang belum dapat kabar dari kasus ini.”
Halimah membawakan teh hangat dan meletakkanya di meja tamu, sangat terlihat sorot mata Wahyu terpana manatap Halimah, sepertinya dia masih ada rasa dengan putriku.
“Silahkan minum, Bu, Pak, Kak Wahyu.” Kata Halimah menawarkan.
“Terimakasih Halimah.” Jawab Pak Arun dan istrinya.
“Terimakasih Halimah,” Wahyu juga menjawab dengan tatapan dalam.
“Bu Rina, kami pamit dulu, kalau ada apa-apa jangan sungkan menghubungi kami.”
Setelah minum, Bu Arun dan suaminya meninggalkan rumahku, lagian sudah larut malam, dan mereka sepertinya lelah setelah membantuku memasukan barang-barang kedalam rumah.
“Bu Rina, Halimah. Mungkin perkataanku tidak tepat waktu, tapi kalau tidak disampaikan rasanya hatiku tidak tenang.” Ucap Wahyu kepadaku dan Halimah.
“Ada apa Wahyu?” aku penasaran dengan apa yang akan dikatakannya.
“Aku pernah berjanji kepada Pak Adam semasa hidup, jika suatu saat Halimah menikah, aku pasti hadir. Perjanjian sederhana dan tidak berarti, tapi bagiku sangat berti karena berjanji kepada almarhum Pak Adam. Kapan Halimah menikah, Bu?”
Uacapan Wahyu membuat wajah Halimah murung, aku terdiam sejenak mengambil nafas menjawab.
“Mungkin pernikahan Halimah dan Arya tidak akan pernah terjadi, Wahyu.” Ucapku menggenggam tangan Halimah.
“Kenapa Bu? Bukankah Halimah sudah memilih Arya?” tanya Wahyu lagi.
“Ibu Arya memutuskan pertunangan sebelah pihak, Wahyu.”
__ADS_1
Halimah hanya diam dan mendengar, dia menatap jauh kedepan, sepertinya dia berusaha menegarkan hati agar tidak menangis.
“Kenapa mereka memutuskan pertunangan, Bu Rina?” penasaran wahyu belum juga selesai.
“Aku tidak tau alasannya, Wahyu. Tapi ….”
Belum selesai aku menjelaskan, Halimah bangkit dari duduknya dan melangkah ke belakang, dia tidak mau mendengar perkataanku, sepertinya dia sangat kecewa.
“Maaf Bu Rina, sepertinya aku salah menayakan hal ini.” Ucap Wahyu menatap Halimah berlalu.
“Tidak apa-apa, Wahyu. Sepertinya Halimah sangat kecewa dengan sikap mereka yang membatalkan lewat SMS.”
“Bu Rina, apapun alasannya membuat pertunangan ini batal, aku berharap Halimah baik-baik saja, jujur, aku masih menyimpan harapan setelah mendengar kabar ini.”
Aku menatap wahyu, dia berusaha jujur dengan perasanya kepada putriku, tapi tidak segampang itu menaklukan hati Halimah, meskipun Wahyu membuka pintu hati, aku tidak yakin Halimah bisa secepat itu beralih pilihan. Luka hati susah obatnya.
Aku menutup pintu setelah Wahyu meninggalkan rumahku, dengan melangkah ke ruang tengah, aku berusaha berfikir cara menyampaikan kata-kata Wahyu tadi kepada Halimah.
“Bunda, apakah kita akan meninggalkan rumah ini?” tanya Anisa.
“Kita akan tinggal dimana, Bunda?” Rani juga ikut bersuara.
Aku tidak punya jawaban dari pertanyaan mereka, dengan memeluk mereka, aku berusaha sabar dan beristigfar, aku berharap masalah ini ada jalan keluarnya, Allah pasti punya rencana lain dengan masalah yang aku hadapi sekarang. Allahhuakbar.
Aku tertidur. Semalaman aku tidak bisa memejamkan mata, baru selesai sholat subuh mataku terpejam, begitu banyak masalah bertubi-tubi datang kepadaku, sebagai orang tua tunggal, aku harus kuat menjalani semua ini, berat …, tapi aku yakin ini adalah cara Allah mengangkat derajadku, semoga.
“Bunda, Anisa dan Rani sudah siap-siap ke sekolah.” Halimah membangunkanku.
“Astagfirullah’alazimm, jam berapa sekarang Nak?” aku mengusap mata yang masih mengantuk.
“Jam setengah tujuh, Bunda.” Jawab Halimah sambil membuka jendela kamar.
Matahari pagi masuk kejendela membuat garis cahaya di kamar, aku bangkit dan langsung mencuci wajahku, jika aku mandi pasti Anisa dan Rani terlambat ke sekolah. Setelah menyuruh Halimah mengunci pintu, aku melaju mootorku mengantar Anisa dan Rani.
Dalam perjalanan perasaanku tidak enak meninggalkan Halimah, entah kenapa, ingin rasanya cepat balik ke rumah, perasaan ini pernah aku rasakan waktu kejadian Halimah diculik seharian.
“Tunggu Bunda jemput nanti.” Pesanku kepada Anisa dan Rani.
Seperti biasa, mereka menganggukan kepala menjawab dan menyalamiku, setelah itu baru masuk kesekolah masing-masing. Aku melaju motorku pulang kerumah, sampai di depan rumah, aku sangat terkejut dengan apa yang aku lihat, Pono dan empat lelaki berbadan kekar semalam, berdiri di teras rumahku, inilah jawaban dari perasaan kurang enak yang aku rasakan barusan. Atagfirullah’alazimm, apa yang akan mereka lakukan sekarang?
__ADS_1
Bersambung …