
Kelihatan sekali kalau Wahyu sangat menyukai putri sulungku, cara dia memandang, siapapun yang melihat akan bisa membacanya.
"Silahkan diminum tehnya, Wahyu."
"Oh, iya, m m terimakasih, Bu."
Dia sedikit gugup menanggapiku yang menyadari dia memandang Halimah.
"Baiklah, Wahyu, aku akan menyimpan berkas ini, besok akan aku bawa untuk mengurus pencairan Jamsostek suamiku, terimakasih."
Setelah berkata, Wahyu berpamitan, sebelum dia meninggalkan rumahku, bola matanya melihat kedalam seperti mencari sesuatu.
"Mencari apa, Wahyu?"
Aku bertanya melihatnya gelisah mencari sesuatu yang belum didapatnya.
"Oh, tidak, Bu, aku ... aku, maaf aku permisi dulu, Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Wahyu meninggalkan rumahku, dari teras aku melihat, dia berusaha tersenyum menghilangkan malunya.
Aku memeluk berkas-berkas suamiku, dengan linangan air mata, aku masih berusaha agar tetap kuat.
***
Aku meminta kepada anak-anakku agar tetap pergi sekolah dan kuliah, aku tidak mau mereka juga sangat terhanyut dalam kesedihan, bagaimanapun juga, masa depan mereka masih panjang.
Pagi ini Anisa dan Rani berangkat sekolah seperti biasa, tapi sebelumnya kami sarapan dulu, biasanya suamiku juga ikut sarapan, dengan sedikit candaan kecil, kami menjalani dengan penuh kehangatan, tapi ... sekarang tidak aku jumpai lagi senyum suamiku duduk dikursi makan yang biasanya dia duduki, Ya Allah ... tolong kuatkan aku.
"Bunda, aku berangkat kuliah dulu."
__ADS_1
Halimah menyalamiku, matanya masih sangat sendu.
"Kamu tidak sarapan dulu, Nak?" Aku menatap matanya dalam.
"Halimah tidak lapar, lagian hari ini kuliahnya cuma sebentar, Bunda"
Tok! Tok! Tok!
Aku dan Halimah terdiam sejenak, kami menyadari suara ketokan pintu, sepertinya ada yang datang, siapa pagi begini bertamu?
Aku dan Halimah melangkah ke pintu, di depan pintu aku temui Arya berdiri dengan senyum kecil dibibirnya.
"Nak Arya?" Aku menanggapinya.
"Assalamu'alaikum, Bunda."
Arya menyalamiku, dan setelah itu dia menatap Halimah yang tidak menatapnya.
"Bunda, aku berangkat kuliah dulu." Halimah menyalamiku berpamitan.
"Biar aku antar, Halimah." Arya menawari dengan penuh harap.
"Tidak usah, terimakasih." Halimah berlalu meninggalkan rumah, Arya melihat Halimah berusaha agar Halimah menerima tawarannya, tapi Halimah sama sekali tidak menanggapinya.
"Silahkan masuk nak Arya."
Dari pembicaraan kami, aku menangkap kalau Arya ingin menikahi Halimah secepatnya, aku sama sekali belum membicarakan niatnya kepada putriku.
"Nak Arya, aku belum bisa memutuskannya, Halimah belum mengetahui semua ini, dia masih bersedih dengan kepergian suamiku."
"Aku mengerti, aku cuma mau minta izin untuk mendekati Halimah supaya dia bisa mengenalku lebih dalam, Bunda."
__ADS_1
"Kalau sekedar bertamu, aku pasti mengizinkan, tapi kalau ingin jalan berduaan, maaf, Halimah pasti menolak." Aku menjelaskan yang sudah tahu bagaimana karakter anakku.
"Aku mengerti, Halimah bukan wanita seperti kebanyakan aku temui, itulah yang membuatku sangat ingin menjadi suaminya, Bunda."
Dari pembicaraan kali ini, aku mengetahui kalau Arya anak salah satu pejabat di kota ini, dia pemuda yang gagah dan sopan serta sudah mapan, pantas Bu Lili sangat marah bila Monik anaknya diputuskan pertunangannya.
Aku kembali membuka warungku, aku tidak bisa berdiam diri, meski berat, aku harus tetap melangkah kedepan demi putri-putriku.
Tidak lama kemudian, Pak Slamet datang, dia adalah penghuni komplek ini juga, waktu suamiku masih hidup, mereka sering duduk di teras rumahku, dia sangat rajin berkunjung kesini, baik itu sekedar ngobrol maupun hanya sekedar duduk minum kopi, tapi, kali ini ada apa dia datang kerumahku, dan caranya berpakaian sangat rapi dari biasanya.
"Assalamu'alaikum, Bu Rina."
Pak Slamet langsung duduk diwarungku, dia membawa pisang ataupun maca-macam buah lainya, selain itu dia juga membawa tiga ekor ayam dan sekeranjang kecil telur itik. Aku hanya terpana melihatnya meletakan semua bawaannya diatas meja warungku, dan yang lebih membuatku merasa melihat pemandangan aneh, rambut putihnya yang beruban sudah berwarna hitam, giginya yang ompong juga sudah tak terlihat dengan rapinya gigi palsu menghiasi mulutnya.
"Wa'alaikumsalam, Pak Slamet."
Meski dengan rasa heran, aku berusaha menanggapinya seramah mungkin.
"Bu Rina, aku kesini bermaksud baik, aku sudah lama kenal dengan suami ibu yaitu Pak Adam, kami sudah seperti sahabat, aku sangat sedih kehilangan beliau."
Kata-kata Pak Slamet membuatku bingung, terlalu banyak basa basi dan berbelit-belit, apa maksudnya ini, aku sangat bingung.
"Langsung ke intinya saja, Pak. Aku tidak mengerti." Aku menanggapi perkataanya yang ribet.
"Baiklah, aku kesini ingin melamar Rani menjadi istriku."
Apa? Apa aku tidak salah dengar? Pak Slamet yang usianya sudah kakek-kakek ingin melamar putriku Rani yang masih kelas tiga SMA, apa yang ada di kepalanya, bahkan usia Rani sebaya dengan cucunya.
Apakah karena aku orang tua tunggal membesarkan tiga orang putri yang membuat Pak Slamet memandang sebuah kelemahan? Astagfirullah'alazim.
Bersambung ...
__ADS_1