SEUMUR HIDUP DIBALIK JERUJI PENJARA

SEUMUR HIDUP DIBALIK JERUJI PENJARA
episode 10


__ADS_3

Mataku hampir tidak berkedip melihat Randi, tidak butuh lama baginya memantapkan hati ingin menikahi putriku.


“Bunda, maaf aku membawa Papaku kesini.”


Aku masih terdiam menatap Randi.


“Bu Rina,” Pak Boby memanggilku yang terpaku.


“Iya Pak, maaf. Aku tidak menyangka kalau Randi anak Bapak.”


“Pertama kali masuk rumah Bunda, aku juga terkejut melihat foto Pak Adam, aku sering berjumpa beliau waktu aku mengantarkan Papa ke kantor. Aku minta maaf tidak bercerita ke Bunda, tadi sangat ramai.”


Ternyata itu alasan Randi mendiamkannya, foto kami sekeluarga tetap terpajang di ruang tamu ini, aku tidak akan pernah menurunkan foto itu dari dinding.


“Silahkan duduk Nak Randi.”


Aku masih bingung dengan situasi sekarang, Halimah sama sekali belum mengetahui tentang niat Arya dan Randi. Aku belum menceritakan karena begitu banyak masalah akhir-akhir ini, yang aku fikirkan sekarang hanya keselamatan putri-putriku.


“Itu suara siapa yang membaca Al Qur’an, Bu Rina?” Pak Boby bertanya saat mendengar Halimah melantunkan ayat Al Qu’an denga suara yang merdu.


“Itu suara Halimah, Pa.” Randi menjawab terlebih dahulu.


“Masya Allah … kamu tidak salah pilih, Randi.” Pak Boby mengeluarkan pujiannya.


Belum sempat aku kedalam membuatkan minuman, Wahyu juga datang dengan temannya membawa terali besi pintu yang sudah dibuat.


“Assalamu’alaikum, Bu Rina.” Wahyu berdiri mengucapkan salam.


“Waa’alaikumsalam, Wahyu. Ayo masuk.”


“Pintu terali besinya sudah siap dibuat, Bu.”


“Kok bisa cepat, ya?” Aku sedikit kaget, baru tadi siang di ukur.


“Aku minta temanku menyiapkan hari ini, aku khuatir dengan keselamatan Ibu dan putri-putri Ibu.”


Aku bersyukur masih ada yang peduli dengan kami, Wahyu kelihatannya pemuda yang baik juga.


Wahyu dan temannya masuk kedalam, tapi langkahnya terhenti melihat pak Boby.


“Pak Boby?!” Wahyu sedikit membesarkan matanya melihat pak Boby dan Randi duduk di ruang tamu.


“Ternyata kamu juga sering kerumah pak Adam, Wahyu.” 


“Iya Pak, Pak Adam sudah seperti ayahku.” Wahyu menjawab dan membuat Randi saling bertatapan dengan papanya.


“Aku permisi mau menemani temanku pasang terali besinya, Pak Boby.”


“Silahkan, Wahyu,” jawab pak Boby.


Aku masih ingat, sehari setelah suamiku meninggal, Wahyu bercerita kalau Pak Boby dan sumiku pernah selisih faham masalah kenaikan jabatan suamiku. Tapi aku lihat pak Boby orang yang baik, apalagi meminta Halimah menjadi menantunya.


Aku juga melangkah ke dapur membuatkan minuman, Halimah berhenti membaca Al Qur’an menyadari kedatang Wahyu dan temannya.


“Bunda, biar aku yang buat teh hangatnya.” 


“Dua cangkir lagi untuk Nak Randi dan Papanya.”


Setelah meletakkan Al Qur’an di meja, Halimah melangkah ke dapur. Wahyu selalu mencuri pandang melihat Halimah.


“Kak, silahkan diminum.” Halimah meletakkan dua cangkir teh di meja dapur.

__ADS_1


“Terimakasih, Halimah.” Padangan Wahyu tidak lepas dari Halimah.


Setelah meletakkan dua cangkir teh,Halimah melangkah keluar membawa dua cangkir teh lagi, baru dua langkah, Wahyu menghentikannya.


“Tunggu sebentar Halimah.”


Halimah membalikkan badan.


“Ada apa Kak?”


“Mmm … ini untukmu.” Wahyu menyodorkan sebuah bingkisan.


“Apa ini Kak?” 


“Terima dulu dan buka.”


Awalnya Halimah tampak ragu menerimanya, tapi karena merasa tidak enak, akhirnya bingkisan itu dibukanya.


“Hijab?” kata yang keluar dari mulut Halimah membuka bingkisan itu.


“Mudah-mudahan kamu suka.” 


“Maaf Kak, aku tidak bisa menerimanya.” Halimah meletakkan hijab itu di meja dapur.


“Jangan salah faham, aku tidak bermaksud apa-apa, almarhum pak Adam pernah bilang kalau kamu suka hijab syar’i.”


Wahyu mengambil hijab itu dan mendekati Halimah.


“Tolong jangan ditolak, ini hanya sebuah hijab untuk menutup aurat, kalau tidak suka silahkan di buang.” Wahyu mentap halimah dengan penuh harap.


“Baiklah, Kak. Terimakasih, aku tarok disini dulu ya Kak, aku mau letakkan minuman ke ruang tamu” 


Wahyu mengangguk dengan wajah senang, Halimah berlalu membawa dua cangkir teh hangat keruang tamu.


“Halimah, ini Pak Boby temannya Ayah dikantor dulu dan papa Nak Randi.” Aku memperkenalkan Halimah, dan Halimah mendekatkan kedua tanganya di dekat dada menolak berjabat tangan dengan senyum. Dan Pak Boby juga membalas dengan senyum.


***


Aku belum memutuskan lamaran dari Pak Boby, bagaimanapun juga aku harus menanyakan kepada Halimah, aku juga tidak mau memaksakan hal yang tidak disukai putriku asalkan tidak menentang ajaran agama.


Aku mendekatai Halimah yang sedang duduk di kamar, dia membuka hijabnya ingin tidur.


“Halimah, bagaimana menurutmu Arya dan Randi?”


Halimah menatapku, dia seperti berfikir kenapa aku menayakan kedua pemuda ini.


“Maksud Bunda?” Halimah balik bertanya.


Aku menceritakan tentang lamaran mereka, Halimah terkejut mendengarnya dan diam seribu bahasa.


“Bunda tidak akan memaksamu, fikirkanlah dulu, sepertinya mereka pemuda yang baik.”


Aku melangkah keluar kamar, namun langkahku terhenti melihat hijab diatas meja rias.


“Kamu beli hijab baru?” aku memegang hijab tersebut.


“Tidak, itu Kak Wahyu yang kasih, Bunda.”


Jawaban Halimah membuatku terpana, ternyata dia berusaha mendekati Halimah. Aku hanya diam dan berlalu keluar kamar.


Ada tiga pemuda yang ingin mendekati putriku, semuanya pemuda mapan dan kelihatan baik, siapa yang akan dipilih putriku? Aku sama sekali tidak bisa membacanya.

__ADS_1


Pagi yang cerah, semua tampak normal, Rani kelihatan sudah baikkan, wajahnya sudah ceria seperti biasa.


“Hari ini kamu tidak kuliah, Nak?” aku melihat Halimah masih memakai baju rumahan.


“Jam sepuluh, Bunda.”


“Bunda mau antar Anisa dan Rani ke sekolah, kunci pintu dan jangan terima tamu sebelum Bunda pulang.”


Halimah menjawab menganggukan kepala.


Aku melaju motorku mengantarkan Anisa dan Rani ke sekolahnya, sejak kejadian rani berprilaku tidak wajar, aku tidak mau membiarkannya pulang pergi naik angkot. Rasa cemasku belum juga hilang.


Setelah mengantarkan putri-putriku ke sekolah, aku melaju motorku balik kerumah, dengan udara pagi semuanya tampak ceria, semua individu sibuk melakukan aktivitas dengan tujuan masing-masing.


Samapai di depan rumah, aku memakir motorku di teras depan. Saat ingin masuk kerumah, mataku terpana melihat amplop coklat di lantai dekat pintu masuk, aku langsung mengambilnya.


Tok! Tok! Tok! “Halimah! Halimah!” aku memanggil Halimah agar membukakan pintu.


Tidak lama kemudian pintu dibikakan Halimah.


“Apa itu Bunda? Halimah bertanya melihatku memegang amplop coklat tersebut.


“Bunda juga tidak tahu, tadi Bunda pungut di lantai teras.”


Aku masuk dan duduk di rung tamu, Halimah juga duduk disampingku menunggu aku membuka amplop tersebut.


“Astagfirullah’alazimm!” aku sangat terkjut melihat isi amplop itu, ada foto Halimah yang hanya memakai pakaian dalam saja, dengan beristigfar, aku mengurut dada. Halimah menangis dipelukkanku.


“Kenapa mereka melakukan ini padaku Bunda mmm mmm.”


Rasanya hatiku teriris melihat putriku menangis, selama ini kami tidak punya musuh, tapi kenapa mereka mengganggu anakku, ya Allah … tolong jaga kehormatan anakku.


“Sudah, jangan menangis, masalah ini tidak bisa didiamkan, Nak Randi akan membantu kita membongkar kejahatan ini.” Aku juga tidak tahu harus berbuat apa, kata-kataku hanya untuk menenangkan hatinya.


“Assalamu’alaikum.”


Secepatnya Halimah menghapus air matanya, aku keluar melihat siapa yang datang.


Di pintu aku terkejut melihat Monik berdiri di teras rumahku.


“Wa’alaikumsalam, Monik?!”


“Halimahnya ada, Bunda?”


Tanpa aku panggil, Halimah sudah berdiri di belakangku.


“Monik, ayo masuk.” Halimah bersuara.


Aku meninggalkan mereka di rungan tamu, sepertinya Monik ingin berbicara empat mata dengan Halimah, karena penasaran, aku mendengar percakapan mereka di balik lemari.


“Ada apa Monik?” Halimah mulai membuka percakapan.


“Maafkan Mamaku, Halimah.” 


“Aku sudah memaafkan Bu Lili.”


“Apakah Arya sering kesini?” 


“Sekitar dua tau tiga kali,” tanpa basa basi Halimah menjawab.


“Apakah kamu mencintai Arya?”

__ADS_1


Halimah terkejut dengan pertanyaan Monik. Kelihatan sekali Monik masih memendam rasa dengan Arya, caranya bertanya seperti orang patah hati.


Bersambung …


__ADS_2