SEUMUR HIDUP DIBALIK JERUJI PENJARA

SEUMUR HIDUP DIBALIK JERUJI PENJARA
episode 23


__ADS_3

Melihat mereka berdiri di teras rumahku, aku secepatnya memakir motor dan menghampiri mereka, aku tidak ingin Halimah sendirian di rumah menjadi sasaran, untung Halimah mengunci pintu dan tidak keluar.


“Bunda, senang bertemu lagi,” ucap Pono berusaha ramah.


“Apa yang kamu inginkan?” Aku tidak basa-basi bertanya.


Dia tersenyum menatapku, sejenak dia menyalakan rokok dan menghisapnya.


“Jangan marah-marah, Bunda. Bukankah ini rumahku?”


Mendengar perkataannya, rasanya ingin mencabik mulutnya, tapi aku harus tetap sabar beristigfar.


“Aku membeli rumah ini cash, jadi apa salah kalau aku ingin mengambil barang yang aku beli?” ucap Pono lagi.


Aku langsung menghubungi Randi dengan ponsel, tapi lagi-lagi dia tidak mengangkat panggilanku, apakah aku harus ke kantor polisi sekarang? Halimah ada didalam, aku cemas kalau mereka berbuat jahat kepadanya.


“Bunda menghubungi siapa?” katanya melihatku sibuk dengan ponsel.


“Dimana Linda dan Haris?” tanyaku menatapnya.


“Mana aku tahu. Sudahlah Bunda, aku punya penawaran, jujur, setelah melihat putrimu, aku sangat menyukainya, bahkan sangat suka, terima lamaranku maka rumah ini bisa menjadi milik Bunda lagi, aku juga akan membelikan putrimu rumah yang lebih besar dari ini.”


Ternyata Pono melagakku dengan uangnya, dari sikap ini saja aku sudah tidak suka, putriku bukan barang yang bisa ditukar dengan uang, Astagfirullah’alazimm, aku berusaha sabar.


“Aku tetap tidak bisa menerima lamaranmu, pergi dari rumahku!” Aku bersuara lantang, dari tadi sangat sulit bersabar.


“Ini rumahku! Cepat keluarkan barang-barang mereka, aku tidak bisa menerima penghinaan ini.” Pono memerintahkan kepada anak buahnya. Dan mereka mencoba masuk, namun pintu dikunci dari dalam, aku bisa melihat Halimah mencoba mengintip dari balik kaca jendela ketakutan.


“Pintunya dikunci, Bos,” kata anak buah Pono.


“Dobrak pintunya!” titah Pono dengan tatapan marah.


“Jangan! Kalian tidak boleh mendobrak pintu rumahku seenaknya!” Aku langsung berdiri di depan pintu membentangkan tangan menghalangi mereka.


“Jangan biarkan kami memaksamu, Bunda,” ucap Pono.


“Tunggu! Kalian jangan seenaknya main kasar.”


Alhamdulillah Randi datang dengan dua orang polisi lainnya, melihat Polisi datang, Pono dan anak buahnya langsung sedikit menghindar dariku.


“Aku sudah membeli tumah ini, Pak.” Pono berkata kepada Randi.


“Kasus pencurian sertifikat rumah ini sudah naik, Haris dan Linda sedang DPO di kantor polisi.” Randi berkata tegas.


“Tapi aku sudah membeli rumah ini cash!?” Pono tidak terima dengan penjelasan Randi.

__ADS_1


“Silahkan laporan penipuan mereka ke kantor polisi, rumah ini tetap punya Bunda Rina dan Almarhum Pak Adam.”


Setelah Randi menjelaskan tentang kasus ini, Pono dan anak buahnya meninggalkan rumahku dengan kesal, aku tidak henti-hentinya mengucap syukur, kalau tidak ada Randi … mungkin kejadian tadi malam akan kembali terjadi.


“Alhamdulillah, terimakasih Nak Randi,” ucapku kepada Randi setelah mereka pergi.


“Bunda tidak apa-apa?” Randi balik bertanya.


“Iya, aku tidak apa-apa Nak Randi.”


Halimah membukakan pintu, kami duduk di ruang tamu, sementara itu teman Randi sesama Polisi sudah meninggalkan rumahku serta mencari keterangan kepada Pono dimana keberadaan Linda dan Haris.


“Maaf Bunda, semalam ponselku ketinggalan di rumah, aku ada tugas diluar.” Ucap Randi menjelaskan kenapa ponselnya tidak diangkat semalam, saat kejadian anak buah Pono mengeluarkan barang-barang dari dalam rumahku.


“Silahkan diminum, Kak Randi.” Halimah meletakan teh hangat di atas meja.


“Terimakasih, Halimah,” jawab Randi menatapnya.


Halimah berlalu meninggalkan ruang tamu, Randi masih menatapnya dengan penuh arti.


“Bunda jangan khuatir, Rumah ini tidak akan berpindah ketangan lelaki itu, semua ini murni kejahatan pencurian sertifikat rumah.”


“Alhamdulillah, itulah yang aku fikirkan, rumah ini satu-satunya tempat kami berteduh, dan juga kenangan dari suamiku, Nak Randi,” jawabku dengan mengucap syukur.


“Ada apa Nak Randi?” Aku langsung bertanya karena membaca mimik wajahnya.


“Maaf Bunda, kapan Halimah dan Arya menikah?”


Aku terdiam sejenak mendengar pertanyaan Randi, ingin bercerita tapi tidak enak, aku belum bertemu Arya sampai sekarang, dan semuanya belum jelas.


“Bunda … Bunda …, apakah ada masalah?”


Sepertinya Randi bisa membaca keterdiamanku, aku menarik nafas besar dan berkata, “Ibu Arya memutuskan pertunangan ini sepihak, Nak Randi.”


Randi terkejut mendengar perkataanku, dia seakan tidak percaya wanita seperti Halimah bisa ditolak keluarga besar Arya.


“Tidak mungkin, Bunda. Setahu aku … orang tua Arya sangat baik, dengan melihat Halimah, aku yakin mereka pasti suka seperti pertama kali Papaku melihat Halimah.”


“Tapi itulah kenyataannya, Nak Randi,” ucapku lesu.


“Apa alasan mereka memutuskan pertunangan ini, Bunda?” Randi balik bertanya.


“Aku tidak tahu, dan sampai sekarang Arya belum menemui kami perihal ini.”


“Kenapa tidak dihubingi saja, Bunda?”

__ADS_1


“Halimah melarangku bertanya, aku tidak tahu kenapa dia seperti itu, tapi aku menghargai perasaannya dan membiarkan dia tenang dulu.”


“Aku tidak menyangka gadis seperti Halimah ditolak, padahal ….” Randi tidak melanjutkan kata-katanya, aku mengerti dia masih menyimpan rasa kepada Halimah.


“Maafkan atas pilihan Halimah, Nak Randi.” Hanya itu kata-kata yang bisa aku ucapkan.


“Aku mengerti Bunda, Hati tidak bisa dipaksakan, seharusnya aku tahu diri sejak pertama kali Arya minta tolong saat Halimah diculik, aku kira dia masih bertunangan dengan Monik, makanya aku berani melamar Halimah. Kalau Arya melepaskan Halimah, aku rela menunggu Halimah menerimaku, Bunda.”


Aku terkejut dengan perkataan Randi, bagaimana mungkin pemuda gagah dan mapan seperti dia masih mengharapkan putriku, dia pasti banyak bertemu wanita cantik diluar sana. Inilah masalah hati.


“Nak Randi, kalau Allah mengizinkan, kalian pasti berjodoh. Aku berharap Nak Randi mendapatkan jodoh yang dihati.”


Randi tersenyum mendengar perkataanku, meski Halimah sudah menolaknya, tapi dia masih sopan dan mengahargaiku. Lagi-lagi aku harus bingung dengan semua ini, kemarin Wahyu juga mengucapkan hal yang sama setelah mengetahui Ibu Arya memutuskan pertunangan ini. Kenapa mereka memutuskan pertunangan ini? Apa salah anakku? Ya Allah … tolong beri petunjuk.


“Bunda, ada panggilan dari Bu Arun.” Tiba-tiba Halimah menghampiriku dan menyodorkan ponsel. Aku langsung menerima panggilan itu.


“Sebentar Nak Randi.” Aku langsung ke ruang tengah menerima panggilan Bu Arun.


“Silahkan Kak, mupung lagi hangat.” Halimah meletakkan goreng pisang di meja.


“Wah, aku sangat suka sekali dengan goreng pisang, apalagi dengan secangkir kopi.” Jawab Randi tersenyum.


“Bentar aku bikini kopi, ya, Kak,” kata Halimah langsung ke dapur membuat kopi.


Tidak lama  kemudian, Halimah membawa secangkir kopi untuk Randi, karena aku sedang berbicara di ponsel, halimah terpaksa menemani Randi di ruang tamu, semuanya lantaran tidak enak karena Randi sudah menolong kami.


“Kak, apakah kami akan keluar dari rumah ini?” Halimah bertanya kepada Randi.


“Tidak, rumah ini tetap milik kalian, aku akan menolong kasus ini sampai tuntas, jangan khuatir Halimah.”


Halimah tersenyum lega mendengar ucapan Randi, hal yang ditakutkannya tidak menjadi kenyataan, Randi juga tersenyum melihat gadis di depannya sangat cantik tersenyum, dia hanya menatap gadis itu.


“Randi, Halimah, apa yang kalian lakukan berdua disini?” Tiba-tiba Arya berdiri di pintu menatap mereka. 


“Kak Arya?!” ucap Halimah terkejut.


“Hai Teman.” Randi menyapa Arya.


“Aku tidak menyangka kamu melakukan ini kepadaku Halimah,” ucap Arya menatap Halimah.


“Randi, seharusnya kamu tahu kalau Halimah tunanganku.” Sambung  Arya lagi dengan sedikit emosi.


Suara Arya sedikit lantang, dia tidak bisa menyembunyinkan kecemburuanya menatap Randi dan Halimah duduk di ruang tamu.


Bersambung …

__ADS_1


__ADS_2