
Halimah sama sekali tidak menatap Wahyu yang duduk di dekat pintu belakang menatapnya, dia hanya terfokus masak.
“Halimah, Bunda mau menjemput Anisa, di rumah ada Bu Arun menemanimu.” Aku menghampiri Halimah di dapur.
“Biar aku saja yang menjemput, Bunda.” Halimah menawarkan diri.
“Tidak usah, Bunda tidak ingin kejadian kemarin terulang lagi.”
Halimah hanya menuruti kata-kataku, aku tahu dia masih trouma. Aku melangkah keluar dan mengendarai motorku menjemput Anisa di sekolahnya.
Aku meras sedikit aman meninggalkan Halimah dengan Bu arun meski ada Arya-Randi dan Wahyu. Aku tidak punya pilihan, Anisa juga harus aku jaga, kejadian Rani dan Halimah membuatku sangat cemas.
Sampai di depan sekolah Anisa, aku memakir motorku di depan gerbang dan duduk dimotor yang tidak menyala. Matahari siang semakin menampakan panasnya, beberapa siswa siswi sudah menampakkan diri keluar dari gerbang sekolah.
Tidak lama kemudian, Anisa keluar dengan beberapa temannya, melihatku sudah berada di depan gerbang, dia menghampiriku.
“Bunda sudah datang duluan, ya?”
“Iya, Bunda ingin kamu cepat sampai di rumah.”
“Ada apa Bunda?”
“Tidak ada apa-apa. Ayo kita pulang.”
Aku membonceng Anisa pulang, aku tidak ingin lama-lama meninggalkan Rani dan Halimah di rumah. Sebelum aku pulang, aku mampir di sebuah toko membeli pisau kecil lipat dan bubuk cabe, semua ada alasan kenapa dua benda itu aku beli, aku ingin memberikan kepada putri-putriku untuk senjata bila aku tidak disamping mereka. Anak-anakku masih menempuh pendidikan, dan tidak mungkin aku berada 24 jam disamping mereka.
Setelah memakir motor di depan rumah, aku dan Anisa masuk kedalam, didalam aku melihat Wahyu sedang sholat, sedangkan Arya dan Randi duduk di ruang tengah dengan Bu Arun.
“Halimah mana Bu Arun?” Aku duduk disamping Bu Arun.
“Sholat dikamarnya,” jawab Bu Arun.
Wahyu selesai sholat, dia juga ikut gabung duduk di ruang tengah.
“Bu Rina, besok pintu terali besinya sudah bisa di pasang, aku minta kepada temanku agar menyelesaikannya secepatnya.”
“Terima kasih, Wahyu. Untuk sekarang itulah yang terpenting pengamanan rumah kami.”
Halimah keluar dari kamarnya, Arya-Randi dan Wahyu terpana melihat putriku yang ikut duduk disampingku.
“Bunda, aku tidak bisa berdiam diri di rumah terus, aku harus kuliah.”
Halimah benar, jika dia terus hidup dengan ketakutan, pendidikannya akan terhalang, lagian masalah ini harus cepat diselesaikan, aku tidak mau berlarut.
“Besok, biar aku yang antar jemput kamu kuliah, Halimah.” Arya menawarkan.
__ADS_1
“Sebaiknya sama aku saja, bagaimanapun, kasus penculikan kemaren belum terungkap.” Randi juga menawarkan.
“Halimah diculik? Siapa dan kenapa, Bu Rina?” Wahyu terkejut mendengar perkataan Randi.
Aku menceritakan kejadian yang dialami Halimah, sepertinya tiga pemuda ini pemuda yang baik. Wahyu sangat terkejut mendengar penjelasanku, ada kekhawatiran yang terpancar dari wajahnya.
“Maaf, bukan aku ikut campur terlalu dalam. Dari kedatang Bu Lili tadi ….” Wahyu tidak melanjutkan kata-katanya, dia hanya menatap ke Arya.
“Aku mengerti maksud kamu, Mas Wahyu. Aku sama sekali tidak ada hubungan lagi dengan Monik, dan aku bebas menentukan pilihanku.” Arya menanggapi arti pandangan Wahyu.
“Aku bisa pergi kuliah sendiri tanpa harus diantar, Kak. Maaf, aku juga tidak enak jika aku jalan dengan lelaki yang bukan muhrimku.”
Kata-kata Halimah membuat ketiga pemuda ini terkesima.
“Bunda.” Kami terdiam dan terpana melihat Rani berdiri di pintu kamar, dengan wajah lesu dia mendekatiku dan duduk disampingku.
“Kamu susah sholat, Nak?” aku membelai kepala Rani.
“Iya, aku mau sholat, Bunda. Tapi … ada acara apa sekarang Bunda? Kenapa rumah sangat ramai.”
Sepertinya Rani tidak menyadari apa yang terjadi, dia seperti lupa bahwa mereka sudah berada di rumah ini dari pagi. Sementara itu yang lain menatap Rani dengan tatapan penuh arti.
“Dek, tadi kenapa kamu mengejar Pak Slamet?” Arya bertanya kepada Rani yang terlihat masih lemas.
Kami semua terpana melihat reaksi Rani, dia sama sekali betul-betul tidak mengingat kejadian tadi pagi.
“Kamu betul-betul tidak ingat, Nak?” Aku mencoba menayakan lagi agar meyakinkan hatiku.
“Bunda … kenapa aku harus mengejar pak Slamet?”
Astagfirullah’alazimm, apakah ini yang disebut santet? Seumur hidup aku tidak pernah mengalami yang berbaur dengan santet menyantet, tapi sekarang ….
“Tidak salah lagi, Rani disantet pak Slamet, Bu Rina.” Wahyu juga menanggapi melihat reaksi Rani.
“Aku disantet pak Slamet? Bunda … aku takut.”
Sangat terlihat kecemasan dimata Rani, aku sebagai ibu sangat prihatin dan cemas, ya Allah … lindungilah putri-putriku.
***
Hari semakin sore, matahari mulai bersembunyi, aku mengumpulkan putri-pitriku di kamar.
“Bunda, ada apa kita berkumpul dikamar?” Halimah bertanya dengan heran.
“Ini! Dua benda ini harus kalian bawa kemanapun kalian pergi, jika ads yang berbuat jahat, cepat gunakan ini.” Aku menyodorkan pisau lipat dan bubuk cabe ke putri-putriku.
__ADS_1
“Bukannya ini bubuk cabe, Bunda?” Rani melihat bubuk merah ditangannya.
“Betul, bubuk ini sangat perih bila mengenai mata.”
Jawabanku membuat putri-putriku menganggukan kepala dan berfikir, aku yakin mereka mengerti maksudku memberikan ini kepada mereka. Apa lagi yang bisa aku lakukan? Mereka sama sekali tidak bisa ilmu bela diri, aku hanya memperdalam anak-anakku ilmu agama, aku yakin pemikiranku sekarang jalan yang diberikan Allah untuk melindungi putri-putriku.
Setelah sholat magrib, aku mengunci semua pintu dan juga menggemboknya. Ketiga putriku membaca Al Qur’an di ruang tengah. Aku duduk di ruang tamu sembari berfikir bagaimana cara mengatasi masalah Halimah tentang foto seksinya yang diambil paksa.
“Assalamu’alaikum.”
Ucapan salam membubarkan lamunanku. Pak Boby? ada apa dia magrib-magrib begini ke rumahku? Padahal suamiku sudah meninggal, kenapa rekan kerjanya kesini?. Aku membukakan pintu dan mempersilahkan Pak Bobi masuk dan duduk di ruang tamu.
“Maaf Bu Rina, aku mengganggu Ibu magrib-magrib begini.”
“Ada apa ya, Pak?”
“Aku mau minta maaf, sebelum Pak Adam meninggal, aku sempat protes atas terpilihnya beliau sebagai kepala cabang kantor baru, padahal kami dulunya teman baik, aku sangat menyesal. Tolong maafkan aku Bu Rina.”
Pak Boby kelihatan orang baik, rasa bersalah terpancar dari raut mukanya.
“Mungkin ini sudah ajal suamiku, Pak. Aku sudah mengiklaskan semuanya.”
Aku yakin, semua yang terjadi sudah ajal suamiku. Aku tidak mau berfikiran tentang santet yang dibilang Bu Arun.
“Bu Rina, aku punya niat ingin menjodohkan Halimah dengan putraku. Itupun kalau Bu Rina setuju.”
Aku terkejut mendengar perkataan Pak Boby, kenapa dia ingin menjodohkan Halimah dengan putranya? Dan ini juga sangat mendadak dan tidak pernah di bahas sebelumnya.
“Tapi Pak, aku sama sekali tidak mengenal putra Bapak, terus terang aku sangat terkejut mendengar niat Bapak secara tiba-tiba.” Aku berusaha seramah mungkin suapay tidak menyinggung Pak Boby.
“Anakku sudah mengenal Bu Rina dan Halimah.”
Aku terpana mendengar jawaban Pak Boby. Jangankan anaknya, istrinya saja aku tidak kenal.
“Anakku ada di mobil menunggu, kalau Bu Rina berkenan akan aku panggil masuk.”
Aku menyetujui perkataan Pak Boby, bagaimanapun juga aku juga sangat penasaran, siapa anak Pak Boby yang sudah kenal denganku.
Pak Boby keluar sejenak memanggil anaknya, dan tidak lama kemudian dia masuk dengan seorang anak muda yang tidak asing dimataku.
“Nak Randi?”
Aku terkejut melihat Randi berdiri disamping pak Boby, dia tersenyum melihatku dan menyalamiku.
Bersambung …
__ADS_1