
Setelah kedatangan Arya dan Ibunya menjelaskan semua masalah, hatiku sangat lega, akhirnya bulan depan Halimah dan Arya jadi menikah. Alhamdulillah.
"Halimah, maafkan aku, Nak. Aku sudah salah faham tentangmu," ucap Ibu Arya menatap Halimah, Halimah tersenyum meskipun air matanya berlinang, dan mereka saling berpelukan.
Arya melihat Halimah dan Ibunya berpelukan, terlihat senyum bahagia diraut wajahnya, gadis yang dicintainya sebulan lagi akan menjadi istrinya.
***
Aku harus mempersiapkan pesta pernikahan Halimah, Ibu Arya meminta agar pesta diadakan di hotel, karena suamiku belum lama meninggal, jadi di rumahku hanya ada syukuran nantinya. Aku sangat bersyukur, keluarga Arya sangat baik dan menghargai kami walaupun kami dari keluarga sederhana.
"Bunda, ponsel Bunda berdering, ada panggilan dari Kak Randi," ucap Halimah menyodorkan ponselku.
Segera kutempelkan benda pipih itu ke daun telinga.
"Assalamu'alaikum, Nak Randi," ucapku di ponsel.
"Wa'alaikumsalam Bunda," jawan Randi.
"Bunda, aku membawa kabar baik, Haris dan Linda sudah tertangkap, tapi kasus foto Halimah sampai sekarang belum menemukan titik terang, tapi kami akan terus menyelidikinya."
Aku terdiam sejenak, ada rasa kasihan kalau mereka di penjara, tapi kalau tidak begitu, mereka akan semena-mena dan mengulanginya lagi. Foto Halimah, siapa pelakunya dan apa maksudnya, selama ini anakku tidak punya musuh, lagian Monik dan Bu Lili sudah diselidiki dan bukan mereka pelakunya.
Setelah kututup pembicaraan ponsel dengan Randi, ada rasa tenang dan ada rasa kasihan, bagaimanapun juga mereka masih saudara almarhum suamiku. Maafkan aku Mas Adam, gumamku dihati.
"Bunda, ada apa?" Halimah menghampiriku.
"Linda dan Haris sudah dipenjara," jawabku menatap putriku itu, tapi Halimah sama sekali tidak senang, dia diam seperti berfikir.
"Bunda, cabut tuntutan itu, kasihan mereka dipenjara, lagian anak-anaknya pasti sedih."
Aku terpana mendengar perkataan Halimah, bagaimana mungkin dia sepemaaf itu, kejahatan mereka hampir membuat kami tidak punya tempat tinggal.
"Mereka tidak akan sadar kalau tidak diberi hukuman, kejahatan mereka hampir membuat kita kehilangan rumah satu-satunya tempat kita berteduh, dan inipun peninggalan almarhum Ayahmu Halimah." Aku berusaha menjelaskan.
Halimah menatapku dan menggenggam tanganku.
"Bunda, mudah-mudahan dengan kita memaafakan mereka, hubungan kekeluargaan kita semakin membaik. Bunda ingat kejahatan Bu Lili? Lihat sekarang, kita bertetangga jadi rukun."
Halimah benar, kejahatan Bu Lili sangat sulit bagi sebagian orang untuk dimaafkan. Aku menarik nafas dalam dan berusaha memaafkan mereka, Astagfirullah'alazim, kenapa aku yang dinasehati putriku, seharusnya aku yang membimbing dia. Terimakasih Mas Adam, kamu mendidik putri kita berhati mulia.
***
Aku dan Halimah pergi ke kantor polisi, kami mencabut tuntutan terhadap Haris dan Linda, dengan membaca bismillah, mudah-mudahan mereka sadar dan tidak mengulanginya lagi, bagaimanapun juga, mereka masih saudara kami.
"Terimakasih Mbak, aku tidak tahu harus berkata apa, kami sangat malu." Wajah penyesalan terpancar dari wajah Haris dan Linda.
"Semua berkat Halimah, kalau bukan putriku yang memberikan usul ini, belum tentu aku mencabut tuntutan," ucapku menatap mereka, tapi mereka menundukkan wajah.
__ADS_1
"Terimakasih Halimah, terimakasih." Linda memegang tangan Halimah.
"Tante, Om. Kami sudah memaafkannya, aku tidak tega melihat Om dan Tanteku dipenjara, Ayah pasti sedih kalau bisa melihat semua ini."
Ucapan Halimah semakin membuat Haris dan Linda malu, entah berapa kali mereka mengucapkan terimakasih, sepertinya mereka betul-betul menyesalinya, Alhamdulillah, hubungan persaudaraan kami semakin terjalin erat.
Karena kami berbicara di kantor polisi, tentu Randi menyaksikan adegan ini, dia terus menatap Halimah, sepertinya rasa kagum terus terpancar disorot matanya.
"Nak Randi, terimakasih telah membantu kami, jasa Nak Randi tidak akan terbalas," ucapku kepada Randi.
"Bunda, ini sudah tugasku, tidak perlu berterimakasih, aku berharap tidak ada kejahatan lagi menimpa Bunda dan putri-putri Bunda. Kalau ada apa-apa, Bunda jangan segan menghubungiku meskipun Halimah sudah menikah dengan Arya."
Sepertinya Arya sudah menjelaskan masalah putus tunangan itu, aku bersyukur, Randi masih menerima semua ini dengan lapang dada, Randi pemuda yang baik.
"Kak Randi, terimakasih," ucap Halimah ke Randi.
"Sama-sama Halimah," jawan Randi singkat dengan sorotan mata kagum.
Dan kami meninggalkan kantor polisi dengan hati tenang, rasanya dunia kembali berseri setelah kita menjadi manusia pemaaf, hati lebih tenang dan kita menjalani kehidupan seperti tidak ada beban, Alhamdulillah, terimakasih ya Allah, aku masih bisa menjadi manusia pemaaf.
***
Siang ini ketiga putri-putriku sudah di rumah, aku seperti biasa membuka warung, tentunya putri-putriku juga ikut membantu, Anisa dan Rani menjual kue brownies yang sudah dipotong-potong dan menitipkannya di warung-warung terdekat komplek, dan mereka juga tidak malu kalau menitipkannya juga di kantin sekolah mereka. Aku tidak pernah meminta mereka melakukannya, namun mereka sangat senang bisa berjualan dan tidak mengganggu sekolah, hal positif yang dilakukan putriku tidak akan pernah kularang.
"Bunda, ini hasil jualan kue kita." Rani menyodorkan uang kepadaku.
"Berapa ini, Nak?" tanyaku.
"Nak, tabungkan saja uang itu untuk keperluan kalian, Bunda masih punya uang untuk kebutuhan kita." Aku menolak uang yang disodorkan Rani.
"Bunda, Anisa dan Kak Rani ingin membantu Bunda, lagian uang kita juga uang Bunda, kita belum butuh uang ini, lumayan bisa tambahan beli beras Bunda," ucap Anisa.
"Modal jualan kalian bagaimana?" tanyaku menggusuk kepala kedua putriku.
"Jangan khuatir Bunda, kami sudah sisihkan untuk membeli bahan-bahan kue."
Aku tersenyum mendengar perkataan Rani, dengan air mata bahagia aku menerima uang itu, rasa yang tidak pernah terbayangkan rasa dihatiku saat ini, aku menerima uang hasil dari pencarian putri-putriku yang masih sekolah. Hanya pelukan yang bisa kugambarkan isi hatiku, Alhamdulillah.
***
Hari yang dinantikan datang juga, Halimah dan Arya akan segera menikah, kami sudah siap-siap menuju mesjid tempat ijab kabul dilangsungkan, dan besoknya baru pesta di hotel tempat yang sudah disiapkan keluarga Arya.
"Alhamdulillah, kamu cantik sekali, Nak." Aku memegang kedua pundak Halimah saat dia duduk di kursi meja rias menghadap ke cermin. Halimah sudah didandani dan memakai baju kebaya hijab berwarna putih.
"Bunda, aku gugup sekali." Halimah memegang tanganku. Sangat terasa telapak tangannya dingin.
Aku tersenyum menatapnya, aku bisa maklum karena ini hari pernikahannya.
__ADS_1
"Bunda juga pernah merasakan ini sebelumnya, perasaan seperti ini pasti dialami semua wanita di hari pernikannya."
"Iya Bunda, tapi ...." Halimah tidak melanjutkan kata-katanya.
"Ada apa Nak?" Aku manatap wajah Halimah.
"Kenapa perasaanku tidak enak, dari semalam perasaan ini tidak kunjung hilang." Halimah memegang dadanya.
"Mungkin karena kamu akan tinggal di rumah mertuamu, Nak," jawabku.
"Bukan Bunda, bukan, aku tidak mengerti perasaan apa ini, jantungku berdetak tak karuan, aku merasa takut dan entah apa aku juga tidak mengerti." Wajah Halimah terlihat cemas.
"Istighfar, Nak. Berserah diri kepada Allah. Sekarang siap-siap karena rombongan akan mengantarmu ke mesjid, kita tidak boleh terlambat, Nak."
Setelah berkata aku melangkah keluar kamar, di ruang tamu sudah ada Bu Arun dan suaminya mengiring kami, tentu Haris dan Linda juga hadir. Tidak banyak yang mengiringiku mengantar Halimah menikah, selain mereka tentu dua putriku yang lain, satu mobil saja sudah pas untuk kami.
"Halimah sudah siap, Bu Rina?" tanya Pak Arun kepadaku.
"Sudah Pak, sebentar lagi dia keluar dan kita langsung berangkat," kataku sambil duduk di ruang tamu.
Tidak beberapa lama kemudian Halimah keluar dari kamarnya, semua orang di ruang tamu terpana melihat kecantikan putriku, tidak biasanya anakku berdandan, keseharian wajahnya tidak pernah tersentuh bedak dan lipstik.
"Kamu sangat cantik, Halimah," ucap Linda langsung berdiri disamping Halimah.
Halimah hanya tersenyum malu dan menundukkan wajah, itulah ciri khas putriku.
Kami berangkat hanya satu mobil, Pak Arum menyetir mobil dan kebetulan dia suka rela meminjamkan mobilnya untuk kami. Halimah duduk di depan, aku dan Bu Arun serta Haris duduk dibangku tengah, dua putriku lagi dan Linda duduk dibangku belakang. Kami langsung menuju ke mesjid dekat rumah orang tua Arya.
Untuk menuju ke lokasi ijab kabul, kami harus menempuh perjalanan sekitar setengah jam, maklum komplek tempatku tinggal agak dipinggir kota, sedangkan rumah orang tua Arya dipusat kota keramaian.
"Astagfirullah,alazim." Pak Arun mengucap saat mobil tiba-tiba direm mendadak.
"Ada apa, Pak?" tanyaku penasaran.
"Ada orang pinsan di jalan Bunda" Halimah menjawab karena dia melihat jelas duduk didepan.
"Sebentar, Bu. Biar aku cek dulu," kata Pak Arun.
"Biar aku temani Pak," sanggah Haris.
Pak Arun dan Haris langsung keluar dari mobil menghampiri orang pinsan tersebut, kulihat kesekeliling, ini jalan sangat sepi karena kami tidak melalui jalan raya keramaian, kalau menelusuri jalan raya sangat ramai dan bisa-bisa macet.
Kami hanya menyaksikan dari dalam mobil, yang membuatku terkejut, tiba-tiba orang yang pinsan tersebut menyemprotkan sesuatu ke wajah Pak Arun dan Haris, sesaat setelah itu mereka pinsan.
"Bunda, Pak Arun dan Om Haris ...," ucap Halimah dan langsung pinsan.
"Apa yang terjadi?! Siapa mere ...."
__ADS_1
Bu Rina tidak bisa melanjutkan kata-katanya, dia pinsan begitu juga semua orang yang ada di dalam mobil, ada seseorang yang muncul dan langsung menyemprotkan sesuatu kepada mereka dari arah pintu kaca mobil yang dibiarkan terbuka.
Bersambung ...