
Dengan perasaan cemas, Halimah meninggalkan pos satpam, Angkot yang dinaikinya tidak begitu ramai, jadi dengan lancar dia sampai di terminal lama.
Setelah membayar ongkos angkot, Halimah melangkah memasuki terminal, angkot yang dinaikinya sudah menjauhinya.
“Dimana Bunda?” Halimah bergumam sendiri melihat suasana terminal sangat sepi.
Dia terus melangkahkan kakiknya memasuki terminal, tapi Bundanya tidak di temukan, rasa cemasnya semakin besar, apalagi suasana terminal tidak menampakan satupun manusia.
Bangunan terminal menutupi Halimah dari sinar matahari siang, dia terus melangkah melihat kesekitar berharap Bundanya segera ditemukan.
“Bunda! Bunda dimana?!”
Teriakan Halimah tidak membuahkan hasil, hanya suaranya bergema melantun ke bangunan kosong. Sepi ….
Setelah Halimah memasuki lebih jauh kedalam bangunan, dia hanya menemukan tumpukan sampah yang berserak di beberpa tempat, kucing-kucing liar berlarian di sepanjang bangunan.
“Dimana Bundaku?” Halimah sangat cemas.
Karena Bundanya tidak di temukan, Halimah memutuskan keluar dari bekas banguna terminal itu. Dia membalikan badan, tapi alangkah terkejutnya dia mendapati seseorang memakai sebo penutup kepala, menatapnya dengan senyum bringas.
“Siapa kamu?!” Halimah sangat ketakutan, dia melangkah mundur menjauhi orang itu.
Orang itu terus mendekati dan menatap Halimah. Halimah berlari menjauhi orang itu, dengan perasaan yang teramat takut, dia terus berlari menuju keluar terminal.
Orang bersebo itu juga terus mengejar Halimah, suasana sepi membuatnya leluasa melaksanakan niat buruknya. Namun, Halimah berhasil di tangkapnya.
“Jangan! Lepaskan!” Halimah terus memberonta.
Dia lebih kuat,dia memaksa membuka hijab Halimah, dan kali ini bukan hanya hijab yang ingin dibukanya, tapi juga baju Halimah.
“Jangan! Tolong! Tolong!”
Teriakan Halimah tidak dihiraukannya, dia terus mencoba memperkosa Halimah, sepertinya orang itu sudah dikuasai nafsu.
Halimah terus memberonta, dia berhasil memegang kedua tangan Halimah dan menyandarkannya ke dinding. Halimah tidak hilang akal, dia menendang kelamin orang itu hingga dia kesakitan.
“Agghh! Aggh!”
Nafasnya semakin besar, dia menatap Halimah berlari menjauhinya, tapi dia juga dengan cepat kembali bangkit dan mengejar Halimah.
“Tolong! Tolong!”
Halimah terus berlari dan minta tolong, tapi percuma, tidak ada yang mendengar.
__ADS_1
Ternyata Halimah salah arah, dia berlari menuju jalan buntu dengan bangunan terminal yang cukup luas. Tidak ada celah baginya melarikan lagi, dengan rasa teramat takut, punggung Halimah hampir mendekati dinding, orang bersebo itu terus mendekati Halimah dengan senyum kemenangan dan siap menyantap mangsanya.
“Jangan dekati aku, aku mohon ….”
Permohonan Halimah tidak dihiraukannya, dia terus melangkah mendekati Halimah menangis ketakutan.
“Jangan … jangan, aku mohon … tidak!”
Orang bersebo itu semakin dekat dengan Halimah, dia ingin melampiaskan nafsunya. Dia berusaha menarik baju Halimah agar terbuka. Halimah berusaha melawannya, namun dia berhasil menarik hijab Halimah hingga terlepas. Dalam keadaan terjepit, Halimah mengambil bubuk cabe di dalam saku roknya dan melempar kearah mata orang bersebo itu.
“Aaakkk … aakkk!”
Bubuk cabe mengenai matanya dan dia mengusap dengan kedua tangannya, Halimah menggunakan kesempatan itu untuk lari.
Belum begitu jauh Halimah berlari, dia dihadang oleh seorang bersebo lainnya. Langkah Halimah terhenti, dia sangat ketakutan, ternyata mereka ada dua orang.
“Jangan! Aku mohon, jangan!” Halimah menangis memohon, tapi dia tidak menghiraukanya.
Dengan cepat dan tenaga lebih kuat, orang bersebo itu berhasil menyentuh Halimah dan menariknya kearah belakang dimana temannya sudah menunggu.
“Jangan! Jangan! Tolong! tolong!”
Teriakan Halimah menggema, dia menangis ketakutan tubuhnya di seret hingga tas dan ponselnya terjatuh, temannya menunggu menahan perih karena bubuk cabe.
“Lepaskan dia!”
Halimah langsung berdiri di sudut dinding ketakutan.
“Ha ha ha …, habisi dia kawan!” kata seorang bersebo itu kepada temannya.
Orang itu mendekati Arya, dan mereka mulai bergulat. Beberapa tendangan melayang ke pipi orang bersebo, tapi dia belum kalah, dia juga berusaha menunju Arya, tapi Arya berhasil menghindar.
“Awas Kak!”
Halimah berteriak melihat orang bersebo yang satunya lagi ikut menghajar Arya dengan pisau, kali ini Arya harus mengahadapi dua orang lawannya.
Halimah ketakutan, dia secepatnya menggunakan kesempatan itu mengambil tas dan ponselnya dan menelpon Bundanya. Tapi tidak ada jawaban, dia langsung menelpon Randi.
“Halimah, ada apa?” Randi menjawab di ponsel.
“Kak, tolong aku ….”
Halimah memberitahu yang dialaminya dengan singkat, dia juga memberitahu Arya sedang bergulat menghadapi dua orang bersebo.
__ADS_1
“Aggkk!”
Arya kesakitan, orang bersebo itu berhasil melukai pergelangan tanganya dengan pisau. dengan menahan sakit, Arya terus berusaha melawan meski darah mengalir di pergelangan tangannya. Meski darah mengalir, Arya terus melawan mereka, beberapa tendangan berhasil melayang ke mulut Arya sehingga sedikit mengeluarkan darah. Mereka terus menghajar Arya tanpa ampun.
Tidak lama kemudian, Randi datang dengan beberapa orang polisi lainya. Dengan sigap, kedua penjahat itu berhasil diringkus.
Halimah berlari mendekati Arya yang tergeletah di lantai, darah di pergelangan tangannya semakin banyak mengalir, dan dekat mulutnya lebam karena pukulan.
“Kak Arya! Kakak tidak apa-apa?” Halimah langsung mengeluarkan sapu tangan dari dalam tasnya dan membalutkanya ke pergelangan tangan Arya.
Arya terpana dengan senyum melihat apa yang dilakukan Halimah. Sementara itu Randi menatap mereka dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.
“Kak, darahnya masih mengalir.” Dengan mata berlinang, Halimah kelihatan sangat cemas.
“Aku tidak apa-apa, Halimah. Yang penting kamu selamat.”
Jawaban Arya membuat Halimah terdiam, mereka saling bertatapan. Randi melihat semua itu langsung menjauhi mereka.
“Randi, terimakasih.” Arya bersuara melihat Randi melangkah menjauh.
“Aku senang kamu dan Halimah baik-baik saja,” jawab Randi.
“Terimakasih Kak Randi.” Halimah juga bersuara, Randi membalas dengan senyum menatap gadis yang dicintainya.
Arya berusaha bangkit dan mengambil hijab Halimah.
“Pakailah lagi hijabmu, Halimah.” Hijab itu di sodorkan Arya kepada Halimah, dan Halimah menerima dan langsung memakainya.
Randi membuka jeketnya dan memberikanya kepada Halimah.
“Pakailah jeket ini Halimah.”
Halimah juga menerima jeket dari Randi, karena lengan bajunya robek ulah dua orang bersebo tadi.
Arya dan Randi menatap gadis yang dicintainya dengan penuh prihatin setelah apa yang dialaminya, sorotan mata mereka tidak bisa berbohong, kalau mereka mencintai gadis yang sama.
Bersambung …
__ADS_1