SEUMUR HIDUP DIBALIK JERUJI PENJARA

SEUMUR HIDUP DIBALIK JERUJI PENJARA
episode 20


__ADS_3

Aku merasa lega akhirnya Halimah menjatuhkan pilihannya kepada Arya, meski caranya bertanya menunjukkan pilihan, aku tahu dan sangat mengerti, dia hanya ingin tahu apakah pilihannya sesuai dengan pilihanku juga sebagai ibunya.


“Nak, Bunda akan hubungi Arya agar proses lamaran akan segera dilaksanakan, tapi sebelumnya ….” Aku terdiam sejenak.


“Ada apa Bunda?” Halimah memegang tanganku.


“Bunda ingin memberitahu Wahyu dan Randi, bagaimanapun juga, mereka juga sudah banyak membantu kita.” Aku menarik nafas dalam.


Halimah terdiam menundukkan kepala, entah apa yang ada dalam fikirannya, aku berharap pilihan hatinya tidak salah, aku tahu Arya pemuda yang baik, dia juga bisa menjaga Halimah, apalagi setelah dia menolong Halimah dari aksi pemerkosaan.


Sudah jam 12.30. Aku harus menjemput Anisa dan Rani pulang sekolah, dengan melaju motor meticku, aku sampai di depan gerbang sekolah, disana Anisa dan Rani sudah menunggu, dengan senyum  mereka menyambut kedatanganku.


“Bunda, aku mau beli es cendol dulu,” ucap Anisa.


“Aku juga, Bun,” sanggah Rani.


“Dimana, Nak?” tanyaku.


“Didepan gang ke rumah aja, Bunda. Disana es cendolnya enak.” Anisa tersenyum semangat.


Panasnya siang membuat dahaga haus, aku melaju motor membonceng kedua putriku pulang, sebelumnya kami membeli  empat bungkus es cendol. Keceriaan putriku membuat hatiku tenang, meski ada dua kasus lagi yang belum selesai, yaitu sertifikat rumah yang dicuri dan foto seksi Halimah. 


Sampai di depan rumah, aku terpana melihat Wahyu berdiri di teras rumah, sepertinya Halimah tetap mengunci pintu karena dia sendirian di rumah, syukurlah putriku tahu menjaga diri.


“Assalamu’alaikum, Wahyu.” Aku mengucapkan salam.


“Wa’alaikumsalam. Bu Rina,” jawab Wahyu.


Setelah pintu dibukakan Halimah, Anisa dan Rani masuk, aku mempersilahkan Wahyu masuk, sementara itu Halimah sudah menyajikan teh hangat.


“Silahkan diminum, Kak,” ucap Halimah kepada Wahyu.


“Terimakasih Halimah,” jawab Wahyu. Dan Halimah berlalu dari ruang tamu.


“Bu Rina, maaf aku kesini lagi, jujur aku sangat penasaran dengan jawaban Halimah,” ucap Wahyu.


Aku menarik nafas dalam, sebelum memberitahunya, aku mengucapkan bismillah agar dia tidak begitu kecewa, bagaimanapun juga, tidak mungkin putriku menerima tiga lelaki sekaligus, harus ada yang gugur, tapi aku berharap mereka dapat menerima dengan lapang dada.


“Wahyu, aku minta maaf sebelumnya, sebelumnya aku juga pernah katakana kalau bukan Wahyu saja yang melamar Halimah, tapi ada dua lelaki lagi. Sebagai orang tua, aku menyerahkan keputusan ini kepada Halimah, karena dia yang menjalankan rumah tangga nantinya, sekali lagi aku minta maaf.” Dengan sangat hati-hati aku mencari kata-kata agar Wahyu tidak tersinggung.


“Maksud Bu Rina?” Wahyu menatapku dalam, sepertinya dia hampir membaca kata minta maafku.


“Halimah memilih Nak Arya, tolong maafkan kami atas keputusan ini.”


Mendengar jawabanku, Wahyu terdiam, dia seperti kecewa dengan keputusan Halimah, tapi sebelumnya aku sudah memberi aba-aba, aku berharap dia tidak tersinggung.


Wahyu menarik nafas dalam, dan setelah itu dia berkata, “Aku berharap Halimah bahagia, Bu Rina. Aku permisi dulu.”


Sangat terlihat kekecewaan di wajah Wahyu, dia langsung meninggalkan rumahku setelah aku memberitahu keputusan Halimah, aku berharap Randi juga bisa berlapang dada mendengar keputusan ini.


Tidak lama kemudian Halimah duduk disampingku.


“Bunda, aku sudah masak, sebaiknya Bunda makan siang dulu.” Halimah langsung mengabil cangkir bekas minum Wahyu diatas meja dan membawanya ke dapur.


“Iya Nak,” jawabku singkat.


Kulihat Halimah sama sekali tidak menayakan tentang penolakan Wahyu, mungkin hatinya sudah mantap memilih Arya.


Malam ini aku bisa memejamkan mataku dengan tenang, aku lega putriku sudah menentukan pilihan, akhir-akhir ini aku juga melihat Halimah sering melakukan sholat sunat, mungkin itu sholat sunat minta petunjuk lelaki yang mana akan dipilihnya, aku tahu putriku anak yang sholeha, Alhamdulillah … aku ibu yang beruntung.


***


Hari hampir siang, aku harus menjemput Halimah di kampusnya, tadi dia izin berangkat kuliah pulang jam sebelas, segera kututup warungku, tadi aku juga sudah kirim pesan lewat ponsel kepada Randi dan Arya agar menemuiku, aku harus memberi tahu mereka tentang keputusan Halimah, semoga saja Randi bisa berlapang dada dengan keputusan ini.


“Assalamu’alaikum Bunda.” 


Aku terkejut melihat Randi sudah berdiri di teras rumah, saat aku mau mengunci pintu menjemput Halimah.


“Wa’alaikumsalam Nak Randi. Ayo silahkan duduk.” Aku mempersilahkan Randi duduk di kursi teras.


“Ada apa Bunda memanggil aku?” Randi bertanya.


“Nak Randi, maaf sebelumnya, aku tidak bermaksud membuat Nak Randi menunggu lama atas keputusan masalah lamaran, tapi … aku juga harus menunggu keputusan Halimah.” Aku berusaha merangkai kata-kata agar Randi tidak tersinggung.


“Apakah Halimah sudah memutuskannya, Bunda?” Aku menganggukan kepala menjawab pertanyaan Randi.


“Apakah Arya yang dipilih Halimah, Bunda?” Randi kembali bertanya yang membuatku terkejut.


“Dari mana Nak Randi tahu?” aku kembali bertanya.


“Aku bisa melihat tatapan Halimah ke Arya saat dia menolong dari aksi pemerkosaan, tatapan itu tidak pernah kulihat dimata Halimah kepadaku. Bunda, Arya teman baikku, Halimah pantas dengan Arya, aku do’akan mereka bahagia.”


Aku terpana melihat Randi mengucapkan kata-kata itu, dia berfikir dewasa meskipun terlihat kekecewaan di matanya.


“Maaf Nak Randi.” Hanya itu yang bisa aku ucapkan.


“Tidak apa-apa Bunda, aku sudah siap dengan keputusan ini sebelumnya, kalau Halimah bahagia, aku juga bahagia, mungkin kita tidak jodoh. Bunda jangan khuatir, masalah foto dan sertifikat rumah Bunda, tetap akan aku bantu, itu sudah tugasku sebagai seorang polisi.”


“Alhamdulillah, terimakasih Nak Randi, terimakasih. Apakah aku harus menelpon Pak Boby, Nak Randi?”


“Tidak usah Bunda, biar aku yang menjelaskan kepada Papa. Bunda jangan khuatir,” ucap Randi.

__ADS_1


Setelah berbicara, Randi meninggalkan rumahku, meski wajahnya terlihat kecewa, dia berusaha berlapang dada dengan keputusan ini. Dia lelaki yang baik dan berfikir dewasa.


Aku melaju motorku ke kampus Halimah, tinggal satu langkah lagi, Halimah akan menikah.


Suasana kampus sedikit ramai, beberapa mahasiswa lalu lalang masuk keluar kampus, sementara itu Halimah sudah menungguku di pos satpam dan tersenyum melihat kedatanganku.


“Bunda kenapa telat?  aku cemas.” Kata Halimah menghampiriku sambil menerima helm dan memakainya.


“Bunda tadi sudah berbicara dengan Randi.”


Halimah terdiam mendengar jawabanku, dia sepertinya memikirkan sesuatu.


“Kenapa diam?” tanyaku.


“Aku merasa tidak enak dengan Kak Randi, selama ini dia sudah banyak membantu kita, Bunda.”


“Sudahlah, jangan merasa begitu, Randi lelaki yang baik dan befikir dewasa, dia sudah menerima ini dengan lapang dada, apalagi pilihanmu Nak Arya sahabatnya sendiri.”


Halimah tersenyum kecil medengar penjelasanku, aku tahu dia merasa tidak enak seperti yang aku rasakan juga, tapi bagaimanapun, tidak mungkin Halimah menikahi dua lelaki sekaligus, pilihan ini sangat berat.


Aku melaju motorku pulang, dalam perjalanan Halimah hanya diam, tidak lama kemudian kami sudah sampai di rumah.


“Bunda, apakah Kak Arya pilihan yang tepat?” saat ingin masuk, Halimah bertanya yang membuatku menatapnya dalam.


“Kamu ragu, Nak?” aku kembali bertanya.


“Bukan, aku hanya takut mengecewakan Bunda dengan pilihanku.”


“Sebenarnya dari awal Arya datang kesini, dia sudah mencuri hati Bunda agar menjadi mantu.”


Halimah tersenyum mendengar jawabanku, dan kami masuk kedalam rumah.


Setelah menjemput Anisa dan Rani, aku dan ketiga putri-putriku menyibukkan diri di dapur membuat kue brownies, terlihat semangat di wajah anak-anakku dengan kebersamaan kami siang ini, canda tawa Halimah dan adik-adiknya membuatku tertawa kecil, sudah lama aku tidak merasakan tertawa lepas melihat kelucuan mereka, apalagi gaya manja sibungsu Anisa. 


“Kak Halimah, gulanya nggak usah banyak-banyak, sudah ada aku yang manis disini,” canda Anisa.


“Iya, Kakak tahu kamu sudah manis, saking manisnya semut-semut menjauh.” Jawab Halimah menggoda Anisa.


“Kok Jauh, Kak? Kalau semut jauh berati asam, dong?” sanggah Rani tertawa.


“Idih Kakak jahat, Bunda … lihat Kak Halimah dan Kak Rani, masa aku dibilang asam.” Rengek Anisa kepadaku.


“Kalau kamu asam, ya mandi sana.” Jawabku membuat mereka tertawa, Anisa cemberut mendengarnya dan setelah itu ikut tertawa.


Sedang asik bercanda dengan ketiga putri-putriku, terdengar suara Arya hingga ke dapur  datang mengucapkan salam.


“Asalamu’alaikum,” ucap Arya di pintu depan.


“Iya, Bunda,” jawab Halimah pelan.


Aku melangkah kedepan, di pintu aku lihat Arya sudah berdiri.


“Wa’alaikumsalam, Nak Arya. Ayo masuk.”


Aku dan Arya duduk di ruang tamu, sejenak aku teringat pertama kali dia datang menemuiku di warung, ternyata pemuda ini berhasil meluluhkan hati putriku Halimah.


“Bunda, ada apa Bunda memanggilku?” Arya sangat penasaran, sangat terlihat dari sorot matanya.


“Nak Arya, apakah lamaran Nak Arya masih berlanjut untuk Halimah?”


“Tentu Bunda, aku sedang menunggu jawaban dari Bunda.” 


Tidak lama kemudian, percakapan kami terhenti, Halimah datang membawa minuman dan meletakkannya dimeja.


“Silahkan diminum, Kak Arya.” Kata Halimah ke pada Arya, tapi kali ini Halimah berani menatap mata Arya sejenak.


“Te-terimakasih Halimah.” Arya sedikit gugup menatap mata Halimah. Dan Halimah berlalu dari ruang tamu.


“Nak Arya, kapan Bunda bisa bertemu dengan orang tua Nak Arya?”


Arya terkejut dan terpana mendengar perkataanku.


“Nak Arya?” aku memanggilnya lagi.


“Bunda, Lamaranku diterima?” Arya seperti ingin meyakinkan kata-kataku.


“Alhamdulillah, Halimah sudah memutuskan pilihannya.” Jawabku dengan senyum.


“Lamaranku diterima, Bunda?” Arya bertanya meyakinkan dirinya lagi.


“Iya, Nak Arya,” jawabku singkat.


“Alhamdulillah … Alhamdulillah, terimakasih Bunda, terimaksih.” Arya berkata dan menyalamiku dengan mengucap syukur.


Sangat terlihat kegembiraan di matanya, usahanya mendekati Halimah dan keluarga kami tidak sia-sia, mungkin rasa di hati putriku timbul setelah di tolong dari dua orang yang mencoba memperkosanya, aku turut bahagia pilihan jatuh ke Arya, Alhamdulillah.


“Aku akan kabari Mama dan Papaku, Bunda. Setelah itu, aku akan membawa mereka melamar Halimah.” 


“Baiklah, Nak Arya. Bunda tunggu kabar secepatnya.”


“Oh ya, Bunda. Bolehkah aku berbicara dengan Halimah?”

__ADS_1


Aku menganggukan kepala mendengar permintaan Arya, aku maklum kalau dia ingin bicara empat mata dengan putriku, yang penting mereka tidak berduaan di tempat sepi, aku mengizinkannya.


Aku melangkah ke dapur memanggil Halimah.


“Halimah, Nak Arya ingin berbicara denganmu.”


Halimah terdiam, dia menghentikan pekerjaanya membuat kue, dengan menganggukan kepala, dia melangkah ke ruang tamu.


Sampai di ruang tamu Halimah duduk di kursi berhadapan dengan Arya, dia terlihat gugup dan menundukkan kepala, ini pertama kalinya dia berbicara serius dengan seorang lelaki.


“Ada apa Kak Arya?” Halimah bertanya lembut.


“Terimakasih telah memilihku menjadi imammu, Halimah. Aku … aku sangat bahagia sekali.” Arya tetap memanatap wajah Halimah meskipun tidak terbalas.


Halimah hanya tersenyum menanggapi, sesekali dia mencoba menatap lelaki di depannnya, tapi hanya sekejap saja.


“IsyaAllah, aku akan menjadi imam yang kamu inginkan, aku akan menjagamu seperti menjaga nyawaku sendiri, Halimah.” Sambung Arya lagi.


Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut Halimah, dia hanya tersenyum menundukkan kepala, meski berusaha menatap wajah Arya, namun hanya sekejap saja, dan dia langsung menundukkan kepala lagi malu.


***


Akhirnya yang diannti akan segera terwujud, orang tua Arya akan datang melamar putriku Halimah, berbagai persiapan telah kami siapkan dari pagi, baik itu kue-kue ataupun masakan menyambut kedatangan mereka. Ini pertama kalinya aku bertemu dengan calon mertua anakku.


Mobil hitam mengkilat memasuki halaman rumahku, aku meminta acara ini hanya dilaksakan sederhana, jadi hanya orang tua Arya dan beberpa kerabat yang datang melamar.


Aku sudah menunggu di teras depan, Halimah dan dua lagi putriku berdiri di sampingku ikut menyambut, terlihat sekali Halimah sangat gelisah, aku mengerti apa yang dirasakannya saat ini.


“Asslamu’alaikum, Bu.” Ucap Orang tua Arya dan kami bersalaman.


“Wa’alaikumsalam, ayo silahkan masuk Bu, Pak, Nak Arya.” Jawabku dengan ramah.


Dan ketiga putri-putriku juga menyalami mereka.


“Apakah kamu yang bernama Halimah, Nak?” tanya Ibu Arya ke pada Halimah.


“Iya Bu, aku Halimah.” Jawab Halimah pelan.


“MasyaAllah cantiknya. Kamu tidak salah pilih, Arya.”


Mendengar perkataan ibunya, Arya tersenyum malu, sangat terlihat kebahagiaan di mata Arya melihat reaksi ibunya menatap Halimah.


Melihat cara berpakaian mereka, sejenak aku merasa minder, ternyata sangat berkelas, kata Bu Lili saat kami ngobrol di warungku, Arya salah satu anak pejabat di kota ini. Sedangkan aku hanya orang tua tunggal dengan warung di depan rumah untuk menyambung hidup.


Banyak seserahan yang dibawa Arya dan orang tuanya melamar Halimah, sekilas aku lihat ada beberapa perhiasan mahal-mahal belum lagi barang-barang yang lainnya.


“Jangan terlalu repot, Bu.” Kataku menerimanya dari Ibu Arya.


“Ini tidak seberapa dibandingkan kebahagiaan kami mendapatkan minantu cantik dan sholeha, Bu.” Jawab Ibu Arya dengan senyum.


“Ini adik-adik Halimah, Bu?” tanya Bapak Arya.


“Iya, Pak. Halimah bertiga bersaudara.”


“MasyaAllah, ibu punya putri yang cantik-cantik dan berhijab.”


Aku tersenyum mendengar pujian Bapak Arya melihat putri-putriku, aku bersyukur, almarhum suamiku bisa mengarahkan anak-anak kami menutup aurat dari SD.


Acara lamaran berjalan dengan lancar, sambutan kedua orang tua Arya sangat baik, dan keputusannya, satu bulan lagi akan melangsungkan pernikahan putra putri kami, sepertinya mereka ingin mempercepat acara, Alhamdulillah.


***


“Wah banyak sekali seserahan yang diberikan Kak Arya.” Ucap Anisa polos.


“Iya, baru juga melamar,” sambung Rani.


“Alhamdulillah, Kakakmu akan menjadi minantu orang terpandang.” Ucapku menatap Halimah dengan mukanya memerah malu.


“Berarti setelah menikah, kami ditinggal, dong, Kak,” ucap Rani.


“InsayaAllah, kakak akan selalu mengunjungi Bunda dan adik-adik Kakak.”


Mereka saling berpelukan, Halimah kakak yang penyayang.


Malam berganti pagi, cerahnya matahari menyelimuti bumi, hari ini tanggal merah, jadi semua putri-putriku membantuku membuka warung.


“Bunda, seperti biasa aku bawakan secangkir kopi dan goreng pisang kesukaan Bunda.”


“Terimakasih, Nak.” Jawabku menatap Anisa meletakkan kopi dan goreng pisang di meja warung.


Aku menikmati secangkir kopi dan gorengan pagi ini, dengan sangat lega, aku bersemangat mempersiapkan pernikahan Halimah satu bulan lagi. Hari ini Arya sudah minta izin lewat ponsel membawa Halimah ke rumahnya, Ibunya sudah menunggu untuk memilih baju kebaya yang cocok untuk pernikahan mereka, maklumlah mereka dari keluraga terpandang. Hanya satu bulan persiapan, semuanya beres, tentu karena materi yang mereka miliki.


“Bunda, aku pakai baju ini saja kerumah Kak Arya.” Ucap Halimah berdiri di warung.


“Kamu sudah cantik seperti itu, Nak. Yang penting tutup aurat.” Jawabku memegang kedua pundak anakku.


Halimah tersenyum, aku maklum dia sangat gugup bertemu calon mertuanya, anakku tidak pernah pacaran atau kerumah seorang lelaki.


Tidak lama kemudian, ponselku berbunyi, ada pesan dari Ibu Arya, aku segera membuka dan membacanya, [Bu Rina, maaf aku tidak bisa menerima Halimah sebagai minantuku, aku ingin membatalkan rencana pernikahan putra putri kita, terimakasih.]


Jantungku terasa mau copot membaca pesan dari Ibu Arya, baru kemarin acara lamaran, tapi kenapa dia tiba-tiba ingin memutuskan pertunangan ini? Astagfirullah’alazimm ….

__ADS_1


 bersambung ...


__ADS_2