
Melihat Monik berkata dengan beruraikan air mata, Halimah menyuruhnya masuk dan duduk. Sementara itu Arya hanya menatapnya dengan penuh arti. Sejenak Monik dan Arya saling berpandangan, tidak ada kata yang keluar diantara mereka, hanya diam.
“Apa maksudmu dengan minta maaf tentang Bu Lili, Monik?” Halimah membuka percakapan.
Monik hanya diam, dia melihat banyak orang yang berada di ruang tamu.
“Wahyu, Arya, mari duduk di ruang tengah, biarkan Halimah dan Monik berbicara.” Aku bisa membaca sorotan mata Monik.
Kami meninggalkan Monik dan Halimah di ruang tamu, dengan ini mereka akan leluasa berbicara.
“Kak Arya, aku ingin Kakak juga ikut mendengar.” Monik berkata kepada Arya.
Arya balik duduk dan menunggu Monik berbicara.
“Aku tidak tahu kalau Mamaku akan senekat ini, mungkin ini karena sayang dengan bentuk yang salah. Aku sudah merelakan putusnya tunangan kita, Kak Arya. Aku tahu kita sering bertengkar dan beda pendapat.” Monik menatap Arya dengan tatapan sendu.
“Maafkan aku, Monik.” Hanya itu kata yang keluar dari mulut Arya.
“Halimah, aku mohon maafkan Mamaku, aku tidak ingin Mamaku dipenjara … mmmm.” Monik langsung menangis.
“Penjara?! Apa maksud semua ini, Monik?” Halimah masih heran dengan perkataan Monik.
Belum sempat Monik menjawab pertanyaan Halimah, Randi datang.
“Asaalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam, masuk Kak,” jawab Halimah.
Randi masuk dan duduk disamping Arya, dia menatap Monik menangis disamping Halimah.
“Bagaimana kawan?!” tanya Arya.
“Bu Lili akan dipenjara, begitu juga dengan dua lelaki bayaran itu.”
Halimah dan Arya terkejut mendengar perkataan Randi. Mereka terdiam mematung mengetahui bahwa di balik semua ini adalah ulahnya Bu Lili. Tangis Monik makin menjadi.
“Aku betul-betul tidak menyangka Tante Lili berbuat senekad ini!” terlihat Arya sedikit emosi.
“Biar aku yang menggantikan Mamaku di penjara. Mamaku sedang sakit dan harus operasi ginjal. Aku mohon Halimah mmm.” Monik memegang tangan Halimah memohon.
“Jadi … jadi semua ini karena Bu Lili?” Halimah terlihat shock dan seakan tidak percaya.
“Aku yang salah, seharusnya aku memberikan pengertian lebih dalam kepada Tante Lili,” kata Arya.
“Sekarang, ayo ke kantor polisi, kamu harus membuat keterangan disana, Halimah.” Randi menatap Halimah.
Halimah minta izin kepadaku ke kantor polisi, kami semua sangat terkejut dengan penjelasan Randi. Sangat tega sekali Bu Lili berbuat ini kepada putriku, padahal selama ini kami tidak pernah mengganggu mereka.
“Aku tahu, kesalahan mamaku sulit dimaafkan, sekali lagi maafkan mamaku, Halimah.” Monik melangkah meninggalkan rumahku.
Halimah terdiam melihat Monik berlalu meninggalkan rumahku.
“Mari aku antar, Halimah.” Randi menawarkan.
__ADS_1
Setelah minta izin kepadaku, Halimah dan Randi ke kantor polisi, aku sengaja tidak ikut karena harus menjaga Anisa dan Rani. Sementara itu, Arya terdiam duduk di kursi teras, pandangannya jauh kedepan.
“Bu Rina, aku perisi dulu harus balik kekantor, aku harap masalah Halimah secepatnya selesai,”
“Terima kasih, Wahyu.”
Wahyu meninggalkan rumahku, aku melihat Arya masih duduk terdiam, sepertinya banyak fikiran dibenaknya, apakah dia memikirkan masalah kejahatan Bu Lili? Aku menghampirinya dan duduk di kursi sampingnya.
“Bunda, maafkan aku, semua ini salahku.”
“Nak Arya, boleh aku bertanya?”
Arya menatapku dalam.
“Apa Bunda?” tanya Arya.
“Kenapa putus tunangan dengan Monik?” aku berusaha menekan suaraku agar tidak menyinggungnya.
“Kami dijodohkan, Papa Monik teman sekantor Tanteku, mereka sering berkunjung ke rumah. Awalnya aku menyetujui pertunangan ini, tapi semakin lama aku tidak menyukai gaya hidupnya yang sering ke diskotik dan pulang malam.” Arya terdiam sejenak.
“Aku sering berselisih jalan dengan Halimah, tapi dia sama sekali tidak melirikku, Bunda.” Sambung Arya.
Aku mengerti, setiap lelaki pasti menginginkan wanita yang sholeha menjadi istrinya, meskipun lelaki itu sorang ********. Arya pemuda yang baik, dan dia juga bisa melindungi Halimah.
“Apakah Bu Lili juga yang menculik Halimah dan mengambil fotonya?” aku menerka-nerka, karena kejadian ini waktunya berdekatan.
“Aku juga berfikir seperti itu, Bunda,” kata Arya.
Kami menunggu Halimah dan Randi, aku berharap dengan kasus ini akan menemui siapa yang mengambil foto seksi anakku.
“Jangan khuatir Bunda, Randi akan menajaga Halimah.” Arya melihatku gelisah.
“Ya Nak Arya.” Aku duduk dan ikut minum kopi.
Tidak lama kemudian, Randi dan Halimah datang. Aku merasa sangat lega, yang aku tunggu akirnya datang.
“Assalamu’alaikum.” Halimah mengucapkan salam.
“Wa’alaikumsalam,” jawabku dan Arya.
“Bagaimana, Nak?” aku tidak sabaran bertanya.
“Bu Lili dibebaskan, Bunda,” jawab Randi.
“Apa? Dibebaskan?” Arya terkejut.
Halimah hanya diam berdiri disampingku.
“Halimah mencabut tuntutannya.” Kata Randi menatap Halimah.
“Apakah itu benar, Nak?” aku menatap wajah putriku dalam. Dan Halimah menganggukan kepala.
“Kedua penjahat itu tetap dihukum karena dia termasuk DPO di kantor masalah pengedaran narkoba.” Randi menjelaskan dan membuat Arya dan aku terdiam.
__ADS_1
“Kamu yakin dengan keputusanmu itu? Apa yang dilakukan Bu Lili sudah sangat keterlaluan, Halimah.” Arya melangkah berdiri disamping Halimah.
“Aku hanya manusia biasa yang berusaha belajar memaafkan sesama, Kak. Bu Lili juga sakit-sakitan, mudah-mudahan dengan ini dia bisa sadar. Maaf, aku sholat magrib dulu.”
Halimah melangkah masuk kedalam. Arya dan Randi terpana menatap Halimah berlalu masuk ke dalam rumah. Aku bersyukur, anakku mempunyai jiwa pemaaf meski diriku pribadi belum tentu bisa seperti itu.
***
Malam ini aku mengunci semua pintu, aku dan putri-putriku duduk dikursi meja makan untuk makan malam bersama.
Tok! Tok! Tok!
“Bunda, biar aku yang buka.” Kata Halimah mendengar suara ketokan pintu seperti ada tamu.
“Tidak, biar Bunda yang buka.”
Halimah langsung duduk kembali setelah mendengar jawabanku.
Aku melangkah ke pintu, sebelum aku membuka pintu, terlebih dahulu aku mengintip balik gorden jendela kaca.
Alangkah terkejutnya aku melihat Pak Slamet berdiri di depan pintu, kulihat kesekitarnya, kali ini dia datang sendirian ke rumahku. Perasaanku mulai tidak enak, kenapa dia belum juga menyerah. Astagfirullah’alazimm, bagaimana caranya aku menghadapi manusia seperti ini.
Tok! Tok! Tok!
Tok! Tok! Tok!
Dia belum juga berhenti mengetok rumahku sebelum aku membukakan pintu.
“Bunda, siapa yang datang?” Halimah mendekatiku.
“Sssttt! Kecilkan suaramu, bawa adik-adikmu masuk kekamar, kunci pintu, jangan keluar sebelum Bunda memanggil.” Aku berbisik ke Halimah.
“Tapi siapa yang datang, Bunda?” Halimah masih penasaran.
“Pak Slamet.”
Mendengar jawabanku, Halimah langsung berlari kedalam dan membawa adik-adiknya masuk kekamar.
Aku menarik nafas besar, dengan mengucapkan bismillah dan mohon perlindungan Allah, aku membuka pintu.
“Selamat malam, Bu Rina.” Pak Slamet tersenyum menyapaku.
“Ada apa lagi, Pak?” aku langsung bertanya dan berharap dia secepatnya meninggalkan rumahku.
“Aku ingin memberikan pilihan kepada Ibu.”
Pilihan? Apa maksud kata-katanya, huh! Aku berusaha sabar dan beristigfar di hati.
“Apa maksud Pak Slamet?”
“Kalau Rani masih belum cukup umur untuk menikah, apalagi Anisa yang cantik dan imut. Aku kesini ingin melamar Halimah.”
Astagfirullah’alazimm, aku tidak tahu harus berkata apa lagi, kapan ini orang sadar dengan umurnya.
__ADS_1
Bersambung …