
Lelaki yang bertato itu tersenyum terpana melihat ketiga putri-putriku, sementara itu Linda Haris hanya tersenyum kecil.
“Perkenalkan, nama aku Pono, Bunda.” Dia mengulurkan tangan ingin bersalaman, aku mencoba salaman dengan basa-basi menanggapi.
“Mbak, ini Juragan Pono yang kami ceritakan itu, lihat dihalam rumah Mbak, itu mobilnya dan baru dibeli cash.” Ucap Haris menjelaskan menunjuk ke sebuah mobil mengkilat terpakir di halaman rumahku.
Sebelum Haris dan Linda memperkenalkan lelaki bernama Pono ini, aku sudah merasa kurang enak, apalagi melihatnya langsung sekarang, Astagfirullah’alazim, lelaki macam apa ini, tatonya saja membuatku ngeri apalagi menjadikannya menantuku.
“Linda, Haris, aku sudah memberi jawaban tadinya, ada apa lagi ini?” aku masih menekan suaraku dengan sabar.
“Mbak, kenapa sih, Mbak keras kepala? Seharusnya Mbak bersyukur aku carikan mantu kaya, aku jamin Mbak nggak bakalan menyesal.” Linda masih kukuh agar aku menerima perjodohan ini.
Aku hilang akal menjawab dan memberi pengertian sama mereka, masalah mereka kenapa putriku yang harus berkorban? Selama ini mereka juga tidak pernah peduli dengan kehidupan kami, disaat terjepit kenapa kami yang harus membayarnya? Dan setahuku mereka mendapatkan bagian terbanyak dari menjual tanah warisan.
Tidak lama kemudian, Wahyu datang, mobilnya diparkir di samping mobil lelaki yang bernama Pono itu, dan Wahyu keluar dari mobilnya melangkah mendekati kami, sementara itu Pono-Linda dan Haris hanya menatap Wahyu.
“Assalamu’alaikum Bu Rina.” Wahyu mengucapkan salam dan berdiri disamping Pono. Dan sejenak Wahyu menegur dengan menganggukan kepala kepada mereka bertiga yang berdiri di teras.
“Wa’alaikumsalam Wahyu,” jawabku.
“Apakah dia lelaki calon mantumu, Mbak?” Haris bertanya dan menunjuk Wahyu.
Wahyu yang mendengar semua ini terpana heran dengan yang sedang terjadi.
“Begini saja, Bunda. Beri kesempatan aku berkenalan dengan putrimu, tidak masalah diantara mereka bertiga siapa yang akan menjadi istriku.” Ucap Pono yang matanya tidak lepas dari ketiga putri-putriku.
“Bunda, aku tidak mau menikah.” Anisa berkata dengan raut muka cemas.
“Aku juga Bunda, aku masih ingin sekolah.” Rani juga bersuara.
“Bunda, aku sudah ada pilihan.” Kata Halimah yang membuat kami semua yang mendengarnya terkejut. Bisanya Halimah tidak pernah bersuara masalah perjodohannya, tapi setelah melihat Pono, dia seperti takut aku menerima lelaki ini dan memberanikan menjawab.
Wahyu tidak lepas pandanganya dari Halimah meskipun Halimah tidak membalas tatapannya, sedangkan Haris dan Linda terlihat kesal dengan jawaban ketiga putri-putriku. Pono langsung melangkah meninggalkan rumahku tanpa bersuara.
“Tunggu Juragan Pono!” Linda mgejar Pono.
“Dengar ya, Mbak, aku tidak bisa diam dengan penghinaan ini, aku kira kamu bisa membantuku tapi sejak meninggalnya Mas Adam, kamu bukan saudara kami lagi!”
Setelah berkata dengan muka merah padam, Haris melangkah mengejar Pono, dan mereka meninggalkan rumahku.
“Siapa mereka Bu Rina?” Wahyu bertanya saat aku terpana medengar perkataan Haris.
“Dia adik Ayah Halimah, Wahyu,” jawabku singkat.
“Oh, silahkan masuk Wahyu.” Sambungku lagi dan langsung duduk.
Aku dan Wahyu duduk di ruang tamu, sementara itu Anisa dan Rani masuk kedalam, Halimah membuatkan minuman untuk Wahyu.
“Kenapa mereka sangat marah, Bu Rina? Maaf bukan aku bermaksud ikut campur, tapi sangat terlihat sekali mereka ….” Wahyu tidak melanjutkan kata-katanya.
“Lelaki itu yang ingin mereka jodohkan dengan Halimah.”
Penjelasanku membuat Wahyu terdiam, entah apa yang ada dalam fikiranya. Tidak lama kemudian Halimah membawa teh hangat dan meletakkannya di meja.
__ADS_1
“Silahkan minum, Kak.” Ucap Halimah kepada Wahyu.
“Terimakasih, Halimah,” jawab Wahyu.
Halimah langsung melangkah ke belakang, dia sama sekali tidak ikut duduk di ruang tamu.
“Bu Rina, kedatangan aku kesini … mau minta jawaban dengan lamaranku kemaren.” Ucap Wahyu yang membuatku terdiam sejenak.
Halimah belum memutuskan dengan siapa dia ingin berumah tangga, meski aku sudah bilang ada tiga pemuda ini, namun dia hanya diam seribu bahasa, tapi, tadi dia sudah mengatakan kalau dia sudah ada pilihan, aku tidak yakin karena dia hanya berusaha menolak Pono pilihan Haris.
“Wahyu, sebaiknya aku jujur dengan keadaan sekarang, aku tidak mau menyinggung Wahyu nantinya kalau Halimah memutuskan pilihan dengan lelaki lain.”
“Maksud Bu Rina, Randi?”
“Bukan hanya Randi yang ingin melamar Halimah, tapi juga Arya.”
Wahyu terdiam, sepertinya dia berfikir, aku hanya berusaha jujur agar nantinya dia tidak kecewa kalau Halimah tidak memilih dia.
“Aku mengerti Bu Rina, setiap lelaki yang melihat Halimah pasti akan menaruh hati, termasuk aku, maaf Bu, aku hanya berusaha jujur.”
“Terimakasih atas pengertiannya, Wahyu. Siapapun pilihan Halimah nanti, pasti akan aku kabari, tapi aku mohon apapun pilihan Halimah, hubungan silaturrahmi kita jangan rusak.”
Wahyu mengangguk mendengar perkataanku.
Siang berganti malam, aku mengunci semua pintu sebelum masuk ke kamar. Kulihat Halimah masih di dapur mencuci piring bekas makan malam, aku melangkah menghampirinya dan duduk di kursi dapur.
“Nak, bisa Bunda berbicara?”
Halimah langsung menghentikan pekerjaannya, dia melap tangan dan duduk.
“Tadi Wahyu kesini meminta jawaban atas lamarannya, siapa pilihanmu, Nak?”
Halimah menundukkan kepala, dia hanya diam.
“Apakah dengan menikah, semua urusan akan beres Bunda?” tiba-tiba Halimah bersuara.
Apa maksud anakku ini, sepertinya dia memikirkan sesuatu.
“Kalau kamu menikah, akan ada yang menjagamu, Nak.” Aku menegaskan jawaban.
“Aku tidak ingin berpisah dari Bunda, kalau aku menikah pasti akan ikut suami.” Air matanya berlinang menjelaskan kepadaku.
Aku memeluk putriku, ternyata selama ini, itu yang difikirkannya, tapi aku tidak mau dia terus begini, kejahatan terjadi belakangan inilah yang membuatku ingin dia cepat menikah.
“Tentukan pilihanmu secepatnya, Bunda hanya ingin ada yang menjagamu, Nak. Kalau kamu menikah, kamu bisa mengunjungi Bunda kapanpun kamu mau.”
Aku langsung melangkah meninggalkan Halimah terdiam mendengarkan kata-kataku, aku masuk ke kamar, dengan membaringkan tubuh, aku teringat Mas Adam, “Mas, anak kita akan menikah sebentar lagi, kalau masih ada kamu disisiku, mungkin aku akan menunggu Halimah selesai kuliah dulu.” Aku memeluk foto suamiku dengan butiran bening mengalir di pipi.
Pagi ini Anisa dan Rani berangkat sekolah, aku mengantar mereka dengan motor metic seperti biasa.
“Halimah, kunci pintu, jangan buka pintu meskipun ada tamu. Tunggu Bunda.” Pesanku ke Halimah sebelum mengantar adik-adiknya.
Aku melaju motor menuju sekolah, sinar matahari pagi menyelimuti perjalananku, dan tidak lama kami sudah sampai di depan sekolah.
__ADS_1
“Tunggu Bunda jemput, jangan pulang sekolah naik angkot.” Pesanku kepada Anisa dan Rani.
“Iya Bunda.” Jawab putriku-putriku serentak.
Belum sempat aku meninggalkan sekolah, ponselku berbunyi, dan ternyata ada panggilan dari Halimah, aku langsung menjawabnya.
“Assalamu’alaikum Nak.”
“Wa’alaikum salam Bunda, Bunda cepat pulang, Om Haris pinsan di teras, aku dan Tante Linda membawa Om Haris masuk.”
Mendengar perkataan Halimah di ponsel membuatku ingin secepatnya sampai di rumah, tapi bukan karena Haris pinsan melainkan aku mencemaskan putriku, perasaanku tidak enak mendengar nama Haris dan Linda di sebut, aku yakin pasti ada maksud dibalik semua ini.
Aku melaju motor secepatnya menuju rumah, setelah sampai di rumah, kulihat motor Haris sudah terpakir di depan, aku bergegas masuk, di ruang tamu kulihat Halimah duduk di samping Haris terbaring di kursi, tidak kutemui Linda.
“Mana Linda, Halimah?” aku langsung bertanya.
Halimah tidak menjawab, dia hanya diam menatap kedepan, tidak lama kemudian Linda keluar dari dalam rumahku, dia membawa teh hangat dan meletakkanya di meja, aku hanya heran dengan tingkahnya, sejak kapan dia membuat teh hangat di rumahku, biasanya Halimah yang melakukan itu.
“Mbak, maaf kami datang lagi, suamiku sakit dan kami baru besok balik ke kampung, semalaman kami menginap di hotel, tapi uang kami tidak cukup menyewa kamar lagi.” Linda berusaha menjelaskannya melihatku heran dengan tingkahnya.
Kutatap Halimah, dia hanya diam, sepertinya dia kelihatan bingung.
“Halimah.” Aku memanggil putriku, tapi dia tidak bersuara, hanya diam memandang ke depan.
“Halimah!” aku menepuk pundaknya dengan suara yang lebih keras.
“Eh, Bunda?” jawab Halimah.
Aneh, kenapa Halimah tidak menyadari kedatanganku? Setelah aku menepuk pundaknya, dia baru sadar dari seperti lamunan panjang.
“Linda.” Tiba-tiba Haris sadar dan langsung duduk.
“Syukurlah Mas sudah sadar.” Linda duduk dekat suaminya.
“Mbak, kami permisi dulu, hari ini mungkin kami balik ke kampung.” Ucap Linda.
Linda dan Haris langsung bangkit dari duduknya dan terburu-buru menuju motornya, aku hanya merasa sedikit aneh dengan mereka, perasaanku tidak enak.
“Tunggu Haris!” panggilanku tidak dihiraukan, mereka langsung menyalakan motor dan meninggalkan rumahku.
“Ada apa Bunda?” tanya Halimah.
“Bunda cuma heran saja dengan sikap mereka.”
Setelah berkata, aku langsung menutup pintu dan masuk ke kamar, tapi alangkah terkejutnya aku melihat lemari terbuka dan baju-bajuku berantakan di lantai.
“Halimah, ada apa ini!?” Aku berteriak dan Halimah masuk ke kamar.
“Astagfirullah’alazim, ada apa ini Bunda?” Halimah juga terkejut.
Aku langsung memeriksa isi lemariku, ada laci kecil yang biasanya tempat penyimpanan surat-surat penting, aku segera membukanya. Jantung terasa mau copot, badanku lemas, sertifikat rumahku tidak ditemukan. Astagfirullah’alazim … Allahhuakbar, aku mengurut dada, cobaan apa lagi ini ya Allah.
Bersambung …
__ADS_1