SEUMUR HIDUP DIBALIK JERUJI PENJARA

SEUMUR HIDUP DIBALIK JERUJI PENJARA
episode 11


__ADS_3

Mendengar pertanyaan Monik, Halimah terdiam dan menatap matanya.


“Kalau kalian saling mencintai, aku rela Arya hidup bersamamu, Halimah.” Monik melanjutkan kata-katanya.


Tidak lama kemudian, Bu Lili datang kerumahku dan berdiri di pintu menatap anaknya duduk berhadapan dengan Halimah.


“Apa yang kamu lakukan disini?!”


Bu Lili melangkah masuk dan menarik tangan Monik agar keluar dari rumahku.


“Lepaskan, Ma.” Monik berusaha agar Bu Lili melepaskannya.


“Aku tidak suka caramu mempermalukan diri disini!” Bu Lili terus menarik tangan anaknya.


Aku langsung keluar, Bu Lili menghentikan langkahnya melihatku berdiri di samping Halimah.


“Dengar ya Bu Rina, anakku mungkin bisa memaafkan, tapi aku tidak akan memaafkan semua ini!”


Bu Lili menunjukku, Halimah hanya diam melihat mereka.


“Bu Lili, sebaiknya kita bicarakan semua ini baik-baik biar jelas.”


Ajakanku tidak dihiraukannya, dia terus melangkah meninggalkan rumahku sambil menarik tangan Monik.


“Astagfirullah’alazim, Bu Lili sangat marah kepada kita.” Aku hanya mengucap istigfar dan mengurut dada melihatnya.


“Bunda, aku ingin menolak lamaran Arya.”


Aku menatap anakku, aku sangat mengerti apa yang dirasakannya, dia tidak ingin menyakiti hati Monik.


“Kamu sudah yakin, Nak?” aku berusaha meyakinkan putriku, dan Halimah menjawab dengan menganggukan kepala.


“Sudahlah, nanti kita bicarakan lagi, sekarang kamu siap-siap berangkat kuliah.”


Jujur saja, dari ketiga pemuda yang ingin mendekati Halimah, hatiku lebih memilih Arya menjadi pendamping anakku. Tapi aku juga tidak bisa memaksakan Halimah dengan pilihanku.


Aku sudah siap-siap mengantarkan Halimah berangkat kuliah.


“Assalamu’alaikum, Bunda.”


Arya datang dan sudah berdiri di teras saat kami ingin menutup pintu dari luar.


“Wa’alaikumsalam, Nak Arya.”


Aku menyapanya, tapi Halimah sama sekali tidak menatapnya.


“Aku ingin minta izin mengantarkan Halimah kuliah, Bunda.”


Mendengar kata-kata Arya, Halimah langsung berkata, “Tidak usah, terimaksih, Kak.”


Arya terdiam mendengar penolakan Halimah, sejenak mereka saling bertatapan.


“Nak Arya, untuk sekarang biarlah Bunda yang mengantar Halimah, lagian tidak enak dilihat orang.”


Aku berusaha agar Arya tidak tersinggung dengan penolakan Halimah.


“Baiklah, aku mengerti Bunda,” jawab Arya dengan kecewa.

__ADS_1


Aku melaju motorku mengantarkan Halimah kuliah, dalam perjalanan putriku ini hanya diam, sepertinya dia memikirkan sesuatu.


“Jam berapa kamu selesai kuliah, Nak?” aku bertanya setelah kami sampai di gerbang kampus.


“Jam setengan dua belas, Bunda,” jawab Halimah sambil memberikan helm yang dikenakannya.


“Nanti Bunda jemput.”


Halimah menganggukan kepala menanggapi perkataanku.


Aku melihat Halimah memasuki kampus, sebelum aku pastikan dia betul-betul sudah berada di dalam kampus, aku baru melaju motorku meninggalkan kampus.


Sampai di depan rumah, aku melihat Wahyu sudah berdiri di teras.


“Wahyu.” Aku menyapanya dan dia tersenyum.


“Bu Rina, aku ingin bicara dengan Ibu.”


Wahyu langsung berkata saat aku sudah memakir motor dan menghampirinya.


“Silahkan duduk dulu.” Aku mempersilahkan Wahyu duduk di kursi teras.


Kami duduk di kursi teras, aku lihat Wahyu menarik nafas besar seperti menyiapkan diri berbicara denganku.


“Ada apa Wahyu?” aku bertanya.


“Bu, aku kesini ingin melamar Halimah.”


Lagi-lagi aku hanya terpana dan diam, ternyata firasatku selama ini tentang Wahyu benar, dia juga menginginkan Halimah seperti Arya dan Randi. Ada tiga pemuda yang ingin melamar putriku, siapakah yang disetujui anakku?


“Maaf, aku mungkin membuat Ibu Rina bingung dengan lamaranku secara tiba-tiba, jujur saja, aku sudah lama memendam rasa kepada Halimah, bahkan jauh waktu Pak Adam masih hidup,” sambung Wahyu lagi.


“Aku tahu maksud Pak Boby kesini tadi malam, aku harap Bu Rina mempertimbangkan lamaranku, insya Allah, aku akan jaga Halimah dengan baik.”


Kalau Wahyu tahu maksud Pak Boby kesini tadi malam, wajar, karena mereka satu kantor dan mungkin saling cerita. Tapi aku bingung dengan situasi sekarang, Halimah sama sekali belum menunjukkan ketertarikan dari salah satu tiga pemuda yang melamarnya.


“Aku akan tanyakan dulu kepada Halimah, bagaimanapun juga, semua tergantung dia, Wahyu.”


“Baiklah Bu, aku sangat berharap Halimah menjadi istriku.”


Wahyu meninggalkan rumahku, aku melihat begitu besar rasanya kepada Halimah, dia juga pemuda yang baik dan mapan.


Aku masuk kedalam setelah Wahyu meninggalkan rumahku, sepi, hanya aku sendiri duduk di ruang tengah ini, foto suamiku masih rapi terpajang di dinding, entah kenapa butiran bening menetes di pipiku mengingat kenangan yang lalu. Semenjak suamiku tiada, banyak kejadian dengan putri-putriku yang membuatku takut dan mencemaskan keselamatan mereka.


Aku kedapur ingin memasak, dengan menyibukkan diri mungkin rasa sedihku akan sedikit hilang, lagian sudah lama juga aku tidak membuat brownies kesukaan putri-putriku. Aku tidak boleh larut dengan kesedihan yang akan melemahkanku sebagai orang tua tunggal.


Sedang asik mengadon bahan kue, aku terhenti sejenak melihat bayangan seseorang di ruang tengah mengawasiku, apakah ada penyusup siang hari begini? Dengan perasaan tidak enak, aku melangkah ke ruang tengah melihat bayangan itu.


Sampai di ruang tengah, aku tidak menemukan sosok manusia. 


“Mungkin aku salah lihat,” gumamku sendiri.


Aku langsung menutup pintu utama, tadi aku sengaja membukanya karena aku sendirian di rumah dan lagian hari masih siang.


Aku melangkah ke dapur lagi melanjutkan membuat kue, sampai di depan pintu kamar, langkahku terhenti lagi, kali ini aku tidak salah, ada seseorang di belakangku, aku langsung membalikkan badan dan melihat orang bersebo menutupi kepalanya menatapku tajam.


“Siapa kamu!”

__ADS_1


Aku sangat terkejut kehadirannya menyusup ke rumahku siang ini, aku ingin lari kedapur mengambil pisau, tapi dia berhasil menahanku.


“Tolo ….” [Ibu Rina dibius]


***


Di kampus Halimah, jam 11.45.


Halimah menunggu Bundanya menjemput, tapi tidak kunjung datang, dia terus berdiri di gerbang kampus dan melihat kesekitar. Dia mulai gelisah, dikeluarkannya ponsel dari dalam tasnya dan mencoba menghubungi Bundanya, tapi hasilnya nihil, Bundanya tidak menjawab panggilan.


“Menunggu siapa, Neng?” security kampus mengahampiri Halimah.


“Bundaku, Pak,” jawab Halimah.


“Sudah kasih tahu jam berapa mau dijemput?” tanya security lagi.


“Sudah Pak,” Halimah mulai kelihatan gelisah.


“Coba di telpon, Neng. Kemaren aku lihat Bundanya sangat cemas mencari disini.” Secutiry itu memberikan saran.


“Sudah Pak, tapi tidak diangkat,” jawab Halimah memegang ponselnya.


“Sebaiknya tunggu di pos satpam saja.”


Halimah menyetujuinya, dia duduk di bangku pos satpam menunggu Bundanya menjemput.


Jam 13.10


Bundanya belum juga menjemput, Halimah sangat gelisah, dia menghubungi Anisa dan Rani, jam segini seharusnya Bunda juga sudah menjemput mereka.


“Assalamu’alaikum, Kak.” Rani menjawab di ponsel.


“Wa’alaikumsalam, Bunda sudah menjemput kalian?”  Halimah bertanya.


“Tadi Bunda sms, Bunda ada keperluan penting dan menyuruh kami menunggu di masjid dekat sekolah.”


“Keperluan penting apa?” Halimah balik bertanya.


“Bunda tidak jelaskan, Kak.”


Halimah menutup panggilan ponselnya, ada rasa tidak enak dihatinya setelah Rani menjawab ponselnya. Kenapa Bunda tidak menghubunginya?


“Bundanya belum menjemput juga, Neng?” security kampus balik bertanya melihat Halimah masih duduk di bangku pos satpam.


“Belum Pak,” jawab Halimah.


Tidak lama kemudian, ponsel Halimah berbunyi, ada sms dari Bundanya, dan dia langsung membaca sms tersebut [Bunda tunggu di belakang terminal lama, kaki Bunda sakit, cepat kesini Halimah]


Setelah membaca sms dari Bundanya, Halimah langsung meninggalkan pos satpam menuju terminal lama. Terminal itu sudah di tutup dan lokasinya sudah dialihkan.


“Bundanya sudah menjemput, Neng?” security bertanya melihat Halimah bangkit dari duduknya dan ingin melangkah menjauhi pos satpam.


“Tidak Pak, kaki Bundaku sakit dan sekarang ada di terminal lama, “ jawab Halimah dengan wajah cemas.


“Kenapa di terminal lama? Bukannya terminal itu sudah tutup?”


“Aku juga tidak tahu Pak. Permisi pak, aku harus secepatnya kesana.”

__ADS_1


Halimah langsung meninggalkan pos satpam, dia naik angkot menuju terminal lama, sementara itu Bapak security kampus hanya menatapnya dengan heran.


Bersambung …


__ADS_2