
Cobaan apa lagi ini? Kenapa Ibu Arya tiba-tiba memutuskan pertunangan, ini baru pertama kalinya putriku menyukai seorang lelaki, setelah dia mantap menentukan pilihan, dia harus menerima kekecewaan diawal melangkah.
“Bunda, ada apa?” Halimah bertanya saat aku terpaku dsetelah membaca pesan dari Ibu Arya.
“Bunda.” Halimah mengulangi panggilannya.
Aku menatap wajah putriku, rasanya tidak tega memberi tahu ini semua, tapi aku harus jujur apapun yang terjadi.
“Nak, Ibu Arya memutuskan pertunangan ini.”
Mendengar perkataanku, Halimah terdiam dan langsung duduk di bangku warung, dadanya sesak menahan berita yang aku ucapkan. Dalam waktu sekejap, wajah ceria putriku berubah menjadi murung dan sendu.
“Apa alasannya, Bunda?” tanya Halimah pelan dengan suara gemetar.
Aku duduk disamping Halimah, dengan menggenggam erat tangannya, aku berusaha menenangkannya.
“Bunda tidak tahu, nanti akan Bunda tanya Arya,” ucapku lirih.
“Tidak usah Bunda, jangan tanyakan alasannya, aku tidak apa-apa, masalah ini tidak usah kita bahas. Aku mengganti baju dulu.”
Halimah bangkit dari duduknya dan melangkah masuk kerumah, meski dia berusaha tegar, tapi aku tahu hatinya sangat terluka, rasanya tidak sanggup melihat putriku dalam kekecewaan, obat hati susah dicari.
Aku duduk termenung di warung, berulang kali aku baca pesan yang dikirimkan Ibu Arya tadi, namun aku memang tidak salah baca, pertunangan ini diputuskan sebelah pihak tanpa alasan yang jelas.
“Bu Rina, gula pasir satu kilo. Bu … Bu Rina.”
Aku terkejut mendengar suara Bu Arun memanggil membubarkan lamunanku.
“Eh, Bu Arun, ada apa Bu?” tanyaku bingung.
“Ibu melamun? Ada masalah apa, Bu?” Bu Arun duduk disampingku.
Aku menarik nafas dalam, rasanya berat untuk menceritakan semua ini, bukan karena aku menyimpan masalah, tapi tidak sanggup rasanya menceritakan kabar buruk ini, hatiku sangat perih melihat Halimah kecewa.
“Kalau Ibu tidak mau cerita, tidak apa-apa, tapi ingat Bu, menanggung beban sendiri akan terasa sangat berat.”
Aku menatap Bu Arun setelah dia berkata, dengan menahan air mata, aku bercerita tentang putusnya pertunangan Halimah secara sepihak.
__ADS_1
“Astagfirullah’alazimm, Ibu harus bertanya kepada Ibu Arya alasan putusnya pertunangan ini,” ucap Bu Arun.
“Aku maunya juga begitu, tapi Halimah melarangku bertanya, aku tidak mengerti kenapa dia bersikap seperti itu, Bu Arun.”
“Coba ibu bertanya kepada Halimah alasan kenapa harus didiamkan, aku yakin Halimah pasti punya alasan yang tepat, Bu Rina.”
Bu Arun benar, kalau tidak bertanya akan membuat penasaran, tapi bagaimanapun juga, aku harus menghargai perasaan putriku.
“Iya Bu,” jawabku.
“Atau tunggu Arya menemui Ibu membicarakan semua ini,” ucap Bu Arun lagi.
Aku menganggukan kepala menjawab, tapi sepertinya untuk sekarang ini Halimah belum bisa diajak berbicara, aku menunggu sampai dia tenang dulu.
Hari semakin sore, aku masih duduk terpaku memikirkan pesan dari Ibu Arya tadi.
“Bunda, hampir magrib, kenapa belum tutup?” Tiba-tiba Anisa menghampiriku.
“Oh, Iya, ayo bantu Bunda menutup warung, Nak.”
Aku dan Anisa menutup warung, setelah itu kami masuk kerumah dan menutup pintu. Didalam rumah kulihat Halimah membaca Al Qur’an di kamarnya, sepertinya dia mencari ketenangan hati dengan ayat-ayat Allah SWT. Aku hanya menatapnya di balik pintu.
“Kak Rani, nanti bantuin aku membuat tugas sekolah, ya?” ucap Anisa kepada Rani.
“Iya Dek, tapi sholat magrib dulu,” jawab Rani.
Mereka langsung ke kamar mandi berwudhuk yang terletak di dekat dapur, sementara itu Halimah sedang sibuk memasak.
“Wah enak, nih, nanti kalau Kak Halimah sudah menikah dengan Kak Arya, kita pasti merindukan masakan enak kakak.” Ucap Anisa polos yang membuat Halimah terdiam.
“Anisa, Rani, cepat wudhuk dan sholat, waktu magrib ini singkat, Nak.” Aku berusaha mengalihkan pembicaraan mereka.
Anisa dan Rani segera melaksanakan perintahku, aku menatap Halimah, meski tidak ada air mata kekecewaan, aku tahu dia berusaha menyembunyikan kesedihan hatinya.
“Bunda, jangan khuatir, aku tidak apa-apa, kalau mereka memutuskan pertunangan ini, tolong jangan tanyakan alasan dibalik semua ini, aku iklhlas, mungkin kami tidak berjodoh.”
Setelah berkata, Halimah berlalu masuk ke kamarnya, lagi-lagi dia berusaha menyembunyikan kesedihannya, kasihan kamu Nak ….
__ADS_1
Malam semakin larut, cahaya bulan menghiasi langit hitam, dengan duduk di teras depan, aku berfikir dan berfikir, kenapa mereka memutuskan pertunangan ini sebelah pihak, ingin rasanya bertanya kepada Ibu Arya ataupun Arya sendiri, namun Halimah melarangku dengan alasan yang tidak kumengerti, aku juga tidak mau mendesak putriku dengan pertanyaan-pertanyaan yang akan semakin membuat hatinya terluka.
Tidak lama kemudian, ada empat orang lelaki berbadan kekar datang kerumahku, mereka menghampiriku duduk di teras.
“Permisi Bu.” Kata salah satu dari mereka.
“Iya, ada apa?” tanyaku heran.
“Kami mau mengambil alih rumah ini, Bos kami telah membeli rumah ini cash.”
Aku terkejut mendengar perkataanya, bagaimana mungkin Bosnya membeli rumahku, padahal aku sendiri tidak menjualnya.
“Aku tidak pernah menjual rumah ini, mungkin kalian salah.” Aku berusaha mnejelaskannya.
“Ini copy-an sertifikat rumah ini, dan semuanya atas nama Bos kami.” Dia menyodorkan copy-an sertifikat kepadaku.
Jantungku terasa mau copot setelah membaca nama yang tertera di sertifikat itu, badanku terasa lemas dan dunia terasa mau runtuh, disana tertulis nama Pono Setyo, Astagfirullah’alazimm, ini pasti perbuatan Linda dan Haris yang mencuri sertifikat rumahku.
“Ini palsu, aku tidak pernah mentanda tangani jual beli rumah ini! Mereka memalsukan tanda tangaku! aku bisa laporkan ke polisi atas kasus pencurian sertifikat rumah, aku tidak pernah menjual rumahku!” Suaraku lantang yang membuat ketiga putri-putriku keluar menghampiriku.
“Bunda, ada apa?” tanya Halimah.
“Mereka mau mengambil alih rumah kita, Nak. Sertifikat rumah atas nama Pono Setyo, lelaki yang dijodohkan Haris dan Linda denganmu, Halimah, mmm.” Aku tak kuasa menahan tangis.
“Tidak mungkin, tidak mungkin, Bunda.” Halimah shock merangkul tanganku.
Kemana kami akan tinggal? Rumah ini satu-satunya tempat kami berteduh, kenapa Haris dan Linda sangat tega kepada kami, padahal selama ini kami tidak pernah menyusahkan mereka, ya Allah … apa yang harus aku lakukan? Kemana aku akan membawa ketiga putri-putriku tidur malam ini.
“Kami tidak mau tahu, cepat kalian kosongkan rumah ini!” Kata mereka menatap kami tajam.
“Tidak! Kalian tidak boleh menyentuh rumahku, ini rumah peninggalan suamiku, aku tidak pernah berniat menjualnya, pergi kalian, pergi!” aku sangat marah mengusir mereka, tapi mereka tetap diam dan memaksa masuk.
“Jangan masuk kerumah kami!” Rani dan Anisa berusaha menghalangi mereka, tapi percuma, dalam segi tenaga kami pasti kalah.
“Keluar kalian! Keluar!” aku mengusir mereka mencoba masuk dan mengeluarkan barang-barang rumahku, dengan tanpa rasa belas kasihan, mereka melempar barang-barangku ke halaman, aku dan ketiga putri-putriku hanya menagis memohon agar mereka berhenti, tapi sia-sia.
Bersambung …
__ADS_1