SEUMUR HIDUP DIBALIK JERUJI PENJARA

SEUMUR HIDUP DIBALIK JERUJI PENJARA
episode 2


__ADS_3

Astagfirullah’alazimm, kenapa bu Arun bicara seperti itu?, semua diluar akal dan fikiranku, sebagai seorang muslim, mana mungkin setelah sholat magrib suamiku kena santet, aku sama sekali tidak mengerti tentang perdukunan ataupun masalah santet menyantet.


“Terimakasih, bu. Setelah pemakaman suamiku, akan kita bicarakan lagi nantinya.”


Hanya itu kata-kata yang bisa aku katakan pada bu Arun, aku tidak mau menyinggungnya atas kurang yakinnya aku dengan perkataanya itu.


Dikerumunan orang melayat, aku juga melihat bu Lili dan anaknya Monik, mereka juga menatapku prihatin dengan musibah yang aku alami.


Malam itu juga jasad suamiku dimakamkan, aku tidak mau menunggu sampai esok hari karena kondisi jasad suamiku. Dengan langkah yang teramat berat, aku dan putri-putriku meninggalkan makam suamiku dengan hati yang teramat sedih.


Aku duduk di tepi tempat tidur di kamarku, dengan memeluk foto suamiku, air mataku belum juga berhenti, aku berusaha tabah demi anak-anakku, tapi tetap tidak bisa, semua kenangan terukir indah dihati dan fikiranku. Separuh nafasku terkubur dengan jasad suamiku.


“Bunda, ada om Haris di ruang tamu menunggu.” Halimah berkata di depan pintu kamarku.


Aku segera menuju ke ruang tamu, ada Haris dan istrinya Linda sedang duduk menungguku. Haris adalah adik dari suamiku, suamiku cuma dua bersaudara, kami jarang bertemu karena Haris sibuk mengurus dua rumah makannya.


“Maaf mbak Rina, kami mengganggu sebentar.”


Aku langsung ikut duduk bersama mereka. “Ada apa Ris?” dengan berusaha menegarkan hati, aku menanggapi perkataan Haris.


“Ini untuk mbak Rina, itu bagian jatah mas Adam.”


Aku membuka amplop putih yang diberikan Haris, dengan terkejut, aku melihat selembar cek tunai dengan nominal seratus lima puluh juta rupiah.


“Apa maksudnya ini, Ris?” aku bertanya dengan memegang cek tunai tersebut.


“Tanah warisan di kampung sudah dijual, mbak.”


Tanah warisan? Dulu mas Adam pernah cerita kalau dia dan adiknya akan menjual tanah warisan peninggalan orang tua mereka, tapi yang aku dengar, tanah yang sangat luas itu ditawar satu setengah milyar, kalau dibagi dua, jatah untuk suamiku sangat jauh berkurang.


“Terimakasih, Ris.” Hanya itu yang aku ucapkan. Aku tidak mau meributkan masalah jatah warisan suamiku disaat tanah kuburanya masih basah. Tapi setidaknya, aku punya pengangan melanjutkan pendidikan ketiga putriku.


Malam itu, aku dan putri-putriku tidak bisa tertidur lelap, kami merasa sangat kehilangan, namun, kenangan terakir yang terukir dibenakku, pagi itu suamiku makan dua piring nasi goreng yang biasanya cuma hanya satu piring, dengan senyum kehangatan, dia menatapku sambil lahap menyantap nasi goreng buatanku. Kenapa suamiku dipanggil secepat ini ya Allah.


***


Pagi ini anak-anakku tidak berangkat sekolah dan kuliah, mereka masih sangat sedih ditinggal ayah tercinta mereka, sedangkan Haris dan istrinya langsung balik ke kampung, aku berusaha tetap tabah, aku tidak bisa terlalu terhanyut dalam keterpurukan kehilangan suami tercintaku, aku masih punya tiga orang putri yang sangat membutuhkan aku. Aku harus tetap kuat meski sekarang menjadi orang tua tunggal. Aku percaya, semua ini sudah suratan yang Allah berikan untuk suamiku.


“Bu Rina, bu.”


Terdengar dari dapur, bu Arun mencariku, aku yang mendengar suaranya langsung melangkah keluar.


“Ya, bu Arun.” Aku menjawab panggilan bu Arun.


“Bu Rina, maaf menggangu, saya kesini hanya ingin menjelaskan maksud perkataan saya tadi malam.”


Aku hanya berusaha seramah mungkin, aku tahu bu Arun sangat perhatian denganku dan keluargaku, di sini hanya dia yang sering aku ajak bicara tukar fikiran.


“Saya tidak bermaksud menambah beban fikiran bu Rina, tapi, alangkah baiknya kita selidiki tentang penyebab kematian suami ibu.”


Kata-kata Bu Arun membuatku terdiam, aku tidak tahu harus bagaimana, sebenarnya aku tidak percaya suamiku kena santet, aku percaya maut itu Allah SWT yang menentukan.

__ADS_1


“Bu rina, aku pernah melihat kejadian ini dulu di kampung suamiku, setelah diselidiki, ternyata yang meninggal kena santet.” kata Bu Arun lagi.


“Aku harus bagaimana, bu Arun?”


“Aku ada kenalan orang pintar, dia bisa melihat siapa yang berniat buruk di balik ini semua.”


Astagfirullah’alazim, bu Arun mengajakku pergi ke dukun?, tidak! Aku tidak mau menjadi manusia syirik, aku yakin semua ini sudah takdir dari yang Kuasa.


“Maaf, bu Arun. Saya fikirkan dulu, sekarang saya masih sangat sedih dengan kepergian mas Adam.”


“Baiklah, kalau bu Rina sudah siap, saya bersedia kapanpun ibu mau.” Setelah berkata Bu Arun meninggalkan rumahku.


Anisa yang mendengar percakapan kami tadi, langsung duduk dan mendekatiku.


“Bunda, apa benar kalau ayah kena santet?”


Aku memandang wajah putriku, aku tidak ingin dia ikut berfikir yang tidak-tidak atas sesuatu yang kurang kufahami.


“Semua itu tidak benar, nak.” Aku memeluk Anisa dengan mata yang berkaca-kaca. Anak-anakku adalah kekuatanku sekarang.


“Bunda, aku sudah masak, sebaiknya bunda makan dulu.” Halimah berkata saaat mengangkat pakaian yang sudah dicuci untuk dijemur di halaman rumah.


“Bunda belum lapar, Nak.”


“Biar Anisa ambilkan, ya, bun?” Anisa langsung bangkit dari duduknya menuju ke dapur. Sementara itu Halimah melanjutkan kerjanya menjemur pakaian.


Aku yang duduk di ruang tamu memandang halimah menjemur pakaian di halaman depan, dia sangat tabah meski hatinya sangat sedih.


“Assalamu’alaikum, Halimah.”


“Bunda ada, Halimah?”


Arya berkata dan menatap halimah, dari cara Arya memandangnya, terlihat dia sangat menyukai Halimah.


“Sebentar.” Halimah langsung melangkah kedalam dengan wajah tetap menunduk.


Aku yang sudah tahu kedatangan Arya, langsung berdiri dan menghampirinya di teras depan.


“Assalamu’alaikum bunda.”


“Wa’alaikumsalam nak Arya.”


Aku mengajak Arya masuk kedalam, kami duduk di ruang tamu, tidak lama kemudian, Halimah datang membawa secangkir teh dan meletakannya di meja, Arya memandang Halimah hingga berlalu menuju dapur.


“Bunda, bagaimana jawaban dari lamaranku kemaren?”


Arya langsung bertanya, sepertinya dia tidak tahu kalau suamiku baru meninggal.


“Nak Arya, saya belum bisa memutuskanya sekarang, ayah Halimah baru saja meninggal tadi malam.”


Arya terkejut mengetahuinya dan turut prihatin.

__ADS_1


“Maaf bunda, aku datang diwaktu yang salah, seharusnya aku kesini tadi malam.”


Firasatku mengatakan, kalau Arya pemuda yang baik, namun aku belum ingin membicarakan itu sekarang.


“maaf bunda, kalau boleh, aku ingin berkenalan dengan Halimah di depan bunda sekarang.”


Aku melihat keseriusan dimata Arya, sepertinya dia juga pemuda yang pemberani dan jujur. Aku menyetujuinya karena dia meminta dengan sopan.


“Halimah, Halimah!”


Setelah aku berteriak memanggil Halimah, dia keluar dengan dandanan seperti biasa, hijab syari dan wajah tidak tersentuh dengan polesan bedak ataupun make up. Sangat alami.


“Ada apa, bunda.” Halimah menanggapi panggilanku, namun dia sama sekali tidak menoleh ke Arya.


“Ini nak Arya, dia ingin berkenalan denganmu.”


Arya berdiri mengulurkan tanganya ingin bersalaman, tapi Halimah hanya menanggapi dengan mendekatkan kedua tanganya di dada dan menundukkan kepalanya. Sontak yang dilakukan Halimah membuat Arya sedikit malu dan bertambah kagum. Halimah menolak berjabatan tangan.


“Oh, maaf, aku Arya.” Arya menyapa Halimah.


“Halimah,” jawab Halimah dengan suara pelan tanpa membalas tatapan Arya.


Aku melihat, anakku sama sekali tidak menunjukan ketertarikannya pada Arya, yang kubaca justru kesedihan ditinggal ayahnya.


Setelah Arya meninggalkan rumahku, aku hanya terpaku duduk kembali dengan kesedihan yang belum juga hilang. Tidak beberapa lama kemudian, Wahyu teman sekantor suamiku datang, dia sudah berada di depan pintu yang tidak kusadari karena aku hanyut dalam lamunan kesediahanku. Ada apa dia kesini? Padahal tadi malam dia juga ikut membantu pemakaman suamiku.


“Assalamu’alaikum bu Rina.”


“Wa”alaikumsalam, Wahyu.”


Aku mempersilahkan Wahyu masuk dan duduk di ruang tamu.


“Aku turut prihatin yang menimpa Pak Adam, bu.” Kata Wahyu membuka pembicaraan.


Wahyu teman sekantor suamiku yang jauh lebih muda dari suamiku, suamiku pernah bercerita kalau Wahyu cuma beda delapan tahun di atas Halimah, dia juga sering kesini membicarakan urusan kantor dulunya dengan suamiku. Dari selama dia berkunjung kesini, aku tahu kalau dia menaruh hati kepada Halimah.


“Terimakasih, Wahyu.” Kataku menanggapi.


“Maaf bu, sebenarnya aku kesini ingin membicarakan sesuatu sama ibu Rina, itupun kalau ibu tidak keberatan, apalagi dengan suasana yang masih berduka.”


Rasa penasaran menyelimuti hatiku, aku berharap yang dibicarakan adalah hal yang baik.


“Ada apa Wahyu?” Aku menatap wajahnya.


“Pak Adam orang yang baik, siang sebelum beliau meninggal, aku melihat pak Adam banyak melamun di kantor, padahal beliau telah direkomindasikan naik jabatan sebagai kepala cabang dan mengalahkan saingan senior lainya yaitu Pak Bobi, meski terjadi sedikit konflik, karena Pak Bobi tidak menerima kekalahan, namun pak Adam sangat sabar menghadapinya, Bu. ”


Air mataku mengalir lagi mendengar cerita Wahyu, suamiku jarang komunikasi masalah kantor, setahuku, pak Bobi teman satu letingan masuk kerja.


“Aku kesini ingin menyerahkan dokumen untuk ibu urus mendapatakan tabungan jamsostek dan tabungan koperasi Bapak.”


Ya Allah, ternyata kepergian suamiku tidak meninggalkan hutang, malah tabungan yang bisa aku gunakan untuk menyambung hidup. "Terimakasih Mas Adam,” kataku dihati dengan air mata mengalir.

__ADS_1


Halimah yang mengetahui ada tamu, membawakan secangkir teh. Wahyu terpana melihat Halimah, sorotan matanya tak berkedip hingga halimah berlalu meninggalkan ruang tamu.


Bersambung ....


__ADS_2