SEUMUR HIDUP DIBALIK JERUJI PENJARA

SEUMUR HIDUP DIBALIK JERUJI PENJARA
episode 7


__ADS_3

Siapa penyusup di rumahku? Dia mencoba membuka pintu kamar putriku, malam ini aku tidur dengan Rani sedangkan Halimah tidur dengan Anisa. Sejak sikap aneh yang dialami Rani, aku memutuskan menjaganya.


“Aggghh!” Penyusup itu menatapku tajam di balik sebo kepalanya, dia kesakitan, darah mengalir dari lengannya.


Meski takut, aku berusaha seberani mungkin, jika aku membiarkannya maka putriku akan terancam.


Dia mencoba mendekatiku, aku dengan cepat menghidupkan lampu. Meski aku melihatnya dengan jelas, namun aku sama sekali tidak mengenali wajahnya yang tertutup sebo. Siapa orang ini?


Pisau masih erat ditanganku, aku sudah bersiap-siap melawan jika dia mencoba mencelakaiku. Tapi sial, dia juga bersenjata, golok ditangannya sangat tajam mengkilat, nyaliku sedikit menciut menghadapinya.


“Tolong! Tolong! Ada maling!”


Aku berteriak sekeras-kerasnya saat dia mencoba mendekatiku dengan golok.


“Tolong! Tolong! Tolong ada maling!”


Melihatku berteriak, dia mencoba kabur lewat pintu belakang, aku tidak berani mengejarnya, bagaimana kalau dia tidak sendirian.


Mendengar teriakanku, putri-putriku keluar dari kamarnya, mereka sangat terkejut dan panik melihatku memegang pisau yang berlumuran darah.


Tidak lama kemudian Bu Arun dan beberapa tetangga terdekat menghampiri rumahku, mereka berbondong-bondong dan membawa senjata tajam ingin menolongku. Aku membukakan pintu depan agar para tetangga bisa masuk dan melihat kedalam serta menceritakan apa yang aku alami barusan.


“Bu Rina, sebaiknya pintu belakang diberi terali besi,” pak Arun berkata setelah memeriksa rumahku.


“Iya Pak, besok akan aku buat terali besinya.” Aku berusaha setenang mungkin, aku tidak ingin membuat putri-putriku cemas jika aku sangat panik, bagaimana pun juga, hanya aku sendirian yang menjaga mereka.


“Kalau orang ini berniat maling, mungkin televise Bu Rina sudah di bawa kabur, tapi dia sama sekali tidak mengincar harta.”


Kata-kata Bu Arun benar juga, televisi 32 inc ini baru beberapa bulan dibelikan almarhum suamiku. Siapa penyusup itu? Apa yang diinginkannya? Ya Allah … tolong jaga putri-putriku dari segala kejahatan.


Setelah memastikan semuanya aman dan pintu belakang digembok untuk sementara, tetangga meninggalkan rumahku kecuali Bu Arun yang masih menemaniku duduk di ruang tengah.


“Bu Rina, aku mengkhawatirkan apa yang terjadi sama putri-putri ibu belakangan ini, apakah ada hubunganya kejadian semua ini?” Bu Arun menatapku serius berkata.


“Aku juga berfikiran seperti itu, Bu Arun. Apa yang harus aku lakukan?” Aku sebenarnya sangat panik dan khuatir, namun lagi-lagi aku berusaha tetap kuat demi anak-anakku.


“Sebaiknya lapor polisi, Bu.”


Bu Arun benar, aku harus melaporkan ke polisi kejadian malam ini, mungkin Randi bisa membantuku dalam masalah ini, tapi … bagaimana dengan masalah Halimah? Jika aku melapor maka foto-fotonya yang hanya memakai pakaian dalam akan tersebar.


“Ibu benar, besok aku akan melapor kepolisi. Terimakasih Bu Arun.”


Aku mengunci dan menggembok semua pintu rumahku, untung ada tetangga yang peduli dan mencarikan gembok yang besar, aku sangat bersyukur mereka peduli dengan apa yang aku alami.

__ADS_1


Malam ini kami putuskan tidur di satu kamar saja, rasa cemas terhadap putri-putriku membuatku tidak ingin jauh dari mereka. Dalam tubuh terbaring, air mataku menetes, aku teringat suamiku, sangat berat rasanya menghadapi semua ini, andaikan suamiku masih hidup … Astagfirullah’alazim … Allahuakbar, Al fatihah.


Pagi ini aku putuskan Halimah dan Rani di rumah saja. Halimah terlihat murung, sedangkan Rani sudah ceria seperti biasa.


“Bunda, aku berangkat sekolah dulu,” Anisa menyalamiku.


“Nanti kalau sudah pulang, hubungi Bunda biar bunda jemput.”


Anisa menganggukan kepalanya menuruti kata-kataku, sebenarnya aku juga mencemaskan Anisa, bagaimanapun juga kejadian Halimah dan Rani berimbas ke Anisa, mungkin ini kecemasan seorang ibu.


Aku duduk disamping Halimah di ruang tamu, dia sangat murung meski pandangannya menatap keluar pintu, perih sekali rasanya menyaksikan raut wajahnya.


“Nak, Bunda sudah memutuskan akan melaporkan masalahmu ke pada polisi.”


“Jangan Bunda! Aku takut, mereka akan menyebar fotoku yang hanya memakai pakaian dalam, aku malu …, aku malu bunda …,” Halimah menangis memelukku, air mataku juga mengalir. Dari pada anakku yang disakiti lebih baik aku yang merasakannya.


“Siapa yang mengancammu Halimah?”


Tiba-tiba Randi sudah berada di depan pintu mendengar percakapan kami, Halimah terdiam dan menghapus air matanya.


“Nak Randi, silahkan masuk.”


Randi masuk dan duduk, dia menatap Halimah dalam seperti berfikir.


“Jangan! Aku takut kalau mereka …,” Halimah sangat terlihat cemas berkata.


“Kalau mereka tidak diberantas, akan bertambah korban atau kejahatan yang lain. Jangan khuatir Halimah, aku akan membantumu.” Randi menatap Halimah, mereka saling berpandangan, sepertinya Halimah menyetujui tawaran Randi.


“Nak Randi, terimaksih.” Hanya itu yang aku ucapkan melihat niat baiknya.


“Oh ya, Bunda. Aku sudah membawa motor Bunda.”


Aku hampir lupa kalau motorku di parkir di halaman masjid, saking paniknya, aku juga lupa kalau kunci motorku ku titip ke Randi kemarin.


“Terimakasih sekali lagi nak Randi.”


“Tidak usah sungkan Bunda, aku senang membantu Bunda dan Halimah.”


“Tapi, bukannya nak Randi juga harus kerja sekarang?”


“Aku kerja lapangan Bunda, menangani kasus kejahatan lapangan adalah tugasku.”


Halimah bangkit dari duduknya, dia ingin kebelakang membuatkan minuman. Setelah dua cangkir teh dibawa, Halimah berlalu menjemur pakaian di halaman depan seperti bisa. Randi menatap Halimah, sepertinya dia juga menyukai putriku, tatapan matanya tidak bisa berbohong.

__ADS_1


Mobil Arya memasuki halam rumahku, setelah diparkir, dia keluar dan menyapa Halimah yang sedang menjemur pakaian, aku dan Randi duduk di ruang tamu bisa menyaksikan mereka dari balik kaca.


“Bagaimana kabarmu hari ini Halimah?” Arya menyapa Halimah menjemur pakaian.


“Alhamdulillah baik, Kak.” Halimah menjawab dan menundukkan kepala, Arya terus menatap Halimah meski tatapannya tidak dibalas.


Aku bangkit dari duduk melangkah ke pintu menyapa Arya.


“Masuklah Nak Arya.”


“Oh, Bunda. Maaf aku singah sepagi ini.” Arya menyalamiku.


“Tidak apa-apa, Nak Arya. Silahkan masuk.”


Arya terkejut melihat Randi juga berada di rumahku, Namun aku menjelaskan kedatangan Randi mengantarkan motorku.


“Terimakasih teman, kamu menolong Bunda dan Halimah.” Arya berkata ke pada Randi.


“Sudah tugasku, Teman,” jawab Randi.


Halimah masuk kedalam setelah menjemur pakaian, Randi dan Arya terpana menatap Halimah berlalu di depan mereka. Sangat terlihat jelas kalau mereka mengagumi putriku, aku hanya berharap Halimah mendapatkan pendamping yang bisa menjaganya dengan baik.


“Asslamu’alaikum.”


Kami terdiam melihat Wahyu juga datang dan berdiri di depan pintu, aku tidak tahu kenapa dia datang sepagi ini.


“Wa'alaikumsalam. Wahyu, ayo masuk.”


Stelah Wahyu masuk dan duduk, aku memperkenalkan Arya dan Randi kepadanya. Pagi ini di ruang tamu, aku kedatangan tiga orang pemuda yang mengagumi putriku Halimah.


Halimah menyadari adanya tamu, langsung membawakan dua cangkir teh dan meletakkanya di meja tamu, tiga orang pemuda ini menatap anakku yang berlalu meninggalkan ruang tamu.


Tidak lama kemudian, Bu Lili dan Monik juga datang kerumahku dengan mimik wajah tidak bersahabat, mereka berdiri di teras rumahku.


“Bu Rina! Bu Rina!” Bu Lili bersuara lantang.


Aku keluar, Monik berdiri di belakang ibunya seakan menahan malu dengan sikap ibunya.


“Ada apa Bu Lili?”


Belum sempat mereka menjawab kata-kataku, Pak Slamet juga datang membawa rombongan dan kue Buaya yang diiringi musik. Astagfirullah’alazimm … ada apa lagi ini.


bersambung …

__ADS_1


__ADS_2