SEUMUR HIDUP DIBALIK JERUJI PENJARA

SEUMUR HIDUP DIBALIK JERUJI PENJARA
episode 24


__ADS_3

Halimah dan Randi terpana melihat Arya dengan kecemburuannya, Arya berdiri di pintu dengan mimik wajah cemburu yang tidak bisa disembunyikan. Randi bangkit dari duduknya dan menghampiri Arya.


“Arya, sebaiknya masuk dulu dan duduk,” ucap Randi berdiri disamping Arya.


Halimah tetap diam, tidak ada kata yang keluar dari mulutnya. Arya menuruti perkataan Randi, dan mereka akhirnya duduk.


“Aku kesini karena menyelesaikan kasus yang dialami Bunda, Arya.” Randi berusaha menjelaskan.


“Kasus? Apa lagi yang sedang terjadi?” Arya terkejut menatap Randi.


Randi menjelaskan tentang kasus pencurian sertifikat rumahku, apalagi tersangkanya adalah adik dan istri dari Ayah Halimah.


“Maafkan aku Halimah, Randi. Aku tidak tahu yang sebenarnya, aku terlalu cemburu.” Arya berbicara menatap Halimah dan Randi bergantian, wajah penyesalan sangat tergambar dari raut wajahnya.


“Aku mengerti kecemburuanmu,Teman. Kalau aku di posisimu pasti bersikap serupa,” jawab Randi dengan sikap dewasanya.


“Baiklah, aku sebaiknya balik kerja. Jaga dan pertahankan Halimah jika kamu ingin menjadi pendampingnya, aku bahagia jika kalian juga bahagia, kalau ada apa-apa hubungi aku, Teman.” Randi langsung bangkit berdiri dan berjalan ke pintu.


“Kak Randi.” Tiba-tiba Halimah menghentikan langkahnya.


Randi membalikkan badan menatap Halimah.


“Iya Halimah,” jawab Randi.


“Terimakasih sekali lagi.” Halimah menatap Randi, ini kedua kalinya Halimah menatap lelaki selain Arya dan itupun untuk mengucapkan terimakasih.


“Sama-sama, lagian juga tugasku membantu menyelesaikan kasus ini, Halimah. Salam untuk Bunda.”


Randi langsung pergi meninggalkan rumahku, Halimah hanya terdiam menatap kepergian Randi dengan perasaan sedikit merasa bersalah karena menolak lamarannya.


Diruang tamu Halimah hanya diam, sementara itu Arya menatapnya dalam meski Halimah tidak membalas tatapannya.


“Tolong maafkan aku Halimah.” Arya mulai membuka percakapan.


“Aku sudah memaafkan Kak Arya, tapi ….” Halimah terdiam dan tidak melanjutkan kata-katanya.


“Tapi kenapa?” Arya bertanya dengan sangat penasaran.


“Mau apa Kakak kesini?” tanya Halimah pelan.


“Kamu tunanganku, wajar aku mengunjungimu, Halimah.”


Halimah terpana menatap Arya, kenapa dia tidak menyinggung masalah Ibunya memutuskan pertunangan ini sebelah pihak?


Tidak lama kemudian, aku keruang tamu setelah selesai berbicara di ponsel dengan Bu Arun, sampai diruang tamu aku terkejut Arya sudah duduk disana dan tidak ada Randi.


“Nak Arya.” Aku menyapanya dan langsung duduk di samping Halimah.

__ADS_1


“Bunda.” Arya langsung menyalamiku dan duduk kembali.


“Sendirian Nak Arya?” aku bertanya lagi.


“Iya Bunda. Maaf kalau aku tidak tahu tentang kasus pencurian sertifikat rumah Bunda, aku sibuk diluar kota menyelesaikan proyek.” Arya menjelaskannya.


“Tidak apa-apa, Nak Arya. Untung ada Randi yang menolong kami.”


“Aku tadi salah paham dengan Randi, maaf aku cemburu tadinya Halimah.”


Halimah tetap diam dan tidak menjawab, aku mengerti sikapnya seperti itu, dia tidak mau mulai berbicara masalah ibunya memutuskan pertunangan ini.


“Bagaimana kabar Ibu Nak Arya?” aku mencoba menyinggung masalah ibunya.


“Alhamdulillah baik, Bunda.” Arya masih belum menyinggung masalah ibunya memutuskan pertunangan ini. Melihat reaksi Arya, Halimah langsung bangkit berdiri.


“Kak Arya, sebaiknya Kakak jangan kesini lagi, aku tidak ingin menyinggung perasaan Ibu Kakak.” Halimah langsung masuk kedalam.


“Tunggu Halimah!” Arya berusaha mengehentikannya, tapi Halimah masih kukuh masuk kedalam.


“Bunda, ada apa ini?” tanya Arya heran mendengar perkataan Halimah.


“Emangnya Nak Arya tidak bicara masalah tunangan ini diputiskan lewat SMS?” aku balik bertanya.


“Putus tunangan? Siapa yang memutuskan Bunda?”


“Tidak mungkin Bunda, aku tidak mau, aku ingin tetap menikahi Halimah.” Arya terkejut dan tidak menyangka Ibunya melakukan itu, dia terpana dan sejenak terdiam.


“Bicarakan dulu masalah ini dengan Ibu Nak Arya.” Hanya itu yang bisa kukatakan melihat reaksi wajahnya terdiam.


“Iya, aku pasti akan bicarakan semua ini, tadi aku langsung kesini dari luar daerah, kami belum sempat berbicara.” Arya terlihat kecewa mendengar keteranganku, mungkin sudah lama dia menunggu jawaban Halimah, disaat dia merasa sangat senang setelah diterima dan bertunangan, Ibunya memutuskan secara sepihak.


“Boleh aku bicara empat mata dengan Halimah, Bunda?” Arya meminta izin kepadaku, dan aku menganggukan kepala menjawab.


Aku melangkah kedalam, di kamarnya Halimah duduk terdiam di tempat tidur, dia memeluk Al Qur’an seperti ingin membacanya, tapi tapannya jauh kedepan.


“Halimah, Arya ingin berbicara denganmu.” Aku menghampiri dan duduk disampingnya.


“Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, Bunda. Semuanya sudah jelas,” jawab Halimah dengan wajah kecewa.


“Segala masalah alangkah baiknya dibicarakan, diam tanpa penyelesaian hanya akan membuat buruk sangka, Nak.”


Mendengar perkataanku, Halimah langsung bangkit dan menghampiri Arya di ruang tamu, disana mereka duduk dikursi berhadapan, namun sebelumnya Halimah membawakan teh hangat dan meletakkannya di meja depan Arya.


“Silahkan diminum, Kak.” Kata Halimah kepada Arya.


“Terimaksih Halimah,” jawab Arya menatapnya dalam.

__ADS_1


“Maafkan aku Halimah, aku tidak tahu yang sebenarnya terjadi, aku baru dari luar daerah menyelesaikan proyekku, aku mengejar target agar waktu menikah nanti tidak terganggu.” Arya menjelaskan dengan tatapan cintanya kepada Halimah, sementara itu Halimah hanya menatapnya sebentar dan langsung menundukkan wajah.


“Kak, seandainya Ibu Kakak tidak merestuiku menjadi istri Kak Arya, aku tidak bisa menikah dengan Kakak tanpa restu beliau.”


Ucapan Halimah membuat Arya terpana, entah apa yang dia fikirkannya, tapi kelihatan sekali dia tidak ingin itu terjadi, cintanya kepada Halimah sangat besar.


“Aku mengerti, aku berharap itu tidak terjadi, aku ingin kamu tetap menjadi istriku, Halimah.”


Setelah berkata Arya meninggalkan rumahku, tentunya setelah minta izin pamit. Aku melihat Halimah hanya diam dan melanjutkan pekerjaanya di dapur. Mungkin setelah Arya menemui kami lagi, semuanya akan jelas kenapa Ibunya memutuskan pertunangan ini sebelah pihak.


Sudah larut malam, putri-putriku sudah tertidur, kecuali Halimah, dia membaca Al Qur’an di ruang tengah, sepertinya itulah cara putriku menenangkan hatinya dalam menghadapi masalah dunia. Alhamdulillah.


***


Pagi ini setelah mengantar Rani dan Anisa ke sekolah, aku membuka warung, Halimah didapur sedang memasak. Suasan komplek depan rumahku sedikit ramai, ada pembeli yang bergantian mampir membeli keperluan sehari-hari, Alhamdulillah aku masih diberi rezeki hari ini berjualan.


Tidak lama kemudian, mobil memasuki halaman rumahku, dan setelah itu aku lihat Arya dan Ibunya keluar dari mobil menghampiriku di warung.


“Assalamu’alaikum, Bu.” Ucap Ibu Arya dan kami bersalaman.


“Wa’alaikumsalam Bu,” jawabku kepada mereka, “Mari masuk, Bu, Nak Arya.” Aku mempersilahkan mereka masuk dan duduk di ruang tamu.


Halimah meletakkan minuman dan kue brownies di atas meja, dan setelah itu dia menyalami mencium tangan Ibu Arya, Ibu Arya terpana melihat Halimah, entah apa yang ada dalam fikirannya. Halimah duduk disampingku.


“Maafkan aku Bu, Halimah. Arya sudah menjelaskan semuanya, salahku tidak bertanya dulu dan langsung mengambil keputusan.” Ibu Arya berusaha menjelaskan.


“Apa yang terjadi sebenarnya, Bu?” aku sangat penasaran alasanya memutuskan pertunangan sebelah pihak.


“Ini alasannya, Bu.” Ibu Arya menyodorkan sebuah amplop kepadaku, dan aku langsung membukanya.


“Astagfirullah’alazimm.” Aku mengurut dada beristigfar.


Halimah langsung mengambil ampolp itu dan ikut melihat isinya, dan setelah itu dia terpana dan menundukkan wajah, diam seribu bahasa dengan butiran bening dipipinya.


“Inilah yang aku takutkan, orang ini berusaha menghancurkan nama baik putriku.” Aku mengusap air mata menahan tangis.


“Saat aku membuka pintu, amplop ini sudah ada di lantai teras depan pintu, aku sangat terkejut melihat foto-foto Halimah yang hanya memakai pakaian dalam, itulah kenapa aku memutuskan pertunangan ini, aku mengira Halimah ….” Ibu Arya tidak melanjutkan kata-katanya.


“Anakku pernah diculik, Bu.” Hanya itu kata-kata yang keluar dari mulutku.


“Arya sudah menceritakan semuanya, termasuk kejahatan Ibu Monik. Maafkan keputusanku saat itu di sms, Bu.”


Aku tersenyum mendengar perkataan Ibu Arya, Randi benar, keluarga Arya sangat baik dan tidak memandang status, Alhamdulillah … Halimah dan Arya bulan depan jadi menikah.


Bersambung …


 

__ADS_1


__ADS_2