
"Bunda, Bunda."
Sayup-sayup kumendengar suara Randi memanggilku, kubuka mata, awalnya pandangan ini sedikit kabur, dengan menyipitkan mata aku berusaha melihat kesekitar dengan jelas. Ada Randi, Anisa, Rani dan Linda dan ..., dimana Halimah?
"Bunda, Bunda ...." Rani menangis memelukku, aku bangkit dan duduk memegang kepalaku terasa sedikit pusing. Ternyata aku ada di kamarku.
"Rani, Nak Randi. Halimah mana?" tanyaku tidak melihat Halimah.
Anisa menangis memeluk Linda. Sedangkan Bu Arun dan suaminya menatapku prihatin.
"Bunda, yang sabar, aku pasti menemukan Halimah," ucap Randi yang membuat jantungku terasa mau copot.
"Apa maksud Nak Randi? Dimana Halimah?!" Aku memegang lengan Randi dengan perasaan teramat cemas.
"Bunda, Halimah diculik."
"Tidak!! Tidak! Halimah, anakku dimana mm mm, aku akan cari putriku, aku ingin putriku ditemui." Perasaanku sangat kalut, aku hampir tidak bisa mengendalikan diri, rasanya dunia mau runtuh, dihari akan dilaksanakan pernikahan putriku, seseorang telah menculiknya, aku tidak bisa tenang, rasanya aku ingin menyusuri semua sisi dunia untuk menemukan putriku. Halimah ... dimana kamu Nak ....
"Tenang Bunda! Tenang!" Randi bersuara sedikit lantang, aku terdiam, Astagfirullah'alazim, aku sangat sulit mengendalikan diriku dengan keadaan ini, ya Allah ... cobaan apa lagi ini.
"Maafkan aku Bunda, polisi sedang bergerak mencari Halimah, dari tempat kejadian sudah kami telusuri mencari bukti atau petunjuk, tenang Bunda, aku pasti menolong Bunda."
Ucapan Randi membuatku terdiam, aku tidak tahu apakah aku bisa tenang seperti yang dikatakannya, kecemasanku seperti separuh nafasku akan pergi. Aku takut terjadi hal yang buruk dengan putriku.
***
Ditempat lain
"Bunda ... Bunda ...." Halimah tersadar dari pinsannya memanggil Bundanya, tapi masih dalam kesadaran yang belum penuh. Matanya dibuka, dia melihat kesekitar, ternyata dia berada disebuah kamar asing, dengan berusaha bangkit dan duduk, Halimah memegang kepalanya yang terasa pusing.
"Dimana aku?" gumam Halimah menatap kamar ini tidak menampakkan sosok manusia.
Baju kebaya nikah masih menempel dibadan, tidak ada yang kurang didiri Halimah, dandanannya tetap cantik, hijab riasan nikah masih menutupi kepalanya.
Halimah mencoba berdiri, dengan mengumpulkan kekuatannya, dia melangkah kearah pintu.
"Buka! Buka pintunya!" Halimah berteriak memegang handle pintu saat ingin keluar, dia menyadari kalau dirinya terkurung dalam sebuah kamar asing.
Menangis, Halimah terdiam bersandar di pintu ketakutan, rasa cemas merasuki raga mengingat kenapa dia berada disini. Semprotan bius membuatnya pinsan, hingga tersadar dia sudah berada dikamar yang asing ini.
__ADS_1
Suara langkah mendekati pintu kamar, Halimah terkejut dan langsung menjauhi pintu, sepertinya orang diluar sana ingin masuk kekamar ini, dengan jantung berdetak takut, dia menunggu siapa yang akan datang.
Kreek!
Suara pintu dibuka dari luar, perlahan daun pintu semakin terbuka lebar. Alangkah terkejutnya Halimah melihat sosok lelaki yang berdiri di depan pintu, dia tersenyum menatap dalam.
"Kak Wahyu?" ucap Halimah seakan tidak percaya siapa yang dilihatnya.
"Apa kabar Halimah?" Wahyu langsung masuk ke kamar dan mengunci pintu.
"Jangan Kak, jangan mendekat!" Halimah gemetar, dia melangkah mundur saat Wahyu melangkah kearahnya.
"Sudahlah Halimah, kenapa kamu takut? Aku tidak akan menyakitimu, aku sangat mencintaimu," ucap Wahyu berusaha meyakinkan Halimah.
"Tidak, tidak Kak, aku akan menikah dengan Kak Arya, tolong lepaskan aku, aku mohon ...." Halimah memohon dengan melipat kedua telapak tangannya, tapi Wahyu seperti tidak kasihan dan hanya tersenyum sinis menatap gadis yang dicintainya.
"Arya! Arya! Arya! Aku sangat muak dengan nama itu. Kamu hanya milikku dan tetap menjadi milikku!" Wahyu memegang lengan Halimah, matanya merah marah mendengar nama Arya.
"Sakit Kak." Halimah berusaha melepaskan dari genggaman tangan Wahyu.
"Oh, maafkan aku, Halimah, maaf." Wahyu melepaskan genggamannya dengan wajah penyesalan.
Teriakan Wahyu membuat Halimah semakin ketakutan, rasanya tidak percaya lelaki yang tampak baik selama ini punya obsesi terhadapnya, bahkan apa yang dilakukannya sangat sulit diterima akal sehat.
"Apa? Ayahku pernah menolakmu, Kak Wahyu?" Halimah penasaran almarhum Ayahnya disebut dalam kemarahan.
Wahyu menatap Halimah, semakin lama wajahnya semakin dekat, Halimah gemetar ketakutan dengan linangan air mata membasahi pipi putihnya.
"Jangan menangis Sayang, aku akan membahagiakanmu, aku akan menjagamu, menikahlah denganku." Wahyu mengusap air mata Halimah yang mengalir di pipi, Halimah sangat gemetar tapi tidak bisa berbuat apa-apa.
"Ayah ... Ayah ... Mmm mm." Halimah menangis memanggil Ayahnya.
"Ayah, Ayah, Ayah! Aku muak dengannya! Kukira setelah dia mati aku bisa memilikimu Halimah, tapi aku salah! Kamu lebih memilih Arya dari pada aku! Aku benci itu, aku benci penolakanmu!" Teriakan ucapan Wahyu sangat keras di telinga, dia seperti orang depresi dengan caranya berbicara.
"Tolong lepaskan aku, Kak ..., aku mohon." Halimah masih memohon dengan suara gemetar.
"Lihat ini Halimah, ini adalah pil yang sangat mujarab, pil ini akan diminum Arya dan setelah itu dia akan menyusul Ayahmu ke alam kubur." Wahyu memperlihatkan pil terbungkus plastik kecil transparan di tangannya, terlihat di mata Wahyu ada niat jahat yang sudah direncanakannya.
"Apa? Jadi Ayahku meninggal karena minum pil itu?" tanya Halimah ingin meyakinkannya.
__ADS_1
Wahyu tersenyum dan menatap Halimah, setelah itu dia berkata, "Iya, setelah meminum ini, saraf otak akan lumpuh setelah tiga jam, nafas sesak, darah keluar disetiap pori-pori seperti yang dialami Pak Adam."
"Tidak!! Kamu pembunuh! Kamu gila!" Teriak Halimah histeris.
"Diam! Diam! Ya, aku membunuh Ayahmu, dia menolak lamaranku, aku benci padanya!" Suara Wahyu sangat lantang, tidak terlihat penyesalan dimatanya setelah membunuh Ayah Halimah.
"Ayah mmm Ayah mmmm," tangis Halimah memanggil Ayahnya.
***
Di rumah Bunda Rina
"Aku akan mencari anakku. Bu Arun, tolong jaga Rani dan Anisa, aku ingin mencari Halimah." ucapku kepada Bu Arun.
"Sabar Bu Rina, polisi sedang mencari seperti kata Nak Randi, tenangkan dirimu, Bu." Bu Arun berusaha menenangkanku, aku tidak bisa menunggu lama, aku takut terjadi sesuatu pada putriku.
"Bunda, Bunda." Tiba-tiba Arya datang, dia masih memakai kemeja putih dan jas seperti sudah siap ingin ijab kabul.
"Nak Arya, temui Halimah, temui calon istrimu," ucapku dengan badan gemetar, sulit sekali mengendalikan diriku saat ini.
"Aku janji akan menemui Halimah, tolong tenang Bunda, tenanglah," ucap Arya menggenggam tanganku, matanya memerah seakan ingin menangis, tapi dia berusaha agar air mata itu tidak menetes di pipinya.
"Aku akan berusaha semaksimal mungkin, Teman," ucap Randi menepuk pelan pundak Arya.
"Assalamu'alaikum, Bu Rina, apa yang terjadi?" Tiba-tiba Wahyu datang bertanya dia juga terkejut dengan apa yang terjadi. Aku langsung mendekati Wahyu, aku tidak tahu harus berbuat apa, aku sangat panik.
"Tolong Halimah, Wahyu. Anakku diculik, tolong temui anakku mmm." Tanganku reflek menggenggam kuat baju Wahyu, karena aku ketakutan sesuatu yang buruk akan menimpa Halimah.
"Aku pasti menolangmu, Bu. Tenanglah." Wahyu berusaha menenangkanku.
Aku melepas genggaman tanganku, tidak sengaja kancing baju Wahyu terlepas karena kuatnya genggaman ini.
"Maaf Wahyu, maaf, aku tidak sengaja."
"Tidak apa-apa, Bu. Aku sangat mengerti perasaanmu sekarang," ucap Wahyu dengan wajah terlihat tenang dan sabar.
"Bunda, ayo duduk dulu," ucap Rani menarikku duduk. Aku langsung menurut, seluruh tulangku terasa lemas dengan musibah ini.
"Tadi aku ke mesjid tempat akan dilaksanakan ijab kabul, kata Ibu Arya Halimah diculik." Wahyu berusaha menjelaskan dari mana dia tahu tentang penculikan Halimah.
__ADS_1
Bersambung ...