
“Terimaksih, Kak.” Jawab Halimah menerima jeket dari Randi.
Randi membalasnya dengan senyum menatap gadis yang dicintainya gemetar setelah apa yang dialaminya.
“Ayo aku antar pulang, Halimah.” Arya menawarkan diri.
“Tolong jaga Halimah, Teman. Aku akan mengurus dua orang penjahat ini dulu, dan setelah itu nanti pihak kepolisian akan minta keterangan sama Halimah.”
Randi melangkah meninggalkan Arya dan Halimah, dari kejauhan mobil polisi sudah membawa kedua penjahat itu.
“Dari mana Kakak tahu aku disini?” Halimah bertanya saat mereka berjalan menuju mobil Arya terparkir di luar terminal.
“Aku kebetulan lewat depan kampusmu dan melihat kamu naik angkot. Padahal Bunda bilang, Bunda yang antar jemput kamu pulang pergi kampus.”
Mereka masuk mobil, dan mobil dilaju. Halimah masih gemetar, sepertinya dia masih shock dengan apa yang dialaminya.
Dari penjelasan Arya kepada Halimah. Arya mengikuti angkot yang di tumpangi Halimah, karena ada yang menelpon, Arya kehilangan jejak, dia terus mencari hingga berhasil menemukan angkot tersebut dan bertanya.
Dalam perjalanan, Arya selalu curi pandang melirik Halimah yang terpaku melihat keluar jendela mobil. Sesekali Arya tersenyum meski mukanya sedikit perih karena lebam. Dia merasa senang melihat Halimah merasa cemas melihat tangannya berdarah dan membalutkan sapu tangan.
“Kenapa kamu sampai di terminal lama itu, Halimah?” Arya membuka percakapan.
“Bunda sms aku dan mengatakan kaki Bunda sedang terluka disana, Kak,” jawab Halimah.
“Kok aku merasa aneh, kalau Bunda sms pasti berada disana. Sebaiknya kita percepat perjalanan ini, perasaanku tidak enak.”
Arya menancap gas, mobil dilaju lebih cepat. Sangat terlihat sekali Halimah dan Arya mencemaskan Bunda.
Sampai di depan rumah, Arya secepatnya memakir mobil, dan mereka sangat terburu-buru keluar dari mobil.
“Assalamu’alaikum Bunda. Kok pintu terkunci, Kak?” Halimah berusaha membuka pintu.
“Mungkin Bunda tidak di rumah,” jawab Arya.
“Tidak mungkin, motor Bunda ada disini.” Halimah menunjuk ke motor Bunda yang di parkir di teras,
“Ayo lewat pintu belakang, Kak.”
Halimah mengajak Arya lewat samping menuju pintu belakang, disana mereka mendapati pintu belakang terbuka lebar.
“Tidak biasanya Bunda begini, Kak.”
“Tunggu Halimah, biar aku masuk duluan, perasaanku tidak enak.” Arya menyuruh Halimah melangkah di belakangnya.
Mereka masuk kerumah dengan pelan-pelan dan melihat kesekitar, sepi.
“Kak, mungkin dikamar Bunda,” kata Halimah dengan raut wajah cemas.
Mereka masuk ke kamar tapi Bundanya tidak ditemukan.
“Dimana Bundaku, Kak?” Halimah menangis.
“Kita perikas seluruh rumah ini dulu, jangan cemas, aku ada disini, Halimah.” Arya berusaha menenangkan Halimah.
Mereka menuju ke ruang tamu, sampai di ruang tamu, mereka sangat terkajut melihat Bunda pinsan di lantai.
“Bunda! Bunda!” Halimah menjerit menagis melihat Bundanya.
Mereka mengangkat tubuh Bunda dan membaringkannya di kursi panjang tamu.
“Buka pintu, biar udara masuk, kalau bisa pangil Bu Arun.”
__ADS_1
Halimah langsung melaksanakan kata-kata Arya, setelah pintu utama dibuka, Halimah menuju rumah Bu Arun di sebelah.
Tidak beberapa lama kemudian, Bu Arun dan suaminya datang kerumah.
“Apa yang terjadi dengan Bu Rina, Halimah?” Bu Arun bertanya dan duduk disamping Bundanya.
“Aku tidak tahu, Bu.” Halimah menjawab dengan linangan air mata.
“Bunda, Bunda,” Halimah memanggilku.
Aku membuka mataku, aku melihat ada Halimah-Arya-Bu Arun dan Pak Arun.
“Halimah.” Aku memanggil putriku dengan memegang kepalaku yang terasa pusing. Aku bangkit dan duduk.
“Bunda kenapa pinsan?” Arya menatapku bertanya.
“Ada penyusup dan membiusku.” Aku menjawab dengan kepala yang masih pusing.
“Penyusup?”
Mereka sangat terkejut mendengar perkataanku, aku menceritakan apa yang aku alami. Halimah juga menceritakan apa yang dialaminya hari ini.
“Astagfirullah’alazim … mungkin ini maksud penjahat itu membiusku. Alhamdulillah kamu selamat, Nak.” Aku langsung memeluk putriku, mulutku tak henti-hentinya mengucap syukur kepada Allah.
“Terimakasih Nak Arya.”
Arya menganggukan kepalanya mendengar ucapanku.
“Halimah, adik-adikmu mana?” Aku baru menyadari Anisa dan Rani tidak di rumah.
“Astagfirullah’alazim, tadi mereka bilang menunggu di masjid dekat sekolah.” Halimah juga terkejut dan panik.
Kami mencari ponselku, tapi tidak di temukan.
“Aku takut orang-orang itu juga melakukan kejahatan sama Anisa dan Rani, Ya Allah … lindungi putriku.” Dengan perasaan termat cemas aku terus mengucap.
“Jangan cemas Bunda, pelakunya sudah tertangkap.” Arya berusaha menenangkanku.
Halimah langsung menghubungi adik-adiknya menggunakan ponselnya, setelah menjawab, aku merasa lega, ternyata Anisa dan Rani sudah di mobil Wahyu menuju kerumah. Kenapa Anisa dan Rani bisa di mobil Wahyu? Aku tidak mengerti, sebaiknya aku tanyakan nanti kalau mereka sudah sampai di rumah.
Halimah masuk kekamar mengganti baju dan hijabnya. Aku-Arya, Bu Arun dan suaminya masih duduk di ruang tamu. Aku melihat dekat bibir Arya sedikit lebam dan berdarah.
“Nak Arya, sekali lagi terima kasih, aku tidak tahu bagaimana nasib Halimah kalau Nak Arya tidak datang.” Aku melihatnya menahan perih luka di wajahnya.
“Sama-sama Bunda, aku senang Halimah baik-baik saja. Sepertinya kita akan menunggu berita dari Randi siapa dibalik ini semua.”
“Bu Rina, sebaiknya Ibu cepat menikahkan Halimah agar ada yang menjaganya.”
Kata-kata Bu Arun benar juga, aku akan lebih tenang kalau Halimah ada yang menjaga, tapi untuk sekarang siapa pemuda yang akan dipilih Halimah? Dia belum memutuskan dan yang jelas dia sudah menolak lewat aku lelaki yang menolongnya hari ini.
Arya hanya diam mendengar perkataan Bu Arun, sangat terlihat di raut mukanya dia sangat ingin menjadikan Halimah istrinya. Aku juga tidak keberatan, tapi Halimah merasa tidak enak atau kasihan kepada Monik dan inilah alasan yang bisa aku baca.
“Aku akan membicarakan sama Halimah masalah ini, Bu Arun. Aku juga sependapat dengan Ibu.”
Dari ruang tamu, kami melihat mobil masuk dan parkir di halaman rumahku, Wahyu dan dua lagi puriku keluar dari mobil itu.
“Assalamu’alaikum.” Wahyu mengucapkan salam di pintu, begitu juga Anisa dan Rani.
“Wa’alaikumsalam, ayo masuk Wahyu.”
Wahyu duduk disamping Arya, sejenak mereka saling bertegur sapa.
__ADS_1
“Bunda, kenapa tidak jemput kami?” Anisa duduk disampingku bertanya.
Aku menceritakan apa yang aku alami barusan, mendengar penjelasanku, Anisa-Rani dan Wahyu terkejut.
“Bagaimana keadaan Halimah sekarang, Bu Rina?” Wahyu bertanya dan membuat Arya menatapnya dengan penuh arti.
“Alhamdulillah baik, untung ada Nak Arya yang menolong, Wahyu.”
Mendengar jawabanku membuat Wahyu terpana, sepertinya dia cemburu, sebenarnya aku tidak bermaksud membuatnya begitu, tapi aku hanya berkata jujur dan apa adanya.
“Sekarang kalian ganti baju, Nak.” Aku berkata kepada Anisa dan Rani. Mereka menganggukan kepala dan masuk kekamar.
“Oh ya, aku hampir lupa, kenapa Anisa dan Rani bisa bersama Wahyu?”
“Tadi aku sholat dekat masjid sekolah mereka, sebenarnya aku sudah telat sholat zuhur dan orang-orang sepi di masjid. Disitulah aku bertemu mereka dan sudah hampir sore tapi belum juga pulang, makanya aku putuskan mengantar, Bu Rina.”
Aku lega mendengar penjelasan Wahyu, sepertinya dia juga perhatian dengan adik-adik Halimah. Kepada siapa Halimah akan memutuskan pilihannya?
Setelah mendapatiku baik-baik saja, Bu Arun dan suaminya meniggalkan rumahku.
Halimah datang membawakan teh hangat dan meletakkannya di atas meja tamu. Wahyu terpana melihat Halimah yang sama sekali tidak menatapnya, sedangkan Arya menatap Wahyu terpana melihat Halimah.
“Silahkan minum, Kak Arya, Kak Wahyu.” Kali ini putriku bersuara, biasanya dia hanya meletakkan minum dan menundukkan kepala serta berlalu ke dapur.
“Kak Arya, ini untuk mengobati luka di wajah Kakak.” Halimah menyodorkan kotak P3K .
“Terima kasih, Halimah.” Arya menerimanya dan mengobati sendiri luka di wajahnya.
Halimah ikut duduk disampingku, meski tidak menatap kedua pemuda di depannya, sepertinya dia mulai membuka diri berkomunikasi dengan lelaki, mungkin mereka sudah berbuat baik pada keluarga kami.
“Bunda, ponsel Bunda berdering.” Rani menghampiriku.
“Dimana kamu dapat, Nak?” aku bertanya karena tadi tidak menemukannya.
“Di meja kamar Kak Halimah,” jawab Rani.
Dari layar ponsel, itu panggilan dari Randi, aku segera menjawabnya.
Aku sangat terkejut medengar penjelasan Randi di ponsel, aku sangat tidak menyangka, orang yang ada dibalik semua ini adalah orang yang aku kenal, Astagfirullah’alazimm ….
“Bunda, ada apa?” Halimah menatapku yang terpaku.
“Kamu diminta memberi keterangan ke kantor polisi, Nak.” Jawabku dan menggenggam tangan putriku.
“Apa kata Randi, Bunda? Siapa dibalik semua ini?” kata Arya.
Mereka bertiga menatapku menunggu jawaban dari mulutku.
“Assalamu’alaikum.”
Belum sempat aku menjawab, Monik datang dengan linangan air mata.
“Wa’alaikumsalam, Monik?” Halimah menghampiri Monik.
“Halimah, tolong maafkan ibuku.” Monik menangis memohon.
Mendengar perkataan Monik, kami yang ada di ruang tamu terpana melihatnya. Apa maksud dari perkataan maaf Monik?
Bersambung …
__ADS_1