
Saat aku ingin melemparkan batu kekepala teman Pak Slamet, aksiku terhenti medengar suara Randi.
“Jangan Bunda! Jangan!”
Aku melihat Randi dan beberapa polisi datang, pak Slamet langsung ditangkap, sementara itu Randi dengan mudah menangkap teman Pak Slamet dan membawanya ke kantor polisi. Batu ditanganku diambil Randi dan dibuang keluar, aku langsung memeluk kedua putriku dengan penuh haru, aku bersyukur Allah masih mendengar do’aku, Alhamdulillah.
“Bunda, aku takut mmm,” Anisa menangis.
“Jangan cemas, semuanya sudah berakir, Nak.” Aku berusaha menenangkan hati putriku.
Sedikit lagi aku terlambat datang, entah apa yang terjadi dengan Anisa dan Rani. Seharusnya aku tidak mengizinkan mereka keluar, semua salahku, dan aku harus lebih berhati-hati untuk kedepannya.
“Bunda, ayo ke kantor polisi memberi keterangan.”
Aku menganggukan kepala mendengar ajakan Randi, dan kami ikut kekantor polisi.
***
“Kamu tidak apa-apa, Dek?” Halimah langsung memeluk Anisa dan Rani saat kami sudah sampai dirumah.
Sangat terlihat kecemasan di wajah Halimah melihat kedua adiknya, sementara itu dirumahku masih ada Monik dan Bu Lili, serta Wahyu. Mereka duduk di warungku.
Aku diantar Randi pulang, sedangkan motor Bu Lili diantar teman Randi saat kami kekantor polisi tadi.
“Terimakasih motornya Bu Lili.” Aku duduk disamping Bu Lili.
“Sama-sama Bu, aku bersyukur Anisa dan Rani selamat,” ucap Bu Lili.
“Eh, Wahyu.” Aku menyapa Wahyu yang duduk di bangku lain.
“Maaf Bu Rina, aku datang tidak tepat waktu, aku hanya mau memberikan ini.” Wahyu menyodorkan sebuah map biru.
“Apa ini Wahyu?” aku bertanya sambil menerima map itu.
“Itu surat-surat syarat klaim jamsostek yang kurang, jadi Bu Rina tidak usah bolak balik kekantor, langsung ke Jamsostek saja, jangan lupa lengkapi syarat yang lain, Bu.”
“Alhamdulillah, terimakasih Wahyu. Aku belum sempat ke kantor.”
“Aku mengerti kok, Bu. Makanya aku permudah urusan ini.”
Wahyu sangat perhatian, kadang aku merasa tidak enak, tanpa aku minta tolong dia sudah menolong terlebih dahulu, mudah-mudahan dia melakukan dengan iklas tanpa maksud hati ke Halimah.
“Kami permisi dulu, Bu Rina.”
Bu Lili dan Monik meninggalkan rumahku. Anisa dan Rani masuk kerumah, sedangkan di warung cuma Wahyu, Randi, aku dan Halimah. Halimah membuatkan teh hangat untuk mereka, sesekali Randi dan Wahyu mencuri pandang melihat Halimah, sepertinya mereka tidak bisa menyembunyikan ketertarikan mereka kepada putriku, sementara itu Halimah hanya bersikap biasa.
“Silahkan diminum, Kak Wahyu, Kak Randi.” Halimah meletakkan teh di meja.
“Terimakasih Halimah.” Jawab Wahyu dan Randi. Halimah menjawab menganggukan kepala tanpa menatap mereka berdua.
“Bunda, kalau boleh aku saran, sebaiknya kalau tidak penting sekali, jangan biarakan putri-putri Bunda keluar rumah, tapi kalau ada keperluan penting harus ditemanin,” ucap Randi.
“Aku setuju dengan Randi, Bu. Sebaiknya cari orang yang bisa dipercaya menemani mereka kalau ada keperluan penting keluar rumah.” Sambung Wahyu.
__ADS_1
“Iya, aku juga berfikir begitu Nak Randi, Wahyu. Salahku juga membiarkan mereka keluar, aku betul-betul menyesal.”
“Bunda kalau perlu bantuan, jangan lupa hubungi aku,” kata Randi.
“Iya Nak Randi,” jawabku.
Kenapa begitu banyak kejadian yang hampir memperkosa putri-putriku, dan semua ini disaat suamiku sudah meninggal, apakah karena aku hanya seorang wanita membesarkan tiga putri membuat orang-orang meremehkanku? Sangat berat, tapi aku yakin semua ini teguran Allah kepadaku, atau ujian dari Allah swt.
***
Sore ini aku secepatnya menutup warung, badanku sangat lelah dan kurang tidur, mungkin dengan istirahan sejenak fikiranku bisa segar.
“Halimah, tutup dan kunci pintu, Bunda mau istirahat sebentar.” Aku langsung masuk ke kamar.
“Iya Bunda.”Jawab Halimah dan langsung mengerjakan perintahku.
Aku membaringkan tubuhku di kasur, belum sempat aku terlelap, aku mendengar suara ketokan dari luar, sepertinya aku kedatangan tamu lagi.
Tok! Tok! Tok!
Aku langsung bangkit dan duduk, dengan mengumpulkan tenaga aku berusaha berdiri.
“Bunda, biar aku yang buka,” sahut Halimah dari pintu kamar.
Kulihat masih jam lima sore, aku langsung ke ruang tamu melihat siapa yang datang.
Sampai di ruang tamu, aku melihat Haris adik suamiku bersama istrinya Linda duduk.
Kami bersalaman, di meja aku lihat ada pisang dan dan singkong terbungkus kantong kresek, sepertinya mereka membawa buah tangan kesini.
“Mbak, aku kesini ingin menyampaikan sesuatu.” Haris memulai percakapan.
“Apa Ris?” aku penasaran.
Sejenak mereka saling berpandangan, sepertinya Haris meminta Linda untuk berbicara.
“Aku langsung saja ya, Mbak. Begini, kami mau mencarikan Halimah jodoh, dia orang kaya di kampung, walaupun duda tapi bisa membantu adik-adik Halimah melanjutkan kuliah nanti.”
Perkataan Linda tidak enak di telingaku, bagaimana mungkin dia mencarikan jodoh seperti itu? Bukan aku bermaksud meremehkan, tapi aku mau lelaki yang mendampingi Halimah lelaki yang baik, sedangkan yang mereka carikan, sama sekali belum belum aku kenal.
“Ris, Linda. Terimaksih, tapi sepertinya aku sudah mendapatkan jodoh untuk Halimah.” Aku berusaha menejelaskan supaya mereka tidak tersinggung.
“Siapa Mbak?” tanya Linda.
“Nanti kalau susah pasti akan aku beritahu.”
“Owalah Mbak, belum pasti saja sudah memutuskan, sebaiknya lihat dulu lelaki yang kami jodohkan ini,”
Sepertinya Linda sedikit memaksa, aku membuang nafas besar berusaha menolak dengan baik.
“Tidak usah Linda, terimakasih.”
Jawabanku membuat mimik wajah mereka kurang senang, kenapa mereka sedikit memaksa? Aku sudah bingung dengan tiga pemuda yang melamar Halimah, aku tidak mau pusing lagi dengan lelaki yang mereka jodohkan.
__ADS_1
“Mbak, aku mau minta tolong!” nada suara Haris sedikit keras.
“Apa Ris?” aku masih berusaha ramah dengan menekan suaraku.
“Aku punya hutang banyak sama Juragan Pono, dia minta aku carikan istri perawan.”
Aku terpana mendengar perkataan Haris, apakah Juragan Pono lelaki yang dijodohkan dengan Halimah?
“Maksudnya?” aku menatap mereka bertanya.
“Kalau Halimah menikah dengan Juragan Pono, hutang kami akan lunas. Tolonglah Mbak, rumah sawah ladang kami sudah tergadai, usaha rumah makan kami juga mulai sepi, kami harus membayar kredit mobil dan dua rumah lainnya, kalau tidak kami tinggal dimana?” Linda memasang muka meiba.
Astagfirullah’alazimm, ada apa dengan mereka, kenapa Halimah yang harus membayar hutang mereka?
“Kalau alasannya untuk membayar hutang, maaf, aku tidak setuju, tidak perlu perkenalan ataupun membahas tentang perjodohan ini, anakku bukan barang dagangan!” aku sedikit emosi.
“Hey Mbak, kami mau minta tolong, lagian dia lelaki kaya yang bisa menghujani Halimah dengan uang!” suara Linda cukup lantang.
“Aku sudah menjelaskannya, tolong jangan bahas ini lagi.” Aku berusaha menahan emosi.
“Kalau Mas Adam masih hidup, kami pasti akan dibantunya.”
Kata-kata Haris semakin mebuatku muak, bagaimana mungkin dia membawa almarhum suamiku dengan masalah hutang mereka.
Halimah datang membawa teh dan meletakanya di meja tamu.
“Halimah, bilang Bundamu agar menerima perjodohan ini, aku juga tidak mencarikan lelaki miskin untukmu.”
Halimah terpana mendengar perkataan Linda, dan setelah itu dia menatapku dan duduk disampingku.
“Maaf Om, Tante, apa perkataan Bunda itu juga jawabanku,” ucap Halimah pelan.
“Ternyata kamu sok juga, ya.”
Setelah Linda berkata, dia dan suaminya melangkah meninggalkan rumahku dengan wajah kurang senang, aku dan Halimah hanya bisa beristigfar melihat kelakuan mereka.
“Bunda, jangan sedih, ini aku bawakan kopi dan goreng pisang.” Anisa tersenyum.
“Terimakasih, nak. Kamu tahu saja kalau bunda sedang panik.”
Aku langsung minum kopi dan makan goreng pisang yang disajikan Anisa, dia sudah tersenyum lagi, sementara itu Halimah membawa cangkir teh yang disajikan untuk Haris dan Linda tadi ke dapur.
“Asalamu’alaikum.”
Aku dan Anisa terdiam sejenak melihat seorang lelaki berdiri di pintu mengucapkan salam, pintu belum ditutup setelah Haris dan Linda pergi tadi, tapi yang lebih membuatku terkejut, dibelakang lelaki itu ada Haris dan Linda.
“Wa’alaikumsakam,” jawabku langsung berdiri terpana meliahat tato hampir memenuhi tangan lelaki itu. Sementara itu Linda dan Haris tersenyum kecil berdiri.
“Ada apa lagi, Ris?” entah kenapa aku langsung bertanya.
Tidak lama kemudian, ketiga putriku berdiri dibelakangku, lelaki itu langsung tersenyum terpesona terpana melihat putri-putriku.
Bersambung …
__ADS_1