SEUMUR HIDUP DIBALIK JERUJI PENJARA

SEUMUR HIDUP DIBALIK JERUJI PENJARA
episode 19


__ADS_3

Sertifikat rumahku hilang, isi lemari berantakan, apakah ini ulang Linda dan Haris? Kalau iya, kenapa mereka tega sekali denganku. Wajar aku menolak Pono, setiap ibu pasti menginginkan yang terbaik untuk putri-putrinya, Astagfirullah’alazimm, aku hanya mengurut dada berusaha sabar.


“Bunda, ini pasti ulah Tante Linda, hanya mereka yang kesini hari ini,” ucap Halimah.


“Nak, kenapa kamu membolehkan mereka masuk.”


“Bunda, aku kasihan melihat Om Haris pinsan di teras, dan Tante Linda menangis minta bantuan.”


Aku menegrti maksud Halimah, dia tidak salah, jika melihat orang dalam keadaan kesulitan, wajar kalau kita membantu, tapi yang dibantu bermaksud tidak baik.


“Ambilin ponsel Bunda.”


Halimah langsung mengambil ponselku di atas meja, aku langsung mencari nomor Haris dan menghubunginya.


Tit tit tit …, ponselnya tidak aktif aku mencoba mencari nomor Linda dan menghubunginya, tit tit tit …, nomor mereka sama-sama tidak aktif, apa yang harus aku lakukan?


“Assalamu’alaikum.”


Ada yang mengucapkan salam diluar, dari suaranya itu adalah Randi, syukurlah dia datang tepat waktu, agar aku bisa memberitahu kejahatan ini.


“Bunda, sepertinya itu Kak Randi.” Kata Halimah, dan kami langsung melangkah keluar.


“Wa’alaikumsalam, Nak Randi. Tolong kami Randi, ada yang mencuri sertifikat rumah kami.” Aku sudah tidak sabaran ingin memberitahu.


“Pencurian sertifikat?” Randi terkejut.


Aku membawa Randi masuk kekamarku dan melihat semua lemari yang berantakan, tidak lama kemudian Randi menelpon teman sesama polisi agar datang melihat lokasi kejadian.


“Bunda jangan khuatir, aku akan menyelesaikan kasus ini.” Ucapan Randi membuatku sedikit tenang, disaat seperti ini aku tidak tahu harus bagaimana.


“Randi, sebenarnya tadi ada yang datang.” Randi terpana mendengar ucapanku.


Aku menceritakan kejadian tentang Haris dan Linda yang tiba-tiba datang pagi ini, tidak lupa aku juga menceritakan kelakuan Halimah saat tidak menyadari kedatanganku, sangat aneh jika Halimah tidak meliaht mereka masuk ke kamar.


“Ini kejahatan dengan cara menghipnotis, Bunda. Aku sering melihat kasus ini, tapi … kenapa mereka berbuat jahat kepada Bunda, bukankah mereka adik ipar Bunda?”


“Mereka mencarikan Halimah jodoh untuk menutup hutang mereka.”


Aku juga menceritakan kedatangan mereka dan Pono kemarin.


“Jadi ini karena penolakan lamaran lelaki bernama Pono, Bunda?” Randi menegaskan perkataanya, aku menjawab dengan menganggukan kepala.


Polisi meminta alamat Linda dan Haris di kampung. Aku memberikannya agar mereka tertangkap dan mengembalikan sertifikat rumahku, hanya itu satu-satunya peninggalan suami dan tempat aku dan putri-putriku berteduh.


“Berapa polisi akan diarahkan kesana, Bunda jangan khuatir, dia pasti tertangakap.”


Setelah mengambil beberpa foto dan rekaman keteranganku, polisi teman Randi meninggalkan rumah, sementara itu Randi tetap duduk diruang tamu. Halimah membuat minuman di dapur.


“Bunda, maaf aku berkata tidak diwaktu yang tepat, tapi ….” Sepertinya Randi kesulitan melanjutkan kata-katanya.

__ADS_1


“Maksud Nak Randi?” aku penasaran.


“Sebaiknya cepat Bunda nikahkan Halimah.”


Dia benar, aku memang berniat seperti itu, tapi aku juga harus mengetahui siapa pilihan Halimah, baru tadi malam aku menayakan, sekarang sudah dua pemuda meminta keputusan Halimah meskipun Arya sudah berulang kali menanyakan lamarannya juga.


“Nak Randi, maaf sebelumnya, aku harus jujur tentang Halimah, sebenarnya selain Nak Randi, ada dua lelaki lagi yang melamar Halimah.”


Randi terkejut mendengar perkataanku, dia terdiam sejenak berfikir, entah apa yang ada dalam fikirannya, lagi-lagi aku hanya berusaha jujur seperti yang aku lakukan kepada Wahyu kemarin.


“Apakah Halimah sudah menentukan pilihan Bunda?” Randi bertanya lagi.


“Belum, aku sudah menyuruhnya berfikir. Nak Randi, kalau seandainya Halimah memilih lelaki lain, tolong hubungan silaturrahmi kita jangan terputus, aku harap Nak Randi mengerti.”


“Aku mengerti Bunda, aku menyukai anak Bunda, tapi kalau dia bahagia dengan pilihannya tapi bukan aku, aku ikhlas asalkan Halimah bahagia.”


Hatiku tenang mendengar jawaban Randi, sangat terlihat ketulusan di matanya agar putriku bahagia, Randi pemuda yang baik, apakah anakku akan memilihnya?


“Silahkan minum, Kak.” Halimah meletakkan teh hangat di meja.


“Terimaksih Halimah.” Jawab Randi menatap Halimah.


Setelah itu Halimah ikut duduk disampingku, aku melihat Halimah sama sekali tidak membalas tatapan Randi, hal yang sama juga dilakukannya dengan Wahyu dan Arya, itulah yang membuatku sulit membaca hati putriku.


“Halimah, sepertinya kamu di hipnotis, itulah kenapa kamu tidak menyadari apa yang terjadi saat itu.” Randi mencoba berbicara dengan Halimah.


“Tapi, biasanya orang yang kena hipnotis dalam keadaan fikiran kosong, atau fikiran sedang kalut.” Sambung Randi lagi.


Halimah hanya diam mendengar penjelasan Randi. Randi benar, aku juga pernah mendengar itu dari Bu Arun. Apakah Halimah memikirkan tentang pemuda yang akan dipilihnya? Atau dia memikirkan takut berpisah dariku kalau menikah kelak? Atau lagi dia memikirkan kasus foto seksinya yang belum terungkap? Kasihan kamu Nak, semoga Allah menjagamu dan kehormatanmu.


Tidak lama kemudian, Arya juga datang, dia mengucapkan salam di pintu.


“Asalamu’alaikum.”


“Wa’alaikumsalam, Nak Arya. Ayo masuk.”


Setelah aku menjawab salam, Arya dipersilahkan ikut gabung duduk dengan kami, tapi yang membuat mataku terpana, aku melihat Halimah melirik Arya masuk, biasanya tidak pernah aku lihat dia seperti ini dengan lelaki manapun, apakah Arya pilihan Halimah? Aku masih belum yakin sebelum mendengarnya langsung dari putriku ini.


“Ternyata ada kamu disini, Teman.” Arya menyapa Randi.


“Iya, ada yang mencuri sertifikat rumah Bunda.” Jawab Randi yang membuat Arya terkejut.


Aku dan Randi menceritakan yang terjadi, termasuk niat Haris dan istrinya menjodohkan Halimah dengan Pono. Arya terdiam dan menatap Halimah, sepertinya dia khuatir dengan putriku.


 “Mudah-mudahan kasus ini cepat selesai, tolong bantu Bunda, Teman.” Ucap arya ke Randi.


“Pasti aku bantu, Teman,” jawab Randi menepuk pundak Arya.


Randi meminta izin balik kerja, sementara itu Arya tetap duduk di ruang tamu denganku, Halimah balik lagi ke belakang membuatkan minuman untuk Arya.

__ADS_1


“Bunda, ternyata sainganku banyak juga,” kata Arya.


“Nak Arya, aku juga ingin menyampaikan sesuatu, aku hanya berharap apa yang aku sampaikan mendapatkan pengertian dari Nak Arya.” Aku juga ingin menjelaskan hal yang sama seperti aku jelaskan kepada Wahyu dan Arya.


“Ada apa Bunda?” Arya bertanya.


“Sekarang ini, selain Nak Arya, ada dua lelaki lagi yang melamar Halimah.”


Arya terkejut mendengar pejelasanku, dia terdiam sejenak berfikir, reaksi ini juga aku lihat pada Wahyu dan Randi.


“Apakah Bunda sudah memutuskan dengan siapa Halimah menikah?”


“Belum, karena Halimah belum memberikan jawaban dari pilihannya.”


Tidak lama kemudian Halimah datang membawa minuman dan meletakkan di meja.


“Silahkan minum, Kak Arya.” Kata Halimah kepada Arya.


“Terimaksih, Halimah.” Jawab Arya menatap putriku.


Halimah langsung bangkit dan berlalu dari ruang tamu, Arya hanya menatap gadis yang disukainya dengan tatapan cinta.


“Aku kesini bertujuan untuk meminta jawaban lamaranku, Bunda. Tapi setelah Bunda memberitahuku, aku bisa mengerti kenapa Bunda tampak bingung menjawab, aku akan menunggu keputusan Halimah, kalau Halimah bahagia dengan tidak memilihku, aku ikhlas, Bunda.”


Mendengar jawaban Arya, hatiku lebih tenang, langkahku selanjutnya mendengar keputusan putriku, siapa yang akan dipilihnya agar aku segera menikahkan secepatnya.


Setelah Arya meninggalkan rumahku, aku memanggil Halimah duduk di ruang tengah, aku ingin membicarakan tentang lamaran tiga pemuda itu, siapa yang akan menjadi pilihannya.


“Halimah, ketiga lelaki yang melamarmu meminta keputusan. Siapa yang kamu pilih Nak?”


Halimah terdiam menundukkan kepala, dia sama sekali tidak menatapku.


“Jawablah Nak. Agar hati Bunda tenang setelah ada yang menjagamu.” Aku sedikit mendesak Halimah.


Mendengarku, Halimah langsung menatap dan berkata, “Siapa pilihan dihati Bunda untukku?”.


Dia balik bertanya, kenapa serumit ini mendapatkan jawaban putriku, apa yang ada dalam fikirannya sekarang?


“Pilihanmu adalah pilihan Bunda, Nak.”


Halimah terdiam, dia menggenggam tangaku tapi tetap menundukkan kepala tidak menatap mataku.


“Bunda, apakah Kak Arya pilihan yang salah?”


Aku tersenyum medengar perkataan putriku, caranya mengungkapakan pilihan dengan bertanya, Alhamdulillah, Arya adalah pilihan Halimah.


Bersambung …


   

__ADS_1


__ADS_2