SEUMUR HIDUP DIBALIK JERUJI PENJARA

SEUMUR HIDUP DIBALIK JERUJI PENJARA
episode 5


__ADS_3

Aku terkejut mendengar perkataan Pak Slamet, semua di luar akal sehatku, bagaimana mungkin aku mengizinkan anakku yang masih duduk di kelas 3 SMA menikah dengan lelaki yang cocok dipanggilnya kakek, Astagfirullah'alazim.


"Maaf, Pak Slamet. Rani masih sekolah dan belum cukup umur untuk menikah." Hanya itu kata-kata yang bisa kuucapkan, aku berharap dia secepatnya meninggalkan warungku.


"Bu Rina, tolong fikirkan dulu, bukannya ibu sendirian membesarkan tiga orang anak, aku punya banyak tanah warisan, kamu tidak perlu repot mencari nafkah, aku akan memenuhi semua kebutuhanmu dan anak-anakmu yang lain, asalkan Rani menjadi istriku."


Dia masih kukuh ingin menikahi putriku, aku bingung harus menjawab apa lagi, meskipun uang yang diberikannya banyak, aku tetap tidak menyetujuinya.


"Sekali lagi saya minta maaf, Pak Slamet."


Pak Slamet meninggalkan warungku, dia kelihatan marah, semua barang bawaannya diambil kembali dan berlalu.


Hari semakin siang, matahari semakin menunjukkan panasnya, aku harus menunggu Halimah dulu pulang kuliah supaya aku bisa mengurus pencairan Jamsostek di kantor suamiku, aku juga ingin menyumbangkan sedikit uang yang aku dapat agar suamiku lebih tenang di sisi Allah SWT.


"Assalamu'alaikum, Bunda."


Rani dan Anisa pulang sekolah, mereka menghampiriku di warung dan menyalamiku.


"Ganti baju kalian dan makan, Bunda sudah masakin goreng lele."

__ADS_1


"Wah, enak, nih, aku suka Bunda." Anisa tersenyum menanggapi perkataanku dan berlalu masuk ke rumah.


"Bunda, tadi pulang mau memasuki gang, aku ketemu Pak Slamet, dia memberiku uang." Anisa berkata yang membuatku terkejut.


"Apa? Kamu terima uang pemberianya, Nak?"


"Tidak, Bun. Bukannya Bunda mengajariku agar tidak mudah menerima pemberian orang, apalagi dari lelaki yang bukan saudara."


Aku memeluk Rani, aku sangat bersyukur dia mendengarkan ajaranku, anak-anakku adalah anak-anak yang patuh.


Sudah jam dua, tapi Halimah belum juga pulang kuliah, tadi pagi katanya cepat pulang. Rasa cemasku menghantui hatiku sebagai seorang ibu, tidak biasanya Halimah pulang telat, dia bukan tipe anak yang suka nongkrong atau kumpul hanya untuk bergaul.


"Rani, Anisa, kunci rumah, jangan terima tamu atau membukakan pintu, Bunda ingin mencari kakakmu."


Itulah pesanku kepada kedua putriku yang berada di rumah, aku juga mencemaskan Rani atas kedatangan Pak Slamet tadi.


Dengan hati tak tenang aku melaju motor menuju kampus Halimah, disetiap perjalanan, aku juga melihat kesekitar kalau seandainya berselisih jalan dengan Halimah, tapi, semuanya nihil, aku tidak menemukan Halimah, kemana kamu nak?, Ya Allah ... tolong lindungi putriku.


Aku sudah sampai di gerbang kampus Halimah, dengan bertanya dan minta izin ke security kampus, aku memasuki kampus.

__ADS_1


"Permisi, Nak. Apakah melihat putriku ini?" Aku bertanya kepada beberapa mahasiswa dan memperlihatkan foto Halimah diponselku.


Mereka menjawab dengan menggelengkan kepala, aku terus melangkah menuju setiap sudut kampus, tapi tetap tidak aku temui, air mata kecemasan keluar membasahi pipiku, aku sangat takut terjadi sesuatu pada putriku.


Aku hanya bisa duduk disudut dinding kampus ini, dengan tangis yang tak terbendung, aku tidak peduli jika beberapa mahasiswa mahasiswi menatapku prihatin.


"Bagaimana, Bu?. Apakah putri Ibu sudah ditemukan?" Security kampus menghampiriku.


"Belum, Pak." Aku menjawab dengan tangis yang teramat cemas.


Tiba-tiba ponselku berdering, aku melihat ada panggilan dari Anisa, dan segera aku jawab.


"Assalamu'alaikum, Anisa." Aku berbicara di ponsel.


"Bunda! Bunda! Aku takut! Kak Rani duduk didepan kaca menyisir rambut sambil memanggil Pak Slamet dan senyum-senyum sendiri." Suara Anisa terdengar panik di ponsel.


Ya Allah, ada apa lagi ini, aku belum menemukan Halimah, dan sekarang Rani berprilaku tidak wajar di rumah. Astagfirullah'alazim, Allahuakbar ...


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2