SEUMUR HIDUP DIBALIK JERUJI PENJARA

SEUMUR HIDUP DIBALIK JERUJI PENJARA
episode 8


__ADS_3

Bu Lili terdiam sejenak melihat kedatangan Pak Slamet dengan rombongannya. Aku hanya menatap dengan mengucap di hati. Apa lagi yang akan terjadi.


“Selamat pagi, Bu Rina.”


Dengan percaya diri, Pak Slamet menghampiriku. Mendengar ada musik, warga tetangga melihat kearah rumahku, kali ini aku menjadi tontonan beberapa warga komplek, sungguh memalukan.


“Ada apa ini Pak Slamet?” aku bertanya meski sudah tahu kedatangannya.


“Aku kesini ingin melamar Rani.”


Mendengar perkataan Pak Slamet, Bu Lili tersenyum sinis, terlihat dari wajahnya dia seperti mencemooh aku.


“Pak, aku sudah bilang, Rani masih sekolah.” 


“Bu Rina, kalau Rani ingin tetap sekolah dan kuliah, aku tidak mempermasalahkannya setelah menikah nanti.”


“Maaf Pak, maaf sekali, aku belum berniat menikahkan Rani, umurnya belum matang menjalani rumah tangga.”


Arya dan Randi juga ikut keluar, mereka berdiri di belakangku. Monik yang melihat kehadiran Arya, hanya menatap yang tidak aku mengerti arti tatapannya.


“Ada kamu disini Arya?” Bu Lili menyapa Arya.


“Iya Tante, ada apa ini Tante?” Arya menanggapi perkataan Bu Lili.


“Jadi tidak salah ya, kamu memutuskan pertunangan ini karena selingkuh dengan Halimah, dan kamu Bu Rina, kamu seperti orang alim, tapi mendukung putrimu merebut tunangan Monik.”


“Ma, ayo kita pulang.” Monik menarik tangan Bu Lili agar meninggalkan rumahku, tapi Bu Lili sama sekali menahan diri agar tetap berdiri.


“Tunggu Bu Lili, tolong jangan ribut di acara lamaranku, bagainamapun juga Bu Rina calon mertuaku.” Pak Slamet berkata yang membuat bu Lili tersenyum sinis.


“Oh, jadi pak Slamet calon mantunya Bu Rina? Syukurlah kalau begitu, agar tidak ada calon penggoda tunangan orang lain lagi.”


“Cukup Bu Lili, anakku tidak menggoda tunangan anakmu!” Aku bersuara lantang, sangat susah bagiku menahan emosi mendengar dia merendahkan anakku.


“Kalau bukan menggoda lalu apa? Buktinya Arya berada di rumahmu!” Bu Lili juga bersura tinggi.


“Maaf Tante, Halimah sama sekali tidak menggodaku, aku yang mendekatinya.”

__ADS_1


Kata-kata Arya membuat semua orang terdiam, beberapa warga yang menyaksikan berbisik-bisik seperti melihat sebuah tontonan sinetron.


“Cukup Ma! Ayo kita pulang!” Monik menangis, dan dia berlari meninggalkan rumahku, sedangkan Bu Lili tetap diam ditempat, sepertinya dia belum puas dengan kemarahannya.


Tidak lama kemudian, Rani keluar. Aku sangat terkejut melihatnya tersenyum kepada Pak Slamet.


“Bunda, aku mau menikah dengan Pak Slamet.”


Duniaku terasa mau runtuh mendengar perkataan Rani, bagaimana mungkin anakku tertarik dengan lelaki yang pantas disebutnya kakek, selama ini Rani tidak pernah menunjukan ketertarikan dengannya, Astagfirullah’alazimm …, ada apa lagi dengan anakku.


“Bu Rina, sebaiknya kamu nikahkan Rani dengan pak Slamet, sepertinya putrimu sudah kebelet.” Beberapa orang di rombongan pak Slamet tertawa mendengar perkataan Bu Lili. Sangat terlihat sekali pak Slamet senang dengan kata-kata itu.


“Cukup! Aku minta tolong  Pak Slamet tinggalkan rumahku, jangan ganggu putriku!”


Aku tidak bisa menahan emosi. Apa yang terjadi dengan Rani, bagaimana mungkin dia menyetujui pernikahan ini, Ya Allah … tolong lindungi putri-putriku.


“Bu Rina, sebaiknya ibu fikirkan kemauan Rani, kami saling menyukai. Besok aku kesini lagi.”


Pak Slamet dan rombongannya meninggalkan rumahku, Rani yang berada disampingku hanya tersenyum menatap pak Slamet. Aku memegang tangan Rani erat, dia mencoba melepaskan peganganku dan berlari menghampiri Pak Slamet.


“Pak Slamet! Pak ….”


“Rani, jangan bikin malu.” Aku tetap memegang tangan Rani, tapi dia berusaha memberonta ingin mengejar pak Slamet.


Melihatku di situasi yang sulit, Randi dan Arya menolongku memegang Rani agar tidak mengejar pak Slamet.


“Lepaskan aku! Lepaskan! Aku mau Pak Slamet!” Rani memberonta hingga dibawa kekamar.


Tidak ada pilihan, kami mengikat Rani di tempat tidur agar tidak kabur. Tanpa minta izin masuk, Bu Lili nyelonong masuk kerumahku dan berdiri dipintu kamar Rani, dengan tersenyum sinis dia menyaksikan apa yang dialami putriku.


“Kalau punya anak kegatelan ya digaruk, dong, Bu Rina.”


Disaat seperti ini Bu Lili masih saja membuatku terpuruk dengan kata-kata pedasnya. 


“Cukup! Tolong pergi dari rumahku.” Aku menatapnya dan menunjuk pintu agar Bu LIli keluar.


Aku betul-betul tidak bisa menahan emosi saat Bu Lili lagi-lagi menghina putriku. Mendengarku sangat emosi, dia meninggalkan rumahku dengan senyum seakan senang dengan apa yang aku alami.

__ADS_1


“Makanya, itu sudah azab dari Tuhan yang suka menggangu tunangan orang. Kalau tidak terbalaskan kepada pelaku, ya kepada saudara pelaku.”


Aku berusaha beristigfar mendengar kata-kata Bu Lili melangkah dari teras dan meninggalkan rumahku.


“Bunda, tidak usah hiraukan Tante Lili, sebaiknya kita cari ustad merukiyah Rani.” Arya berdiri di belakangku yang terpaku melihat kepergian Bu Lili. Aku mengangguk menyetujui idenya.


Setelah Bu Arun menolong aku menghubungi Ustad, Ustad datang, kali ini dua orang ustad yang merukiyah Rani. 


Dalam keadaan terikat, ustad merukiyah Rani, bermacam-macam ayat Al Qur’an di bacakan, Rani menjerit mendengarnya, aku sebagai Ibu hanya berusaha tabah dan menyerahkan semua ini kepada Allah swt, aku yakin tidak ada cobaan yang melebihi batas kemampuan manusia yang diberikan Allah. Allah maha pengasih dan penyayang, ampuni dosa-dosa kami ya Allah ….


Setelah proses rukiyah selesai, ustad meninggalkan rumahku, aku sangat lega melihat rani tertidur karena muntah dan terkurasnya tenaganya di rukiyah tadi. Halimah duduk disamping Rani terbaring, dia membaca Al Qur’an dengan suara yang merdu dan didengar semua orang yang ada di rumahku.


Sekilas aku lihat, Arya-Randi dan Wahyu terpana melihat Halimah membaca Al Qur’an dengan suara bagus, mereka mengaguminya.


“Bu Rina, sebaiknya cepat pasang pintu terali besi di belakang, aku khawatir penyusup itu datang lagi.”


Kata-kata Bu Arum terdengar oleh Randi, Arya dan Wahyu. Mereka menoleh kepadaku dan Bu Arum.


“Apakah ada penuyusup dirumah ini, Bunda?” Randi bertanya.


Aku menceritakan apa yang terjadi tadi malam, Randi-Arya dan Wahyu terkejut mendengar ceritaku.


“Sepertinya rumah Bu Rina tidak aman, biar aku yang mencarikan tukang pembutan pintu terali besi.” Wahyu menawarkan dan aku menyetujuinya.


Sejenak Wahyu berbicara di ponselnya, sepertinya dia menghubungi tukang pembuatan terali besi untuk pintu belakang rumahku.


“Bu Rina, sebentar lagi tukangnya datang mengukur pintu.”


“Terimakasih Wahyu,” jawabku.


Halimah keluar dari kamar setelah membaca Al Qur’an, dia melangkah menuju dapur untuk memasak. Arya-Randi dan Wahyu terpana melihat putriku berlalu ke dapur. Bu Arun yang menyaksikan ketiga pemuda ini, bisa membaca sorotan mata mereka menatap anakku.


“Bu, sepertinya mereka menyukai Halimah.” Bu Arun berbisik disampingku.


“Nanti kita bahas ya, Bu. Tidak enak didengar mereka.” Aku juga menjawab dengan berbisik.


Selama ini Bu Arun tempatku mengadu dan minta tolong, dia sudah seperti saudara bagiku. Dulu suami kami sangat akrab, kami juga sering bertamasya bersama, tapi sekarang semuanya tinggal kenangan, disini hanya aku sendirian berjuang melindungi putri-putriku, berat … tapi aku harus tetap kuat, aku harus tetap kuat!

__ADS_1


Tukang pintu terali besi datang dan mengukur pintu belakang, Wahyu juga ikut menemani tukang dan mengawasinya. Pintu ini terletak dekat dapur dimana Halimah sedang memasak, Wahyu sering melirik Halimah yang sama sekali tidak meliriknya.  


Bersambung …


__ADS_2