SEUMUR HIDUP DIBALIK JERUJI PENJARA

SEUMUR HIDUP DIBALIK JERUJI PENJARA
episode 15


__ADS_3

Aku hanya terpana mendengar perkataan Pak Slamet, ternyata dia belum berubah dan masih kukuh menginginkan putri-putriku, bukan hanya Rani tapi sekarang Halimah.


"Maaf Pak Slamet, aku sudah punya calon untuk Halimah." Aku masih berdiri di pintu.


"Tunangan Monik anak Bu Lili, ya?. Bu Rina, kenapa harus merebut tunangan orang, sebaiknya seperti saya yang single." Kata Pak Slamet menggosok rambut licinnya yang sudah hitam kembali.


"Maaf, Pak. Aku rasa sudah jelas kata-kataku." Aku berharap dia secepatnya meninggalkan rumahku.


"Dengar Ya, Bu Rina. Aku tidak akan tinggal diam dengan penolakan ini. Permisi!"


Pak Slamet melangkah meninggalkan rumahku dengan kecewa dan emosi. Aku hanya mengurut dada dan beristigfar.


Pintu kututup dan dikunci, aku melangkah ke ruang tengah dan duduk.


"Dia sudah pergi, duduk disini, Nak." Aku memanggil putri-putriku bersembunyi di kamar, dan mereka keluar.


"Bunda, aku takut," Rani memelukku.


"Jangan tinggalkan sholat, rajin baca Al Qur'an, Nak. Melangkah keluar baca doa dan ayat kursi."


Aku berusaha memberikan nasehat kepada putri-putriku agar selalu ingat Allah, karena aku yakin Allah maha penolong.


Sebenarnya aku merasakan cemas atas perkataan Pak Slamet barusan, ancamannya masih terniang di telingaku, Ya Allah ... tolong lindungi putri-putriku.


Malam semakin larut, aku tidak dapat memejamkan mata, rasa cemasku belum hilang dengan kasus foto sexy Halimah belum tuntas.


Aku duduk di ruang tengah sambil minum secangkir kopi, dan Halimah keluar kamar ikut duduk disampingku.


"Bunda kenapa belum tidur?"


"Kamu juga kenapa belum tidur?" aku balik bertanya.


"Aku memikirkan tentang foto-fotoku, Bunda." Kata Halimah dengan wajah sendu.


"Nak, sholat tahajud dan berdo'a, Bunda yakin Allah pasti mendengar dan memberikan jalan, asalkan betul-betul dengan ikhlas dan sepenuh hati."


Mendengarku Halimah menganggukan kepala.


Aku juga menceritakan tentang lamaran Wahyu, Halimah hanya terdiam menanggapi, raut wajahnya sama sekali tidak menunjukkan senang. Aku bingung, siapa yang bisa menaklukan hati anakku.


"Bunda ingin kamu secepatnya menikah agar ada yang menjagamu, Nak." Mendengarku berkata, Halimah tidak menatap mataku, pandangannya jauh kedepan.


Aku berharap Halimah mendapatkan jodoh yang sholeha dan bisa menjaganya dengan baik.


***


Minggu pagi sangat cerah, matahari tertawa menyambut dunia. Aku dan putri-putriku kembali membuka warung yang beberapa hari belakangan sering tutup.


"Bunda, aku mau jual kue brownies online, lihat nih, aku sudah posting fotonya." Rani memperlihatkan layar ponselnya.


"Bagus," jawabku singkat dan mengelus kepalanya.


"Nanti kalau ada yang beli, uangnya aku kasih Bunda."


"Kalau mau ditabungkan juga tidak apa-apa."


"Lihat nanti saja, Bun." Rani sibuk lagi dengan ponselnya.


Anisa datang membawa secangkir kopi dan goreng pisang ke warung.


"Bunda, ini minuman kesukaan Bunda plus goreng pisang." kata Anisa dan meletakkannya di meja warung.


"Mmm ini baru mantap." Aku tersenyum melirik putriku.

__ADS_1


"Wow! Ada yang pesan dua kotak brownisku, Bunda." Rani tampak senang melihat layar ponselnya.


"Coba aku lihat, Kak." Anisa langsung duduk disamping Rani.


"Aku langsung bikin kuenya, ya, Bun." Rani langsung bangkit dari duduknya dan melangkah masuk ke rumah.


"Kak, tunggu, aku bantu, ya." Anisa juga berlari masuk ke rumah.


Melihat keceriaan di wajah anak-anakku, rasanya hati ini tenang, senyum mereka kekuatan bagiku menjalani hidup sebagai orang tua tunggal.


Aku duduk di warung minum kopi sambil menikmati goreng pisang, pagi ini suasana di depan rumahku tidak begitu ramai, namun ada juga beberapa pembeli yang membeli gula, garam ataupun mie instan.


"Assalamu'alaikum, Bu Rina."


Aku terkejut melihat Bu Lili datang bersama Monik.


"Wa'alaikumsalam, mari silahkan duduk Bu Lili, Monik."


Mereka duduk di kursi warungku, kali ini raut muka Bu Lili tidak seperti kemaren, sepertinya lebih bersahabat.


"Maafkan semua kesalahanku, Bu Rina. Aku sangat menyesal, aku malu dan tidak tahu harus berkata apa mmm."


Tiba-tiba Bu Lili bersimpuh di depanku.


"Jangan begitu, Bu. Ayo berdiri." Aku menarik kedua lengan Bu Lili supaya berdiri.


"Kami sudah memaafkan semuanya, Allah saja maha pemaaf apalagi kami hanya manusia biasa, Bu." Sambungku lagi.


"Kalau Halimah tidak mencabut tuntutannya, mungkin aku sudah dipenjara." Suara Bu Lili bergetar.


"Kalau Arya lebih memilih Halimah, aku tidak keberatan, Halimah anak yang baik dan pantas mendapatkan lelaki yang baik juga," sambung Bu Lili lagi.


Aku lega akhirnya semua baik-baik saja, meskipun melalui kesulitan dari masalah belakangan ini, namun aku bersyukur, Allah masih melindungiku dan putri-putriku.


"Bu, aku ingin bertemu Halimah." Monik minta izin kepadaku.


Monik meninggalkanku dan Mamanya di warung melangkah menuju ke rumahku.


Di ruang tamu Halimah dan Monik duduk berbicara.


"Ada apa Monik?" Halimah menatap Monik.


"Terimakasih, Halimah. Ibuku tidak jadi di penjara, andai saja kamu tidak mencabut tuntuttan, mungkin tunangan keduaku akan diputuskan lagi."


"Kamu sudah tunangan lagi, Monik?"


Monik menjawab dengan menganggukan kepala.


"Arya pantas memutuskan aku, aku selingkuh dengan lelaki yang kukenal di diskotik, meski hanya iseng-iseng tapi semua ini berakibat fatal, aku menyayangi Arya, tapi aku tidur dengan lelaki lain. Aku tidak bilang mama kesalahanku, aku takut, makanya mama menyalahkan Arya." Monik bercerita.


"Setiap kali Arya mengunjungiku dan melihatmu pulang kuliah lewat di depan rumahku, dia sering terpana, namun dia berusaha setia, tapi aku yang tidak setia." Monik melanjutkan cerita, senyum kecewa keluar dari bibirnya.


Halimah terdiam mendengar cerita Monik, dengan tersenyum, Halimah merasa lega karena Monik dan Bu Lili tidak menanam kebencian lagi kepadanya dan Bundanya.


Rani dan Anisa menghampiriku di warung, sementara itu Bu Lili masih menunggu Monik berbicara dengan Halimah.


"Bunda, aku mau izin mengantarkan kue ini ke pembeli." Rani menenteng dua kotak kue brownies.


"Anisa juga menemani Kak Rani, Bunda." Anisa berkata sebelum aku menjawab.


"Dimana?" aku bertanya.


Rani memperlihatkan alamat di layar ponselnya. Ada sebuah perumahan Baru yang tidak jauh dari perumahan yang kami huni.

__ADS_1


"Hati-hati, kalau ada apa-apa cepat hubungi Bunda."


"Oke Bun." Jawab Anisa dan Rani sambil tertawa kecil.


Rani membonceng Anisa mengendarai motor meticku.


***


Di perjalanan, Anisa dan Rani mencari Alamat pembeli menggunakan aplikasi geogle map.


"Lihat yang benar alamatnya, Dek." Kata Rani sambil mengendarai motor.


"Sudah Kak, nanti di depan belok kiri." Jawab Anisa memegang ponsel Rani.


Rani membelokkan motor kemiri sesuai informasi Anisa, perumahan baru tapi masih sedikit berpenghuni.


"Depan belok kanan, Kak," tukas Anisa mantap.


"Masih jauh?" Rani bertanya lagi.


"Nggak, setelah itu lurus saja, rumah paling ujung," jawab Anisa.


Rani membelokkan lagi motor yang dikendarainya ke kanan, setelah lurus, sejenak dia berhenti.


"Kok, berhenti, Kak?" Anisa bertanya heran.


"Ini sudah jalan buntu, lihat di depan, yang ada cuma sawah, Dek." Rani menunjuk kedepan menjelaskan.


"Coba Kak Rani lihat." Anisa menyodorkan ponsel ke Rani. Rani melihat dan memperhatikan lokasi yang di tuju.


Sejenak mereka melihat nomor rumah di sekitar mereka.


"Mungkin rumah paling ujung, ayo kita lanjut," ucap Rani.


Mereka melanjutkan perjalanan lurus kedepan jalan buntu. Dan motor berhenti di depan rumah paling ujung, hanya dua rumah yang sudah dihuni dan itupun rumah pertama dan kedua di dekat gang.


"Iya, ini rumahnya, Kak." Anisa senang melihat alamatnya sudah di temukan.


"Ayo kita ketok pintunya." Ajak Rani sambil mematikan mesin motor dan menarok kunci di saku rok panjangnya.


Tok! Tok! Tok!


Rani mengetok pintu rumah itu.


Tidak lama kemudian pintu dibuka, seorang kakek-kakek berdiri di depan pintu.


"Permisi Kek, betul ini alamat Cahyani yang memesan kue brownies?" Rani bertanya.


"Betul betul, itu nama istriku, ayo masuk." Ajak kakek itu.


"Tidak usah, kami diluar saja. Ini kuenya, Kek." Rani mengambil kue yang dijinjing Anisa dan menyodorkannya kepada kakek itu.


"Bisa potongkan, istriku sedang sakit di kamar."


Melihat kakek itu dengan wajah meiba, sejenak Rani dan Anisa berpandangan, Rani menganggukan kepala memberi kode menuruti permintaan kakek itu.


"Ayo masuk," ajak kakek.


Anisa dan Rani melangkah masuk, rumah sepi tidak ada anak-anak ataupun orang lain.


"Istriku terbaring di kamar, silahkan Nak." Kakek itu menunjuk ke kamarnya.


Anisa dan Rani mencoba masuk, meski sedikit ragu namun mereka merasa tidak enak kalau tidak membantu, lagian mereka juga sudah tua menurut pemikiran Anisa dan Rani.

__ADS_1


Tapi, tiba-tiba kakek itu berlari ke arah pintu dan menguncinya secepat mungkin, dan dari dalam kamar, Pak Slamet keluar dengan senyum beringasnya.


Bersambung ...


__ADS_2