SEUMUR HIDUP DIBALIK JERUJI PENJARA

SEUMUR HIDUP DIBALIK JERUJI PENJARA
episode 6


__ADS_3

Aku memeluk erat putriku, rasa cemasku sebagai seorang ibu tak kuasa membendung air mata yang mengalir di pipi, aku tidak pernah membayangkan hal buruk terjadi kepada mereka.


"Bunda, Bunda ...," Halimah terus menangis memelukku, rambut hitam panjangnya terurai dan menyisiri angin berhembus disore itu.


"Apa yang terjadi, Nak. Mana hijabmu?" Aku memegang kedua pipi putriku yang dibasahi air matanya.


"Mereka merenggutnya dengan paksa, Bunda."


"Siapa?" Aku bertanya dengan cemas dan penasaran yang besar.


"Aku tidak tahu, tiga orang perempuan memakai topeng." Masih memegang tanganku erat, Halimah menanggapi pertanyaanku.


"Apakah mereka melakukan kekerasan?" Randi juga ikut bertanya.


Halimah terdiam sejenak dan setelah itu menggelengkan kepala, aku sangat lega setelah mengetahui anakku baik-baik saja meski mereka membuka hijabnya, namun entah kenapa Halimah menyembunyikan sesuatu, dia seperti tertekan menjawab pertanyaan Randi.


Halimah yang menyadari ada lelaki, langsung diam menundukkan kepala, dia terlihat malu rambutnya terlihat.


Arya membaca tingkah malu Halimah yang tidak berhijab, langsung membuka kemejanya dan memberikannya kepada Halimah, dan sekarang dia hanya memakai kaos singlet.


"Ini, tutuplah rambutmu, Halimah." Arya memberikan baju kemejanya kepada Halimah. Tanpa berfikir panjang, Halimah langsung menerima tawaran Arya, dia menutup kepalanya dengan baju kemeja yang diberikan Arya.


"Mari buat laporan dulu ke kantorku, Bunda."


Mendengar perkataan Randi, Halimah langsung menyahut, "Bunda, tidak usah, aku malu bila dilihat seperti ini."


Aku mengerti maksud Halimah, dia tidak terbiasa keluar tanpa hijab, aku juga harus cepat melihat Rani, aku tidak ingin hal buruk menimpa Rani.


Aku memutuskan pulang, Arya mengantar kami dan diiringi Randi dengan motornya dari belakang, rasa cemasku belum juga berakhir, putriku yang satu lagi juga dalam bermasalah.


Sampai dirumah, aku melihat Bu Arun dan suaminya duduk di ruang tengah, Anisa menemani Rani di kamar, Rani terbaring di tempat tidur dengan kakinya diikat, sesekali dia memberonta dan tertawa memanggil Pak Slamet.


"Pak Slamet! Pak Slamet! Ha ha ha."


Rani terus memangil nama Pak Slamet, aku bingung kenapa dia tiba-tiba seperti ini.


"Syukurlah Bu Rina sudah pulang, sepertinya Rani kena santet, dari tadi dia tertawa sambil memanggil Pak Slamet." Bu Arun mendekatku saat aku terpana melihat Rani diikat ditempat tidur.


"Maaf, Bu Rina. Kami terpaksa mengikat Rani, dia berusaha kabur, kami takut terjadi hal yang buruk." Pak Arun menambahkanya.

__ADS_1


"Tidak apa-apa Bu, Pak. Terimakasih, aku bingung kenapa Rani seperti ini, ini tidak pernah terjadi sebelumnya." Aku mendekati Rani dan membelai kepalanya.


"Bunda, aku mau Pak Slamet, Bunda ... Ha ha ha ha."


Astagfirullah'alazim, aku tidak sanggup rasanya melihat Rani seperti ini, hatiku terasa teriris, dulu apa pun bisa aku lewati bersama suamiku, tapi sejak suamiku tiada, aku harus menanggung ini sendiri, aku harus kuat! aku harus kuat!


Sementara itu Arya dan Randi juga menyaksikan keanehan yang terjadi pada Rani, Anisa memeluk lenganku erat, dia sangat terlihat khuatir melihat kakaknya.


"Sebaiknya kita panggil orang pintar, anak Bunda seperti kena santet." Randi juga ikut berkata menanggapi yang dilihatnya.


"Iya, kamu benar, Nak," sambung Bu Arun.


Orang pintar? Kena santet? Aku sama sekali tidak mengerti masalah ini, bagiku pengobatan Islam hanya rukiyah, apakah tidak syirik bila aku memanggil orang pintar.


Sejenak aku berfikir, aku khuatir dengan Rani, tapi aku juga takut dosa syirik. Ya Allah ... berikan aku petunjuk.


"Bunda, kita panggil pak Ustad saja, aku pernah dengar kalau beliau bisa merukiyah orang."


Mendengar perkataan Halimah, aku sangat menyetujuinya, aku yakin putriku baik-baik saja setelah di rukiyah. Sedangkan Arya memandang Halimah dengan sorotan mata kagum setelah mendengar ide Halimah.


"Kalau itu juga ide yang bagus, aku akan menghubungi Ustad yang biasa kita pengajian, Bu."


Alhamdulillah, Bu Arun juga memberikan ide yang sama, tadinya aku merasa tidak enak kalau dia tersinggung bila aku kurang setuju dengan perdukunan.


Aku juga tidak ingin Randi tersinggung, bagaimanapun juga dia telah menolongku hari ini. Dan dia menjawab dengan senyum serambi melirik putriku Halimah.


Rani dirukiyah oleh Ustad yang kami panggil. Bermacam-macam ayat Al Qur'an dibacakan, dengan duduk beralaskan tikar, kami menyaksikan Rani di rukiyah hingga dia batuk-batuk dan muntah, aku duduk disamping Rani memegang tangannya, dia sesekali menjerit memegang kepala saat ayat-ayat Al Qur'an dibacakan.


"Bunda, Bunda, aku capek," Rani berkata setelah dia muntah banyak.


Aku membawanya ke kamar dan membiarkannya tidur.


"Alhamdulillah, terimakasih Ustad, Rani seperti lebih baik sekarang."


"Jika terjadi seperti ini, jangan lupa baca ayat-ayat Al Qur'an, Bu." Setelah berkata, Ustad meninggalkan rumahku.


Aku merasa lega, Rani sudah kelihatan lebih baik, hari ini aku sangat bersyukur, Allah masih melindungi putri-putriku, aku yakin, dengan memohon dengan ketulusan hati dan pasrah karena Allah, pasti ada jalan bagiku. Allah maha pengasih dan maha penyayang.


Arya dan Randi masih duduk di ruang tengah denganku, Halimah menyuguhi teh hangat dan ikut duduk disampingku.

__ADS_1


"Sebaiknya besok buat laporan biar pelakunya ditangkap, Bunda." Kata Randi serambi meminum teh.


"Aku setuju, biar pelakunya tidak mengulangi lagi." Arya juga bersuara.


"Besok kami akan pergi melapor, tolong bantu kami besok, Nak Randi," aku menyetujui usul Randi dan Arya.


Halimah hanya diam, dia sama sekali tidak memberikan usul, sepertinya dia berfikir.


"Jangan! Aku baik-baik saja, tolong jangan perpanjang masalah ini, aku mohon Bunda."


Kata-kata dan reaksi Halimah membuat aku heran, sepertinya dia menyembunyikan sesuatu, apakah anakku sedang tertekan? Aku juga tidak melihat kekerasan pada Halimah, hanya hijabnya saja yang tidak menutupi kepalanya, entah apa maksud semua ini.


"Jika ada yang mengancam kamu, sebaiknya kamu beri tahu aku, Halimah. Atau orang itu akan terus berbuat buruk kepadamu." Randi sepertinya juga bisa membaca raut muka Halimah.


Arya hanya menatap Halimah yang tidak aku mengerti arti tatapannya.


"Kami permisi dulu. Kalau ada apa-apa bunda dan Halimah hubungi aku, aku siap membantu kapanpun bunda butuh." Sepertinya Arya sangat mencemaskan Halimah.


Arya pemuda yang baik, jika Halimah bersamanya, mungkin anakku akan aman, tapi sepertinya Halimah belum menunjukkan ketertarikan sama lelaki manapun.


Setelah mereka meninggalkan rumahku, aku mulai mendekati Halimah, entah kenapa hatiku merasa ada sesuatu yang disembunyikan Halimah, dia bersikap berbeda dari biasanya.


"Nak, apa yang terjadi sebenarnya? Jujurlah sama Bunda." Aku menggenggam tangannya erat.


Halimah menangis, dia langsung memelukku dan berkata "Mereka mengambil fotoku hanya memakai pakaian dalam, Bunda"


Badanku terasa lemas mendengar pengakuan putriku, anakku diancam, dari perkataan mereka, Halimah tidak boleh mendekati Arya kalau fotonya tidak ingin tersebar, Astagfirullah'alazim ... kenapa mereka sangat tega terhadap putriku.


Aku menghelus punggung Halimah dalam pelukanku, aku berusaha sekuat mungkin. Siapa mereka yang berbuat seperti ini kepada putriku? Perempuan tiga orang dan memakai topeng?


Malam ini sangat sulit mataku dipejamkan, aku masih memikirkan yang dialami Halimah. Apakah aku harus beritahu Arya yang sebenarnya? Atau aku minta Arya menjauhi putriku? Apakah masalah akan selesai jika aku melapor?. Apa yang harus aku lakukan?


Dengan perasaan bingung, aku melangkah keluar kamar ingin ke kamar mandi, mungkin dengan sholat hatiku sedikit tenang dan ada jalan dengan masalah yang dialami putriku.


Belum sempat aku ke kamar mandi yang terletak di dekat dapur, langkahku terhenti aku melihat seseorang memakai memakai sebo penutup kepala berdiri di depan kamar Halimah. Aku sangat terkejut, dari mana orang ini masuk, padahal semua pintu sudah aku kunci, dan lampu ruangan tengah juga sudah aku matikan.


Aku masuk lagi ke kamarku dengan pelan, aku tidak boleh takut, sangat berbahaya jika orang itu berhasil masuk kamar putriku. Tanpa berfikir panjang, aku langsung mengambil pisau buah yang terletak di meja kamar dan melangkah keluar.


Orang itu mencoba membuka pintu kamar putriku yang terkunci. Dengan mengumpulkan keberanian agar putriku selamat, aku berhasil menusuk lengan penyusup itu dengan pisau ditanganku.

__ADS_1


"Agghh!" Dia kesakitan, darah mengalir dari lengannya, dia menatapku, aku secepatnya menghidupkan lampu agar bisa melihatnya dengan jelas.


Bersambung ...


__ADS_2