Shadow & The Jester

Shadow & The Jester
Chapter 10


__ADS_3

Chapted 10 : Alasan Penyerangan.


\=-----\=-----\=-----\=-----\=


(POV Orang Ketiga)


Kelompok Dafa kini sedang berdiri di depan sebuah kastil tua, yang tidak memiliki hal apapun yang menarik, kecuali suasana horor dan mematikan yang keluar darinya.


Kastil tersebut terlihat seperti kastil romawi kuno, yang pernah mereka lihat di dalam buku sejarah, ketika pelajaran sejarah dulu.


Meskipun di bilang sama, tapi kastil ini terlihat jauh lebih tidak terawat, yang selain memberi suasana horor di sekitarnya, tapi hal itu juga membuat Dafa menghela nafasnya, karena dia sudah agak bisa menebak alasan di baliknya.


"Tolong jangan katakan kepada ku, kalau kamu tidak memiliki bawahan sama sekali?"


Tidak berselang lama setelah Dafa mengatakan hal itu, Orobas segera terkikik, sebelum dia berkata; "Heh~ Bawahan~? Untuk apa aku memiliki seseorang yang lebih lemah dariku~?"


Mendengar hal itu, yang bisa di lakukan oleh Dafa hanyalah menghela nafasnya saja, sambil memberi isyarat kepada ketiga orang yang lainnya untuk diam saja terlebih dahulu, karena dia yang sedang tidak mood untuk membicarakan apapun.


Lalu, mereka berlima mulai memasuki kastil tersebut, di mana hal pertama yang menyambut mereka adalah aula kosong yang benar-benar sangat lusuh, seperti telah di tinggalkan lebih dari seabad yang lalu.


Banyak sekali barang-barang yang sudah rusak di dalam sana, hingga kebanyakan kaca yang ada di sana pun terlihat sudah tidak utuh sama sekali, dengan yang paling parahnya lagi adalah atapnya, di mana hal itu terlihat memiliki lubang yang cukup besar di sana.


"Pasti akan sulit untuk memperbaiki seluruh hal ini."


Semua orang yang ada di sana, dengan pengecualian Orobas, hanya bisa menganggukkan kepala mereka saja dengan penuh persetujuan, karena mereka memang memiliki pemikiran yang sama dengan Dafa.


.....


....


...


"Oh ya, aku hampir lupa untuk menanyakan hal ini. Tapi, kenapa kamu menyerang kami secara tiba-tiba seperti itu?" Dafa segera menanyakan hal itu dengan penuh keseriusan, setelah mereka tiba di ruang singgasana yang ada di dalam kastil tersebut.


Orobas yang mendengar hal itu, dia awalnya hanya melompat turun saja dari bahu milik Dafa dan duduk di singgasana yang ada di sana, sebelum gadis Demon Lord itu akhirnya menjawabnya.


"Kalau soal itu sih~ Aku di suruh oleh Zagan untuk langsung menghabisi seluruh penyusup yang tiba-tiba muncul di wilayahku~ Tapi tidak jadi, karena dia sekarang adalah temanku~"


"Zagan?" Dafa bertanya dengan penuh rasa penasaran, yang segera di jawab oleh Orobas dengan sangat santai, "Yup, Zagan~ Dia ini yang ke enam puluh satu dari tujuh puluh dua Demon Lord~ Salah satu orang paling lemah di antara kami~ Dan, meskipun dia sebenarnya itu bodoh, tapi selalu bertingkah sok pintar~"


"Aku cukup yakin, kalau kamu pasti akan tertawa, setelah bertemu dengannya, Temanku~" Lanjut gadis Demon Lord ini dengan senyum menyegarkan di wajahnya.


Tapi, sayangnya itu, saat ini Dafa telah jatuh ke dalam pemikirannya sendiri, karena...


'Zagan, kah? Apa dia ini salah satu penyebab utama dari pemanggilan kami?'


Lagi pula, tidak mungkin akan ada sebuah kebetulan yang seperti ini, apalagi hingga mengirim gadis mengerikan seperti Orobas ini, hanya untuk mengurus orang acak yang muncul secara tiba-tiba di wilayahnya.

__ADS_1


Belum lagi, dari apa yang di dengar olehnya tentang dewan Demon Lord ini, Dafa sebenarnya sudah bisa menyimpulkan, kalau mereka semua itu memiliki hubungan yang aneh, di mana ada yang sangat dekat, dan cukup banyak juga yang sangat renggang.


Contoh mudahnya adalah si Orobas ini, di mana dia hanya memiliki hubungan dekat dengan sang Demon Lord pertama saja, dengan hubungannya dengan Demon Lord yang lain benar-benar sangat renggang sekali.


Tapi masalahnya itu... 'Jika memang benar, kenapa dia melakukan hal tersebut?'


Itu benar sekali. Lagi pula, perjanjian Goetia ini seharusnya sudah cukup untuk membuat seluruh ras berdamai, karena dari apa yang dirinya dengar, sepertinya si Demon Lord pertama ini benar-benar orang yang sangat kuat, hingga berani menentang Surga sendirian-Atau itulah yang di dengar oleh Dafa, dari Orobas.


Hanya saja, karena gadis ini tidak terlihat sedang membesar-besarkan orang itu dan berbohong mengenainya, hal tersebut membuat Dafa hanya bisa menganggap perkataannya ini sebagai sebuah kebenaran saja.


Jadi, kalau orang ini sudah sekuat itu, maka hanya orang bodoh saja yang akan berani melanggar perjanjian atas nama darinya, atau mungkin orang tersebut memiliki kepercayaan diri yang terlalu tinggi.


'Huhh... Memikirkan hal ini terlalu dalam sekarang, tidak akan membawaku ke mana-mana. Lebih baik aku kembali fokus dengan lenganku ini saja dulu.'


Lagi pula, selain dia yang masih kekurangan begitu banyak informasi, tapi Dafa juga masih perlu segera membuat lengan pengganti, untuk lengannya yang putus ini.


Kemudian, sambil menjawab beberapa pertanyaan tentang kemampuan yang dirinya miliki, yang diajukan oleh semua orang yang ada di sini, bahkan Orobas pun ikut bertanya juga, Dafa kemudian mulai mencari cara untuk membersihkan seluruh tempat itu, sambil memikirkan cara untuk masalah lengan kanannya yang putus.


.....


....


...


Sementara itu, di tempat yang lainnya...


Membuka kelopak matanya dengan malas, hal pertama yang dirinya lihat adalah pemandangan langit-langit yang tertutupi oleh dedaunan di atasnya, sementara di sekitarnya ada begitu banyak hal yang seharusnya sih, tidak mungkin ada di tempat tinggalnya.


"Jadi, ini bukan mimpi, kah..." Remaja itu hanya bisa menggumamkan hal tersebut dengan penuh rasa letih, karena dia sebenarnya masih sedikit berharap, kalau seluruh hal ini hanya mimpinya saja, tapi setelah bangun di tempat yang sama seperti tempat kemarin dirinya tertidur, Souji berakhir hanya bisa mempercayainya saja.


Duduk dan bersandar di tembok gua yang ada di dekatnya, Souji kemudian mulai mengamati sekitarnya dengan cukup malas, hingga matanya itu berhasil menangkap gerakan dari bayangan seseorang, tidak jauh dari mereka.


Tentu saja, sebelum dia memikirkan sesuatu hal yang tidak-tidak, Souji kemudian memutuskan untuk melihat dulu orang-orang yang pergi bersama dengannya ini, hanya untuk memastikan sesuatu hal saja.


Dan, seperti salah satu dari dua dugaan utamanya, ternyata hal itu memang salah satu dari mereka, karena ada satu orang yang menghilang dari sana.


'Ini merepotkan sekali. Aku ingat Sanada tidak menyukai tempat yang gelap, jika saja dia tersesat, maka itu akan menjadi masalah yang sangat merepotkan, terlebih lagi di tempat yang seperti ini.'


Sambil menghela nafasnya, Souji kemudian bangkit dan mulai berjalan mendekati bayangan dari seseorang ini, sambil bersiap-siap, kalau-kalau itu ternyata bukanlah Sanada, karena belum tentu juga bayangan ini memang milik Sanada.


...


Di sisi Sanada itu sendiri...


Gadis tersebut kini terlihat sedang duduk bersandar di salah satu pepohonan yang ada di dekatnya, dengan mata almondnya yang berwarna ungu terlihat sedang menatap dua bulan yang menggantung di langit malam, meskipun hal itu tertutupi oleh dedaunan yang cukup lebat dari pepohonan yang ada di sekitarnya.


Banyak sekali emosi yang tersimpan di mata ungunya itu, terutama ketika dirinya terus kembali mengingat kedua orang tuanya, yang memiliki kemungkinan sangat kecil untuk dapat gadis itu temui lagi.

__ADS_1


Karena, dari apa yang gadis itu dapatkan, sepertinya orang-orang yang memanggil mereka ini berbohong mengenai seluruh hal yang mereka jelaskan saat itu.


Meskipun tidak terlalu jelas sih, berbohongnya ini di bagian mana saja, tapi gadis itu sangat percaya, kalau tidak mungkin Senpainya akan berbohong, karena dia bisa di bilang sangat mengenalnya.


Lagi pula, mereka ini adalah teman masa kecil, dan dari kecil pun, hingga sekarang, Senpainya ini bisa di bilang tidak pernah berbohong sama sekali, terhadap setiap hal yang orang itu katakan.


Jadi, kalau di suruh untuk memilih mempercayai perkataan dari siapa, Sanada tidak akan ragu sama sekali, untuk mempercayai perkataan dari Senpainya ini.


Meski begitu, pada akhirnya... "Sanada merindukan Otou-san dan Okaa-san." Dia hanya bisa menggumamkan hal itu saja dengan nada suara yang begitu kecil, ketika air mata tanpa dirinya sadari, keluar dari kedua sudut matanya itu.


Pada saat gadis itu sedang bersedih, sebuah suara yang terdengar begitu hangat, tapi di saat yang bersamaan pula, cukup dipenuhi oleh amarah, tiba-tiba saja muncul dari arah belakangnya.


"Kalau begitu, kenapa kamu masih bangun? Bukankah aku sudah bilang untuk tidur? Karena, besok kita akan segera pergi meninggalkan hutan ini, untuk mencari sesuatu hal di kota terdekat."


Sanada segera tersentak, setelah dirinya mendengar suara tersebut, sebelum gadis itu segera berbalik dan membalasnya; "Ma-maaf. I-itu... Sanada..."


Namun, kata-kata miliknya segera di potong oleh orang tersebut, ketika dia menepuk-nepuk kepalanya dengan lembut, "Tidak apa-apa. Aku tidak marah. Hanya saja, tolong jangan melakukan hal yang seperti ini lagi. Karena, jika saja terjadi sesuatu hal kepada mu-Tidak, kepada kalian semua, aku tidak tahu harus berkata apa kepada keluarga kalian nanti."


"Senpai..." Sanada hanya bisa tersentuh saja, atas perkataan yang orang ini, yang tidak lain adalah Shimotsuki Souji, katakan.


Meskipun hal itu tidak hanya untuk dirinya saja, tapi juga semua orang, namun hal tersebut sudah cukup untuk membuat gadis itu menjadi sangat senang, karena mengetahui kalau Senpainya ini begitu mengkhawatirkan dirinya.


Kemudian, Souji memutuskan untuk sedikit mendengarkan curhatan dari Sanada, yang berakhir dengan cepat, ketika gadis itu tanpa sadar tertidur di atas pangkuannya.


Melihat hal itu, senyum lembut segera tumbuh di wajahnya, karena... "Dasar gadis kecil yang bodoh. Bukannya tidak mungkin untuk kembali ke Bumi. Hanya saja, kita yang masih belum bisa menemukan jalan untuk kembali. Setidaknya... Tidak untuk saat ini."


Gumaman dari Remaja itu tidak di dengar oleh siapapun, dan hanya terbawa oleh angin malam yang cukup kencang saja, dengan remaja itu sendiri yang memutuskan untuk kembali, setelah dia merasa tidak baik meninggalkan orang-orang tersebut sendirian di sana.


Begitu saja, malam pun berlalu kembali dengan tenang, bagi kelompok Souji.


\=-----\=-----\=-----\=-----\=


Author Note:


Yayy! Update lagi!!


Di dalam bab kali ini, ada begitu banyak informasi baru, dan di dalam bab kali ini pun, entah kenapa terasa begitu aneh, yang kemungkinan besar dikarenakan saya yang kurang mood, ketika menulis bab ini.


Tapi, untungnya berhasil selesai dengan pas, tanpa perlu ada tebing di akhirnya.


Untuk bab selanjutnya, jika tidak ada masalah, mungkin akan sedikit menjelaskan tentang Magic yang ada di Bumi dan beberapa latar belakang dari MC kita yang satunya lagi, alias Dafa, dan sedikit rencananya untuk masa depan.


Jadi, kemungkinan besar, kelompok Souji akan munculnya sedikit, bahkan tidak akan muncul, di bab yang selanjutnya.


Itu aja sih yang author ingin sampaikan, dan bagi kalian yang ingin mendukung author, kalian bisa traktir author di akun trakteer milik author yang bisa kalian akses melalui BIO IG author @Panagakos_Void.


Sampai jumpa lagi di bab selanjutnya! Adios~!

__ADS_1


__ADS_2