
Chapter 06 : Sebuah Kesepakatan & Promissum Magic.
\=-----\=-----\=-----\=-----\=
(POV Orang Ketiga)
"Orobas!"
Setelah mendengar teriakan tersebut, gadis Demon Lord itu segera memasang ekspresi penuh kebingungan di wajahnya, karena... "Ada apa~?"
Dafa hanya memberinya isyarat untuk duduk saja, ketika dia mulai melepaskan senjatanya dan duduk di tanah.
Meskipun sempat bingung dengan perubahan yang begitu mendadak ini, tapi dia masih tetap mengikutinya saja, hanya karena rasa percaya dirinya yang begitu tinggi.
Lagi pula, tidak peduli apapun yang manusia itu lakukan, Orobas yakin, kalau pada akhirnya dialah yang akan menang.
"Jadi, ada apa~? Kenapa kamu memintaku untuk duduk~?" Orobas segera menanyakan hal itu dengan penuh kebingungan, meskipun hal itu di tutupi oleh nada penuh semangat miliknya, setelah dia duduk tidak jauh dari Dafa.
Dafa sendiri awalnya hanya diam dan memberinya sebuah senyum kecil saja, sebelum dia berkata; "Bagaimana jika kita membuat sebuah kesepakatan?"
Wajah milik Orobas segera menjadi gelap, setelah dia mendengar apa yang dikatakan oleh Dafa, karena... "Oi~ Apa kamu pikir, kamu ini memiliki hak untuk mengajukan hal semacam itu~?"
Tepat setelah mengatakan hal itu, aura yang begitu mengerikan segera terarah kepada Dafa, yang meskipun mendapatkan hal semacam itu, tapi remaja tersebut masih tetap memasang ekspresi dingin saja di wajahnya.
Tentu saja, hal itu berhasil membuat Orobas menjadi semakin tertarik dengannya, karena benar-benar jarang sekali ada seseorang yang bisa menahan niat membunuh miliknya, bahkan di antara para Demon Lord pun, hanya Demon Lord dengan posisi lima belas ke atas saja, yang benar-benar mampu menahan hal tersebut.
Lagi pula, meskipun dikatakan sebagai kursi ke lima puluh lima, tapi itu tidak menandakan tingkat kekuatan miliknya di antara para Demon Lord ini, karena hal itu hanya menggambarkan waktu bergabungnya para Demon Lord ini saja.
Jadi, melihat Dafa yang bisa menahan hal itu dengan begitu santainya, tentu saja hal tersebut membuat ketertarikan yang dimiliki oleh Orobas menjadi semakin meningkat.
Di sisi lain, Dafa yang merasakan niat membunuh itu memang benar-benar tidak terpengaruh sama sekali, mengingat dulu dirinya pernah merasakan sesuatu hal yang jauh lebih mengerikan lagi dari pada hal tersebut.
Tapi untuk sekarang, Dafa perlu membuat gadis yang ada di depannya ini menandatangani kesepakatan berbalut Promissum Magic, di mana kesepakatan itu nantinya akan membuat jiwa mereka terikat.
Selain itu, jika kesepakatan ini sudah di tanda tangani, tidak peduli seberapa kuatnya orang itu, kalau saja dia melanggar kesepakatan ini, maka dia pasti akan langsung musnah, karena seperti yang tadi dikatakan, kalau kesepakatan ini itu mengikat jiwa dari seseorang.
Oleh karena itu, bagi siapapun yang melanggar kesepakatan ini, maka jiwa miliknya akan dihancurkan secara otomatis, yang artinya akan benar-benar membunuhnya, tanpa bisa dihidupkan kembali, atau pergi ke roda samsara reinkarnasi.
Biasanya, kesepakatan ini digunakan oleh para Caster yang ada di Bumi untuk membuat sebuah perjanjian, karena terkadang, lebih tepatnya sih biasanya, para Caster ini akan selalu saja melanggar sebuah perjanjian, jika saja ada sesuatu hal yang sangat menguntungkan mereka.
Jadi, intinya sih, Dafa berencana untuk membuat kesepakatan menggunakan sistem Promissum Magic itu, agar gadis yang ada di depannya ini tidak membunuh mereka.
Meskipun dia tahu sih, kalau akan sangat sulit untuk melakukan hal tersebut, mengingat gadis ini yang memiliki mata yang sangat menyebalkan sekali, tapi alasan dirinya cukup yakin kalau hal ini akan bekerja, adalah karena sorot mata yang gadis itu berikan kepadanya.
Sorot mata itu tampak sangat mirip dengan sorot mata salah satu kenalannya dulu, yang akibat dari terlalu bosan dengan hidupnya, ketika pertama kali menemukan sesuatu hal yang menarik, orang itu langsung tidak ingin melepaskannya sama sekali.
Jadi, bisa di bilang, hanya dengan bermodalkan rasa percaya dirinya terhadap hal tersebut, Dafa berani untuk membuat gadis Demon Lord yang ada di depannya ini menandatangani kesepakatan Promissum Magic.
Untuk sekarang, mari kita abaikan dulu hal tersebut dan kembali ke sisi Dafa, yang sepertinya akan memulai rencananya ini.
"Jadi, apa kita bisa mulai hal ini?"
Dan, seperti yang sudah dirinya perkirakan, kalau entah kenapa Orobas malah menarik kembali niat membunuhnya, ketika dia kembali ke suasana cerianya yang agak terlalu mematikan.
"Yup~ Karena kamu kuat, aku akan mendengarkanmu~"
Setelah mendengar hal itu, Dafa kemudian memutuskan untuk segera menyerang titik lemah dari gadis yang ada di depannya ini, dalam hal kondisi mental.
"Kalau begitu, mari kita buat kesepakatan. Karena kamu sepertinya tidak pernah memiliki seorang teman, bagaimana jika aku menjadi temanmu? Tapi, kamu harus berjanji untuk tidak melukaiku dan rekan-rekanku. Bagaimana?"
*Booom*
Seluruh hal yang ada di dalam jarak satu kilometer dari sana segera musnah, tepat setelah Dafa mengakhiri kata-katanya itu, dengan Orobas sendiri yang terlihat sudah siap untuk memenggal kepala miliknya.
__ADS_1
"Siapa yang kamu bilang tidak punya teman~ Aku punya teman! Dan, itu jauh lebih banyak dibandingkan dengan milik mu~"
'Tepat sasaran.' Dafa tidak bisa menahan senyum penuh kegembiraan di wajahnya, karena deduksi asalnya itu ternyata memang sebuah kebenaran, karena sepertinya gadis ini memang tidak memiliki seorang teman.
Bagaimana dia bisa sampai pada kesimpulan tersebut? Itu mudah, kalian tinggal coba lihat saja dari perilaku gadis ini sejak awal, yang meskipun memang tampak agak terlalu mematikan, tapi tindakannya itu mirip seperti seorang anak kecil yang tidak memiliki seorang teman dan menemukan sebuah mainan baru untuk diajak menghabiskan waktu bersama dengannya.
Selain itu, ada juga fakta kalau senyum milik gadis ini yang sepertinya lebih sering digunakan untuk menyembunyikan kesepian miliknya itu, yang dapat dengan jelas di lihat oleh Dafa selama pertarungan mereka.
Lagi pula, jika gadis ini memang seorang maniak pertempuran, seperti yang awalnya Dafa pikirkan, maka dia seharusnya tidak akan menerima ajakannya untuk duduk, plus tidak mungkin dia masih akan menahan dirinya dalam hal pertempuran.
Memang sih, ada beberapa faktor lain di dalamnya, seperti nada bicara yang gadis ini gunakan, hingga kebiasaan yang dimiliki olehnya, tapi intinya sih masih tetap sama, kalau sepertinya rencananya itu akan berjalan dengan lancar.
Kenapa? Itu karena...
"Tapi, mereka hanya memanfaatkan mu saja, bukan?"
"I-itu..." Keraguan segera muncul di mata milik Orobas, karena dia benar-benar tidak bisa menyangkalnya sama sekali, apalagi mengingat matanya itu juga memiliki satu kemampuan tersembunyi lain, yang hanya dirinya saja ketahui, yaitu kemampuan untuk membaca pikiran milik orang lain.
Tentu saja, ketika dia teringat kembali dengan fungsi dari matanya itu, Orobas segera menggunakannya kepada Dafa, hanya untuk mengetahui isi pikirannya saja.
["Hmm... Gadis aneh. Meskipun penampilannya memang sangat imut, tapi entah kenapa aku merasa kalau dia ini sudah berusia sangat tua, malah mungkin jauh lebih tua dari nenek."]
"A-aku tidak tua! Usiaku baru sekitar enam abad!"
Kali ini, Dafa yang sedang memikirkan sebuah lelucon acak di dalam kepalanya itu, sekali lagi berhasil menebak salah satu deduksi acaknya itu, setelah mengetahui kemampuan dari mata milik gadis yang ada di depannya ini selama pertempuran mereka yang sebelumnya.
Lagi pula, jika ada orang yang bisa menyadari sihir ilusi miliknya itu, itu artinya orang tersebut pasti memiliki kemampuan yang dapat mendeteksi jiwa dari seseorang, mata yang sangat unik, atau malah yang lebih gilanya lagi, orang tersebut mungkin bisa membaca pikiran dari orang lain.
Jadi, bisa di bilang, akhirnya pertanyaan itu pun bisa terjawab, meskipun yang tidak disadari oleh Dafa itu, adalah mengenai fakta kalau hal tersebut tidak begitu Tepat.
Tapi, untuk sekarang, mari kita kembali ke kenyataan.
"Apa kamu bisa membaca pikiranku?" Dafa memutuskan untuk menanyakan hal tersebut dengan penuh keseriusan, karena dirinya tahu, kalau hal-hal tidak berguna seperti ini akan memperlancar percakapan mereka, jika saja gadis ini bukan termasuk golongan orang-orang 'itu'.
Namun, bahkan sebelum gadis itu bisa memikirkan sesuatu hal lebih jauh lagi, Dafa sudah lebih dulu menepuk-nepuk kepalanya dan berkata; "Tenang saja, aku tidak akan memberitahukan orang lain tentang kemampuanmu ini. Lagi pula..."
"Itulah tugas dari seorang teman, bukan?" Dafa mengakhiri kata-katanya itu dengan sebuah senyuman yang, meskipun benar-benar tidak ingin dirinya gunakan sama sekali, tapi karena sedang diperlukan, dia memutuskan untuk menggunakannya.
Dimana, berkat dari senyuman itulah, karisma miliknya yang biasanya tertutupi oleh aura suram yang selalu menyebar di sekitar dirinya itu pun, hal tersebut akhirnya muncul ke permukaan, yang tentunya berhasil membuat jantung milik Orobas berdetak dengan tidak karuan.
Lagi pula, meskipun Dafa memang tidak berbakat sama sekali dalam bidang apapun, tapi sebenarnya dia ini memiliki sebuah bakat yang begitu mengerikan, yang bahkan bisa membuat seseorang begitu memuja dirinya, seperti sedang memuja seorang Dewa.
Dan, bakat tersebut adalah karisma miliknya, yang jika bukan karena sikap pesimis dan realisnya, plus suasana suram yang selalu tersebar di sekitarnya, mungkin saja hal itu sudah berhasil membuat begitu banyak orang memujanya, layaknya seorang Dewa.
Itulah yang sedang terjadi kepada Orobas, yang meskipun ini adalah hal yang di sebut oleh Dafa dengan bertaruh, tapi karismanya ini pun tampaknya bekerja terhadap orang sekelas Orobas, yang bisa di bilang sebagai salah satu makhluk terkuat yang pernah temui oleh Dafa.
Jadi, dengan tambahan gerakan mematikan untuk para loli, hal tersebut berhasil membuat Orobas tersentuh, hingga... "Ta-tapi, kamu harus berjanji kepadaku, kalau kamu tidak akan berhenti menjadi temanku. Jika tidak..."
Namun, kata-katanya itu terhenti di tengah jalan, akibat sebuah sinar cahaya yang muncul secara tiba-tiba di tubuh kedua orang itu, yang tentunya sangat mengejutkan Orobas.
"A-apa kamu baru saja menipuku!?"
Itu adalah satu-satunya kesimpulan yang gadis itu bisa pikirkan, karena dia sudah sering mendapatkan perlakuan yang seperti itu.
"Tidak, tolong jangan salah paham dulu, Orbs. Ini adalah Promissum, sebuah sihir yang mengikat jiwa dari dua orang, melalui sebuah perjanjian, dan jika ada yang melanggar perjanjian tersebut, maka jiwa orang yang melanggarnya itu akan langsung musnah."
Dafa segera menyangkal tuduhan dari Orobas, pada saat dia meletakan jari telunjuknya di dahi milik gadis Demon Lord itu, hanya untuk menyalurkan pengetahuan tentang perjanjian tersebut kepadanya.
Tidak berselang lama setelah mendapatkan pengetahuan tentang perjanjian tersebut, ekspresi penuh keterkejutan segera muncul di wajah Demon Lord tersebut, karena... 'Dia benar-benar tidak berbohong sama sekali.'
Lagi pula, cara Promissum ini bekerja itu sebenarnya cukup simpel, di mana hanya perlu persetujuan dari kedua belah pihak saja, sebelum nantinya hal itu akan secara otomatis aktif.
Aturan di balik hal ini juga cukup simpel, karena selama seseorang itu tidak melanggar perjanjian yang mereka berdua buat, maka keduanya tidak akan mengalami hal apapun.
__ADS_1
Tidak ada efek buruk sama sekali dari sihir ini, dan satu-satunya cara untuk melepaskan sihir ini adalah dengan kedua belah pihak yang membuat perjanjian tersebut sepakat untuk menghapusnya, karena jika tidak, maka hanya seseorang yang setingkat Dewa saja yang dapat menghapusnya.
Itu pun hanya Dewa di antara para Dewa saja, dan perlu juga di ingat, kalau hal tersebut di ambil dari tingkat kekuatan para Dewa yang ada di Bumi, bukan Dunia ini.
Untuk sekarang, karena sepertinya Orobas sudah tidak mempermasalahkan perjanjian tersebut, maka itu artinya Dafa kini hanya perlu menjemput tiga rekannya saja, yang dirinya harap sih baik-baik saja.
Setelah memberi tahukan hal tersebut kepada Orobas, gadis Demon Lord itu dengan senang hati akan membantunya, atas nama teman, dan sepertinya deduksi milik Dafa mengenai gadis ini yang memang tidak pernah memiliki seorang teman sejati adalah sebuah kebenaran.
Tapi, karena hal itu sudah tidak diperlukan lagi, jadi mari kita abaikan saja.
Dengan begitu, roda takdir baru pun akhirnya tercipta, di mana nantinya takdir itu akan menjadi awal mula era paling bergejolak yang ada di Dunia tersebut muncul, yang mana hal itu juga akan membuat masa depan dari Dunia tersebut menjadi tidak pasti.
Tentu saja, Dafa tidak akan pernah menyadari hal itu dalam waktu dekat ini, karena...
...
Sementara itu, di tempat lain...
"Bagaimana mana menurut kalian? Apa ini tempat yang cocok untuk kita bermalam?"
Setelah tiba di tempat yang menurutnya cocok, Souji kemudian menanyakan pendapat dari orang-orang yang ikut bersama dengannya.
"Kalau boleh jujur sih, aku ingin yang jauh lebih baik dari gua ini. Tapi..."
Hina segera menyampaikan pendapatnya itu dengan ekspresi rumit di wajahnya, karena bagi orang yang berasal dari kalangan atas seperti dirinya, tempat itu benar-benar terlihat sangat buruk sekali.
Lagi pula, tempat itu hanya berupa sebuah gua biasa saja, di mana gua ini sendiri sepertinya dihimpit oleh sepasang pohon besar di kedua sisinya, dengan sebuah tebing bisa terlihat di bagian atasnya.
Intinya sih, gua ini sepertinya berada di bawah sebuah bukit, yang juga memiliki dua pohon besar menghimpitnya, dan bisa di bilang, kalau tempat ini agak cukup strategis, jika saja mereka mengabaikan perihal keamanannya dari sebuah gempa.
Tapi, mengingat Dunia ini adalah Dunia dengan sihir dan skill di dalamnya, bisa cukup dipastikan kalau hal-hal semacam itu dapat di atasi, dengan satu atau lain cara.
"Oh, ayolah, Shinomiya-senpai. Tidak mungkin akan ada tempat yang seperti itu di tengah-tengah hutan seperti ini. Jadi, terima sajalah hal ini." Sanada segera menyindir Hina, karena hal itu memang agak terlalu tidak masuk akal sama sekali.
Lagi pula, tidak mungkin akan ada sebuah rumah atau pun penginapan di tengah-tengah hutan seperti ini, apalagi hutan ini juga dipenuhi oleh cukup banyak monster berbahaya, yang jika bukan karena Souji, mereka kemungkinan besar sudah mati akibat para monster tersebut.
Contohnya itu kejadian beberapa waktu yang lalu, pada saat sekumpulan serigala aneh berkaki enam tiba-tiba saja muncul dan menyergap mereka, yang untungnya sih dapat di atasi dengan mudah oleh Souji.
"Benar yang dikatakan oleh Sanada. Tidak mungkin hal seperti itu akan ada di tengah hutan seperti ini." Nagisa pun menyetujui perkataan dari Sanada, karena dari sudut pandang logis, hal itu seharusnya sangat mustahil untuk muncul.
"Lebih penting dari itu, bagaimana jika kita membagi tugas saja terlebih dahulu? Karena, malam sebentar lagi akan tiba."
Souji yang tidak ingin memperpanjang permasalahan itu segera mengganti topik pembicaraan, yang sepertinya sih di setujui oleh semua orang.
Dengan begitu, mereka memisahkan kelompok tersebut menjadi tiga buah tim, di mana nantinya satu tim akan menjaga markas dan menyiapkan berbagai macam hal di sana, satu tim lagi akan mencari kayu bakar, sementara tim yang lainnya akan pergi untuk mencari sesuatu hal yang dapat mereka makan.
Setelah memutuskan tim-tim yang ada, mereka semua kemudian berpisah untuk menyelesaikan tugas mereka masing-masing.
\=-----\=-----\=-----\=-----\=
Author Note :
Yayy! Kita update lagi!!
Di dalam bab kali ini, ada begitu banyak hal yang begitu misterius di dalamnya, di mana author nanti akan jelaskan di bab-bab selanjutnya, terutama tentang kenapa si Orobas ini menyerang kelompok Dafa secara tiba-tiba, hingga kemampuan apa aja sih yang dimiliki oleh Dafa.
Bukan hanya itu saja, nanti juga, baik itu kelompok Souji maupun Dafa, mereka nantinya akan diperlihatkan status dari seluruh anggota kelompok milik mereka.
Dan juga, perlu kalian ingat, kalau kedua kelompok tersebut berada di bagian Benua yang sangat berbeda satu sama lain, di mana hal itu dapat terjadi akibat Dafa yang menggunakan Magic teleportasi tanpa koordinat.
Selain itu, perlu di ingat juga, kalau sementara Souji ini adalah seorang Samurai, di sisi lain, Dafa akan lebih cocok di sebut sebagai seorang Assassin.
Itu aja sih yang author ingin sampaikan, dan bagi kalian yang ingin mendukung author, kalian bisa traktir author di akun trakteer milik author yang bisa kalian akses melalui BIO IG author @Panagakos_Void.
__ADS_1
Sampai jumpa lagi di bab selanjutnya! Adios~!