Shadow & The Jester

Shadow & The Jester
Chapter 26


__ADS_3

Chapter 26 : Shimotsuki Miyuki.


\=-----\=-----\=-----\=-----\=


(POV Souji)


"Jadi, apa kamu sudah paham sekarang?" Aku segera menanyakan hal itu dengan penuh keseriusan, setelah aku selesai menjelaskan rencanaku kepada Niji.


Niji sendiri terlihat sedang memikirkan hal tersebut dengan ekspresi rumit di wajahnya, di mana hal itu mungkin terjadi, dikarenakan dia yang tampaknya memang masih belum hamil, dan itu benar-benar sebuah bencana, karena waktu ku hanya tinggal satu hari lagi.


Lagi pula, Niji pingsan hampir selama setengah hari, di tambah dengan fakta kalau aku pun perlu menjelaskan rencanaku juga, hal tersebut benar-benar membuang-buang waktu ku yang tersisa.


Apalagi, entah kenapa, sejak beberapa belas menit yang lalu, tubuh ku mulai menjadi semakin transparan, yang sepertinya sih diakibatkan oleh kontrak pernikahan ini yang masih belum selesai juga.


Untungnya, tidak perlu waktu lama bagi Niji untuk memberikanku sebuah jawaban positif, dengan syarat yang benar-benar terdengar sangat tidak masuk akal sama sekali.


Bagaimanakah syarat tersebut? Syaratnya itu seperti ini;


Untuk yang pertama, karena aku sudah mengambil keperawa*nannya, wanita ini memintaku untuk bertanggung jawab, yang meskipun hal tersebut sebenarnya terlihat sangat aneh dari sudut pandang logis, tapi aku masih tetap mengiyakannya.


Kemudian, syarat kedua ini yang benar-benar sangat nyeleneh, di mana wanita ini memintaku untuk melakukan hal-hal yang berbau dewasa setiap malam, dan jika aku menolaknya, maka dia akan melakukannya secara paksa.


Tentu saja, mendengar hal tersebut, aku hanya bisa terdiam dan menatapnya dengan mata yang berkedut saja, sambil berpikir di dalam benak ku; 'Orang ini... Apa kepalanya benar-benar hanya dipenuhi oleh hal-hal mes*um saja?'


Namun, karena aku tidak memiliki pilihan lain, mengingat tubuhku yang semakin kemari, mulai menjadi semakin transparan, di mana hal tersebut membuat ku dengan terpaksa harus menyetujuinya.


Dan, untuk syarat yang terakhir, wanita ini memintaku untuk membawanya bersamaku, kemana pun aku pergi, di mana bahkan jika aku pulang kembali ke Bumi pun, dia juga harus ikut denganku.


Pada saat mendengar hal itu, aku tidak begitu terkejut, karena sejak awal, aku sebenarnya sudah bisa agak menebaknya, mengenai wanita ini yang sepertinya sih dapat membaca ingatanku, apalagi setelah dia mengubah pakaian miliknya ke kimono.


'Huhh... Untuk sekarang, mari kita fokus saja dulu ke pembuatan anak menggunakan Magic ini. Karena, semakin cepat hal ini selesai, itu artinya semakin cepat pula, aku bisa keluar dari tempat ini.'


Setelah memutuskan hal tersebut, aku kemudian segera bangkit dari kursi ku, sebelum aku langsung berjalan agak menjauh dari tempat itu, yang tentunya di ikuti oleh Niji dari belakang ku.


"<>" Aku segera mengaktifkan Magic Circiut milik ku, setelah aku tiba di tempat yang menurutku cocok, sebelum aku lanjut membaca mantranya; "<>"


Lingkaran sihir rumit yang begitu besar kemudian segera muncul di depanku, di mana hal tersebut di ikuti dengan munculnya lingkaran sihir lain yang sama rumitnya, meskipun jauh lebih kecil, di sekitarnya, di mana hal itu terlihat membentuk semacam kubah.


"<>"


Aku berhenti sejenak, di mana aku kemudian melirik ke arah Niji dan memberinya isyarat untuk menyalurkan Mana miliknya menuju ke arah lingkaran sihir yang ada di depan kami.


Untungnya Niji memahami maksud ku, di mana wanita itu terlihat segera menyentuh telapak tanganku dan langsung saja menyalurkan Mana miliknya.


Hanya saja, setelah Mana miliknya itu di salurkan, aku segera menyadari, bahwasanya... 'Sialan... Apa-apaan dengan jumlah Mana yang begitu mengerikan ini?'


Lagi pula, jumlah Mana yang disalurkan ini saja, dalam hitungan detiknya itu, hal tersebut sudah melampaui jumlah Mana yang biasanya dimiliki oleh para Caster normal yang ada di Bumi.

__ADS_1


Dimana, tidak lama setelah aku terkejut akan hal tersebut, aku kemudian segera teringat dengan sebuah fakta, yang wanita ini beri tahukan kepadaku, mengenai dirinya yang adalah seekor naga.


Yup, hal itu terjadi, kira-kira pada saat aku sedang menerima bantalan paha miliknya, dan karena menurutku hal tersebut tidak begitu penting, ketimbang mencari jalan keluar dari tempat ini, jadi aku pasti tanpa sadar melupakannya.


Hanya saja, seluruh pemikiran ku itu segera di tarik keluar, setelah aku teringat kalau aku harus segera melantunkan baris terakhir yang ada di dalam Magic ini.


"<>"


Seluruh lingkaran sihir yang ada di depan kami segera menyala dalam cahaya yang jauh lebih menyilaukan lagi, di mana beberapa saat kemudian, aku melantunkan satu kata terakhir yang perlu aku ucapkan.


"<>"


Tepat setelah aku mengatakan hal itu, seluruh lingkaran sihir yang ada di depanku meledak, di mana hal tersebut tentunya membuatku menutup mataku secara refleks, dan setelah aku membukanya kembali, hal pertama yang menyambutku adalah pemandangan dari seseorang yang sedang melayang di udara.


Seseorang ini pastinya adalah seorang perempuan, usianya berada di sekitar empat hingga lima tahunan, dengan yang paling menonjol darinya adalah rambut putihnya yang entah mengapa terlihat mirip dengan Niji, mungkin itu karena dia adalah ibunya? Entahlah.


Lebih penting dari itu, meskipun rambutnya ini di dominasi oleh warna putih, tapi ada juga beberapa helai rambutnya yang berwarna hitam di bagian depan dan ujungnya, di mana rambutnya ini terlihat mencapai bagian lututnya, dengan sebuah rambut yang tampak mencuat seperti antena yang menghadap ke arah depan.


Tidak lama kemudian, gadis kecil ini terlihat mulai membuka kedua matanya dengan perlahan, di mana setelah terbuka sepenuhnya, aku bisa melihat sepasang mata yang begitu mirip denganku, hanya berbeda di bagian tata letak warnanya saja.


Bedanya di sini, sementara milik ku memiliki mata kiri yang tampak seperti darah, dengan mata kanan ku yang berwarna biru muda, sedangkan gadis kecil ini terlihat memiliki pewarnaan mata yang sebaliknya, di mana yang kanan berwarna seperti darah, sementara yang kiri berwarna biru langit.


Dari melihat penampilannya saja, aku sudah bisa yakin, kalau gadis yang ada di depanku ini memang percampuran antara aku dengan Niji.


'Tapi tetap saja, masih agak sedikit sulit untuk menerima kenyataan, kalau selain sudah menikah, kehilangan keperaw*ananku, aku juga sekarang malah harus memiliki seorang anak.'


Selain itu, karena hubungan ku dengan keluarga kandung ku bisa di bilang sangat buruk, di tambah dengan reputasi ku yang menjadi sangat buruk berkat Saki, membuat kehidupanku menjadi sangat buruk.


Intinya sih, meskipun aku masih ingin menjalani kehidupan seperti remaja normal pada umumnya, tapi aku juga sepertinya harus menerima kenyataan pahit, kalau aku harus memiliki sebuah keluarga, di usia ku yang baru tujuh belas tahun ini.


Sementara aku memikirkan seluruh hal itu, gadis kecil yang melayang di depan kami kini terlihat sudah menapak di tanah, di mana dia dengan perlahan mulai berjalan menuju ke arahku dan Niji.


Setelah dia sampai tepat di depan kami, gadis kecil ini kemudian dengan perlahan-lahan mulai membuka mulutnya yang kecil untuk berbicara.


"Apakah kalian berdua adalah Papa dan Mama ku?" Tanya gadis kecil ini dengan lugu.


Dimana, pertanyaan itu sepertinya berhasil memberi ku sebuah damage yang cukup besar di hatiku, dengan Niji yang langsung saja membalas pertanyaan tersebut.


"Itu benar sekali~! Kita berdua ini memang adalah Papa dan Mama mu~! Jadi, tolong panggil aku Mama dan panggil dia Papa mulai sekarang, oke~?" Niji terlihat mengatakan hal itu dengan senyum hangat yang tumbuh di wajahnya, pada saat dia terlihat mulai mengelus-elus kepalanya.


Setelah mendengar jawaban dari Niji, wajah dari gadis kecil itu yang tadinya benar-benar terlihat tanpa emosi, secara tiba-tiba langsung berubah menjadi dipenuhi oleh kegembiraan, sebelum dia berkata dengan penuh kegembiraan; "Ya!! Mama!! Papa!!"


'Sialan... Bagaimana dia bisa terlihat sangat imut seperti ini!?'


Begitu saja, aku yang dikarenakan tidak bisa menolak keimutan dari gadis kecil ini, dengan agak terpaksa, harus menerimanya sebagai putriku.


Lagi pula, selain permasalahan nyawaku yang terancam jika aku menolaknya, mengingat kontrak pernikahan yang masih belum kelar, ada juga fakta lain, kalau mustahil ada orang yang bisa menolak, jika saja ada seorang anak kecil seimut ini yang ingin menjadi putri mereka.

__ADS_1


Tentu saja, sebagai manusia normal, tidak mungkin aku bisa menolaknya, bukan? Di tambah lagi, mungkin saja Okaa-san bakal senang memiliki cucu sepertinya.


Sambil terkikik dengan pemikiranku itu, kami kemudian mulai kembali duduk di kursi kami yang sebelumnya, di mana sementara aku duduk sendiri, di sisi lain, Niji terlihat duduk sambil memangku gadis kecil itu di pahanya.


Hanya saja, hal itu hanya berlangsung selama beberapa menit saja, sebelum gadis kecil ini segera melompat turun dengan paksa dari pangkuan Niji, sebelum dia duduk di paha ku begitu saja.


Tentu saja, aku yang melihat hal itu hanya bisa tersenyum kecut saja, apalagi setelah melihat dia yang tampak mulai menyenandungkan sesuatu dari mulutnya, sementara Niji sendiri terlihat agak kesal dengan hal yang mendadak itu.


Di tambah lagi, entah kenapa Niji malah mulai terlihat seperti sedang menatap gadis kecil ini dengan mata yang menajam, yang aku harap sih, hal itu hanya perasaanku saja.


Kami kemudian mulai menikmati suasana tenang itu dalam diam selama beberapa menit ke depan, hingga aku akhirnya ingat dengan sesuatu hal yang sangat penting, yang sepertinya sih sudah aku lupakan dari tadi.


"Ohh, ya. Aku baru ingat. Nehh, siapa nama kamu?"


Setelah aku menanyakan hal tersebut, Niji pun terlihat segera menjadi terkejut, karena dia juga mungkin lupa akan hal itu, di mana kami berdua kemudian mulai menatap gadis kecil ini dengan mata yang bertanya-tanya.


Sementara itu, gadis kecil yang sedang duduk di pangkuanku ini sendiri terlihat hanya menatap mataku dalam diam saja, sebelum dia mengatakan sesuatu hal, yang meskipun agak mengejutkan, tapi cukup masuk akal.


"Aku tidak mempunyai Nama. Jadi, aku ingin Papa memberikanku sebuah nama!?" Gadis kecil ini mengatakan hal itu dengan tatapan mata penuh harap yang di arahkan kepadaku.


Dan, karena aku dan Niji memahami alasan di baliknya, jadi aku dengan cepat memutuskan untuk memikirkan nama apa yang bagus untuk putriku ini.


'Hmm... Aku harus memberi dia nama apa, ya? Dia terlihat sangat imut, dan lagi, dia juga terlihat seperti boneka...'


'Terus, rambutnya ini memiliki warna putih yang mirip dengan Niji, sedangkan warna matanya itu mirip denganku, meskipun warna matanya ini hanya berbeda di bagian penempatan warnanya saja sih, tapi yang pasti masih tetap sama.'


'Hmm... Ini menyusahkan sekali... Putri... Putri Salju... Salju... Ohh ya!!! Bagaimana dengan itu!?'


Setelah aku menemukan nama yang menurutku cocok untuk putriku ini, aku kemudian langsung memberitahukannya namanya itu.


"Baiklah. Nama kamu sekarang adalah Miyuki, Shimotsuki Miyuki!!" Ucapku dengan penuh antusias.


\=-----\=-----\=-----\=-----\=


Author Note:


Yayy!!! Update lagi!!!


Pada bab kali ini, begitu banyak sudut pandang dari Souji yang diperlihatkan, hanya karena author ingin sesegera mungkin membuatnya keluar dari tempat itu, yang artinya kemungkinan masih untuk bab yang selanjutnya masih akan tetap sama.


Kemudian, di bab ini juga kita sedikit dijelaskan mengenai beberapa hal, seperti Niji yang tampaknya adalah seekor Naga, sedikit mengenai hal yang dipikirkan oleh Souji mengenai hal yang sedang terjadi kepadanya ini, hingga kemunculan dari Miyuki.


Itulah kenapa, bagi kalian yang ingin menunggu kelanjutannya, agar tidak ketinggalan, silakan di subscribe novel ini, sekalian like setiap babnya, plus tolong beri saya feedback, soalnya hal itu sangat diperlukan, untuk keberlanjutan dari novel ini.


Itu aja sih yang author ingin sampaikan, dan bagi kalian yang ingin mendukung author, kalian bisa traktir author di akun trakteer milik author yang bisa kalian akses melalui BIO IG author @Panagakos_Void.


Sampai jumpa lagi di bab selanjutnya! Adios~!

__ADS_1


__ADS_2