Shadow & The Jester

Shadow & The Jester
Chapter 04


__ADS_3

Chapter 04 : Alasan.


\=-----\=-----\=-----\=-----\=


(POV Souji)


Setelah pergi dari Istana kerajaan, tujuan ku selanjutnya adalah hutan dekat kota ini, demi mencari aman saja.


Lagi pula, jika aku masih tetap berada di kota ini, maka itu artinya cepat atau lambat, kami pasti akan di temukan dan di paksa untuk kembali ke sana, di mana itu adalah hal terakhir yang akan aku lakukan saat ini.


Kenapa? Itu karena, seperti yang sudah aku katakan sebelumnya, kalau seluruh perkataan yang diutarakan oleh Raja Denis dan Uskup Ugly itu sebenarnya merupakan sebuah kebohongan.


Lalu, kenapa aku tidak memberi tahukan yang lainnya? Mudahnya sih, apa kamu pikir aku akan peduli dengan mereka? Lagi pula, kami ini sebenarnya adalah orang asing, yang membuatku tidak memiliki tugas untuk menyelamatkan mereka.


Selain itu, aku juga tidak begitu peduli dengan orang-orang yang ada di dalam sana, mengingat orang-orang yang aku pedulikan saat ini sedang ikut bersama denganku.


Pada saat aku memikirkan hal tersebut, Nagisa yang berjalan di sampingku pun akhirnya memutuskan untuk angkat bicara, setelah kami berhasil keluar dari kota tersebut.


"Jadi, apa kamu sekarang akan memulai penjelasan dari tindakanmu ini, Souji?"


Bukan hanya gadis itu saja yang mulai menatapku dengan pandangan penuh keseriusan, tapi semua orang yang ikut dengan ku pun melakukan hal yang sama, yang tentunya berhasil membuatku menghela nafasku.


"Nanti akan aku jelaskan, tapi sekarang kita perlu menjauh dari kota itu dulu."


"Kenapa? Memang ada yang salah dengan kota itu?" Kali ini, orang yang bertanya adalah adik dari si Kyouya ini, alias Shirokin Mirai.


Aku awalnya hanya membalasnya dengan anggukkan ringan saja, sebelum aku berkata; "Ya, kota itu sungguh bermasalah sekali, sampai-sampai orang seperti dia pun memutuskan untuk pergi secara brutal."


"Apa kamu sedang membicarakan, Bani-kun?"


Aku sedikit mengangguk, setelah mendengar pertanyaan dari Ayano-sensei, sebelum aku berkata; "Dia seharusnya masih memegang moralnya untuk tidak membunuh seseorang, tapi..."


Sulit untuk menjelaskannya dengan kata-kata, terutama mengingat kami yang sebenarnya tidak begitu dekat, plus aku juga masih tidak begitu tahu tentang orang itu.


Tapi, satu-satunya hal yang aku pahami tentang dia hanyalah fakta, kalau dia ini memiliki kemampuan membunuh yang begitu mematikan, tapi tidak pernah ingin membunuh seseorang, dan hal ini berkaitan dengan moralnya yang sebelumnya aku bicarakan.


"Lebih baik, kalian simpan dulu saja pertanyaan-pertanyaan yang kalian miliki itu, karena kita akan mulai berlari setelah memasuki hutan ini. Dan ingat, jangan pernah menengok ke belakang, apapun yang terjadi."


Setelah melihat anggukkan penuh keseriusan dari mereka semua, aku kemudian mulai memimpin jalan menuju ke dalam hutan dekat Ibukota dari Kingdom of Groxia ini.


...


\=-----\=-----\=-----\=-----\=


(POV Orang Ketiga)


Sementara itu, di tempat lain...


Kelompok Dafa berhasil tiba di sebuah danau yang di kelilingi oleh pepohonan yang begitu lebat, yang dari balik pepohonan tersebut, aura tidak menyenangkan terpancar keluar.


Setelah tiba di sana, hal pertama yang dilakukan oleh Dafa adalah memeriksa seluruh tempat itu dengan teliti, sebelum dia akhirnya melakukan sesuatu hal, yang tidak dapat ketiga orang lainnya pahami.


"Apa sih yang dari tadi kamu lakukan?" Salah satu gadis yang ada di sana memutuskan untuk bertanya dengan penuh kejengkelan, setelah dia melihat Dafa yang berjalan menuju ke arah mereka.


Dafa sendiri hanya membalasnya dengan angkatan bahu ringan saja, sebelum remaja itu memberi isyarat kepada mereka bertiga untuk duduk.

__ADS_1


"Jadi, apa kamu akhirnya akan memulai penjelasan mu ini?" Rafi segera menanyakan hal tersebut, setelah dirinya melihat kalau tubuh dari temannya ini mulai menjadi rileks.


Dafa sendiri awalnya hanya membalasnya dengan anggukkan ringan saja, sebelum dia berkata; "Ya, tapi jangan terlalu berharap besar dariku, karena aku tidak terlalu pandai dalam hal semacam ini."


Ketiga orang lain yang ada di sana hanya bisa membalasnya dengan anggukkan ringan saja, karena itu merupakan sebuah fakta yang mereka bertiga ketahui.


Setelah melihat hal itu, akhirnya Dafa memulai penjelasan miliknya.


"Untuk yang pertama, aku ingin kalian tahu, kalau semua yang dikatakan oleh Raja dari Kingdom of Groxia itu dan Uskup tersebut semuanya adalah kebohongan."


"Bagaimana kamu bisa tahu hal itu?" Gadis berambut hitam itu, yang memiliki nama Akane Vertzlicte, dia terlihat sulit untuk mempercayai kata-kata dari Dafa.


Tapi, dua orang yang lainnya tampaknya memiliki pemikiran yang sangat berbeda sekali dengannya, karena...


"Untuk apa kamu mempertanyakan hal itu, Akane? Bukannya sudah jelas? Lagi pula, dari awal, kenapa kamu malah mengikuti kami?" Orang yang segera membalas Akane dengan penuh sindiran ini adalah Natsuki Sora, atau yang lebih di kenal sebagai Kōri no joō/Ice Queen.


Mata merah milik Akane segera terlihat berkedut-kedut, karena dia tidak pernah menyangka, kalau akan tiba saatnya dia akan menerima sindiran yang seperti itu dari teman baiknya ini.


Sebelum Akane bisa membalas perkataan dari Sora, Dafa yang menyadari kalau tidak segera di potong, maka hal itu akan berakhir dengan sangat merepotkan, dia memutuskan untuk segera memotongnya dan mengganti topik pembicaraan.


"Lebih penting dari itu, aku akan jujur kepada kalian, kalau jalan yang akan aku ambil dari sini itu, bisa di bilang, agak terlalu berdarah dan kejam. Jadi, aku sarankan untuk kita berpisah saja di sini, karena aku yakin, dengan moral yang kalian miliki itu, kalian tidak akan mungkin bisa bertahan bersama denganku."


Setelah Dafa mengatakan hal itu, suasana yang ada di sana seketika itu juga menjadi sangat menegangkan, dengan Dafa sendiri hanya tampak menunggu jawaban mereka saja dalam diam, sambil bermain-main dengan benang tipis yang ada di kedua jari jemarinya itu.


Sementara Dafa sibuk melakukan hal itu, di sisi lain, tiga orang yang bersama dengannya malah terlihat begitu serius memikirkan hal tersebut.


Lagi pula, Ketiga orang itu sudah sangat paham tentang maksud di baliknya, apalagi setelah mengingat tentang bagaimana remaja ini yang membunuh setiap orang yang ada di depannya, tanpa peduli sedikit pun dengan tindakannya itu.


Kalau boleh jujur sih, jika bukan karena Sora yang terus berlari mengejar Dafa, Akane mungkin sudah akan pingsan di tempat, karena melihat mayat dari seseorang yang tampak dalam kondisi yang sangat mengerikan.


Bisa di bilang, rasa cintanya terhadap remaja itu sudah melampaui batas wajar, hingga mungkin akan lebih tepat untuk di sebut sebagai sebuah obsesi, terutama setelah kejadian waktu Turnamen Sepak Bola dua bulan yang lalu.


Sejak saat itu, rasa cinta milik gadis ini menjadi semakin kuat, hingga membuat pikiran logisnya cukup terpelintir.


Sementara itu, Rafi yang paling mengenal Dafa benar-benar paham betul maksud di balik kata-katanya itu, yang dia yakini pasti memiliki maksud lain di baliknya.


Lagi pula, selain fakta kalau remaja itu yang tidak akan pernah berbohong sedikit pun di setiap kata-katanya, ada juga fakta lain tentang dia yang terkadang memiliki maksud ganda di balik kata-kata yang diucapkan olehnya, yang terkadang membuat remaja itu disalahpahami oleh orang lain.


Inilah masalahnya. Karena, saat ini Rafi tidak memahami maksud lain di balik kata-katanya itu, yang membuatnya agak ragu untuk memilih opsi yang mana.


Namun, seluruh hal itu segera sirna dari dalam benak mereka, setelah getaran besar terjadi di tempat itu, sebelum sebuah bunyi kaca pecah dapat terdengar menggema di sana, di mana pada waktu yang bersamaan pula, seluruh pemandangan yang ada di sekitar mereka segera berubah dengan sangat drastis.


Pada saat hal itu terjadi, wajah milik Dafa segera menjadi sangat pucat, sebelum dia berlari untuk mendorong Akane dari tempat dirinya duduk saat ini, di mana setelah melakukan hal itu, Dafa yang berada di tempat tersebut segera terkena sebuah tiang runcing yang muncul secara tiba-tiba dari tanah, yang tentunya mengejutkan semua orang yang ada di sana.


""Dafa!!/Bani-kun!!""


Sementara Rafi dan Sora segera bergerak untuk membantu Dafa melepaskan sebuah tiang yang menancap di bahu kanannya, di sisi lain, Akane yang melihat seluruh hal itu hanya bisa terdiam saja, tanpa bisa mengerti apa yang sedang terjadi.


Mereka awalnya sedang duduk santai berbincang mengenai alasan dari tindakan remaja laki-laki berambut hitam keunguan ini, tapi dalam hitungan detik, entah kenapa seluruh hal itu segera berubah menjadi seperti ini, tepat setelah getaran aneh terjadi di sana.


"I-itu... A-aku..." Meskipun ingin mencoba meminta maaf kepada Dafa, tapi Akane entah kenapa tidak bisa melakukannya, terutama setelah melihat lengan kanan milik remaja itu yang sudah berada di ambang hampir putus.


Dari melihat hal itu saja, Akane bisa tahu seberapa sakitnya hal tersebut, dan meskipun hal itu memang bisa di anggap sebagai karma dari tindakannya di istana kerajaan saat itu, tapi hal tersebut masih terasa sangat tidak adil sama sekali, karena dirinya tahu, kalau remaja tersebut langsung membunuh orang-orang itu, tanpa membiarkan setiap orang itu merasakan rasa sakitnya.


Jadi, hal ini tidak mungkin bisa di anggap adil, jika dia disuruh untuk berpendapat mengenainya...

__ADS_1


"Bisa kalian berhenti menatapku seperti itu? Jangan menatap ku seakan-akan aku sudah mati. Lagi pula..." Dafa yang berhasil memisahkan tiang runcing tersebut dari bahu kanannya itu, dia kemudian segera memutuskan lengannya sendiri, yang tentunya membuat semua orang yang ada di sana terkejut, sebelum dia melanjutkan kata-katanya itu sambil menutupi luka di lengannya itu menggunakan rompi miliknya, "... Hal ini tidak ada apa-apanya sama sekali, dibandingkan dengan hal yang pernah aku rasakan dulu."


"Jadi, dari pada kamu merasa bersalah seperti itu, lebih baik kamu berdiri dan bersiap untuk berlari pergi dari sini. Karena, sepertinya mustahil bagi kita untuk menang melawannya."


Setelah mendengar hal itu, sementara Rafi hanya bisa menghela nafasnya saja, karena orang itu tahu kalau temannya ini pasti akan mengatakan hal tersebut, dan Sora, di mana gadis itu hanya semakin terpesona saja kepadanya, di sisi lain, Akane merasa kalau orang itu benar-benar sangat bodoh sekali, karena masih bisa tersenyum seperti itu dan mengkhawatirkan orang lain, padahal kondisinya itu jauh lebih buruk ketimbang mereka.


Sayangnya itu, suasana tersebut tidak berlangsung lama, karena orang yang menjadi penyebab dari seluruh hal itu akhirnya menampakkan dirinya di depan keempat orang tersebut.


...


Sementara itu, di tempat lain...


Kelompok Souji yang berhasil melarikan diri dari sekelompok orang yang muncul entah dari mana dan mengejar mereka tanpa ada alasan yang jelas, mereka semua berakhir di tengah-tengah sebuah hutan yang mengingatkan Souji dengan Hutan Amazon yang ada di Bumi.


Untungnya sih, tidak ada yang terluka dalam kejar-kejaran itu, di mana hal tersebut terjadi akibat dari adanya beberapa gerombolan serigala aneh yang muncul entah dari mana, yang berkat dari Souji yang berhasil menarik perhatian dari gerombolan serigala itu kepada kelompok yang mengejar mereka, akhirnya mereka bisa kabur dari kejaran kelompok tersebut dengan selamat.


Setelah memastikan kalau mereka memang benar-benar aman, akhirnya Souji langsung duduk di tanah, yang tentunya di ikuti oleh keenam orang yang lainnya.


"Souji-san... huhh... huhh... Apa sih yang... huhh... sebenarnya sedang... huhh... huhh... terjadi?" Kyouya adalah orang yang pertama kali menyuarakan kebingungan yang semua orang miliki, yang karena Souji pun cukup bingung juga dengan pengejaran tersebut, remaja itu berakhir hanya bisa menjawabnya dengan angkatan bahu ringan saja.


"Jujur saja, ini benar-benar di luar dugaanku. Karena, pada awalnya aku kira kita hanya di kejar oleh beberapa bandit acak saja yang ada di Dunia ini, tapi..."


Benar-benar sulit untuk menggambarkan perasaan Souji saat ini, terutama setelah melihat pakaian yang orang-orang itu kenakan.


Lagi pula, mau di lihat dari sudut mana pun, semua hal itu benar-benar terasa tidak nyata sama sekali, terutama setelah mengingat kalau latar dari Dunia ini seharusnya adalah pedang dan sihir.


'Tapi, kenapa mereka semua memiliki pistol di pinggang mereka?'


Itulah yang membuatnya bingung. Dengan munculnya keberadaan dari pistol ini, hal itu mengartikan kalau teknologi yang ada di Dunia ini sepertinya tidak tertinggal begitu jauh dari Bumi.


Hanya saja... 'Kenapa aku tidak melihat ada orang yang menggunakan hal itu juga di Ibukota? Apa mereka mungkin berasal dari kelompok yang berbeda? Atau mungkin...'


Souji memikiki begitu banyak kemungkinan di dalam kepalanya, yang masing-masing dari kemungkinan itu cukup sulit untuk menjadi kenyataan, apalagi mengingat dia yang masih sangat kekurangan informasi tentang Dunia ini, membuat segalanya menjadi jauh lebih rumit lagi.


'Sialan... Jika saja Yu atau Emilia ada di sini, mungkin segalanya akan menjadi jauh lebih mudah.'


Meskipun dirinya tahu kalau hal itu mustahil untuk menjadi kenyataan, tapi Souji masih sedikit mengharapkannya, mengingat kedua orang itu memiliki kecerdasan di level yang begitu mengerikan.


Kemudian, setelah beristirahat selama hampir setengah jam di tempat itu, mereka semua setuju untuk mencari tempat aman dulu untuk bermalam, terutama setelah melihat langit sore yang tertutupi oleh dedaunan lebat yang ada di sana, sebelum mereka mendengarkan penjelasan yang dimiliki oleh Souji.


\=-----\=-----\=-----\=-----\=


Author Note:


Yayy! Update lagi!!


Di dalam bab kali ini, cukup banyak hal mendadak yang cukup di luar dugaan terjadi.


Seperti ada seseorang yang secara tiba-tiba menyerang kelompok dari Dafa, hingga menyebabkan MC kita itu harus kehilangan salah satu lengannya, sementara di sisi MC kita yang satunya lagi mendapat kejar-kejaran dari sekelompok orang aneh, yang entah bagaimana memiliki sebuah pistol sebagai peralatan mereka.


Jika kalian bingung dengan seluruh hal itu, tenang saja, nanti bakal di jelaskan sedikit demi sedikit, meskipun penjelasan tentang pistol itu akan cukup lama sih, mengingat orang-orang itu baru akan muncul lagi di bab belasan atau dua puluhan ke atas.


Jadi, kalau kalian penasaran, kalian bisa tunggu saja update dari novel ini yang tiga hari sekali.


Selain itu, jika kalian ingin berdonasi kepada author, kalian bisa mengunjungi akun trakteer author melalui IG author @Panagakos_Void.

__ADS_1


Itu aja sih yang ingin author sampaikan, sampai jumpa lagi di bab selanjutnya! Adios~!


__ADS_2