Shadow & The Jester

Shadow & The Jester
Chapter 17


__ADS_3

Chapter 17 : Pembicaraan Dengan Sora.


\=-----\=-----\=-----\=-----\=


(POV Orang Ketiga)


Berjalan di Danau yang terletak di dekat kastil milik Orobas, Dafa bisa terlihat sedang duduk di tepi dari danau tersebut, bersama dengan Sora yang sedang duduk di sampingnya.


"Bani, apa aku boleh menanyakan sesuatu hal kepadamu?"


"Apa?"


Setelah mendengar balasan tersebut, Sora kemudian segera kembali berbicara; "Wanita seperti apa yang kamu suka?"


Kali ini, Dafa langsung meliriknya dengan tatapan mata aneh, sebelum dia berkata; "Kenapa kamu menanyakan hal itu?"


Sora kemudian segera mengalihkan pandangannya ke arah lain, mencoba untuk menghindari tatapan mata milik Dafa, sebelum dia akhirnya membalasnya.


"Tidak ada alasan yang khusus. Aku hanya ingin tahu saja." 'Dan, mungkin aku bisa menggunakannya untuk mendapatkan mu.' Namun, gadis Natsuki ini memutuskan untuk menyimpan yang terakhir untuk dirinya sendiri.


Hanya saja, yang tidak di tebak oleh gadis Natsuki tersebut, adalah mengenai fakta, jika Dafa sebenarnya sudah bisa menebak apa yang sebenarnya gadis itu rencanakan.


Lagi pula... 'Dia mungkin sedang sangat cemburu dengan Orbs. Kemungkinan, karena aku terlalu dekat dengannya.'


Itu benar sekali. Seperti yang mungkin sudah dipikirkan oleh siapa pun, kalau sebenarnya itu, Dafa sudah menyadari perasaan romantis yang dimiliki oleh gadis Natsuki tersebut kepada dirinya.


Hanya saja, cuma karena remaja laki-laki itu yang sedang tidak ingin berurusan dengan hal-hal yang berhubungan dengan romansa, apalagi sejak kejadian beberapa tahun yang lalu, hal tersebut membuatnya benar-benar mencoba untuk selalu bertingkah tidak tahu apa-apa.


Terus, bagaimana perasaan dari Dafa terhadap Sora? Kalau itu sih, dia sendiri sebenarnya tidak terlalu bisa menjawabnya.


Ini bukan karena dia sulit dalam mengungkapkan perasaannya yang sebenarnya, tapi hal tersebut lebih mengarah ke dirinya yang tidak bisa memahami perasaannya sendiri.


Lagi pula, sejak dirinya masih kecil, remaja laki-laki tersebut selalu saja sangat kesulitan, untuk memahami emosi apa yang sedang dirinya rasakan.


Dan bahkan, hal ini sampai pada dia yang tidak bisa membedakan ekspresi wajahnya, dengan emosi yang sebenarnya dirinya sedang rasakan.


Intinya sih, Dafa masih belum bisa memahami emosinya sendiri, yang membuat remaja itu tidak bisa memahami perasaan yang dirinya miliki terhadap Sora.


Jadi, itulah mengapa, Dafa memutuskan untuk sedikit jujur saja kali ini, hanya untuk memastikan saja, mengenai apakah dia memiliki perasaan terhadapnya, atau tidak.


"Hmm, mari coba kita lihat... Mungkin, seseorang yang bisa memasak? Lagi pula, aku sangat payah dalam hal tersebut."

__ADS_1


"Itu benar sekali. Kamu memang sangat payah dalam hal tersebut." Sora segera menyetujui hal itu, karena dia memang sudah menyadarinya.


Meskipun agak kesal dengan hal tersebut, tapi Dafa masih tetap melanjutkannya, "Terus, mungkin seseorang yang bisa menerimaku apa adanya. Dan, orang itu tidak memandang ku dari fisik ku saja."


"Ada lagi?" Sora segera menanyakan hal itu, beberapa saat setelah Dafa mengatakan hal yang sebelumnya.


Dimana, Dafa sendiri hanya membalasnya dengan anggukkan ringan saja, sebelum dia berkata; "Ya. Dan, yang lebih penting lagi, aku harap orang itu bisa melihat diriku yang sebenarnya."


"Dirimu yang sebenarnya?" Sora segera menanyakan hal itu dengan penuh kebingungan, karena dirinya memang tidak paham sama sekali dengan hal tersebut.


Dafa sendiri kembali hanya membalasnya dengan anggukkan ringan saja, sebelum dia kembali menjawabnya.


"Itu benar sekali. Orang tersebut harus bisa melihat siapa sebenarnya 'Bani Dafa Sabiluna' ini."


"Jadi, maksudmu itu, kamu yang sekarang ini, bukanlah dirimu yang asli?" Itu adalah kesimpulan yang bisa gadis Natsuki tersebut ambil, setelah mendengar hal yang dikatakan oleh Dafa.


"Entahlah." Balas Dafa sambil mengangkat kedua bahunya dengan ringan, "Bahkan, aku sendiri pun masih bingung dengan hal tersebut. Lagi pula, baru ada dua orang saja yang berhasil melakukan hal itu."


"Biar aku tebak, salah satunya pasti adalah Rafi, bukan?"


"Bukan, dia sama sekali masih belum bisa melihat diriku yang sebenarnya. Karena, dia baru hanya menyadari halaman pertama, dariku." Dafa segera menyangkal perkataan dari Sora, sambil sedikit menjelaskan maksud di balik penyangkalannya itu.


Sora sendiri segera terdiam setelah mendengar hal tersebut. Karena, jika orang itu saja baru menyadari halaman pertamanya, terus seperti apa seluruh bukunya ini?


Dengan begitu, Dafa pasti akan... 'Menjadi milik ku seorang' Pikir Sora dengan senyum kecil yang tumbuh di wajahnya, yang gadis itu coba sembunyikan menggunakan tangan kanannya.


Di sisi Dafa sendiri, dia hanya melirik gadis tersebut dengan penuh kemasalan saja, sambil berkata di dalam benaknya; 'Semoga, aku tidak mengambil keputusan yang salah dengan melakukan hal ini.'


Begitu saja, satu roda takdir baru mulai terbentuk di depan Dafa, tanpa remaja laki-laki itu sadari sama sekali.


...


Sementara itu, di sisi dari kelompok Souji...


Setelah mereka semua menyelesaikan makan siang mereka, ketujuh orang tersebut kemudian mulai melanjutkan perjalanan mereka, sambil tentunya melakukan leveling di sepanjang jalan.


Akibat dari hal itulah, kini level yang mereka semua miliki sudah terbilang sangat tinggi, sampai-sampai ketujuh orang tersebut sudah berada di atas level dua ratus.


Meskipun dikatakan begitu, tapi pengalaman tempur mereka masih terbilang nihil, ini karena Souji yang jarang sekali membiarkan mereka berduel secara serius dengan salah satu monster yang mereka temui, dengan alasan kalau dirinya takut sesuatu hal yang buruk terjadi kepada mereka.


Tentu saja, mendengar jawaban tersebut, semua gadis yang ada di kelompok itu, dengan pengecualian Mirai, mereka segera terpesona dengan kekhawatiran dari Souji terhadap mereka, tanpa menyadari maksud di balik tindakannya itu.

__ADS_1


Lagi pula, ada sebuah alasan, dari mengapa Souji melarang salah satu dari mereka untuk berduel dengan para monster yang mereka semua temui, di mana hal ini masih berhubungan dengan orang-orang yang memiliki senjata futuristik sebelumnya.


'Aku harus lebih low profil lagi, supaya kami tidak di buru oleh lebih banyak kelompok lagi.'


Seperti yang baru saja dipikirkan oleh Souji, kalau dia sebenarnya, hanya tidak ingin menarik masalah lain kepada dirinya, dengan membuat mereka semua menjadi sangat kuat, tapi tidak di waktu yang bersamaan.


Kuatnya yang orang itu inginkan di sini, hanya sampai mereka bisa melindungi diri mereka sendiri, tanpa perlu menjadi salah satu makhluk Terkuat yang ada di Dunia.


Itulah kenapa, setelah urusan dengan leveling ini selesai, Souji sendiri berniat untuk melakukan duel bertarung dengan masing-masing dari mereka, hanya untuk meningkatkan pengalaman bertarung dari orang-orang tersebut.


Selain itu, karena dia juga berniat untuk mencari murid pindahan itu dan membangun aliansi dengannya, jadi dirinya ini tidak mempunyai waktu yang begitu banyak, apalagi setelah mengingat hal-hal yang perlu dirinya segera lakukan, tepat setelah mereka tiba di Handel City ini.


Dari memikirkan hal-hal tersebut saja, sudah bisa di bilang, kalau Souji ini sedang sangat sibuk sekali, yang membuatnya tidak ingin menambah kesibukannya itu, kalau saja ada salah satu dari mereka yang terluka dengan parah secara tiba-tiba.


'Tapi tetap saja, apa kira-kira yang murid pindahan itu sedang lakukan sekarang, ya?' Souji kemudian mulai memandangi langit biru yang ada di atasnya dengan tatapan mata yang lesu, 'Aku harap dia bisa di ajak kerja sama.'


Lagi pula, mengingat niat membunuh yang begitu mengerikan kemarin...


Jujur saja, jika niat membunuh itu ternyata memang benar milik murid pindahan tersebut, itu artinya pasti ada seseorang yang sudah berhasil membuatnya menjadi sangat marah.


Dimana, jika saja amarah tersebut masih belum reda juga, sampai dirinya bertemu dengan murid pindahan itu lagi, sudah bisa dipastikan, kalau bekerja sama dengannya sudah tidak mungkin untuk dilakukan lagi.


Palingan, Souji hanya bisa membuat sedikit perjanjian dengan teman dari si murid pindahan tersebut, mengingat orang itu adalah seseorang yang bisa di ajak untuk bekerja sama, hampir dalam hal apapun, kecuali kondisi di mana hal tersebut akan membahayakan si murid pindahan ini.


'Untuk sekarang, lebih baik aku fokus dulu saja dengan hal yang ada di depanku. Masalah bisa atau tidaknya, akan aku pikirkan lagi nanti saja, setelah aku bertemu lagi dengannya.'


Setelah memutuskan hal tersebut, Souji kemudian segera fokus dengan leveling setiap orang yang ada di kelompoknya, hingga matahari hampir benar-benar tenggelam.


\=-----\=-----\=-----\=-----\=


Author Note:


Yayy!! Update lagi!!


Di bab kali ini, kita sedikit diperlihatkan kisah romansa dari MC kita yang baru, di mana dia sepertinya tengah mengalami sebuah penyakit yang cukup langka, karena hal itu membuatnya sangat sulit untuk memahami emosinya sendiri.


Selain itu, di sudut pandang tersebut juga, kita diperlihatkan tipe wanita seperti apa yang MC baru kita ini inginkan, dan sedikit diperlihatkan, mengenai seberapa besarnya obsesi Sora terhadap MC baru kita ini.


Tidak hanya itu saja, di sudut pandang MC lama, kita diperlihatkan masalah yang sedang MC lama kita ini tengah alami, meskipun tidak begitu detail, tapi hal tersebut sudah cukup untuk memperlihatkan, mengenai hal apa yang terjadi pada kelompok MC lama kita ini.


Itulah kenapa, bagi kalian yang ingin menunggu kelanjutannya, agar tidak ketinggalan, silakan di subscribe novel ini, sekalian like setiap babnya, plus tolong beri saya feedback, soalnya hal itu sangat diperlukan, untuk keberlanjutan dari novel ini.

__ADS_1


Itu aja sih yang author ingin sampaikan, dan bagi kalian yang ingin mendukung author, kalian bisa traktir author di akun trakteer milik author yang bisa kalian akses melalui BIO IG author @Panagakos_Void.


Sampai jumpa lagi di bab selanjutnya! Adios~!


__ADS_2