
Chapter 15 : Mikasa Ayano.
\=-----\=-----\=-----\=-----\=
(POV Orang Ketiga)
Duduk di bangku yang terletak di taman yang ada di Istana dari Kingdom of Groxia.
Di sana, terlihat Saki yang sedang memandangi langit dengan mata birunya yang tampak kosong, di mana bisa terlihat juga jika kegilaan yang terpancar dari baliknya.
'Kira-kira, apa ya, yang sedang Sou-ku lakukan?'
Tidak lama setelah memikirkan hal tersebut, mata yang dimiliki oleh Saki segera menjadi semakin dipenuhi oleh kegilaan, karena...
'Kalau saja Unique Skill ku ini bisa membaca pikiran dan hal yang sedang dia lakukan, mungkin akan menjadi jauh lebih baik. Karena, dengan begitu, aku pasti akan tahu, siapa yang mencoba untuk mengambil Sou-ku dari ku.'
Meskipun gadis Aizawa ini memikirkan hal semacam itu, tapi dia masih tetap memutuskan untuk fokus dengan hal yang ada di depannya, sambil terus mencoba untuk berpikir positif.
...
Di sisi Souji sendiri...
*Haachim!!*
\=-----\=-----\=-----\=-----\=
(POV Souji)
*Haachim!!*
"Sou-chan, apa kamu baik-baik saja?" Nagisa segera menanyakan hal tersebut dengan penuh kekhawatiran, yang hanya aku jawab dengan anggukkan ringan saja.
"Lebih penting dari itu, apa kalian sudah paham tentang hal yang baru saja aku bicarakan ini?"
Setelah aku menanyakan hal tersebut, Ayano-sensei menjadi orang pertama yang menjawabnya, yang di ikuti oleh Shinomiya-san, Kyouya, Sanada, dan di akhiri oleh Mirai-kun.
"Ya. Hanya saja, kenapa kamu baru memberi tahukan hal ini sekarang?"
"Benar yang dikatakan oleh Mikasa-sensei. Kenapa kamu tidak memberi tahu kami hal ini sejak awal? Karena, mungkin saja kami bisa sedikit membantumu."
"Itu benar sekali. Kamu tidak harus menanggung semuanya sendirian, Souji-san. Kita ini teman, bukan? Teman itu seharusnya saling membantu."
"Benar, Benar. Kamu tidak boleh menyembunyikan hal yang seperti ini dari kami, Souji-senpai. Itu tidak baik."
"Hmp! Hanya kali ini saja aku setuju dengan yang lainnya tentang mu. Kamu seharusnya tidak menyembunyikan hal tersebut."
Mendengar seluruh hal itu, aku hanya bisa tersenyum kecut saja, karena... "Apa kalian tahu? Aku sebenarnya ingin jujur mengenai hal ini sejak awal, tapi aku hanya tidak ingin membuat kalian tambah khawatir saja."
"Belum lagi, posisi kita saat ini benar-benar sedang di posisi yang sangat buruk. Karena, selain sudah menjadi buronan dari Kingdom of Groxia, kemungkinan besar kita juga akan sulit untuk masuk ke sebuah Kota."
"Tapi tetap saja, kamu tidak perlu menyembunyikannya seperti ini, Sou-chan. Apa kamu tidak menganggap kami sama sekali?" Nagisa segera membalas perkataan ku itu dengan nada penuh keseriusan, di mana yang lainnya mulai ikut menatapku dengan mata yang serius juga.
Oh ya, jika ada yang bertanya, tentang apa yang sedang terjadi? Aku hanya bisa bilang, kalau aku secara tidak sengaja, malah membuat orang-orang ini tahu mengenai beberapa orang yang mengejar kami kemarin.
Dan, itu bisa terjadi, dikarenakan kemunculan dari salah satu dari mereka di depan kami, yang sepertinya sih adalah pemimpin dari orang-orang yang mengejar kami kemarin.
__ADS_1
Terus, apa yang terjadi? Tentu saja, aku segera membunuhnya dengan cepat, tanpa menunggu pria tersebut selesai berbicara.
Hanya saja, masalahnya di sini, aku waktu itu lupa, jika aku sedang tidak sendirian, alias keenam orang yang bersama denganku saat ini, mereka tentunya melihat pembunuhan yang aku lakukan itu.
Dan, begitu saja, aku dengan terpaksa harus menjelaskan hal apa yang terjadi, hanya demi mencegah sebuah kesalahpahaman yang terjadi di antara kami, apalagi mengingat posisi kami yang sekarang.
"Dari pada kalian terus memikirkan hal itu, bukannya lebih baik, jika kita melanjutkan perjalanan kita? Belum lagi, karena langit sudah mulai terlihat berwarna jingga, lebih baik kita juga segera mencari tempat untuk tidur, bukan?"
Meskipun mereka terlihat masih agak kesal dengan jawabanku ini, tapi mereka pada akhirnya masih tetap menerimanya, yang tentunya membuat kami melanjutkan perjalanan kami.
.....
....
...
Begitu saja, malam hari tiba dengan cukup cepat, dengan kami yang untungnya berhasil menemukan tempat yang bagus untuk menetap sementara, sebelum langit benar-benar menjadi gelap.
Kami memutuskan untuk beristirahat di antara dua pohon paling besar yang ada di sekitaran daerah tempat kami berada, yang pastinya akan berada di dekat aliran sungai, hanya karena aku merasa itu akan jauh lebih baik, hampir dalam segala macam hal.
Ngomong-ngomong, saat ini aku sedang menatap langit malam penuh bintang yang ada di balik dedaunan lebat yang ada di hutan ini, yang saking lebatnya itu, hal tersebut hampir menutupinya secara keseluruhan.
Pada saat aku sedang menatap langit penuh bintang tersebut, aku sedikit melirik ke arah enam orang yang ikut bersama denganku, di mana aku bisa melihat, kalau hanya Ayano-sensei saja yang masih terlihat bangun, sementara yang lainnya sudah pada tertidur.
"Apa Anda tidak tidur, Ayano-sensei?"
"Kamu sendiri bagaimana, Souji-kun? Kenapa kamu belum tidur?" Ayano-sensei segera membalasnya dengan nada lembut, pada saat dia bangkit dan mulai duduk di sampingku.
Aku awalnya hanya meliriknya saja, sebelum aku kembali menatap ke arah langit penuh bintang yang ada di atasku, dan setelah beberapa menit, pada akhirnya aku memutuskan untuk membalasnya.
"Kalau begitu, Sensei juga sama. Sensei belum mengantuk juga."
Mendengar balasan yang seperti itu, aku hanya bisa meliriknya dengan tatapan yang aneh saja, sebelum aku berkata; "Berhentilah menggunakan hal seperti itu. Itu benar-benar tidak cocok sama sekali dengan Anda."
Setelah aku mengatakan hal itu, Ayano-sensei segera mencubit ku dan berkata; "Mow! Itu tidak sopan sekali tahu, Souji-kun. Sensei bisa nangis loh."
"Ya, ya. Terserah Anda saja, Sensei."
Kami berdua kemudian tertawa kecil, sebelum kami berdua mulai menatap langit malam dalam diam.
Keheningan itu terus berlanjut selama beberapa menit ke depan, hingga Ayano-sensei pada akhirnya kembali berbicara.
"Neh, Souji-kun. Apa menurut mu, tindakan yang dilakukan oleh Bani-kun itu salah?"
Aku yang mendengar hal itu, awalnya aku hanya bisa meliriknya saja, karena... 'Orang ini... Dia masih tetap mencoba untuk menjadi guru yang baik.'
Kalau boleh jujur sih, dari sekian banyak hal tentang wanita yang sedang duduk di sampingku ini, hal yang paling aku kagumi darinya itu, adalah tentang seberapa besarnya keinginannya untuk menjadi seorang guru yang baik.
Meskipun pada akhirnya hal itu malah berakhir dengan cukup lucu sih, di mana dia malah di cap sebagai seorang Guru Killer, tapi aku tidak bisa untuk tidak mengagumi dedikasinya itu.
Apalagi, mengingat keluarganya ini yang lebih ingin anaknya menjadi seorang dokter...
Aku cukup yakin, kalau perjuangan wanita ini untuk menjadi seorang guru itu tidak mudah sama sekali.
Itulah kenapa, aku hanya bisa berkata; "Entahlah. Karena, itu terserah Anda ingin melihatnya dari sudut pandang yang mana, Sensei. Sebab, jawabannya pasti akan berbeda-beda."
__ADS_1
Setelah aku mengatakan hal tersebut, aku bisa melihat wanita ini yang mulai menatapku dengan mata yang agak sedikit melebar, yang pastinya membuatku tersenyum kecil.
"Meski begitu, ada yang jauh lebih penting dari hal tersebut." Kali ini, aku mengatakan hal itu sambil bangkit dari tempat aku duduk saat ini.
Ayano-sensei sendiri terlihat segera menatapku dengan penuh kebingungan, "Apa yang sedang kamu bicarakan, Souji-kun?"
"Maksudku itu, akan sangat merepotkan sekali, jika saja Anda sakit, akibat begadang seperti ini. Jadi, mari kita pergi tidur?"
Aku bisa melihat senyum kecil yang tumbuh di wajah Ayano-sensei, setelah aku mengatakan hal tersebut.
Begitu saja, setelah Ayano-sensei menyetujuinya, kami berdua kemudian memutuskan untuk tidur.
\=-----\=-----\=-----\=-----\=
(POV Orang Ketiga)
Di tempat yang lainnya...
Bisa terlihat kalau Dafa sedang berbaring di atap kastil milik Orobas, dengan gadis Demon Lord itu sendiri yang tampak berbaring di dekatnya dan menggunakan perut miliknya sebagai bantal.
Keduanya terlihat hanya menatap langit malam saja dalam diam, hingga akhirnya Orobas memutuskan untuk memecah keheningan tersebut.
"Neh, temanku~ Apa menurutmu, hal besar akan segera terjadi pada Dunia ini~?"
Dafa awalnya hanya diam saja, sambil terus memandangi miliyaran bintang yang menghiasi langit malam di tempat itu, sebelum dia pada akhirnya memutuskan untuk membalasnya.
"Entahlah. Tapi, kemungkinan besar, memang akan terjadi guncangan besar terhadap seluruh Dunia ini."
"Apa kamu akan menjadi penyebab utamanya, temanku~?"
Kali ini, Dafa tidak membalasnya, di mana remaja laki-laki tersebut hanya terus menatap langit malam saja dalam diam, dengan Orobas sendiri yang memutuskan untuk tidak melanjutkan pembicaraan tersebut.
Meskipun di luar terlihat diam, tapi di dalamnya, Dafa sebenarnya sedang merumuskan rencana yang dirinya akan ambil ke depannya, terutama setelah remaja itu berhasil melihat seluruh ingatan dari Demon Lord Zagan ini, yang tampaknya menjadi salah satu pion dari seseorang yang membuat pemanggilan Hero bisa terjadi.
Memang sih, Dafa masih belum mendapatkan petunjuk yang begitu dapat di percaya, untuk dapat menemukan dalang asli di balik hal tersebut.
Hanya saja, dari ingatan yang dimiliki oleh Demon Lord Zagan ini, dirinya berhasil mendapatkan cukup banyak informasi yang sangat bermanfaat, apalagi mengenai tujuan sesungguhnya dari Dewan Perkumpulan Demon Lord, dan lokasi dari wilayah beberapa Demon Lord yang ada di Dunia ini.
Bukan hanya itu saja, remaja ini pun berhasil memahami Inti sebenarnya dari Magic yang ada di Dunia ini. Hanya saja, sayangnya itu, meskipun dikatakan berhasil memahami intinya, tapi dia sebenarnya hanya baru memahami sebagian kecilnya saja, itu karena hal ini memang cukup sulit untuk dimengerti, terutama mengenai Imaginary Magic ini, atau yang lebih sering di sebut sebagai Number Magic.
'Merepotkan sekali. Jika saja seluruh hal ini tidak terjadi, aku mungkin sekarang masih menikmati kehidupan santai ku di sekolah.'
Meskipun ingin protes mengenai hal tersebut, tapi karena dirinya tidak tahu harus protes kepada siapa, remaja laki-laki itu pada akhirnya memutuskan untuk berhenti memikirkan hal tersebut dan pergi tidur saja, dengan Orobas pun yang ikut tertidur di dekatnya.
\=-----\=-----\=-----\=-----\=
Author Note:
Yayy! Update lagi!!
Di dalam bab kali ini, di dominasi oleh sudut pandang dari kelompok Souji, dengan sedikit sudut pandang dari Saki dan sudut pandang dari MC kita yang satunya lagi.
Itulah kenapa, bagi kalian yang ingin menunggu kelanjutannya, agar tidak ketinggalan, silakan di subscribe novel ini, sekalian like setiap babnya, plus tolong beri saya feedback, soalnya hal itu sangat diperlukan, untuk keberlanjutan dari novel ini.
Itu aja sih yang author ingin sampaikan, dan bagi kalian yang ingin mendukung author, kalian bisa traktir author di akun trakteer milik author yang bisa kalian akses melalui BIO IG author @Panagakos_Void.
__ADS_1
Sampai jumpa lagi di bab selanjutnya! Adios~!