Shadow & The Jester

Shadow & The Jester
Chapter 21


__ADS_3

Chapter 21 : Wanita Misterius (2/2)


\=-----\=-----\=-----\=-----\=


(POV Souji)


Aku dengan perlahan-lahan mulai membuka mataku, di mana pemandangan yang pertama kali aku lihat adalah sebuah langit biru yang sangat luas.


"Ughh... Di mana aku?" Aku hanya bisa menggumamkan hal itu saja, sambil mengucek-ucek mataku.


Tidak lama setelah aku menggumamkan hal tersebut, tiba-tiba saja ada seseorang yang membalasnya.


"Selamat pagi, Darling."


Setelah mendengar hal tersebut, tidak perlu waktu lama bagiku, untuk menyadari di mana aku sedang berbaring, dan untuk semakin mengonfirmasinya, aku juga segera menoleh ke arah dari mana suara itu berasal.


Di sana, aku bisa melihat ada seorang wanita yang sangat cantik, yang terlihat sedang tersenyum ke arahku.


Wanita ini terlihat memiliki umur yang berada di sekitar dua puluh tahunan, di mana dia tampak memiliki rambut panjang yang berwarna putih seperti salju, dengan sepasang mata ungu yang terlihat sangat indah.


Tidak hanya itu saja, dia pun terlihat sedang mengenakan sebuah kimono mewah yang berwarna hitam dan ungu bergaya yukata, dengan pegangan miliknya yang memiliki embel-embel putih.


Begitu saja, setelah aku melihat sosok dari wanita ini, aku akhirnya mengingat kembali semuanya, yang tentunya membuatku berakhir dengan pemikiran... 'Huhh... Ternyata, ini semua bukan mimpi yahh?'


Aku masih ingat dengan jelas, kalau dia ini adalah wanita aneh yang secara tiba-tiba menciumku, dan karena dia tidak ingin memberi tahuku siapa namanya, jadi aku berakhir memutuskan untuk memanggilnya dengan nama Niji saja.


Dia sepertinya sudah kembali ke wujudnya yang sebelumnya, sebelum cahaya RGB muncul di sekitar tubuhnya. Tapi masalahnya di sini, bukannya dia sebelumnya mengenakan sebuah gaun? Tapi, kenapa dia sekarang malah terlihat mengenakan sebuah kimono?


Ahh... Aku benar-benar tidak mengerti sama sekali...


Begitu saja, karena aku tidak kunjung dapat menemukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut, jadi aku memutuskan untuk berhenti memikirkannya.


Huhh...


Aku menghela nafasku dengan berat, sebelum aku mulai menatap ke arah Niji.


Pada saat dia melihat aku menatap ke arahnya, wanita ini mulai tersenyum dengan lembut ke arahku.


Entah kenapa, dia sekarang malah terlihat seperti seorang anak kecil. Jadi, tanpa sadar, atau mungkin secara refleks, aku malah mengelus-elus kepalanya, sambil tersenyum dengan lembut ke arahnya.


"Uwoww!! Da-dar-darling mengelus kepalaku!! Aku benar-benar sangat senang!! Aku tidak akan keberatan jika harus mati sekarang~" Dia segera menggumamkan hal tersebut, sambil memegangi pipinya yang sudah memerah.


Ketika melihat hal itu, aku tanpa sadar mulai tertawa, di mana hal itu sepertinya berhasil membuat Niji memiringkan kepalanya dengan penuh kebingungan.


"Ada apa, Darling?"


Setelah mendengar pertanyaan tersebut, aku langsung berhenti tertawa dan segera membalasnya.


"Selamat pagi juga, Niji." Aku mengatakan hal itu, sambil tersenyum dengan lembut ke arahnya.


Aku bisa melihatnya dengan cepat memalingkan mukanya dariku, sebelum dia mulai menutupi wajahnya dengan menggunakan kedua tangannya, yang tentunya membuatku sedikit terkekeh, dan berakhir kembali tertawa.


Pada saat melihatku tertawa, Niji bisa terlihat mengembungkan pipinya dan mulai menatapku dengan mata ungunya yang menajam.


Kami berdua terus saling menatap selama hampir lima menit, hingga akhirnya aku memutuskan untuk kembali berbicara.


"Jadi, di mana kita sekarang, Niji?" Aku memutuskan untuk menanyakan hal tersebut, karena menurutku hal itu adalah yang terpenting sekarang, sambil tentunya mulai memeriksa hal yang ada di sekitarku.

__ADS_1


Setelah mendengar pertanyaanku ini, Niji bisa terlihat langsung berhenti menatapku dan segera berdiri, sebelum dia mulai berjalan menuju ke meja yang sebelumnya dan duduk di kursinya yang sebelumnya.


Tentu saja, melihat seluruh hal itu, aku ikut bangkit dan segera duduk di kursi kosong yang ada di depannya.


Setelah kami berdua duduk, Niji kemudian mulai menuangkan teh ke gelas yang berada di depanku. Dimana, entah kenapa, ketika dia melakukan hal tersebut, wanita ini terlihat sangat menawan.


Pada saat dia telah selesai menuangkannya, Niji kemudian kembali duduk dan akhirnya, dia mulai membuka mulutnya untuk berbicara.


"Apakah kamu tidak marah, jika aku memanggilmu 'Darling'?" Dia menanyakan hal itu sambil menatapku dengan mata khawatir.


Ketika melihat hal itu, entah kenapa dia menjadi semakin terlihat mirip dengan kakak perempuanku. Mungkin, karena hal itulah, aku jadi tidak terlalu peduli lagi, mengenai dia yang memanggil ku "Darling".


Apakah hal ini memang benar-benar sebuah kenyataan? Atau mungkin, hal ini hanyalah sebuah mimpi? Aku benar-benar sudah tidak peduli lagi. Karena, hanya ada satu hal saja yang pasti saat ini.


Lagi pula, meskipun hal ini memang akan terlihat aneh bagi orang-orang yang mengenalku dengan baik, tapi aku selalu merasakan sebuah hubungan yang sangat nostalgia dengannya, seolah-olah kita pernah bertemu sebelumnya.


Tidak seperti hal yang aku rasakan dengan Putri dari Kingdom of Groxia itu, di mana hal ini terasa jauh lebih dalam, yang entah kenapa membuatku sulit untuk menolak sesuatu hal yang dikatakan olehnya.


Setelah menghela nafasku dengan penuh rasa letih, aku kemudian berkata; "Terserah kamu saja, aku sudah tidak peduli lagi."


Aku bisa melihatnya dengan sangat jelas, kalau wanita ini segera menjadi sangat terkejut, tepat setelah aku mengatakan hal yang sebelumnya. Mungkin, hal itu karena dia yang sepertinya tidak pernah menyangka, kalau aku akan menerimanya dengan semudah ini.


Dan, sebelum dia bisa mengatakan sesuatu, aku langsung memotongnya dan melanjutkan kata-kataku.


"Tapi, sebelum itu, kamu harus memberi tahuku terlebih dahulu, mengenai siapa kamu yang sebenarnya, dan kenapa aku bisa berada di tempat ini berdua denganmu." Ucapku, sambil menatap Niji dengan tatapan mata yang menajam.


Setelah aku mengatakan hal itu, entah kenapa, aku bisa melihat Niji yang langsung menjadi sangat terkejut dan segera menjatuhkan gelas yang sedang dirinya pegang.


Tentu saja, aku yang melihat hal itu segera memiringkan kepalaku dengan penuh kebingungan, karena aku tidak mengerti, alasan di balik keterkejutannya itu.


Pada saat aku melihat hal itu, aku langsung tersenyum dengan lembut ke arahnya, sambil berkata; "Aku cuma ingin tahu saja, kita ini sedang berada di mana sekarang. Akan tetapi, jika kamu memang tidak ingin memberi tahukannya, yahh... tidak apa-apa."


Lalu, aku bisa melihat Niji yang mulai menggenggam erat bajunya, sambil menatap ke arah bawah. Entah kenapa, dia terlihat kesal akan sesuatu.


Keheningan kemudian muncul di antara kami berdua selama beberapa menit, sebelum dia akhirnya mulai membuka mulutnya dan berbicara.


"Darling, apakah kamu akan membenciku, jika aku menjawabnya dengan jujur?" Nada yang digunakan oleh wanita ini benar-benar terasa sangat gemeteran.


Pada saat melihat hal tersebut, aku hanya bisa menatapnya dengan tatapan mata yang agak sedikit menajam saja, di mana tidak perlu waktu yang lama, untuk wanita ini menyadari tatapanku itu, dan hal tersebut membuatnya langsung mengalihkan pandangannya dariku, sambil mulai menggenggam bajunya dengan lebih erat lagi.


Jeda keheningan, kembali terjadi selama beberapa menit di antara kami, di mana pada akhirnya, akulah yang memutuskan untuk memecah keheningan tersebut.


"Kenapa aku harus membencimu?" Aku menanyakan hal tersebut dengan nada heran kepada Niji.


Setelah mendengar kata-kata itu, Niji terlihat segera tersentak, sebelum dia membalasnya


"Neh, apa kamu benar-benar tidak marah kepadaku? Aku sudah membuat kontrak pernikahan secara sepihak denganmu tahu!! Kontrak itu bahkan tidak dapat di putus oleh siapapun!! Apa setelah mendengar hal itu, kamu masih tidak marah kepadaku, hah!?" Nada yang digunakan olehnya benar-benar dipenuhi oleh amarah yang bercampur dengan rasa bersalah.


Tidak hanya itu saja, pada saat mengatakan hal tersebut, aku bisa melihat air mata yang mulai jatuh sedikit demi sedikit dari kedua matanya, di mana hal itu membuatku sedikit terkejut.


Lagi pula, aku tidak pernah menyangka, kalau dia ini memiliki ketakutan yang semacam itu, apalagi mengingat tindakannya yang sebelumnya, dan entah kenapa, pada saat melihat hal tersebut, dia malah terlihat mirip denganku, ketika aku masih kecil dulu.


Tentu saja, tidak lama setelah aku mengingat kenangan masa kecilku itu, tanpa sadar, aku sudah mengelus-elus kepalanya saja.


Tidak lama, setelah aku melakukan hal itu, entah kenapa air mata yang terjatuh dari kedua matanya ini malah menjadi semakin deras, sebelum dia pada akhirnya mulai memeluk ku dengan erat.


Aku hanya bisa menghela nafasku saja, setelah melihat hal itu, karena... "Tidak apa-apa, kamu sudah tidak sendirian lagi di sini." Ucapku, sambil mengelus-elus rambutnya.

__ADS_1


Dan, tidak perlu waktu lama, untuk tangisannya menjadi semakin keras, di mana dia juga mulai memeluk ku dengan lebih erat.


Pada saat aku melihat hal tersebut, aku berakhir memutuskan untuk membiarkannya seperti ini, hingga dia berhenti menangis.


...


\=-----\=-----\=-----\=-----\=


(POV Orang Ketiga)


Sementara itu, di sisi kelompok Dafa...


*BOOOM!!* *BOOOM!!* *BOOOM!!*


"Apa menurutmu hal ini akan baik-baik saja, Dafa?" Rafi hanya bisa menanyakan hal itu dengan nada suara yang agak bimbang saja, mungkin karena dia yang tidak tahu harus bereaksi seperti apa, setelah dirinya melihat tindakan yang dari tadi dilakukan oleh Sora.


Bahkan, perkataan dari Akane pun sama sekali tidak gadis Natsuki itu dengarkan, di mana dia malah terlihat semakin menjadi-jadi, dalam pembantaiannya untuk meningkatkan level miliknya.


Di sisi Dafa sendiri, remaja itu tampak hanya membalasnya dengan angkatan bahu penuh ketidakpedulian saja, sebelum dia kembali fokus dengan lengan barunya itu.


Melihat hal tersebut, baik itu Rafi atau pun Akane, mereka berdua pada akhirnya hanya bisa pasrah saja, karena sepertinya memang sudah mustahil untuk menghentikan genosida massal, yang sedang dilakukan oleh Sora.


Seperti yang baru saja dikatakan, kalau Sora saat ini sedang melakukan genosida massal, terhadap monster yang ada di sepanjang jalan mereka, menuju ke Lalatian City.


Alasan di balik hal itu sebenarnya cukup simpel, dan bagi orang-orang yang berasal dari Bumi, dalam tanda kutip "Orang Normal", mereka pasti akan merasa aneh, dengan alasannya ini.


Lagi pula, Sora melakukan genosida massal terhadap para monster acak itu, hanya demi menaikkan level miliknya, yang meskipun memang terlihat wajar, tapi cara yang gadis Natsuki ini lakukan sudah bisa terbilang sangat ekstrem.


Bahkan, dia pun sampai membakar sebagian hutan, tempat di mana mereka menemukan pemukiman dari Orc, tanpa menyisahkan apapun, kecuali abu di sana.


Jujur saja, setelah melihat hal itu, tentunya Akane segera menegur temannya ini, yang entah kenapa malah di abaikan olehnya, dan berakhir dengan hal yang baru saja terjadi, di mana Dafa pun lebih memilih untuk mengabaikannya juga.


Jadi, itulah mengapa, mereka pada akhirnya menghabiskan waktu mereka menuju ke Lalatina City, di dalam suasana yang cukup mematikan.


Namun, meskipun dikatakan begitu, tapi pada akhirnya, masing-masing dari mereka masih tetap memburu beberapa monster, untuk dijadikan sebagai bahan leveling, hanya karena dari apa yang mereka dengar sih, dari Orobas, kalau di masyarakat manusia itu, level adalah segalanya.


'Tapi tetap saja, kenapa aku masih tidak bisa menaikkan level ku sama sekali?'


Meskipun masih bingung dengan hal itu, tapi Dafa pada akhirnya masih memutuskan untuk mengabaikannya saja, tanpa menyadari hal seperti apa yang akan menunggunya di tempat tujuannya, akibat dari hal tersebut.


Begitu saja, kelompok Dafa melanjutkan perjalanan mereka menuju ke Lalatina City, tanpa mengalami permasalahan apapun.


\=-----\=-----\=-----\=-----\=


Author Note:


Yayy!! Update lagi!!!


Di dalam bab kali ini, meskipun di POV Souji hanya ada sedikit perubahan saja, tapi POV selanjutnya sudah ada perubahan yang sangat drastis sekali.


Selain itu, di sana pun, kita diperlihatkan sedikit problem yang tengah dihadapi oleh Dafa, yang diakibatkan oleh Status miliknya yang entah kenapa, tidak ingin naik level sama sekali.


Itulah kenapa, bagi kalian yang ingin menunggu kelanjutannya, agar tidak ketinggalan, silakan di subscribe novel ini, sekalian like setiap babnya, plus tolong beri saya feedback, soalnya hal itu sangat diperlukan, untuk keberlanjutan dari novel ini.


Itu aja sih yang author ingin sampaikan, dan bagi kalian yang ingin mendukung author, kalian bisa traktir author di akun trakteer milik author yang bisa kalian akses melalui BIO IG author @Panagakos_Void.


Sampai jumpa lagi di bab selanjutnya! Adios~!

__ADS_1


__ADS_2