
Chapter 07 : Uniqur Skill Yang Begitu Rusak & Makan Malam.
\=-----\=-----\=-----\=-----\=
(POV Souji)
Sore hari menjelang malam, kira-kira sekitar jam enam hingga tujuh, saat ini aku sedang menyeret beberapa hewan hasil buruan ku, atau lebih tepatnya lagi, aku menyimpannya di dalam Sub-Skill dari Unique Skill [Ultimate Cooking] milik ku, yang aku harap sih dapat dimakan.
Hewan-hewan ini sepertinya memiliki nama [Cowlord], di mana peringkatnya itu adalah B, dan hewan ini terkenal dengan dagingnya yang begitu lezat.
Bagaimana caranya aku mengetahui seluruh hal tersebut? Itu mudah, karena aku hanya tinggal menilainya saja menggunakan Unique Skill [Appraisal Complete] milik ku, dan semuanya beres.
Lagi pula, kemampuan ini benar-benar sebuah cheat, jika saja pemiliknya bisa menggunakannya dengan benar.
Apalagi, mengingat kemampuan ini juga bisa digunakan untuk menilai sesuatu hal yang berada di dalam deskripsi dari hasil penilaiannya itu sendiri, membuat skill ini menjadi sangat rusak sekali, karena skill ini sepertinya mengambil data dari ingatan Dunia itu sendiri.
Meskipun hal itu hanyalah sebuah teori liarku saja, tapi karena tidak ada penjelasan lain yang jauh lebih logis ketimbang hal tersebut, jadi aku lebih memilih untuk mempercayainya saja.
Oh ya, aku berburu hewan ini bersama dengan Nagisa, yang sepertinya sih memiliki Unique Skill yang cukup rusak sekali.
Unique Skill miliknya ini sepertinya membuat gadis tersebut bisa memutarbalikkan sebuah fakta, dengan cara membuat sebuah kebohongan yang dirinya ucapkan ini akan lebih dipercayai oleh orang lain, ketimbang kebenarannya itu sendiri.
Kalau boleh jujur sih, meskipun Job Class orang ini adalah seorang [Spell Fencer], tapi entah kenapa Unique Skill miliknya yang berhubungan dengan pekerjaannya sebagai seorang Idol malah jauh lebih rusak, ketimbang yang berhubungan dengan Job Class miliknya.
Lagi pula, coba pikirkan saja, sementara Unique Skill Magic Blade yang berasal dari Job Classnya ini saja, masih bisa di bilang sebagai sebuah versi superior dari Magic Sword, tapi meski begitu masih memiliki beberapa kekurangan, seperti jumlah penggunaannya yang terbatas, di sisi lain, dua Unique Skill miliknya, yang sepertinya sih di dapat olehnya karena pekerjaannya sebagai seorang Idol di Bumi, malah jauh lebih rusak lagi, karena selain yang satu bisa di bilang memiliki fungsi buff dan debuff yang gak ngotak sama sekali, sementara yang satunya lagi bisa memutarbalikan sebuah fakta.
"Huhh... Apa menurutmu, kita akan bisa pulang ke Bumi, Souji?"
Aku segera terbangun dari lamunan ku, setelah aku mendengar pertanyaan yang begitu mendadak dari Nagisa.
"Entahlah. Mungkin ya, mungkin juga bisa tidak." Aku hanya bisa membalasnya dengan cara yang seperti itu saja, karena jawabannya ini memang masih belum pasti.
Mengingat, meskipun persentase untuk kami dapat pulang ke Bumi itu memang sangatlah kecil, tapi hal tersebut bukan berarti tidak ada sama sekali, dan itu juga bisa berlaku untuk sebaliknya.
Jadi, jawabannya ini masih belum pasti, tapi jika murid pindahan itu ada di sini, kemungkinan besar dia akan dapat segera menemukan jawaban di balik hal tersebut.
Lagi pula, meskipun bukanlah orang yang berbakat dan jenius, tapi kecerdasan miliknya itu bisa di bilang sudah melampaui kedua hal tersebut, sampai-sampai aku pun agak terlalu sulit untuk mengimbanginya.
Apalagi, dengan fakta lain, kalau orang ini juga memiliki cara berpikir yang sangat unik, membuat segalanya menjadi jauh lebih mengerikan lagi.
Hanya saja, karena aku tidak tahu di mana keberadaan dari orang tersebut, jadi satu-satunya cara bagiku sekarang adalah mencari tahunya sendiri.
"Dari pada memikirkan hal itu, lebih baik kita segera kembali, atau mereka mungkin akan mati akibat kelaparan." Aku memutuskan untuk mengganti topik pembicaraan dengan sedikit bercanda, yang sepertinya sih berhasil membuat suasana hati milik Nagisa membaik.
Kemudian, setelah tertawa sebentar, kami berdua lanjut kembali berjalan menuju ke markas sementara kami.
__ADS_1
...
\=-----\=-----\=-----\=-----\=
(POV Orang Ketiga)
Di dalam Ruang Singgasana, Istana dari Kingdom of Groxia.
"Apa-apaan dengan laporan kalian ini?! Apakah kalian ingin bilang, jika seluruh emas yang ada di dalam perbendaharaan istana menghilang?!"
Seorang pria paruh baya mengatakan hal itu dengan penuh amarah, sambil membanting dokumen yang sedang dirinya pegang saat ini.
"T-ta-tapi... Y-ya-yang Mulia... i-itu benar-benar menghilang tanpa jejak?! K-ka-kami ti–!"
Salah satu dari dua prajurit yang ada di depannya ingin membela diri mereka dengan sangat gemetaran. Tapi, perkataan dari mereka itu dipotong oleh pria paruh baya tadi, yang saat ini sedang duduk di sebuah singgasana yang ada di dalam ruangan tersebut.
"Siapa yang menyuruh kalian untuk menjawabnya!? Kalian sudah tidak becus untuk menjaga perbendaharaan istana, dan sekarang kalian masih ingin mencari alasan untuk hal ini?! Penjaga! Bawa kedua prajurit ini ke penjara! Dan instrogasi mereka, hingga mereka mengaku!" Pria paruh baya ini mengatakan hal itu dengan amarah yang terendam di dalam suaranya.
"T-tu-tunggu sebentar!! Y-yang Mulia!! Biarkan kami menjelaskannya terlebih dahulu!!" Kedua prajurit itu segera mengatakan hal tadi, pada saat mereka di seret keluar dari ruangan tersebut, meninggalkan pria paruh baya itu bersama dengan seorang pria botak yang tampak sedang mengenakan pakaian dari seorang uskup dari suatu agama tertentu, di dalam ruangan tersebut.
Setelah beberapa saat hening, salah satu dari mereka, yaitu pria yang berpakaian seperti uskup ini, akhirnya mulai berbicara.
"Y-yang Mulia... J-jadi, a-apa yang akan kita lakukan dengan masalah ini?" Tanya uskup botak itu dengan ragu.
Pria paruh baya yang mendengar hal tersebut hanya menatap uskup botak itu saja dengan tatapan kesal selama beberapa saat, sebelum akhirnya dia menjawabnya.
"Dimengerti!"
Setelah menjawabnya dengan singkat, uskup botak itu kemudian berbalik dan mulai berjalan menuju keluar dari ruangan tersebut.
Namun, baru beberapa langkah dirinya berjalan, uskup botak ini tiba-tiba saja berhenti bergerak, sebelum orang itu mulai berbalik ke arah pria paruh baya yang sebelumnya.
"Ngomong-ngomong, Yang Mulia, bagaimana caranya kita akan berurusan dengan para Pahlawan yang pergi dan menghilang itu? Karena, salah satu dari mereka sepertinya sangat kuat." Kata uskup botak ini dengan penuh keraguan.
Pria paruh baya itu sendiri tampaknya mulai merenungkan sesuatu hal sejenak, setelah dirinya mendengar perkataan dari uskup botak tadi.
"Kirim para Assassin itu untuk membunuh mereka semua. Karena, kita tidak boleh membiarkan mereka bertemu dengan salah satu dari aliran Gereja Aurchi yang ada di luar sana." Pria paruh baya ini mengatakan hal tersebut dengan sangat serius, sambil menatap pria botak itu dengan mata yang menajam.
"B-baik, Yang Mulia. Saya akan meminta para Assassin itu untuk melakukannya sekarang juga. "
Setelah menjawab hal tersebut, uskup botak ini kemudian segera berjalan keluar dari ruangan itu dengan agak terburu-buru, dan tentunya meninggalkan pria paruh baya ini sendirian di dalam ruangan tersebut.
\=-----\=-----\=-----\=-----\=
(POV Souji)
__ADS_1
Ketika kamu berdua tiba di markas sementara kami, kami berdua sudah di sambut saja oleh pemandangan dari orang-orang ini yang sedang membicarakan sesuatu hal.
Dari apa yang bisa aku dengar sih, sepertinya mereka ini sedang membicarakan tentang murid pindahan itu, yang membunuh seseorang dengan begitu mudahnya.
Tidak hanya itu saja, berkat Mirai-kun pun, mereka entah kenapa mulai berdebat mengenai sesuatu hal tentang diriku, yang tampaknya segera berhenti, setelah aku muncul dari kejauhan.
"Apa kamu mendapatkan sesuatu hal untuk kita makan, Shimotsuki? Tolong jangan bilang kepadaku, kalau kamu ini sama sekali tidak mendapatkan apapun." Orang yang langsung berbicara dengan nada penuh sarkastik ini adalah Mirai-kun, yang hanya aku tanggapan dengan angkatan bahu ringan saja, karena aku tahu, kalau menanggapinya hanya akan memperumit segalanya saja.
Lagi pula, entah kenapa gadis ini sepertinya benar-benar sangat membenciku, yang padahal aku sendiri tidak pernah memiliki permasalahan apapun dengan dirinya.
Dan, karena aku sudah lelah untuk berdebat dengan gadis kecil ini, di tambah lagi kami juga perlu makan, jadi aku memutuskan untuk mengabaikannya saja dan segera membuat makan malam.
Hal yang akan aku buat kali ini adalah sebuah Yakiniku sederhana, di mana aku menggunakan daging [Cowlord] ini sebagai bahan dasarnya.
Tidak ada yang istimewa di dalam hidangan yang aku buat ini, malahan bisa di bilang agak kurang sekali, karena aku yang sangat kekurangan bahan-bahannya, untuk membuat Yakiniku yang memang layak di sebut sebagai Yakiniku.
Tapi, untungnya sih, berkat aku yang secara tidak sengaja menemukan sebuah batu garam, di mana batu garam ini sepertinya layak untuk di konsumsi, membuat Yakiniku yang aku buat ini menjadi jauh lebih baik, dari apa yang awalnya aku pikirkan.
Aku memasak Yakiniku ini, di bantu oleh Nagisa, Shinomiya-san, dan Sanada, sementara sisanya memutuskan untuk mencuci alat makan yang sebelumnya sempat aku buat menggunakan kayu yang ada di pepohonan dekat sini, di sungai yang berada tidak jauh dari sini.
Dan, untuk alasan keamanan, aku memutuskan untuk memotong setiap hal yang menghalangi penglihatan kami menuju ke sungai tersebut, hingga menciptakan sebuah jalur lurus tanpa hambatan menuju ke sana.
Tentu saja, aku pun tidak lupa untuk menciptakan sebuah barrier, menggunakan tipe Magic yang sama dengan milik murid pindahan itu, hanya untuk mencegah monster acak yang tinggal di sungai tersebut menyerang orang-orang ini.
Sementara kelompok orang yang memasak, hanya perlu waktu hampir satu jam saja untuk menyelesaikan masakan mereka, di sisi lain, kelompok yang membersihkan alat makan kami ini dapat selesai dengan lebih cepat.
Kemudian, setelah semuanya siap, kami memutuskan untuk makan malam, sambil membicarakan beberapa hal acak, yang entah kenapa malah menjadi instrogasi terhadap diriku.
Instrogasi ini mengenai kemampuan aneh yang dimiliki oleh murid pindahan itu, hingga Magic yang aku gunakan selama ini, atau lebih tepatnya lagi, yang tadi aku gunakan untuk menciptakan sebuah barrier di sungai.
Tentu saja, aku hanya membalasnya dengan seadanya saja, karena meskipun aku ingin menutupi hal tersebut, tapi mengingat kami yang sudah berada di Dunia sihir itu sendiri, membuatku sulit untuk menutupinya, apalagi setelah melihat aku menggunakannya dengan begitu santainya tadi.
Begitu saja, kami menghabiskan waktu makan malam kami dengan cukup harmonis, sebelum akhirnya kami memutuskan untuk mengecek status milik kami masing-masing.
\=-----\=-----\=-----\=-----\=
Authot Note :
Yayy! Update lagi!!
Di dalam bab kali ini, di isi oleh apa yang terjadi dengan kelompok Souji, tanpa ada sedikit pun penjelasan kelanjutan tentang kondisi dari MC kita yang lain.
Tapi, tenang saja, setelah bab selanjutnya, yang memperlihatkan setiap status milik kelompok Souji, akan diperlihatkan lagi kondisi dari kelompok dari MC kita yang lain.
Selain itu, ada juga fakta baru tentang sang Raja Groxia ini, dan sedikit diperlihatkannya kondisi yang sedang terjadi di sana.
__ADS_1
Itu aja sih yang author ingin sampaikan, dan bagi kalian yang ingin mendukung author, kalian bisa traktir author di akun trakteer milik author yang bisa kalian akses melalui BIO IG author @Panagakos_Void.
Sampai jumpa lagi di bab selanjutnya! Adios~!