
Chapter 22 : Souji & Niji.
\=-----\=-----\=-----\=-----\=
(POV Orang Ketiga)
Di waktu yang hampir bersamaan, pada saat Souji bertemu dengan Niji...
Di suatu tempat yang berada di Groen Forest, bisa terlihat ada seekor makhluk yang sedang memperhatikan sesuatu dari balik kegelapan.
Makhluk tersebut terlihat sedang memperhatikan suatu tempat dengan sangat serius, di mana di tempat itu bisa terlihat ada lima orang wanita dan dua orang laki-laki yang sedang tertidur dengan pulas.
Makhluk tersebut tampak hanya menatap mereka selama hampir tiga puluh menitan, sebelum dia akhirnya mulai berbicara.
"Sepertinya, kami mendapatkan tangkapan yang sangat bagus~ Hehehehe~"
Setelah mengatakan hal itu dengan senyum kejam yang tumbuh di wajahnya, dia kemudian mulai berjalan secara perlahan menuju ke orang-orang tersebut, tanpa menyadari sesuatu hal aneh yang menyebar di sekitar sana.
.....
....
...
\=-----\=-----\=-----\=-----\=
(POV Souji)
Kira-kira, saat ini sudah lebih dari satu jam, sejak aku memutuskan untuk membiarkan Niji memeluk ku. Dimana, sekarang ini aku terlihat sedang berbaring dan menggunakan paha miliknya sebagai bantal.
"Neh, neh, Darling~ Apakah bantalan paha milik ku nikmat?" Niji kemudian menanyakan hal itu dengan nada ceria, sambil mendekatkan mata miliknya dengan mataku.
"Aku tidak terlalu tahu sih. Karena, ini adalah bantalan paha pertamaku, sejak beberapa tahun yang lalu." Aku hanya membalasnya dengan nada datar saja.
Meskipun aku membalasnya dengan cara yang seperti itu, tapi Niji terlihat segera tersenyum dan mulai bersenandung, dengan penuh kegembiraan.
Ngomong-ngomong, aku baru sadar, kalau Niji sedang senang, atau sedang dalam mood yang baik, maka dia biasanya akan mulai bersenandung.
Namun, yang jauh lebih penting lagi, bantalan pahanya Niji ini benar-benar sangat empuk sekali.
Sialan... Aku bisa kecanduan, jika terus seperti ini...
Oh ya, ngomong-ngomong, jika ada yang bertanya, mengenai bagaimana caranya aku bisa berakhir berbaring dan menggunakan paha milik Niji sebagai bantalnya, maka hal itu akibat hal ini...
...
[Flashback Dimulai]
Sudah hampir satu jam, semenjak Niji mulai memeluk. Dan, sejak saat itu, dia masih tidak ingin melepaskanku sama sekali.
Pada saat aku ingin melepaskan pelukkannya dengan paksa, dia malah memelukku dengan dengan lebih erat lagi. Dan, karena hal itulah juga, sekarang ini sudah lebih dari lima tulang rusuk ku yang patah, akibat hal tersebut.
Meskipun aku memang sadar sih, kalau Niji ini memiliki kekuatan yang sangat tidak masuk akal sama sekali. Hanya saja, aku tidak menyangka, kalau akan sekuat itu.
Lagi pula, hanya dengan sekali mempererat pelukannya saja, aku sudah kehilangan lima tulang rusuk ku yang patah, yang untungnya sih, bisa aku segera regenerasi.
__ADS_1
Berkat hal itulah juga, pada saat ini aku sedang sangat ingin sekali protes kepada diriku beberapa waktu yang lalu, karena berkat dirinya yang menaikkan sebuah bendera di atas kepala dari wanita ini, aku harus mengalami seluruh hal ini.
Akan tetapi, karena nasi sudah menjadi bubur, plus mengingat manusia memang tidak luput dari hal semacam ini, jadi pada akhirnya, aku memutuskan untuk sedikit pasrah dan mengikuti ke mana hal ini akan berjalan.
Begitu saja, hampir dua puluh menit berlalu, dan karena masih belum ada yang berbicara, jadi aku memutuskan untuk memecah keheningan tersebut, sekalian memintanya untuk melepaskan pelukannya ini.
"Neh, Niji... Apakah kamu sudah bisa melepaskan pelukan mu dariku?" Aku menanyakan hal tersebut dengan nada yang sedikit memohon, karena hal ini mulai membuat tubuhku kesemutan.
Akan tetapi...
*Krakk!!*
Setelah mendengar hal itu, Niji langsung memeluk ku dengan lebih erat lagi, yang tentunya menyebabkan dua tulang rusuk ku yang lain patah.
Sudah tujuh kali tulang rusuk ku patah dalam waktu kurang dari satu jam. Huhh... Apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku mulai khawatir dengan keadaan yang lainnya.
Meskipun masing-masing dari mereka memang memiliki kekuatan yang sangat kuat, tapi mereka semua memiliki permasalahan, karena masih sangat naif, yang membuatku menjadi semakin khawatir terhadap mereka.
Mataku kemudian terus mengembara ke arah langit biru yang ada di atasku, sambil terus memikirkan hal tersebut.
Aku juga bisa melihat, kalau mata milik Niji yang entah kenapa menjadi sangat suram, tidak lama setelah aku menatap ke arah langit.
Dan, setelah keheningan kami kembali berlanjut selama beberapa menit lagi, pada akhirnya Niji memutuskan untuk berbicara.
"Oke, oke. Baiklah... Aku akan melepaskanmu, Darling." Dia mengatakan hal itu sambil menatap langsung ke arah mataku.
Sebelum aku bisa membalasnya, wanita ini sudah lebih dulu kembali berbicara.
"Tapi dengan satu syarat." Aku bisa melihat sebuah senyum nakal yang tumbuh di wajah miliknya, pada saat dia mengatakan hal itu.
Tentu saja, ketika aku melihat senyumnya itu, entah kenapa aku mulai memiliki firasat yang buruk. Dan, karena aku tidak memiliki pilihan, jadi aku hanya bisa bertaruh saja dengan hal ini.
"Baiklah. Katakan apa syaratnya?" Aku mengatakan hal itu sambil mulai menatapnya dengan tatapan tajam.
Niji yang mendengar hal itu, entah kenapa, aku bisa melihatnya dengan sangat jelas, kalau senyuman di wajahnya ini menjadi semakin dalam.
*Dak dig dug* *Dak dig dug*
Pada saat menunggu wanita ini berbicara, aku bahkan bisa mendengar suara dari detak jantungku sendiri dengan begitu jelas, yang tentunya karena aku yang berharap, kalau syaratnya ini bukan sesuatu hal yang tidak-tidak.
Setelah jeda beberapa detik akhirnya Niji mulai membuka mulutnya dan berkata; "Kalau begitu, Darling harus membiarkan aku untuk memberikan bantalan paha kepadamu." Dia terlihat mengatakan hal itu sambil menunjuk ke arahku, setelah dia melepaskanku dari pelukannya.
Tentu saja, aku yang mendengar hal tersebut, aku hanya bisa menatapnya dengan mata yang bertanya-tanya saja, sebelum aku membalasnya.
"Bisa kamu ulangi lagi, apa yang tadi kamu inginkan?" Tanyaku kepada Niji, sambil memiringkan kepalaku dengan penuh kebingungan.
Yup, lagi pula, hal itu terasa sangat aneh, untuk menjadi permintaannya, apalagi mengingat suasana yang wanita ini pencarkan dari tubuhnya.
Namun, bukannya menjawabku, wanita ini malah menarik kepalaku dengan begitu menyakitkan, hanya untuk berbaring di atas paha miliknya, sebelum dia berkata; "Sudah aku bilang, kalau aku ingin Darling membiarkan aku memberikan bantalan paha kepadamu."
Jujur saja, pada saat dia menarik leherku barusan, aku bisa merasakannya dengan begitu jelas, mengenai leher ku yang benar-benar terasa akan putus, jika saja aku tidak memusatkan seluruh kekuatanku di sana.
Sialan!! Bagaimana bisa, ada seorang wanita dengan kekuatan yang begitu mengerikan seperti ini!?
Sambil terus mengoceh di dalam kepalaku, aku pada akhirnya berakhir memutuskan untuk menikmatinya saja.
__ADS_1
[Akhir Flashback]
...
Kira-kira, seperti itulah yang terjadi. Dan, karena hal itulah, aku sekarang ini terlihat sedang berbaring dengan menggunakan paha milik Niji sebagai bantalannya.
Kemudian, setelah keheningan ini terus berlanjut selama beberapa menit lagi, akhirnya aku memutuskan untuk memecahnya, dengan menanyakan sesuatu hal kepada Niji.
"Neh, Niji... Umm... Apa kamu ini... seekor Naga?" Tanyaku, sambil menatap langsung menuju ke arah mata miliknya.
Yup, itu benar sekali. Hal tersebut sudah menggangguku, sejak wanita ini menumbuhkan sepasang sayap dan tanduk sebelumnya, di mana hal itu membuatku curiga akan hal tersebut.
Apalagi, di tambah dengan fakta, kalau aku yang sekarang ini sedang berada di Isekai, menambah kelogisan dari pertanyaan tersebut.
Niji sendiri, ketika dia mendengar pertanyaanku ini, wanita itu langsung terkejut, tapi dapat pulih dengan cepat, sebelum dia akhirnya membalasnya.
"Iya... Ak-aku memang seekor Naga. Apa kamu akan... membenciku sekarang, Darling?" Aku bisa mendengar nada suaranya yang menjadi sangat gemetaran, pada saat mengatakan hal tersebut.
"Untuk apa aku membencimu?" Aku hanya bisa menanyakan hal tersebut, setelah mendengar apa yang baru saja wanita ini katakan.
Lagi pula, meskipun aku memang sempat kesal dengan dia yang seenaknya saja membuatku kehilangan ciuman pertamaku, tapi mengabaikan hal itu, hampir bisa dikatakan, kalau tidak ada alasan bagiku untuk membencinya.
Selain itu, melihat hal yang terjadi hingga saat ini, sudah bisa aku pastikan, kalau dia pasti terjebak di tempat ini dalam kurun waktu yang sangat lama, apalagi mengingat kalau dia itu memanglah seorang Naga, menambah hal tersebut ke sesuatu yang lebih buruk lagi.
Dan hal ini segera terjawab, dengan dia yang kembali memeluk ku, meskipun yang ingin aku protes di sini, adalah mengenai kekuatan di balik pelukannya itu.
Jujur saja, sulit bagi ku untuk memarahinya, selain karena dia yang terus membuatku teringat dengan kakak perempuanku, tapi perilakunya pun membuat wanita ini sulit untuk disalahkan.
Kenapa? Itu karena, di dalam permasalahan yang sedang ku bahas ini, Niji benar-benar terlihat tidak menyadarinya sama sekali, yang artinya dia memang sangat buruk dalam hal mengontrol kekuatannya sendiri.
Mengabaikan hal itu, setelah Niji tampak puas dengan pelukan tersebut, dia kemudian segera memisahkan dirinya dariku dan mulai menatapku dengan penuh keseriusan.
Tentu saja, aku ikut menjadi serius juga, karena entah kenapa, aku merasa, kalau hal yang ingin wanita ini bahas memang benar-benar penting, yang tidak mirip dengan beberapa hal yang sebelumnya.
"Neh, Darling..." Niji terlihat mengatakan hal itu dengan penuh keraguan, yang tentunya membuatku menjadi bingung.
"Ada apa?" Aku hanya bisa membalasnya dengan penuh kebingungan saja, yang wanita ini balas tidak lama kemudian; "Apa kamu ingin tahu, mengenai sekarang ini kita berada di mana?"
Tentu saja, aku segera menganggukkan kepalaku, karena hal tersebut memanglah pertanyaan terbesar, yang jawabannya ini benar-benar sedang sangat aku perlukan.
Apalagi, mengingat orang-orang itu masih berada di luar sana, di tambah dengan fakta, kalau masing-masing dari mereka ini bisa di bilang, tidak pernah bertarung melawan makhluk yang berakal, semakin membuatku menjadi sangat khawatir terhadap keselamatan mereka.
Belum lagi, seluruh hal tersebut di tambah dengan sekelompok orang dengan peralatan yang canggih waktu itu, membuatku menjadi semakin khawatir.
Itulah mengapa, aku segera mendengarkan setiap perkataan dari Niji dengan penuh keseriusan.
\=-----\=-----\=-----\=-----\=
Author Note:
Yayy!! Update lagi!!
Di dalam bab kali ini, full sudut pandang dari Souji, dengan sudut pandang lain di bagian awalnya, yang tampak cukup...
Intinya sih, bagi kalian yang ingin menunggu kelanjutannya, agar tidak ketinggalan, silakan di subscribe novel ini, sekalian like setiap babnya, plus tolong beri saya feedback, soalnya hal itu sangat diperlukan, untuk keberlanjutan dari novel ini.
__ADS_1
Itu aja sih yang author ingin sampaikan, dan bagi kalian yang ingin mendukung author, kalian bisa traktir author di akun trakteer milik author yang bisa kalian akses melalui BIO IG author @Panagakos_Void.
Sampai jumpa lagi di bab selanjutnya! Adios~!